
Rui terbangun dari mimpinya, ia masih berkeringat karena melihat seseorang yang misterius itu menatapnya.
Para tabib istana yang melihat Rui sadar segera berlari untuk memberi kabar pada kaisar. Para anggota keluarga Rui juga mendapatkan kabar tersebut.
Ibu Rui yaitu Julia, berlari ke arah kamar Rui dan langsung memeluk putranya yang sudah bangun dari pingsannya. Bahkan di kedua matanya terlihat jelas bahwa dia belum tidur semenjak datang ke istana karena mengkhawatirkan putranya.
Dia juga menjadi semakin tidak tenang karena tidak bisa melihat kondisi putranya yang sedang di rawat karena tabib istana tidak membiarkan siapapun itu mengganggu pengobatan sang pahlawan.
"Ruiiiii, Rui putraku" ucapnya yang langsung memeluk putranya.
"Kau akhirnya sadar anakku. Kau benar - benar membuat ibu cemas. Kau dirawat dan pingsan selama 2 hari" ucapnya terus menangis.
Rui yang melihat kantung mata di wajah ibunya menjadi merasa sedikit bersalah karena membuat ibunya seperti itu.
"Iya, aku sudah sadar ibu. Maaf bila aku membuatmu khawatir" ucap Rui membalas pelukan ibunya.
"Tidak anakku, kau tidak perlu meminta maaf. Kau sudah melakukan tugas yang benar. Ibu bangga padamu nak" ucap Julia mengelus kepala putranya.
Lalu datang Ririna dan Karin berlari untuk melihat Rui yang sudah sadar disusul oleh paman dan kakeknya Rui.
"Ruiiiiiii" ucap mereka berdua langsung memeluk Rui.
"Dasar bodoh, ini sudah kesekian kalinya kau membuat aku khawatir setengah mati. Dasar Rui bodoh, bodoh, bodoh" ucap Ririna menangis.
"Syukurlah kau sudah sadar Rui, aku cemas karena tidak bisa memantau kondisimu" ucap Karin sambil terseyum melihat kesembuhan adiknya.
"Ehehe, iya maaf karena membuat kalian berdua mengkhawatirkanku. Lalu diamana Risiya" ucap Rui yang melihat sekelilingnya namun tidak bisa menemukan Risiya dimanapun.
"Ahh, kalau Risiya, dia sedang memanggil kakek dan paman kesini" ucap Karin.
Lalu kakek dan pamannya Rui masuk ke ruangan itu bersama Risiya.
"Syukurlah kau sudah bangun cucuku" ucap Moris barnet melihat cucunya yang sudah sembuh.
"Iya kakek" ucap Rui terseyum.
__ADS_1
Paman Rui mendekat dan melihat keponakannya dari dekat.
"Kau benar - benar sudah membuatku kagum. Kau benar - benar sudah melangkah jauh dari masa lalumu yang kelam. Ak_aku tidak mampu mengungkapkan betapa bangganya aku menjadi pamanmu" ucap Eliot sambil meneteskan air matanya karena terharu dengan keponakannya itu.
"Ini semua juga berkatmu paman. Pamanlah yang membuatku mampu bangkit dari keterpurukanku, paman juga yang sudah tidak menyerah terhadapku. Begitupula denganmu ibu, kakek, nenek, kakak. Terima kasih sudah selalu ada untuk mendukungku hingga sejauh ini. Lalu Ririna, Risiya, terima kasih sudah mau menjadi temanku" ucap Rui dengan senyuman yang berkesan dalam pada hati mereka.
Mereka semua terharu mendengar ucapan Rui.
"Ak_aku, aku juga sangat bahagia kau terlahir menjadi adikku Rui" ucap Karin memeluk Rui.
Julia yang mendengar dan melihat anaknya mengatakan itu menjadi emosional dan memeluk kedua anaknya.
"Ibu juga, Ibu juga sangat bahagia karena kalian berdua sudah hadir di kehidupanku. Walau apapun yang dikatakan orang lain terhadap kalian, serendah apapun kalian di mata mereka, kalian tetap anak - anakku yang lahir dari rahimku. Aku akan selalu menyayangi kalian berdua sampai akhir hayat ibu" ucap Rui sambil menangis.
Orang - orang yang menyaksikan itu, semuanya terharu melihat betapa tulusnya cinta di antara ibu dan anak - anak itu. Eliot juga ikut memeluk ayahnya karena merasa bahagia melihat kebahagiaan kakak dan keponakannya.
Lalu pelayan datang bersama paduka kaisar. Kaisar langsung berlutut di depan Rui.
"Syukurlah anda sudah bangun wahai pahlawan dan saya sangat bersyukur karena sudah menyelamatkan kekaisaran ini dan orang - orang di akademi. Terima kasih pahlawan" ucap kaisar sambil menundukkan kepalanya.
Melihat hal itu, Rui menjadi tidak enak melihat kaisar menundukkan kepalanya di depan semua orang di ruangan itu.
Kaisar yang mendengar itu merasa sangat bahagia di lubuk hatinya. Dia pernah merasa sangat putus asa ketika kekaisarannya dan rakyatnya hampir di musnahkan.
"Kalau begitu jika anda tidak keberatan, bisakah saya meminta anda menyapa para penduduk kekaisaran yang sudah menunggu kabar kesembuhan anda" tanya kaisar.
"Menungguku?" tanya Rui bingung.
"Iya pahlawan"
"Rui saja" tegas Rui.
"Maaf. Iya Rui, Mereka semua berasal dari seluruh penjuru kekaisaran datang untuk mendengar tentang kesembuhanmu dan menyaksikan pelantikanmu sebagai sang pahlawan kita semua malam nanti. Namun mereka datang sejak 2 hari yang lalu karena sangat antusias dengan kabar tentang lahirnya pahlawan" ucap Kaisar.
"Ahhh, bukannya itu terlalu berlebihan?" tanya Rui.
__ADS_1
"Tidak Rui. Begitulah perasaan kami semua yang begitu bahagia mendengar kabar tentang pahlawan. Ratusan tahun para manusia mendambakan lahirnya seorang pahlawan terpilih dan akhirnya mimpi kami semua terwujud dan begitu bahagia karena hidup di era ini" ucap Kaisar.
"Jadi tolonglah sapa mereka yang bahkan rela tidur di jalan karena penginapan di kota sudah penuh" ucap Kaisar.
Rui yang mendengar itu langsung menyetujui permintaan kaisar.
Lalu Rui mendatangi balkon istana sehingga mereka semua bisa melihat Rui dari bawah.
"Perhatiaaaaaaaaaan" ucap ajudan Kaisar.
"Sang pahlawan terpilih sudah tibaaaaaaa" ucap ajudan tersebut.
Lalu Rui yang sudah mempersiapkan diri dan sudah mengganti pakaiannya maju ke balkon istana.
"Pah_pahlawan itu pahlawan" ucap warga ibukota kekaisaran yang sudah melihat pertarungan Rui sebelumnya.
Namun warga kekisaran yang berasal dari daerah kekuasaan ayah Rui dan kakeknya malah merasa ragu akan kenyataan tersebut. Mereka saling berbisik satu sama lain karena merasa curiga.
"Ehh, bukankah dia anak gagal yang di katakan sebagai aib bangsawan itu" bisik mereka.
"Iya, itu anaknya nyonya Julia yang tidak bisa menggunakan sihir dan membuat keluarganya hancur itu" balas mereka hingga suara - suara mereka terdengar oleh para warga yang lain.
Para warga ibukota yang mendengar itu menjadi geram dan marah mendengar ocehan mereka.
"Apa maksud manusia - manusia kampungan seperti kalian berbicara seperti itu?" ucap mereka kesal.
"Iya benar, kami menyakisakn sendiri kekuatan dari pahlawan. Kalian yang berani meragukan hal tersebut sebaiknya kembali ke kampung halaman kalian sebelum kami menyeret kalian" ucap mereka yang kesal.
Namun para warga yang meragukan Rui itu malah semakin menjadi - jadi.
"Diam kau, kami hanya mengatakan apa yang kami ketahui dan itu kenyataannya. Apa jangan - jangan, karena dia menyelamatkanmu dari teror para sekte dari menara sihir membuatmu berhalusinasi kalau dia pahlawa" ucapnya berbalik kesal.
"Benar, bahkan kami juga mendapat kabar kalau orang yang menyerang ibukota kemarin itu mengaku sebagai pahlawan. Bagaimana kami tahu kalau dia juga orang yang mengaku - ngaku sebagai pahlawan" ucap para rakyat jelata yang tidak mempercayai hal tersebut.
Mendengar ocehan - ocehan mereka, Rui menjadi sedikit kesal dan langsung memanggil pedang pahlawannya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli orang - orang munafik seperti kalian akan mempercayaiku atau tidak. Aku benar - benar merasa jijik karena harus mempertaruhkan nyawaku untuk kalian yang selalu merendahkanku. Jika bukti yang kalian inginkan, maka lihatlah dengan mata kalian dan pikirkan dengan kepala bodoh kalian itu jika yang mereka katakan itu salah. Datanglah Rignit"
...Bersambung....!!!!!...