
Sang putri membuka matanya dan menatap ke arah Rui.
"Romi, benarkah ini kau" ucapnya sambil berlinang air mata.
Rui yang syok mendengar hal itu menjadi bingung dan mencoba menyangkal ucapan putri.
"Sepertinya tuan putri masih belum sadar sepenuhnya. Saya Rui bukan Romi seperti yang putri ucapkan" tegas Rui.
"Tidak, aku yakin dengan kata hatiku. Walaupun wajah dan rupamu berbeda, aku tau kalau jiwamu adalah Rui, kekasihku dari kehidupan sebelumnya"
Mendengar hal itu, Romi menjadi yakin bahwa wanita di depannya adalah Linda, kekasih dari masa lalunya. Orang yang pernah menjadi tumpuan hidupnya sekaligus orang yang menanamkan luka hati yang begitu parah bagi dirinya.
Rui masih terdiam, masih tidak menyangka dengan kenyataan di depannya. Mukanya pucat dan tidak bisa berfikir jernih. Dengan Rui yang masih dalam kondisi kebingungan, Putri bangun dan memegang pipinya sambil menangis.
"Akhirnya, Akhirnya aku menemukanmu. Aku benar-benar putus asa kau tiba-tiba menghilang dari hidupku. Begitu menyakitkan menjalani hari-hari tanpamu. Aku, aku benar-benar merindukanmu" Ucap putri sambil terus menangis bahagia bertemu kekasihnya.
Hal itu membuat Rui sangat syok.
"Mengapa...? mengapa ini bisa terjadi. Mengapa aku tidak bisa lepas dari orang ini. Mengapa...? apakah selamanya aku harus terikat dengannya?" gumam Rui dalam hatinya.
Namun Rui mengingat kembali bagaimana mantan kekasihnya itu pernah menghianatinya. Dengan cepat dia menepis tangan putri dari pipinya.
"Maaf putri, sepertinya anda salah faham. Saya Rui, bukan orang yang putri kenal dan ini pertama kalinya kita bertemu. Jadi tolong tanamkan kembali di ingatan anda bahwa nama saya Rui aubert, putra dari Julia barnet. Ingat itu dan jangan pernah sebut nama itu lagi di depanku" ucap Rui yang menahan perasaan gelisah, sedih bercampur marahnya sedari tadi.
Putri yang mendengar ucapan itu keluar dari orang yang sangat dicintainya membuatnya terdiam dengan muka yang benar - benar syok.
"Apa maksud ucapanmu itu Romi. Apakah kau benar - benar melupakanku. Apakah kau benar-benar membuang segala hal tentang kita. Mengapa kau sebenci ini padaku, katakan apa salahku!" teriak putri sambil menangis kembali.
Rui yang dari tadi berusaha menahan perasaannya namun itu semua tak terbendung lagi mendengar ucapan putri.
"Salahmu...?. Baru sekarang kau menanyakan apa salahmu...?. Kau tahu apa yang kau lakukan itu benar - benar tak termaafkan. Aku melihat seorang pria keluar dari kamarmu di malam hari, bahkan aku saja tidak pernah kau izinkan masuk kesana"
__ADS_1
Putri terkejut mendengar ucapan Rui dan terdiam. Sesaat putri menyangka bahwa p
laki-laki di depannya kehilangan ingatan masa lalunya. Namun dirinya menjadi sangat lega karena Rui mengingat dirinya. Namun iya tidak membayangkan bahwa ucapannya kekasihnya itu melihat dirinya dengan penuh kebencian.
"Kau tau betapa menderitanya aku melihat semua itu terjadi di depan mata kepalaku. Bagaimana hancurnya perasaanku ketika kau sebagai tumpuan dan penyemangat hidupku ternyata menghianatiku di belakangku. Setelah aku di campakan keluargaku dan satu - satunya harapanku adalah dirimu, namun kau malah tega-teganya melakukan itu padaku" teriak Rui yang benar-benar melepaskan segala penderitaan yang selama ini masih bersarang di hatinya.
Mendengar hal itu putri langsung terdiam dan berlutut.
"Maafkan aku, ku mohon maafkan aku. Aku tidak tahu kau ada disana, aku benar - benar tidak bermaksud membohongimu. Aku benar - benar minta maaf. Tolong maafkan aku Romi. Aku bisa menjelaskan semua itu" ucapnya dengan sengenggukan karna menangis.
"Maaf...?, setelah kau renggut satu-satunya impian dan harapanku untuk melanjutkan hidupku lalu sekarang kau meminta maaf?" ucap Rui yang mulai menitikkan air matanya.
"Sebaiknya kau menjauh dari hidupku mulai saat ini, karena bagiku kau benar-benar bukan siapa-siapa bagiku"
Mendengar hal itu, putri syok dan memegang kaki Rui untuk mencegah dia pergi.
"Aku, aku benar-benar minta maaf. Aku tau aku salah, aku tidak seharusnya menyembunyikannya darimu. Setelah kepergianmu, aku benar - benar hancur, hidupku hampa. Aku hanya butuh kau Rui, aku mohon maafkan aku, aku mohon jangan mengucapkan hal menyedihkan seperti itu setelah akhirnya aku bisa bertemu kembali denganmu" ucapnya dengan tangisan yang lirih.
Rui sebenarnya tidak tega melihat orang yang dulu sangat di cintainya, yang selalu ada untuknya menangis seperti itu. Dia benar-benar tidak berniat membuat sang putri terluka ataupun bersedih, namun mengingat apa yang pernah dia lalui membutakan rasa cintanya dengan rasa kecewa dan dendamnya.
Namun putri malah semakin memegang erat kaki Rui untuk mencegahnya pergi.
"Hempaskan aku, lakukan jika itu bisa membuatmu memaafkanku. Jika kau mencoba menjauh dariku lagi, sebaiknya kau bunuh aku sekarang" ucap putri.
Rui menjadi kaget dan kebingungan mendengar ucapan putri.
"Apa kau gila, cepat lepaskan aku, jangan menguji kesabaranku" ucap Rui marah.
Namun lagi-lagi putri malah semakin memeluk erat kakinya.
"Ya aku gila, apa itu masalah buatmu, lagi pula kau sebaiknya berfikir kenapa aku bisa segila ini. Apakah kau juga mengetahui bagaimana aku menjalani hidupku setelah kau meninggalkanku tanpa meminta penjelasan dariku?"
__ADS_1
"Setelah aku mengetahui kabar kematianmu, aku merasa tidak punya tujuan hidup lagi. Aku gila dan prustasi dalam waktu yang lama. Aku bahkan bersumpah untuk tidak menikah dan selalu berdoa agar bisa bertemu kembali denganmu"
"Jadi aku mohon, jangan bilang kau tidak membutuhkanku dan ku mohon jangan mencoba menjauh lagi dariku" tangisan Aziel semakin lirih dan terdengar menyedihkan.
Mendengar ucapan putri yang hidupnya benar-benar dipenuhi penyesalan dan mendengar penderitaan yang sudah di lalui juga oleh mantan kekasihnya itu, membuat Rui akhirnya sadar bahwa bukan hanya dirinya yang menderita.
Lalu ia memberanikan dirinya berbalik dan menatap kembali wajah Aziel dengan benar. Melihat wajah Aziel yang begitu menyedihkan ia tahu bahwa apa yang gadis itu ucapkan bukanlah kebohongan.
"Aku minta maaf. Maafkan keegoisanku, aku selalu berfikir bahwa cuma aku yang menderita dan tidak memikirkan penderitaanmu juga. Sejujurnya aku hanya takut menatap wajahmu yang bisa membuatku teringat kembali dengan kenangan kita. Maaf aku tib-tiba pergi tanpa meminta penjelasan darimu. Aku minta maaf Linda" ucap Rui sambil mengusap kepala putri elf.
Mendengar ucapan dari Rui, putri elf menangis dan langsung memeluk Rui.
"Huuuuuuuhh..., Ak.Aku... aku benar - benar merindukanmu Romi, aku merindukanmu" ucap putri.
Wajah elegan dan cantiknya seperti menghilang karena tangisannya yang seperti anak kecil.
"Iya sudah - sudah jangan menangis lagi. Aku juga merindukanmu Linda" ucap Rui sambil membalas pelukan putri.
Ketiga elf yang sedari tadi melihat mereka, benar - benar hanya bisa melihat dan tidak tau harus berbuat apa karena kebingungan. Siapa Romi, siapa linda, bagaimana putri elf bisa mengenal seorang anak bangsawan manusia, hal itu benar - benar tidak sampai di otak mereka.
Setelah putri elf tenang, mereka segera pergi dari tempat itu dan langsung menuju ke istana kekaisaran untuk memberikan kabar gembira untuk kaisar dan raja elf.
Di tengah perjalanan pulang, para elf yang melihat tingkah putri hanya bisa tersenyum melihat kedekatan mereka. Rui yang malu karena dilihat oleh mereka mencoba untuk membuat putri melepaskan rangkulannya pada tangannya.
"Putri, bukankah sebaiknya anda melepaskan saya sekarang. Apakah kau tidak malu dilihat mereka seperti itu" ucap Rui gelisah.
"Kenapa harus malu, mereka hanya bahagia melihat dua kekasih yang bertemu kembali" ucapnya cemberut.
"Iya tuan, anda tidak perlu merasa tidak enak pada kami. Anggap saja kami hanyalah benda mati yang ikut bersama kalian" jawab mereka tersenyum.
Rui hanya tersenyum pahit mendengar ucapan mereka.
__ADS_1
"Ahhh, bagaimana bisa seperti ini, dan bagaimana aku menjelaskan ini pada karin dan Ririna" gumam Rui dalam hatinya yang tengah di landa kegelisahan.
...Bersambung...!!!...