Lahirnya Pahlawan Sejati

Lahirnya Pahlawan Sejati
Episode 26 Risiya


__ADS_3

Setelah berpisah dari mereka dan kembali ke asrama masing - masing. Aku memulai rencana untuk membuat perhitungan dengan Duke.


Membinasakannya tidaklah mustahil, Namun tetap saja seorang Duke adalah penyihir tingkat King yang sihir rata - ratanya sudah sangat hebat dan aku tidak ingin pembunuhan ini sampai menjadi bumerang untuk keluargaku.


Membunuhnya secara langsung bisa membuat para bangsawan curiga kepada kakekku yang sedang dimusuhi olehnya. Apalagi kalau sampai kakekku di cap sebagai musuh kekaisaran.


Apalagi Duke memiliki banyak faksi pendukung dan aku belum cukup kuat untuk melindungi keluargaku dari mereka semua.


Ketika tengah berfikir mencari rencana, lonceng tanda untuk berkumpul berbunyi. Saat ini adalah pembagian kamar Asrama untuk tahun keduaku. sebenarnya kewajiban tinggal di Asrama hanya untuk tahun pertama, tapi karna kebanyakan dari kami berasal dari daerah yang jauh, jadi banyak yang meneruskan untuk tetap tinggal di asrama.


Waktu pembagian Asrama bertepatan dengan ujian masuk tahun pertama. Aku mendapatkan kamar baru dan juga teman sekamar yang baru.


Tapi anehnya mereka tidak seperti teman kamarku yang dulu menghinaku, mereka cuek saja dan tidak mempedulikan orang lain. Yah, tentu saja itu adalah hal yang lebih baik dari pada buang tenaga meladeni mereka.


Selesai memindahkan semua barangku, aku pergi menemui Ririna yang menungguku di tempat latihan.


Ketika hendak menuju kesana, aku berhenti ketika melihat kerumunan orang yang berkumpul. Setelah melihat beberapa saat, ternyata mereka melihat pangeran ke 2 julius yang menjadi siswa tahun pertama. Tapi itu benar - benar tidak penting bagik dan aku tidak peduli sama sekali.


Namun ketika melihat dengan seksama, ternyata seorang wanita yang aku kenal sepertinya terlibat masalah. Aku berniat ikut campur tapi aku mencoba memperhatikan mereka sedikit lebih lama lagi.


" Kau itu anak Haram kan, kenapa kau berani menginjakan kaki kotormu disini " Ucap seorang gadis disana.


" Ayo katakan sesuatu gadis dungu, apakah kau tidak punya malu datang kesini , dasar tidak tahu diri " Ucap salah satu dari mereka.


Lalu gadis itu menangis dan lari dari tempat itu menuju belakang Akademi. Aku mengikutinya tanpa sepengetahuannya. Sesampainya aku disana, aku melihat dia masih menunduk dan menangis. Melihat dia yang dirundung seperti itu membuatku sangat kesal.


Aku teringat dengan diriku yang dulu, apakah itu yang akan terjadi padaku jika aku tidak punya kemampuanku yang sekarang. Mengingat segala hal buruk yang menimpaku bisa aku bereskan karna aku punya kemampuan.


Tapi bagaimana dengan dia, apakah dia akan terus - terusan hanya bersabar dan menahan itu semua. Sementara berfikir begitu, aku berjalan menuju ke tempat duduknya.


" Menangis tidak akan menyelesaikan masalahmu " Ucapku menyapanya.

__ADS_1


" Apa pedulimu, tinggalkan aku sendiri " Ucapnya dengan nada ketus.


Aku sebenarnya ingin menenangkannya tapi aku tidak tau cara melakukannya dengan benar dan malah jadi gugup sendiri.


" Karin sudah bilang kan, kalau aku akan melindungimu, tapi aku tidak melihat sesuatu yang akan membahayakan dirimu jadi aku tidak bertindak "


Lalu dia mengusap air matanya dan mencoba menenangkan diri.


" Maafkan aku, aku hanya tidak bisa mengontrol emosiku dan bersikap kekanak - kanakan, maafkan perkataanku tadi " Ucap risiya sambil mengusap sisa air matanya.


" Yah, aku dulu juga mengalami hari - hari yang berat di Akademi ini, tapi jika kau bisa melawan mereka dan berdiri dengan bangga, aku yakin mereka tidak akan berani meremehkanmu " Ucapku dengan cukup lembut.


" Tapi, aku takut tidak bisa melindungi diriku sendiri, bagaimana bila mereka melakukan kekerasan padaku ?" Tanya Risiya gugup.


" Saat itu, aku pasti akan datang menolongmu " Ucapku dengan penuh keyakinan.


Ketika mendengarku berkata begitu, dia mulai menatapku dengan penuh harapan dan memelukku sambil mengucapkan terima kasih. Tanpa sepengetahuanku Ririna dan Karin berdiri tepat di belakangku.


" Eehhh, sepertinya sebaiknya kalian berhenti bermesraan sekarang sebelum wanita di sebelahku mengamuk " Ucap Karin sedikit takut.


" Ahhh, bukan begitu kakak, aku hanya mencoba menenangkan Risiya " Ucapku panik.


" Ohhhh, jadi menenangkan seseorang itu harus dengan pelukan ya " Ucap Ririna dengan tatapan dingin.


" Eh bukan begitu " Aku tambah panik.


" Ooh bukan begutu ? jadi aku yang buta, jadi apakah aku harus mencongkel matamu dan memeriksanya " Ucap Ririna dengan tatapan menyeramkan.


" Eeeeeh " Ucapku sedikit bingung.


" Hahaha, sudahlah Ririna, Rui sudah bilang kan dia cuma bermaksud menenangkan Risiya, jadi kau tidak perlu terbawa suasana begitu " Ucap Karin menenangkan Ririna.

__ADS_1


" Tapiii, dia dulu selalu dingin padaku saat pertama bertemu tapi sekarang malah dia seperti ini pada Risiya " Ucapnya cemberut.


" Aaahh, waktu itu aku tidak bisa mempercayai siapapun dan kau terlihat seperti wanita yang merepotkan, maaf " Jawabku.


" Bukannya itu sedikit kejam " Teriaknya kaget.


Karin dan Risiya yang mendengar itu tertawa bersama.


" Memangnya apa yang terjadi denganmu Risiya " Tanya Karin.


Setelah menceritakan seluruh kejadiannya , mereka berdua memegang tangan Risiya dan menasehatinya agar tegar dan jangan mau di rendahkan orang lain. Melihat mereka membuatku tenang, seolah - olah mereka sedang menasehati adik kecil mereka.


Ditengah pembicaraan kami, Bell peringatan di Akademi tiba - tiba berbunyi. Bell darurat yang berbeda dengan bunyi bell penanda waktu.


Setelah itu, para tahun ke 5 dan ke 6 di suruh menuju perbatasan di Hutan Larangan untuk berjaga jaga karna beberapa gerombolan Monster sedang berlari ke arah kota. Sedangkan tahun ke 3 dan ke 4 disuruh berjaga di tengah kota.


Namun prajurit penjaga perbatasan tidak bisa menghentikan mereka dan terbantai tanpa sisa. s


Setelah itu para siswa tahun ke 5 dan ke 6 mundur ke Gerbang Kota untuk menahan mereka sampai para Kesatria dan tentara kekaisaran tiba.


Meskipun mereka siswa, tapi tahun ke 5 dan ke 6 sudah rata - rata penyihir level elit dan master, jadi termasuk bantuan yang kuat untuk menahan mereka. Mereka menyerang setiap monster yang mendekat tapi anehnya monster tidak berhenti dan malah tetap berlari ke arah lain yang penting mereka menjauh dari hutan larangan.


Melihat itu, para Kesatria , Penyihir dan tentara berdatangan membantu membasmi para Monster yang ada. Ketika selesai mereka melihat beberapa Monster itu memilki luka cakaran dan gigitan yang sangat aneh. Bahkan ada yang sudah mati sebelum sihir mengenai mereka. Mereka seperti melarikan diri dari sesuatu dan itu menjadi sangat jelas ketika suara mengerikan terdengar dari dalam Hutan yang membuat semua orang panik.


Setelah itu dia mengirim permintaan ke kerajaan agar tentara dan Wizard Knight ikut serta dalam penjagaan perbatasan Timut . Karena masuk ke Hutan Larangan adalah tindakan bunuh diri. Aku memilki firasat buruk tentang monster yang berlari menjauhi kota dan takut apabila menuju desa - desa biasa.


Setelah membicarakannya dengan Ririna dan Karin kami mengambil perlengkapan dan menuju ke tempat arah monster - monster itu lari. Kami menyuruh Risiya untuk tetap di Akademi karena aku tidak bisa melindunginya ketika aku belum tau apa yang sebenarnya kami hadapi.


Lalu setelah persiapan kami selesai, kami berangkat.


...The end...

__ADS_1


__ADS_2