
Rui memasuki ruangan itu bersama kakaknya.
"Ah, Rui kemarilah nak" pinta Julia pada anaknya.
Rui mendekat dan duduk di samping ibunya. Ayahnya masih terlihat tegang begitu pula dengan Karin yang duduk bersebelahan mendampingi ayahnya.
"Lalu, apa alasanku di panggil kemari" tanya Rui.
Ayahnya masih tetap diam, dia masih ragu untuk memeberitahu alasannya. Ibunya terlihat sedikit tegang melihat Rui dan ayahnya saling bertatapan.
"Aku" ucapnya ragu.
Karin memegang tangan ayahnya yang masih sedikit gemetar dan mengangguk untuk meyakinkan ayahnya.
"Tidak apa - apa ayah, katakan saja" ucap Karin.
Lalu August mengambil nafas panjang dan mulai berbicara.
"Aku, ingin kita kembali lagi menjadi keluarga seperti dahulu" ucap August
Mendengar itu Rui terdiam, dalam batinnya masih ada rasa sakit hati tentang bagaimana ayahnya dahulu tidak mengakuinya sebagai anak begitu pula dengan apa yang di katakan oleh ayahnya kepada ibunya.
"Sungguh lancang. Setelah apa yang dulu kau lakukan pada putramu sendiri, dengan mudahnya kau meminta untuk kembali seperti dahulu. Apa kau tidak malu pada dirimu sendiri" balas Julia kesal.
Karin yang mendengar itu, terlihat sangat sedih. Apalagi ia menyaksikan bagaimana setiap harinya ayahnya menyesali perbuatannya dan tidak menjalani hidupnya dengan benar bahkan sampai tubuhnya sekarang sangat kurus.
"Ibu" ucapnya lirih.
Melihat kakaknya yang terlihat sangat sedih Rui akhirnya berani untuk ikut ambil bicara.
"Bagiku, keluarga ada untuk mendukung satu sama lain. Seorang ayah yang menanggung biaya hidup keluarganya. Ibu yang merawat serta mendidik anak - anaknya. Seorang kakak yang selalu membimbing anaknya. Apakah aku kekurangan akan hal itu?" ucap Rui yang membuat semuanya terdiam.
__ADS_1
"Tidak, aku mendapatkan semuanya tanpa kekurangan apapun dalam hidupku. Lalu apa yang akan aku keluhkan. Bohong jika aku tidak menyimpan rasa sakit hati atas semua yang terjadi. Namun aku tidak akan menghalangi kebahagiaan kakakku yang ingin berkumpul kembali menjadi keluarga hanya karena keegoisanku belaka. Jadi, aku akan menerima semua keputusan ibuku" ucap Rui tersenyum ke kakaknya.
Mendengar apa yang di katakan adiknya, Karin terharu dan tertunduk berlinang air mata.
Ayahnya juga tidak menyangka bahwa anaknya yang dulu ia sia - siakan begitu tegar dan berlapang dada dalam mengambil keputusan demi keluarganya tanpa mementingkan perasaannya sendiri.
Julia terlihat bangga dengan ucapan dari anaknya. Dia tidak menyangka bahwa pikiran anaknya sudah sedewasa itu dalam mengambil keputusan.
"Tidak adil. Kenapa kau menyerahkan semuanya pada ibu. Jika aku menolak itu akan terlihat kalau hanya ibu yang kekanak - kanakan disini" ucap Julia sambil mengelus rambut putranya.
Julia menoleh dan menatap serius ke arah mantan suaminya itu.
"Namun sebelum itu, bukankah ada yang harus kau katakan kepada kami" ujar Julia pada August.
August mengerti apa yang di ucapkan oleh Julia. Tanpa ragu, dia bangun dan langsung bersujud meminta maaf kepada Julia dan Rui.
"Ma_maafkan aku. Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan di masa lalu. Aku meminta maaf karena membuangmu Rui. Maaf sudah meragukan bahwa kau darah dagingku sendiri" August mulai berlinang air mata.
" Maaf karena aku menjadi suami yang tidak bertanggung jawab kepadamu Julia, maaf karena sudah menuduhmu begitu kejam. Maaf sudah sudah membuat kalian bertiga menderita. Maafkan aku, maafkan aku" tangisan August semakin menjadi - jadi.
Julia memegang pundak suaminya dan membantunya berdiri. Lalu ia memeluk mantan suaminya itu. Karin juga memeluk ibu dan ayahnya dan terus menangis bahagia. Rui merasa ragu untuk ikut berpelukan karena itu sedikit memalukan, namun karin menarik lengannya dan ayahnya juga memeluk Rui.
Begitulah akhir dari perpecahan keluarga mereka. Namun setelah itu, August langsung menghadap Eliot dan ayahnya Julia dan meminta maaf atas segalanya. Kakeknya Rui sangat enggan menerima semua itu, namun karena Rui dan Julia sudah menerima semuanya dan memaafkannya dia akhirnya mau memaafkannya, begitu pula dengan elliot.
Setelah itu, Rui kembali ke ruang singgasana istana karena kehadirannya sudah di tunggu oleh kaisar dan bangsawan yang lain untuk mengambil keputusan perihal apa yang sudah di lakukan oleh Zanaf dan Albert.
"Kami sudah menunggumu tuan" ucap semua orang di sana menunduk memberi hormat kepada Rui.
Rui berdiri di depan kedua orang yang sudah di tetapkan akan di eksekusi ke esokan harinya. Rui menatap mereka berdua tanpa ekspresi sedikitpun. Lalu ratu Anastasya berlari ke depan Rui dan langsung berlutut dan memohon ampunan untuk anaknya.
"Tuan, tuan pahlawan yang terhormat. Aku disini bukan sebagai Ratu ataupun sebagai bangsawan. Namun aku di hadapanmu sebagai seorang ibu yang meminta kemurahan hatimu untuk memaafkan perbuatan putraku satu - satunya. Jika kau mau, aku bisa menyerahkan nyawaku sebagai gantinya" ucap Anastasya dengan menangis di hadapan Rui.
__ADS_1
Melihat ibunya yang rela merendahkan dirinya sampai seperti itu, Albert benar - benar menyesal atas apa yang dia lakukan. Mencoreng nama baik keluarganya dan bahkan melakukan perbuatan hina tersebut.
"Cukup, berhentilah membela anakmu yang bersalah" ucap kaisar.
Namun Rui memegang bahu ratu dan memintanya berdiri.
"Berdirilah, yang mulia. Anda tidak sepantasnya memohon seperti ini padaku" ucapnya membantunya berdiri.
"Pangeran Albert, berdirilah" ujar Rui.
Albert berdiri dan menatap ke arah Rui dengan masih terlihat sedih karena menyesal telah membuat ibunya seperti itu.
"Tidak apa - apa yang mulia Albert. Aku memaafkanmu atas semua yang kau lakukan padaku. Lagu pula, racun itu tidak ada artinya bagiku yang sudah menerima 3 senjata pahlawan. Entah bagaimana, tubuhku seperti di perkuat dan juga kebal terhadap racun. Jadi aku meminta agar kedua orang ini di batalkan dari eksekusinya" ucap Rui yang menatap ke arah kaisar.
Mendengar hal itu, kaisar menjadi lega. Rupanya dia juga berfikir hal yang sama dengan Anastasya, demi menolong putranya, dia juga akan mempertaruhkan nyawanya sebagi gantinya.
Namun Kaisar tidak begitu saja melepaskan kedua orang itu walaupun pahlawan sudah memaafkannya.
"Baiklah, karena pahlawan sudah memaafkannya dan meminta agar mereka berdua di ampuni maka aku akan mengabulkannya. Namun selama 2 tahun, mereka akan di asingkan dan gelar mereka sebagai bangsawan akan di copot sementara hingga masa hukumannya berakhir" ucap kaisar tegas.
"Tu_tunggu yang mulia" ucap Anastasya mencoba mengentikan kaisar.
Namun Albert memegang bahu ibunya dan menerima semua keputusan kaisar.
"Tidak ibu, ini sudah keputusan yang benar. Aku mengagumi ayahku sebagai pemimpin yang begitu adil. Jadi aku menerima semuanya sebagai bukti atas penyesalan diriku. Jadi, aku meminta agar ibu menunggu kepulanganku" ucap pangeran Albert tersenyum.
Anastasya memeluk putranya dan terus menangis.
"Dan untuk tuan pahlawan Rui. Saya sungguh sangat berterima kasih atas kemurahan hati anda" ucap pangeran menundukkan kepalanya.
Lalu Zanaf dan pangeran Albert di asingkan dari ibu kota kekaisaran dan hidup sebagai rakyat jelata. Namun Zanaf hanya menerima hukuman 1 tahun pengasingan dan gelar sebagai duke akan di copot dan turun sebagai baron.
__ADS_1
Keesokan harinya, Rui diminta untuk datang ke ruang tahanan. Di dalam sel, Rui melihat para tahanan yang pernah memberontak karena di tipu oleh pahlawan palsu. begitu pula dengan sisa sekte pahlawan. Rui di minta untuk mengambil keputusan tentang para penjahat yang sudah di tetapkan sebagai terdakwa mati tersebut.
Bersambung...!!!!