
Rui melangkah mendekati pintu masuk gua. Sontak para penjaga pintu masuk gua tersebut mengarahkan senjatanya untuk menghentikan langkah Rui.
"Berhenti nak, kau pikir kau mau kemana" ucap salah satu orang yang menjaga tempat itu.
Tanpa membalas perkataan orang itu, Rui dengan santai melemparkan belatinya hingga menembus tenggorakn orang itu. Sontak penjaga yang satunya memandangi temannya dengan ketakutan karena tidak bisa melihat pergerakan benda yang menusuk leher temannya.
"Tu_tunggu , tolong tunggu apa tuju..." belum menyelesaikan ucapannya, belati sihir sudah menancap menembus kepalanya.
Seketika kedua penjaga itu mati, namun Rui dan Risiya hanya melewati kedua mayat itu tanpa menoleh sedikitpun.
Belum begitu dalam memasuki pintu gua, para bandit mencegat Rui dan Risiya untuk melangkah lebih jauh.
"Berhenti, apa yang kalian inginkan di tempat ini"
Dengan tatapan marah Rui menatap laki - laki itu yang membuatnya merinding.
"Apa kau pemimpin disini?" tanya Rui.
"Tidak, aku bu.." lagi - lagi belati menancap ke leher orang itu sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Sontak hal itu membuat para bandit yang lain menjadi panik dan segera mengeluarkan senjata mereka.
Peluit untuk menandakan adanya penyusup di bunyikan. Dalam sekejap Rui dan Risiya terkepung dari pintu dan dalam gua.
"Bunuh anak itu"
Mereka kemudian menyerang Rui dengan pedang dan panah. Risiya tanpa ragu mengeluarkan sihir api dan membakar orang - orang tersebut.
Namun tanpa di duga sihir api milik risiya padam dengan sangat cepat, malah sihirnya dibalas dengan sihir yang lebih kuat dari para penjahat itu. Untunglah Rui dengan sigap mengeluarkan mana barier dan melindungi Risiya dari serangan para penculik itu.
"Tidak mungkin, mereka memilki kekebalan oleh sihir dan mereka juga bisa mengeluarkan sihi!" Risiya terkejut.
Melihat hal itu, Rui mendekat ke arah tubuh mungil milik Risiya.
"Risiya, aku tidak bisa mengeluarkan kemampuanku di tempat sempit seperti ini dan menggunakan senjata pahlawan juga akan sangat beresiko melukaimu ataupun korban yang di dalam gua ini"
"Lalu bagaimana?" tanya Risiya.
Lalu Rui mengambil pedang miliknya dan menanamkan mana untuk menyelubungi pedang itu.
__ADS_1
"Gunakan pedang ini, akan sangat beresiko menggunakan sihir sekala besar di ruang sempit ini, namun gunakan sihir angin untuk menutupi kekuranganmu dalam ilmu berpedang" perintah Rui ke Risiya.
"Baiklah, mari kita basmi hama ini" ucap Risiya dengan senyum bercampur marahnya.
"Yah, kau urus bagian belakang dan aku akan tangani yang di depan" ucap Rui.
Risiya melesat ke arah bandit itu dan dengan cepat menebas bandit itu satu persatu. Pedang maupun sihir yang mencoba menahan pedang yang digunakan Risiya langsung hancur ketika bertabrakan.
"Mundur, wanita ini gila. Dia menggunakan kemampuan aneh untuk menembus sihir kita. Serang dia dari segala arah dan pusatkan sihir kita" ucap salah satu penjahat itu.
Risiya dikepung dengan sihir dan panah, bebrapa bisa di tebas oleh Risiya namun ada beberapa sihir yang lolos dan mengenai tubuh Risiya.
"Ukhhh" ucap Risiya yang melihat punggungnya terkena luka bakar dan pahanya terkena sayatan sihir angin.
Rui bergerak dengan cepat dan menumbangkan para penculik itu satu persatu. Segala sihir pertahanan yang mencoba menahan serangan belati sihir milik Rui tidak ada gunanya. Semuanya mampu tertebas dengan mudah hingga membuat beberapa dari mereka mundur beberapa langkah.
"Sial apa yang terjadi. Mengapa pelindung yang diberikan pemimpin tidak berguna melawan senjata aneh itu" ucap mereka heran.
Lalu Rui dengan cepat mengeluarkan puluhan belati sihir yang melayang di sekitarnya dan bersiap menerjang para penculik itu.
Melihat maut yang sebentar lagi merenggut nyawanya, para penculik yang tersisa merinding ketakutan dan mencoba melarikan diri. Namun dalam sekejab belati tersebut menembus tubuh para penculik dan membinasakan mereka.
Bahkan ketakutan dari para penjahat yang menghadapi Risiya lebih besar di bandingkan dengan ketakutan para penjahat yang menghadapi Rui.
Bahkan Rui sampai merinding melihatnya dan akan mencoba berhati - hati agar tidak membuat Risiya marah.
Ketika berhasil membantai mereka semua, Risiya kembali sadar. Ketika melihat Rui yang menatap ke arahnya wajahnya merah padam karena malu dengan amukannya beberapa saat yang lalu.
"A_aaaaaa ini bukan, aku tidak.." Risiya mencoba menjelaskan namun tidak menemukan kalimat yang tepat.
"Iya,iya aku mengerti. Sudahlah aku tidak mempermasalahkannya" ucap Rui mencoba menenangkan Risiya.
Risiya menyeka air matanya yang terjatuh karena rasa malunya memperlihatkan sisi yang dia rasa memalukan kepada tuannya.
"Yah tapi, aku rasa aku harus berhenti menilai orang dari luarnya" ucap Rui dengan wajah ragu.
Mendengar hal itu Risiya kembali cemberut karena malu. Lalu Rui menyembuhkan luka Risiya dan bersiap untuk memasuki bagian terdalam gua.
Namun tiba - tiba, Gelangnya bergetar tanda bahwa ada panggilan yang datang dari regu bayangan.
__ADS_1
"Tuan Rui, kami menemukan beberapa elf dan warbeast dan bahkan manusia di tempat pelelangan budak. Disini banyak bangsawan dan apabila kita melanjutkan pembebasannya pasti akan mengakibatkan kericuhan dan akan membahayakan mereka"
Mendengar hal itu rui tanpa ragu mengatakan.
" Aku tidak perduli dengan para bangsawan itu, bebaskan mereka semua dan bunuh siapapun yang melawan"
"Baiklah" jawab para Pasukan bayangan.
Setelah mengatakan itu, Rui melanjutkan langkahnya memasuki sebuah ruangan yang terlihat sebagai tempat penyekapan.
Ketika hendak membuka pintu sebuah benda Runcing hampir saja menembus wajah Risiya namun berhasil di halau oleh Rui.
"Hooh, aku puji kau berhasil menghentikannya" ucap orang yang menunggu kedatangan Rui.
Ketika masuk dan melihat orang tersebut betapa kagetnya Rui melihat orang yang menyerangnya adalah manusia yang memilki ekor, bersayap dan bertanduk.
"Jadi ini iblis" gumam Rui melihat penampilan orang itu.
"Hahahaha, berlututlah di hadapanku penyusup, atau kau akan ku buat mati mengenaskan"
Rui bersiap dengan mengeluarkan belati sihir di tangannya. Ririya juga bersiap dengan menggeluarkan sihir dan bersiap menyerangnya.
"Rui, sepertinya aku tidak akan banyak membantu mengahadapi makhluk itu karena masih kelehan menghadapi para penjahat yang tadi. Jadi aku hanya akan membantu dari jarak jauh" ucap Risiya.
"Yah baiklah"
Ketika bergerak mundur Risiya tidak sengaja menoleh ke sudut gua dan melihat Karin da Ririna yang terikat dengan tubuh penuh luka. Seketika Risiya teriak memberitahu Rui.
"Ruiii, Karin dan Ririna disana"
Ketika menoleh dan melihat wajah kakak dan sahabatnya yang penuh luka, tiba - tiba Rui menjadi sangat marah. Dengan tatapan yang penuh amarah Rui menatap tajam ke arah makhluk itu.
"Apakah kau yang melakukannya?" tanya Rui.
Dengan santainya iblis itu menjawab.
"Oh jadi mereka kenalanmu, kalau begitu aku akan memperkosa mereka di depan mayatmu nantinya, hahahahaha" tawa iblis itu memekik di telinga Rui dan Risiya.
"Beraninya makhluk rendahan sepertimu menyentuk orang yang ku sanyangi, jangan fikir kau bisa mati dengan tenang"
__ADS_1
Lalu Rui melesat ke arah iblis itu dan pertempuran antara Rui dan iblis tingkat tinggi di mulai.