
Ketika pertemuan dengan Kaisar selesai, aku pergi menemui Karin dan Ririna. Ketika aku hendak berbicara, raut muka mereka kelihatan tidak tenang. karna penasaran akupun menanyakan penyebabnya.
" Ada apa Kak, Ririna, tampaknya ada yang kalian pikirkan " tanyaku pada mereka.
" Rui, Sebenarnya aku khawatir dengan Risiya, aku tidak melihatnya akhir - akhir ini " jawab Karin.
" Mau bagaimana lagi, dia kan masih tahun pertama dan tidak memilki waktu luang sebanyak kita "
" Bukan begitu maksudku, dari sejak sebelum Seleksi itu, aku tidak pernah melihatnya lagi "
" Aku juga berfikir ini cukup aneh " saut Ririna.
" Yah, kalau begitu bagaimana kalau kita pergi menemuinya " Saranku pada mereka.
Setelah mereka berdua setuju, kami menanyai anak kelas 1 untuk mencari jawabannya. Mereka tampak sangat ketakutan ketika melihatku. Mungkin karna insiden ketika mereka meneriakkan umpatan mereka padaku.
" Hei kau anak tahun pertama kan , ada yang ingin aku tanyakan padamu " ucapku ke 3 orang gadis yang sedang duduk di bangku taman.
" Eeeh Ru_Ru_Rui Sempai ada apa ya " jawab mereka terbata bata karna kaget dan takut.
Lalu aku bertanya mengenai Risiya pada mereka.
Mereka mengatakan kalau Risiya kembali ke kampung halamannya karna Ibunya sedang sakit. Namun aku masih belum percaya sebelum mendengar jawaban darinya langsung.
Setelah bertanya lokasi tempat tinggalnya aku pergi menemuinya sendiri, Karin dan Ririna menggerutu ingin ikut namun akan lebih baik aku pergi sendiri.
Sesampainya di rumah Risiya, aku mengetuk pintu dan seorang pembantu membukakan pintunya.
" Ahh, selamat datang tuan, ada keperluan apa anda kemari " sambut Pelayan itu dengan sopan.
" Aku kemari ingin menemui Risiya, bisa tolong panggilkan dia " jawabku.
" Ahh, mohon Maaf tuan, karna Nona Risiya tidak tinggal disini lagi "
Sontak mendengar itu aku sangat terkejut.
" Apa maksudmu, bukannya ini kediaman Viscount Risman , lalu mengapa dia tidak disini " ucapku kaget.
" Mohon maaf tuan, saya tidak bisa mengatakan hal lebih jauh lagi, namun jika Tuan Muda ingin menemuinya, anda bisa pergi ke sebuah Desa di Utara, kalau begitu saya permisi " ucapnya dan pergi meninggalkanku.
Lalu tanpa pikir panjang, aku pergi ke lokasi Desa yang disebutkan Pelayan tadi. Sesampainya disana, aku bertanya ke orang orang disana dan akhirnya sampai ke rumah kumuh tempat tinggalnya.
" Permisi, apakah ada orang di rumah "
Namun tidak ada jawaban, lalu suara keras berbunyi di dalam rumah yang membuatku kaget dan langsung masuk.
Aku kembali terkejut melihat seorang Wanita yang lebih muda dari Ibuku terjatuh dari tempat Tidur dan dalam keadaan yang sangat lemah.
" Anda baik - baik saja Nyonya " tanyaku khawatir.
" Dia terus - terusan Batuk dan aku mengangkatnya kembali ke tempat Tidur "
__ADS_1
" Terima kasih banyak Anak Muda, lalu siapa anda dan ada keperluan apa anda datang kemari " tanya wanita itu sambil terus batuk batukan.
" Saya temannya Risiya bibi , saya kemari untuk menemuinya " jawabku dengan sopan.
Lalu tiba - tiba Risiya datang membawa barang belanjaanya.
" Aku pulang, maaf menunggu lama ib.."
" Ehh Rui Senpai " ucapnya kaget.
" Anoo, maaf mengganggu " ucapku malu.
" Ada apa kau jauh - jauh kemari " tanya Risiya.
" Maaf, aku hanya hawatir karna tidak melihatmu akhir - akhir ini " jawabku.
" Ahaha, Terima kasih sudah menghawatikanku yang hanya rakyat jelata " Ucap Risiya.
Lalu Risiya menceritakan semuanya padaku. Ayahnya yang di bunuh dan dia yang di Usir oleh ibu tirinya. Karna ibunya dalam kondisi kurang baik jadi dia memutuskan untuk berhenti dari Akademi untuk mengurus ibunya.
" Sepertinya ada yang janggal dengan kematian ayahmu dan ibumu yang terkena Racun "
" Apa,?, racun? " Risiya terkejut.
" Iya, dari ciri - ciri kondisi ibumu, dia diRacuni dan kondisinya akan semakin memburuk "
" Aku bisa saja menyembuhkan Ibumu jika kau mau menyetujui syarat dariku " jawabku.
" Aku mohon Rui, untuk kali ini saja pinjamkan aku kekuatanmu untuk menolong ibuku, aku akan melakukan apapun " ucapnya dengan mohon.
Seketika ibunya sembuh dan langsung mencoba berdiri dan Risiya memeluk ibunya karna bahagia.
" Ibuu, syukurlah bu"
" Terima kasih Rui, terima kasih " ucap Risiya penuh senyuman.
" Terima kasih Tuan muda, saya tidak akan melupakan begaikan anda " ucap wanita itu.
" Kenapa kalian begitu Bahagia, bukannya aku belum memberikan syarat dariku " ucapku yang membuat mereka kaget.
Lalu Risiya melepaskan pelukan ibunya dan mendekat ke arahku.
" Katakanlah Rui, aku siap menanggung apapun permintaanmu " ucap Risiya dengan muka serius.
Seketika suasana menjadi canggung dan sunyi.
" Baiklah, syarat dariku adalah, bibi harus bekerja di tempat tinggalku dan Risiya harus kembali ke Akademi denganku "
Seketika Risiya yang tadinya tegang menjadi diam dengan tatapan kosong.
Lalu tiba - tiba air matanya menetes membuatku sedikit panik.
__ADS_1
" Ehh, aku cuma , itupun jika kalian bersedia aku tidak memaksa, lupakan tentang Syarat , ini hanya permintaanku " aku spontan mengatakannya karna aku semakin panik dengan rekasi Risiya.
Sambil terisak karna tangisan dan mengusap air matanya, Risiya mendekatiku dan membuatku tambah tidak karuan.
" Ke_kenapa"
" Kenapa kau bertindak sejauh itu hanya demi orang sepertiku " ucap Risiya sambil menangis.
Mendengar perkataannya membuat prasaan khawatirku sirna. Lalu aku tersenyum dan mengusap kepalanya.
" Sudah aku bilang kan, aku pasti akan melindungimu dan tentu saja karna kau adalah temanku yang berharga "
Mendengar itu Risiya memelukku dan terus menangis. Ibunya pun terharu dan ikut meneteskan air mata bahagia melihat Risiya yang memelukku.
Setelah itu, Risiya meminta untuk menemani ibunya yang akan berangkat ke kediaman kakekku dengan membawa surat yang aku titipkan untuk diberikan ke kakekku.
Lalu aku kembali ke Akademi untuk memberikan kabar tentang Risiya ke Karin dan Ririna.
Namun sesampainya disana aku menerima surat dari kakek agar aku pulang karna ada sesuatu yang penting. Namun aku tidak cemas karna beliau mengatakan dirinya dan orang - orang disana baik - baik saja.
Tanpa berlama - lama, aku segera menemui Karin dan Ririna untuk ikut denganku. Setelah itu kami berangkat.
" Anoo, Rui, kenapa kita tidak menuju tempat menyewa kereta " tanya Karin penasaran.
" Ahh, tidak apa - apa kakak, karna kita tidak membutuhkannya " jawabku sambil memegang tangan mereka.
" Teleport " lalu kami sudah tiba di depan mansion kakek.
Mereka kelihatan tidak terlalu terkejut dengan aku yang sudah bisa memindahkan mereka sekaligus tanpa kesusahan lagi.
" Wah hebat, kita sudah sampai " ucap Ririna senang.
" Sepertinya kemampuanmu berkembang pesat ya " ucap Karin sambil tersenyum padaku.
" Yah begitulah, aku hanya tidak ingin menunjukkan diri ke hadapan Publik dan membuat keributan karna Insiden saat seleksi sebelumnya. " jawabku senyum*.
Namun melihat ada prajurit yang tidak aku kenal di luar Mansion Kakek, aku jadi penasaran apa yang terjadi. Yah, kakek juga sudah mengetahui kemampuan Teleportku jadi dia tidak akan terkejut dengan kedatanganku yang tiba - tiba.
" Ah, selamat datang Tuan muda, aku senang melihat anda baik - baik saja " ucap mantan pemimpin Bandit yang sekarang menjadi penjaga Mansion kakek.
" Yah aku pulang Bil, senang melihat kau juga baik - baik saja " balasku sambil masuk ke dalam.
Ketika aku masuk, aku melihat wajah seseorang yang membuatku sangat ingin memukulinya.
" Ahh, itu dia , selamat datang Rui, kemarilah cucuku " ucap Kakek padaku.
" Aku pulang Kakek " balasku singkat.
Aku tidak melihat Ibuku dan Nenek, sepertinya memang ada masalah yang cukup penting sehingga mereka tidak bisa di ganggu.
" Owhh, jadi ini anak yang katanya di rumorkan sebagai penakluk Frost Dragon " ucap seorang Duke yang pernah mencari gara - gara denganku.
__ADS_1
" Lalu ada apa kau kemari " tanyaku singkat.
Kakek tampak terkejut dengan sikapku kepada Duke yang tidak lain adalah Ayah Eizan dan orang yang pernah merencanakan penyerangan ke Wilayah ini.