
Rui yang mendengar ucapan - ucapan bodoh dari para rakyat jelata dari kampung halamannya itu menjadi jengkel dan langsung mengeluarkan bukti terkuat yang dia miliki.
"Jika bukti yang orang - orang bodoh seperti kalian inginkan, maka lihat dengan mata dan cerna dengan kepala bodoh kalian itu. Keluarlah Rignit" ucap Rui yang memanggil pedangnya.
Cahaya mulai berkumpul di hadapan Rui yang disaksikan jutaan warga bangsawan maupun rakyat jelata di depan istana kekaisaran itu dan pedang suci Rignit yang dipenuhi dengan Rune emas muncul di hadapan Rui.
Orang - orang yang menyaksikan itu terdiam dan langsung berlutut. Para warga ibukota kekaisaran yang menyaksikan kembali pedang pahlawan mereka yang telah menyelamatkan mereka dari maut beberapa hari yang lalu, menangis terharu dan mengucapkan pujian - pujian untuk pahlawan mereka.
"Oh, pahlawan, itu pahlawan kita" ucap para warga kekaisaran yang baru pertama mengetahui Rui sebagai pahlawan.
"Beruntungnya aku bisa menyaksikan kelahiran pahlawan di generasi kita" ucap mereka terharu.
"Akhirnya pahlawan kita sudah terlahir di negri ini" sambut mereka lagi.
Mereka semua terpana menyaksikan pedang yang di pegang oleh pahlawan mereka Rui.
Sedangkan mereka yang tadinya menuduh dan mencurigai Rui sebagai pahlawan palsu hanya tertunduk malu dan keringat bercucuran di wajah mereka karena sangat takut mengingat perkataan mereka sebelumnya.
"Angkatlah wajah kalian dan berdiri dengan tegak. Ini perintah" ucap Rui dengan tegas.
Lalu mereka berdiri dengan tegak mengikuti perintah Rui. Lalu salah satu dari mereka mulai bersuara.
"Hi_hidup pahlawan, panjang umur pahlawan" teriak salah satu dari mereka.
Lalu mereka semua ikut menyorakkan perkataan itu hingga seluruh warga yang berada di ibukota kekaisaran ikut bersuara memuji pahlawan mereka.
Lalu Rui kembali ke ruang istirahatnya dan menyembuhkan luka - lukanya yang tersisa.
Sedangkan kaisar menggantikan Rui berbicara di balkon Istana.
__ADS_1
"Para warga kekaisaran yang aku sayangi. Malam ini, kita akan mengadakan pesta peresmian pahlawan kita dan mendengarkan pengumuman penting dari sang pahlawan" ucap Kaisar yang membubarkan kerumunan tersebut.
Namun warga kekaisaran menunjukkan respon yang sangat berbeda ketika di hadapan pahlawan dan Kaisar. Seolah - olah dirinya sangat tidak berarti di bandingkan dengan sosok pahlawan.
Hal itu menimbulkan kebencian dari Albert, putra mahkota kekaisaran itu. Dia membenci Rui dan menganggap bahwa derajat kaisar menjadi sangat di rendahkan karena Rui.
Albert memasuki pintu kamarnya dan menendang pot beserta perabotan di kamarnya karena kesal.
"Ini semua gara - gara orang itu. Andaikan saja dia tidak ada, pasti orang - orang akan lebih menghargai kaisar dan aku sebagai putra mahkota" teriaknya sambil melempar benda - benda di kamarnya.
"Bahkan perhatian Ayahanda hanya tertuju pada orang itu dan selalu mengabaikanku yang putranya sendiri"
"Lihat saja kau Rui. Aku akan menghabisimu dan mengambil pedang itu darimu. Bangsawan rendahan sepertimu tidak cocok menjadi pahlawan" gumamnya kesal.
Namun, dia tidak mengetahui bahwa prajurit bayangan mendengar semua itu dari balik langit - langit kamarnya. Lalu dia mengabari hal itu kepada Rui.
Rui yang mendengar hal itu, cuma mengatakan agar prajurit bayangan itu untuk terus memantau gerak - gerik pangeran tersebut.
Setelah itu, Rui menemui pamannya dan berbincang - bincang tentang semua pengalaman yang telah Rui lalui.
"Tidak aku sangka mimpimu untuk menjadi orang terhebat di kekaisaran ini bisa terwujud secepat ini. Kau benar - benar sesuatu Rui" ucap pamannya sambil mengelus kepala Rui.
Rui tersipu mendengar ucapan pamannya yang memuji dirinya.
"Hehehe, akupun benar - benar tidak menyangka takdirku akan berjalan seperti ini. Namun aku tidak bisa melupakan kata - kata paman yang dulu pernah paman ucapkan padaku, bahwa semua manusia terlahir memilki arti di kehidupannya dan tidak ada manusia yang benar - benar tidak berguna di dunia ini"
Mendengar hal itu, Eliot menjadi sedikit terseyum mendengar pujian dari keponakannya.
"Yah, aku juga menceritakan tentang para pahlawan dan ternyata kau menjadi salah satu dari mereka, itu benar - benar membuatku kagum padamu. Bahkan waktu kakekmu memberitahukan tentangmu melalui surat ketika aku masih di akademi barat, aku berkali - kali menampar pipiku sendiri untuk memperjelas bahwa aku tidak sedang bermimpi dan bahkan menganggap kalau kakekmu sedang berhalusinasi" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hahahah, begitu ya. Aku juga sebenarnya sempat ragu memberitahukan identitasku yang sebagai pahlawan pada mereka. Aku takut itu malah menambah beban pikiran mereka tentang takdirku di masa depan. Namun karena situasi tertentu, aku terpaksa memberitahukan semuanya pada mereka. Namun syukurlah mereka malah bahagia mendengar berita itu" ucap Rui tersenyum.
"Hahahah, aku bisa membayangkan bagaimana terkejutnya kakekmu mendengar hal itu" ucapnya sambil tertawa.
"Yah, aku juga sempat khawatir tentang kesehatan jantungnya" ucap Rui ikut tertawa.
Lalu Julia datang menghampiri mereka berdua.
"Apa, yang kalian bicarakan, sepertinya Rui terlihat sangat bahagia" tanya Julia penasaran.
"Ah, bukan apa - apa kak, kalau begitu aku permisi dulu. Sampai jumpa kakak, Rui" ucap Eliot sambil berlalu pergi.
Julia menatap putranya dengan penuh arti. Hal itu membuat Rui menjadi sedikit khawatir.
"I_ibu, ada apa ya?" ucapnya penasaran.
Julia tiba - tiba memeluk putranya.
"Kau tau Rui, aku benar - benar bahagia ketika mendengar tentangmu yang seorang pahlawan. Namun di suatu sisi, aku benar - benar khawatir tentang keselamatanmu. Aku takut kau bertindak nekat dan membahayakan nyawamu sendiri" keluh Julia.
Mendengar hal itu, Rui merasa sedikit sedih ketika mendengar ibunya mengkhawatirkan dirinya.
"Iya aku tahu ibu. Namun ini sudah menjadi takdirku. Lagi pula, aku adalah putra dari Julia barnet, orang yang tidak akan tinggal diam melihat seseorang membutuhkan pertolongan" ucap Rui mencoba menenangkan kekhawatiran ibunya.
"Yah, aku juga akan melakukan hal yang sama, namun sebagai ibu, aku memilih akan mengorbankan segalanya demi dirimu, apapun resikonya. Bahkan jika kau tidak terlahir sebagai pahlawan dan walau hidup tanpa bakat apapun yang kau miliki, hal itu tidak akan mengurangi rasa sayangku terhadapmu" ucap Julia sambil meneteskan air matanya.
Mendengar hal itu, Rui menjadi terharu dan ikut meneteskan air matanya. Dia mengingat kembali orang tuanya di kehidupan sebelumnya yang meninggalkannya dan tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mereka.
"Ak_aku, aku" ucapnya menahan tangis.
__ADS_1
"Aku benar - benar bersyukur terlahir di dunia ini. Aku benar - benar bersyukur kau menjadi ibuku. Aku, aku benar - benar bahagia bisa menjadi putra dari orang yang begitu tulus menyayangiku seperti dirimu"
"Hanya karena dirimu, aku bisa sampai sejauh ini. Hanya karena dirimu, aku bisa bertahan di saat aku terpuruk . Te_terima kasih sudah menjadi ibuku dan terima kasih sudah melahirkanku, ibu" ucap Rui yang terus menangis di pelukan ibunya.