
Rui memasuki Aula akademi. Langkah demi langkah mendekati Risiya yang sudah terbujur kaku tak sadarkan diri.
"It_itu si bocah naga" ucap para sandra yang begitu bahagia melihat kedatangan Rui.
Mereka sampai lupa dengan apa yang pernah mereka lakukan pada Rui waktu Rui masih di anggap pecundang. Namun teriakan seorang wanita membuat perhatian Rui tertuju padanya.
"Rui, pergilah dari sini, sekarang"
Suara yang tidak asing di telinga Rui, setelah di perhatikan lagi, ternyata suara itu milik Elia, temen masa kecilnya.
"Elia" gumam Rui.
"Cepatlah, kenapa kau kemari dasar bodoh. Apakah kau fikir kau bisa mengalahkannya?, bahkan frost dragon sudah takluk olehnya" teriak Elia menyuruh Rui segera pergi.
Namun ucapan Elia itu membuat para tahanan yang lain jengkel dan malah memakinya.
"Diam kau cewek sialan, dasar tidak tau di untung, dia itu Rui, bocah yang bisa menaklukan frost dragon, kau harus percaya dan berharap padanya bodoh" ucap mereka memaki Elia.
"Ya, tau apa kau, sebaiknya tutup mulutmu jika kau masih ingin hidup" balas siswa yang lain.
Namun bukannya diam, Elia malah semakin berteriak lebih keras agar Rui segera melarikan diri.
"Rui, ku mohon, larilah" teriak Elia menangis.
"Kau tidak punya kewajiban untuk membantu orang - orang seperti kami, kau yang dulunya menjadi bahan pelampiasan kebencian kami, kau yang dulunya hanya di pandang sebagai sampah di akademi ini, tidak ada yang akan menyalahkanmu jika mengabaikan kami, jadi kumohon pergilah" ucapnya lirih.
Mendengar hal itu, Rui tersenyum ke arah Elia.
"Ada apa Elia, kau terdengar sangat peduli padaku" ucap Rui yang membuat Elia malu.
"Aku tidak perduli dasar bodoh, cepatlah pergi dari sini" ucapnya malu - malu.
Melihat hal itu Dracule menjadi sedikit emosi.
__ADS_1
"Hei, jika kalian ingin melakukan drama pertengkaran suami istri, bukan disini tempatnya. Pahami sedikit situasinya, dasar anak - anak tidak sopan" ucap Dracule.
"Diam kau iblis tua, aku akan menyelesaikanmu disini" ucap Rui.
Lalu Rui berteleport ke arah Risiya dan kembali lagi ke dekat Karin dan Ririna.
"Risiya" teriak Karin khawatir.
"Tenanglah kak, dia tidak apa - apa, dia lebih tangguh dari yang kakak ketahui" ucap Rui yang pernah melihat skill unik milik Risiya.
Lalu Rui menyembuhkan luka - luka milik Risiya.
Dracule yang melihat kemampuan Rui, tidak gentar ataupun kaget sedikitpun.
"Ohhh, cukup mengesankan. Bukankah itu terlihat seperti tekhnik binatang buas milik warbeast dan tekhnik penyembuhan suci milik sang Saint namun dengan mana yang berbeda " ucap Dracule.
Lalu beberapa iblis maju untuk menghadapi Rui, di antaranya adalah beberapa orc dan lizardman yang sudah meminum darah iblis.
Mereka menyerang dengan cukup hebat, tubuh kekar dan kuat milik orc dan kecepatan lizardman membuat Rui cukup kerepotan. Serangan belati sihirnya tidak mampu membuat luka fatal untuk iblis - iblis itu.
Melihat yang di lakukan gadis - gadis itu, para siswa yang berbelot menjadi sekutu iblis mencoba menghentikan Ririna dan Karin.
Pertarungan dimulai, Risiya menyuruh Rui untuk menghancurkan ke 6 batu sihir yang menjadi inti dari kurungan sihir yang mengurung para siswa yang di tahan. Lalu dengan cepat Rui mengeluarkan belati sihirnya dan menyerang ke 6 batu itu dengan cepat. Seketika sihir yang mengurung para murid itu menghilang dan mereka segera terjun membantu Ririna dan Karin.
Melihat para siswa yang bebas, Risiya menjadi terseyum dan segera beralih ke mode mengamuknya dan menerjang ke arah iblis - iblis tersebut. Sedangkan Rui mengeluarkan panah Cronicel miliknya dan langsung menembakkan panah petirnya.
Rui menyuruh Risiya mundur dan ketika panah tersebut mengenai iblis itu, elemen petir itu meledak dan membuat para iblis itu hancur tak tersisa. Melihat anak buahnya binasa, Dracule malah tertawa kegirangan. Hal itu membuat Rui sedikit khawatir dengan tingkah Dracule yang sangat tenang seakan dia masih menggenggam kemenangannya.
"Hebaat, hebat, hey bocah, bukankah kau adalah pahlawan pedang. Lalu bagaimana panah pusaka milik elf ada bersamamu" ucapnya penasaran.
"Ada apa?. apakah kau mulai merasakan rasa khawatir setelah melihat kemampuan musuhmu?" tanya Rui.
Dengan raut wajah yang sedikit kesal, Dracule mengeluarkan bola hitam yang menyegel frost dragon.
__ADS_1
"Jangan sombong dulu bocah. Terimalah kekuatan dari bola pemberian Raja iblis ini. Keluarlah Frost dragon"
Lalu dari bayangannya, keluarlah sosok frost dragon yang begitu mengerikan. Para murid yang masih bertarung, langsung berhenti ketika merasakan aura mencekam milik Frost dragon. Bahkan di antara mereka ada yang tidak bisa melarikan diri karena kakinya gemetar ketakutan.
"Kakak, Ririna, bawa para murid keluar dari sini" ucap Rui tanpa memalingkan pandangannya dari frost dragon.
Lalu Karin dan Ririna segera menyadarkan para murid dari rasa takutnya dan membawa mereka segera menyingkir dari sana. Para siswa pembelot juga ikut mengerjar para siswa yang melarikan diri menjauh dari frost dragon. Risiya yang baru saja ingin berlari namun punggungnya di tendang oleh seorang wanita.
"Risiyaaa" teriak Rui terkejut.
Namun Risiya langsung bangkit dan merapikan pakaiannya.
"Tidak apa - apa Rui. Sepertinya ada seseorang yang sangat merindukanku. Benarkan kakak" ucap Risiya ke wanita yang tadi menyerangnya.
"Kau, berani - beraninya kau. Padahal kau cuma anak haram. Gara - gara keberadaanmu, aku selalu di banding - bandingkan oleh ayah denganmu. Karena kehadiranmu ayah tidak pernah memperhatikanku lagi. Aku akan singkirkan keberadaanmu di dunia ini" ucap wanita itu.
"Wah - wah, rupanya ada wanita yang sangat membenciku. Kalau begitu mari kita selesaikan ini, KAKAK" ucap Risiya yang berlari keluar akademi dan wanita itu mengejarnya.
Elia yang melihat Rui masih disana, cukup khawatir, namun melihat senjata milik Rui yang mampu menghabisi iblis - iblis tadi, membuatnya percaya kalau Rui akan baik - baik saja.
"Rui, berhati - hatilah" ucapnya sembari melarikan diri dari sana.
Melihat keheningan disana, Rui bersiap melesatkan panah petirnya ke Dracule. Serangannya dapat di tahan oleh frost dragon dengan tangannya, namun membuat hal itu membuat tangan frost dragon terluka.
"Hahahaha, bagaimana rasanya melawan makhluk panggilanmu sendiri. Bukankah menyenangkan melihat budak bertempur mempertaruhkan nyawa melawan tuannya sendiri" ucap Dracule begitu senang.
Rui memandang ke arah frost dragon yang masih belum sadar dari efek control fikiran dari bola yang digunakan Dracule untuk menyegel dirinya.
"Serang dia" perintah Dracule.
Lalu Frost dragon menyerap mana di sekitarnya dan menyerang Rui dengan badai salju. Namun Rui dapat menahannya dengan skill mana shield miliknya.
Ketika frost dragon hendak melayangkan serangan dengan kakinya, Rui menatapnya dengan tatapan tajam dan berkata.
__ADS_1
"Beraninya kau mengarahkan taringmu ke tuanmu" ucap Rui yang membuat Frost dragon tiba - tiba menahan serangannya.
...Bersambung....!!!!...