
Ketika memasuki mansion, aku melihat ibu dan nenekku terlihat sangat ketakutan. Sepertinya mereka berdua ketakutan melihat wujud Indra, Namun Karin dan Ririna tampak santai dengan duduk sambil meminum tehnya.
Aku yang melihat itu agak kesal karena mereka sepertinya tidak mau membantuku menjelaskan tentang kontrakku dan tentang indra pada ibu dan nenek.
Namun melihat kakekku yang tampak lesu dan hampir pingsan membuat mereka mengurungkan niatnya bertanya lebih jauh.
Setelah beberapa saat, kakek kembali tenang dan meminta penjelasanku tentang Indra dan bagaimana aku bisa menjalin kontrak dengannya.
Setelah menjelaskan semuanya akhirnya mereka paham namun masih tidak menyangka aku bisa menundukkan sosok agung seperti Frost Dragon.
"Kakek masih tidak tau harus berkata apa"
Lalu karin menaruh tehnya dan ikut ambil bicara.
"Yah aku mengerti perasaan kakek karena aku juga mengalaminya langsung di Arena seleksi dulu"
"Arena seleksi.?"
"Yah, Rui pernah memanggil Frost Dragon untuk menghadapi naga milik Eizan"
"Ohh, aku juga pernah mendengar rumor tentang itu, namun banyak yang menganggap itu hanya hayalan dari para murid akademi"
"Iya, saksi mata tentang kejadian itu memang hanya sedikit karena sebagian dari mereka pingsan tak sadarkan diri dan sebagian lagi menganggap semuanya hanya mimpi karena syok berat"
Kakekku terdiam dan mengelengkan kepala mendengar penjelasan dari Karin. Aku yang melihat ekspresi kakek merasa bersalah karena aku menambah beban pikiran keluargaku.
Aku menoleh ke arah ibuku, dia terlihat begitu pucat dan khawatir mendengar ceritaku. Aku yang melihat itu berusaha untuk menenangkannya.
"Ada apa ibu?"
Ibuku menoleh ke arahku dan mengambil nafas dalam untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Tidak ada apa - apa Rui, hanya saja ibu sedikit syok mendengar begitu banyak hal yang tidak ibu ketahui tentangmu"
Mendengar hal itu aku menjadi merasa bersalah karena merahasiakan begitu banyak hal dari keluagaku.
"Aku minta maaf ibu, aku bukan bermaksud menyembunyikan semuanya darimu"
"Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiranmu dengan masalahku"
Mendengar ucapanku, nenekku memegang pundak ibuku dan menasehatinya.
"Putriku, anakmu sudah besar, dia tahu apa yang benar dan salah. Jika dia mempunyai satu atau dua hal yang tidak bisa ia bicarakan denganmu itu adalah hal yang wajar. Tapi sebagai anak dia pasti akan membutuhkan kasih sayang ibunya"
"Maka jadilah sosok ibu yang menjadi tempat berpulang anak - anakmu di kala mereka letih karna sehebat apapun seseorang, pasti di mata ibunya dia tetap akan menginginkan kasih sayang ibunya"
Mendengar hal itu, ibuku kembali tenang dari rasa khawatirnya.
"Iya terima kasih ibu, aku hanya khawatir kepada anak - anakku"
"Ada apa kakek?, Kenapa wajahmu terlihat khawatir"
Mendengarku bertanya, kakek diam sejenak dan menjawab pertanyaanku.
"Rui, bagaimana kita menjelaskan semuanya kepada Kaisar?"
"Maksud kakek?"
"Tentang kematian Duke oleh Frost Dragon milikmu"
Mendengar itu, aku baru ingat kalau Indra membunuh Duke Nourman. Aku sebenarnya tidak terlalu perduli namun sepertinya tidak dengan kakek.
"Yah, kita hanya harus mengatakan yang sebenarnya kepada Kaisar"
__ADS_1
"Rui cucuku, kematian seorang Duke bukanlah hal yang sepele, kehilangan salah satunya adalah sebuah kehilangan yang besar bagi kekaisaran dan tentu kau yang akan di salahkan atas kematiannya. Membunuh seorang Duke adalah suatu kejahatan yang tidak akan bisa di toleransi bahkan biarpun yang membunuhnya adalah kaisar sekalipun"
Mendengar hal itu, aku menjadi sedikit khawatir karena hal yang kutakutkan terjadi. Memang membunuh mereka bukanlah hal sulit, namun bukan hanya merusak keseimbangan kekuatan kekaisaran, membunuh bangsawan tingkat tinggi akan membuat seseorang di cap sebagai penghianat kekaisaran dan seluruh orang yang memilki hubungan dengannya akan di hukum mati hingga 3 Generasi setelahnya.
Karin, Ririna dan ibuku menjadi sangat khawatir mendengar hal itu. Bahkan ibuku merencanakan ide - ide gilanya untuk melarikan diri ke luar Kekaisaran demi menyelamatkanku.
Lalu aku menghentikan niatnya dan menenangkan kekhawatiran ibuku. Lalu aku menyuruh kakekku untuk membuatkan surat kepada kaisar dan menyuruh kaisar datang secepat yang ia bisa ke wilayah kami.
Kakekku mulanya ragu karena meminta kaisar datang ke tempat seorang Count apalagi menyuruhnya secepatnya adalah sebuah penghinaan dan akan di anggap sebuah tindakan kejahatan.
Ibuku juga menjadi terkejut mendengar permintaanku karena dia berfikir aku akan menyerahkan diriku. Namun aku tetap mendesak kakekku dan dia akhirnya mengirimkan suratnya ke kaisar.
Keesokan harinya, kereta yang membawa Risiya dan ibunya sampai di kediaman kami. Karin dan Ririna yang melihat mereka berdua segera berlari dan memeluk mereka karena sangat khawatir dengan keadaan Risiya.
Lalu aku menjelaskan semuanya kepada kakek dan ibuku. Mendengar penjelasanku seperti dukaanku kakek menyambut mereka dan dengan senang hati akan menerima keluarga Risiya.
Lalu 3 hari setelah surat itu dikirim, sang kaisar telah sampai di kediaman kami. Kakek, nenek dan ibuku menyambut mereka dan memberi hormat atas kedatangannya.
Ibuku yang menoleh ke arahku sangat terkejut melihatku tidak membungkukkan badan dan tidak memberi hormat kepada kaisar.
"Rui, apa yang kau lakukan cepat menunduk dan member.."
Ibuku terdiam dan tidak bisa melanjutkan ucapannya karena melihat sang kaisar dan ajudannya yang malah membungkuk dan memberi hormat padaku.
"Oh, senang bertemu kembali dengamu, tuan Rui yang saya hormati"
"Ya aku juga yang mulia kaisar"
Melihat hal itu, kakek ibu dan semua orang yang melihat itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Namun Ririna dan Karin yang melihat hal itu malah tertawa melihat orang - orang yang tercengang.
"Hahahah, bukannya ekspresi mereka lucu" tanya Ririna kepada Karin yang di sebelahnya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana bisa Rui di hormati sampai seperti itu oleh kaisar. Aku tau kaisar pernah menemuinya di akademi tapi aku tidak menyangka sampai seperti ini. Namun setelah lama bersamanya hal seperti ini bukanlah hal yang bisa membuatku terkejut" keluh karin melihat tingkah kaisar.