
Rui yang bersiap mengeluarkan pedang miliknya menjadi terhenti karena kedatangan Frost dragon yang membawa Ririna dan kakaknya.
"Syukurlah mereka baik - baik saja" gumamnya dalam hati ketika melihat kakaknya dan Ririna yang di bawa frost dragon.
Melihat ke agungan frost dragon yang terbang di langit, pemuda yang menyebut dirinya pahlawan menjadi terpana dan ingin menjadikan frost dragon miliknya.
"Hahaha, sungguh naga yang luar biasa, bukannya dia pantas untuk di jadikan sebagai tunggangan pahlawan?" ucapnya.
Rui yang mendengar hal itu memanggil frost dragon untuk segera turun. Frost dragon yang membawa Ririna dan Karin segera menghampiri tuannya Rui.
"Aku kembali tuanku" ucapnya sambil berlutut dengan merendahkan kepalanya di hadapan Rui.
"Ya, kerja bagus, Indra" ucapnya singkat.
Melihat dua gadis cantik di depannya, pahlawan tersebut terpesona dan ingin menjadikan mereka berdua miliknya.
"Wahh, sungguh gadis yang jelita, bukankah mereka berdua sangat cocok menjadi pendamping seorang pahlawan" ucapnya.
"Benar wahai pahlawan, jika kau menginginkan mereka, mereka pasti akan senang hati menyerahkan diri mereka untukmu" ucap Arlan.
Namun Ririna dan Karin yang mendengar itu malah merasa jengkel dan jijik ketika mereka di pandang dengan tatapan gairah oleh pahlawan tersebut.
"Hai nona - nona, bukankah kalian berdua sangat cocok menjadi pendampingku. Bukankah kalian akan merasa terhormat jika di sandingkan denganku yang seorang pahlawan" ucapnya angkuh.
"Pahlawan? jika yang kau maksud adalah dirimu, maaf, aku sama sekali tidak tertarik" ucap Ririna ketus.
Ririna langsung mengalihkan pandangannya ke arah arah Rui.
"Apakah kau baik - baik saja?, aku benar - benar khawatir ketika meninggalkanmu kemarin" ucap Ririna.
"Yah, tak perlu mencemaskanku. Aku malah mengkhawatirkan kalian bertiga. Syukurlah kalian baik - baik saja" ucapnya memandang Ririna dan Karin.
"Yah, aku juga senang kau baik - baik saja Rui" ucap Karin.
"Lalu dimana Risiya" ucap Rui.
"Risiya pergi ke akademi karena disana sepertinya juga sedang dilanda kekacauan seperti ini" ucap Karin.
Mendengar hal itu Rui menjadi sedikit khawatir karena takut Risiya mengamuk dan kehilangan kesadaran dirinya lagi seperti di gua kemarin.
"Kalau begitu mari segera menyusulnya" ucap Rui.
Pemuda yang menyebut dirinya pahlawan itu merasa jengkel melihat kedekatan mereka bertiga. Dengan jengkel dia mengangkat pedangnya dan mengancam mereka.
__ADS_1
"Owh, sepertinya pemuda inilah yang menjadi penghalangku memilki kalian berdua. Jika kalian ingin pemuda ini selamat, maka turuti ucapanku" ucapnya kesal.
Namun Ririna malah semakin membuat pahlawan itu semakin jengkel dengan ucapannya.
"Selamat?, apa kau pikir kau bisa menang melawan Rui dengan pedang busukmu itu?. Aku malah merasa heran kenapa kau merasa bisa lebih baik darinya" ucap Ririna.
"Kalau begitu, akan aku buat lelaki ini binasa di hadapan kalian"
Dengan penuh amarah pahlawan itu mengakat pedangnya dan melepaskan energi pedangnya. Rui lalu menyuruh Ririna dan Karin untuk mundur.
"Baiklah sudah cukup basa basinya. Sebaiknya kalian mundur" ucap Rui.
Energi dari pedang Rignit milik pahlawan itu, dengan mudah di hempaskan oleh frost dragon.
"Tuanku, sebaiknya kau tidak perlu turun tangan melawan cecunguk ini. Biarkan aku saja" ujar frost dragon.
"Tidak perlu, aku hanya sedang menilai seberapa jauh kemampuan orang itu" ucap Rui.
Melihat kekuatan pedangnya di hempaskan, pahlawan itu semakin kagum dengan kemampuan frost dragon.
"Sungguh makhluk yang luar biasa, bagaimana jika kau menjadi makhluk ikatanku saja wahai naga yang perkasa. Bukankah aku yang seorang pahlawan ini lebih pantas dari orang sepertinya?" ucapnya angkuh.
Namun frost dragon merasa marah mendengar tuannya di remehkan.
Melihat hal itu, pemuda tersebut semakin marah dan sudah sangat jengkel dengan Rui yang selalu di katakan lebih baik darinya.
"Kurang ajar. Membandingkan aku yang seorang pahlawan dengan cecunguk sepertinya. Akan aku buat kalian menyadari kekuatanku" teriaknya marah.
"Datanglah Virgan" teriaknya.
Lalu langit bergemuruh dan lingkaran sihir tercipta. Dari sana turun seekor naga biru yang ukurannya sama dengan frost dragon.
"Virgan, halangi frost dragon agar tidak menghalangiku melenyapkan pria ini" ucapnya.
Namun Virgan malah menatapnya dengan tatapan jengkel.
"Beraninya kau memberi aku perintah. Apakah kau lupa kalau kontrak kita 50 : 50 yang berarti kita setara dasar makhluk arogan" ucapnya jengkel.
Pahlawan itu merasa kesal dengan ucapan naga itu karena dia memang belum menaklukan naga tersebut karena belum di akui olehnya. Naga tersebut hanya tertarik dengan pedang yang di bawa oleh pahlawan itu dan penasaran berapa tinggi manusia itu bisa berkembang, maka dari itu, dia mau membuat kontrak dengannya sebagai rekan.
Namun ketika melihat frost dragon di depannya, dia berubah fikiran.
"Wah,wah,wah, siapa rupanya yang di depanku ini. Ternyata seekor naga sombong yang berkeinginan menjadi jendral raja iblis itu" ucapnya pada Indra.
__ADS_1
"Virgan, si naga badai. Kau angkuh seperti biasanya" balas frost dragon.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita pindah tempat saja" ucap Virgan yang melesat ke langit.
Sebelum pergi frost dragon menatap ke arah Rui.
"Tuanku, perintahmu" ucapnya.
"Ya, kalahkan dia" ucap Rui.
"Dengan senang hati tuanku" ucap Indra yang melesat mengejar frost dragon.
Pahlawan itu yang melihat frost dragon pergi, segera melesat dan menyerang Rui. Rui membalas serangannya dengan menahannya dengan belati mana namun belati tersebut segera menghilang di hisap olehnya, dan serangan pedang itu hampir mengenai Rui. Dengan cepat Rui berpindah dengan move instannya dan menghindari serangan itu.
Setelah menyerang tanpa henti dan dalam waktu yang cukup lama. Pahlawan itu semakin terbiasa dengan gerakan cepat milik Rui dan dengan mudah menebak dimana Rui akan berpindah. Rui mulai kewalahan di buatnya.
"Hahahah, teruskan pahlawan. Buat bocah arogan itu mati karena berani menentangmu" ucap Arlan kegirangan.
"Rui yang terpojok segera menghindar dengan mundur lebih jauh"
Hal itu membuat pahlawan itu semakin jengkel.
"Apa kau hanya bisa lari seperti tikus. Aku akan menyelesaikannya sekarang" ucapnya.
Mendengar hal itu, Rui menghembuskan nafasnya yang seperti mengeluh.
"Baiklah, seperti yang kau inginkan. Mari selesaikan ini"
"Datanglah Rignit" ucapnya.
Lalu cahaya berkumpul di depannya dan membentuk sebuah pedang besar yang indah. Silauan cahaya itu menarik perhatian setiap orang yang di sekitarnya dan menghentikan pertarungan mereka.
"Ti, tidak mungkin. I_itu itu pedang suci Rignit. Jadi pemuda itu adalah" ucap Arlan terkejut.
"Pahlawan"
"Itu pahlawan"
"Itu pedang suci yang asli"
"Pedang Suci Rignit yang asli" ucap setiap orang yang melihat itu.
Melihat pedang itu, pemuda yang mengaku pahlawan itu menjadi tidak terima melihat pedang miliknya bukan apa - apa jika di bandingkan dengan Pedang Rignit yang asli.
__ADS_1
...Bersambung!!!!...