
Jumlah pasukan Orc yang sangat banyak, membuat pasukan elf kualahan. Namun dengan kedatangan Rui, mereka berhasil mencegah Orc melangkah lebih jauh ke dalam hutan.
Rui mengumpulkan kembali energi pada panah Cronicel. Panah suci itu mengumpulkan energi ketika busur itu di tarik. Semakin lama di tahan, maka energi yang terkumpul akan semakin besar dan juga dampak kekuatannya akan semakin besar juga.
Namun menahan busur panah Cronicel yang sedang mengumpulkan energi, memerlukan tenaga cukup besar, hal itu yang membuat Rui tidak bisa menggunakannya secara terus menerus.
"Thunder shooting" Rui melepas tembakannya.
Anak panah tersebut berubah menjadi burung petir yang langsung menyambar para Orc yang di dekat hutan Florys hingga para orc yang levelnya rendah langsung binasa seketika. Ribuan Orc telah mati oleh serangan tersebut, namun tetap saja itu tidak banyak berpengaruh bagi jumlah Orc yang masih berjumlah puluhan ribu.
Malahan saat ini, Rui yang telah menggunakan kekuatan penuh dari panah Cronicel, membutuhkan waktu lagi sampai panah tersebut terisi energi kembali.
"Rignit" ucap Rui yang langsung terjun ke medan pertempuran membawa pedangnya.
"Grrrrr... Roooaaaaaar" suara intimidasi dan raungan dari Orc general yang melompat ke hadapan Rui. menantang Rui untuk bertarung.
Rui dengan kekuatan pedang Rignitnya dengan cepat menebas tubuh Orc itu hingga terbelah menjadi 2. Para orc yang melihat itu menjadi waspada terhadap Rui.
Raja elf dan ke 4 pilar lainnya berubah ke mode Hybrid mereka. Sebuah situasi di mana para Elf menyatukan tubuh serta jiwa mereka dengan Wyvern miliknya. Lalu para pilar berubah menjadi setengah Wyvern dan memilki kekuatan yang sangat besar. Mirip seperti Indra dalam mode manusia setengah naganya.

Mereka dengan cepat membabat habis para Orc.
Ketika dalam mode Hybrid, para Elf menggunakan pedang dari ekor Wyvern yang sudah di selimuti sihir api milik Wyvern hingga apapun yang di tebasnya akan langsung terbakar menjadi abu.
"Huraaaaaaaa" teriak para prajurit elf.
Kekuatan tempur dari mereka berempat sangat besar hingga mampu mengendalikan alur peperangan dan membangkitkan semangat juang dari prajurit mereka.
Mereka bertempur bersama dan hingga mampu mukul mundur pasukan Orc.
Sedangkan Rui sudah terkepung dari segala arah oleh para Orc.
Mereka serentak berlari menyerang Rui, namun Risiya segera melompat dari atas Wyvern yang ia tunggangi lalu jatuh tepat di samping Rui .
"Hey... Bukankah kau terlalu sembrono, Rui"
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menyerang mereka dengan serangan jarak jauh pedangmu saja?" ucap Risiya yang masih memperhatikan sekelilingnya.
"Maksudmu menggunakan tebasan enegi?" tanya Rui.
"Iya" jawab Risiya"
"Arrrrkkkkkkkkk" seruan serangan para Orc yang maju menyerang mereka.
Rui dan Risiya bertarung bersama. Rui menjaga bagian depan sedangkan Risiya menjaga bagian belakang.
"Jika aku melakukan itu, aku akan tumbang duluan saat mengumpulkan dan menggunakan energi dari senjata suci, itu sangat menguras tenagaku" jawab Rui sambil menebas setiap Orc yang datang.
"Dwarrrr" suara kepala-kepala Orc yang hancur oleh cengkraman cakar Risiya yang sudah memasuki mode Beastnya.
"Jadi ini maksud dari raja elf yang mencegahmu melawan para Orc" ucap Risiya yang meregangkan cakarnya bersiap menyerang musuhnya.
Para Orc dengan serentak menerjang ke arah Rui untuk menghentikan pergerakannya.
"Swiiiing" tebasan Rui yang membelah semua Orc yang melompat ke arahnya.
Darah para Orc mengalir deras di tempat Rui dan Risiya berdiri. Pakaian Risiya dan Rui yang berwarna biru indah kini berubah warna karena darah yang terus terciprat ke wajah dan pakaiannya.
"Iya, aku mungkin bisa bertarung dengan para Jendral iblis yang tidak bisa di kalahkan oleh semua ras, namun aku juga akan kualahan jika melawan musuh dengan jumlah yang lebih besar seperti ini" jawab Rui sambil menebas para orc dan blood wolf yang menyerangnya.
"Swingg" Serangan cakar Risiya yang menembus setiap jantung Orc yang mendekatinya lalu.
"Yah, aku juga memahami itu dari dulu, ini juga yang menjadi alasanmu menyatukan Ras dan menjinakkan Frost Dragon bukan?" ucap Risiya.
Mereka kembali saling menempelkan punggung dan menjaga bagian belakang satu sama lain.
"Sudah aku duga, kau mengetahui dengan sangat tepat setiap tindakanku" Rui tersenyum mendengar ucapan Risiya.
"Aku senang mendengarnya" tubuh Risiya mengeluarkan aura merah. Taring di mulutnya memanjang dan matanya memerah menandakan dirinya memasuki mode buasnya.
"Roaaaaaaaar" raungan Risiya membuat para Orc semakin waspada.
Tanpa basa-basi, Risiya menerjang ke arah kerumunan Orc tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Para Orc mulai tercabik oleh buasnya serangannyq. Dari kejauhan, gerombolan Orc yang lebih kuat terlihat mendekat ke arah Risiya.
__ADS_1
Para Hight Orc yang merupakan pasukan terkuat di kalangan Orc, menganggap Risiya adalah sebuah ancaman dan langsung berkumpul untuk membinasakannya.
Namun walaupun sudah mengepung dan menyerang Risiya secara bersamaan, para High Orc tidak mampu menandingi kekuatan Risiya. Tebasan maupun luka yang mengenai Risiya hanya membuat dirinya semakin brutal menghabisi para Orc.
Bahkan seorang pahlawan seperti Rui, merinding melihat kekejaman Risiya membantai para Orc.
"Benar-benar mode Berserker" gumam Rui.
Para General dan Hunter Orc di kerahkan ke tempat pertarungan Rui dan Risiya.

Mereka adalah Orc terkuat di antara High Orc. Mereka dengan cepat melesat menunggangi serigala hitam ke arah Risiya. Mereka berperang dengan insting dan bertempur dengan sangat hebat seperti pasukan yang berpengalaman.
Berbeda dengan Orc biasa yang menyerang tanpa rencana dan membabi buta. Para Orc hunter tersebut membentuk formasi dan mulai menyerang Rui tanpa henti. Hal itu membuat Rui sedikit kualahan karena harus menyerang dan bertahan dengan pedang Rignit yang cukup berat secara bersamaan.
Bahkan para general Orc berhasil memberikan pukulan telak dengan hammer besarnya kepada Risiya yang sudah hampir kehabisan energi. Serangan itu membuat tubuh Risiya terpental hingga menerbangkannya ke sisi Rui.
"Khuaaakhh" mulut Risiya bercucuran darah. Seluruh tubuh Risiya di penuhi sayatan pedang, bahkan ada tombak yang masih menempel pada pahanya.
Melihat hal itu, Rui dengan cepat merangkul Risiya dan langsung berteleport ke atas pohon besar bersamanya. Ia lalu membaringkan tubuh Risiya dan segera mengobatinya. Para Orc kebingungan karena Rui dan Risiya tiba-tiba menghilang.
Rui merasakan bahwa tangan kanannya mulai mati rasa dan dari hidungnya keluar darah. Tanda bahwa ia terlalu lama menggunakan senjata pahlawannya dengan kekuatan yang besar. Namun dirinya tidak perduli asalkan bisa menyembuhkan Risiya.
"Maaf" ucap Risiya yang sesekali batuk darah.
"Dasar ceroboh, kau terlalu memaksakan dirimu . Kau harus lebih sering belajar batas kekuatanmu sendiri" ucap Rui tersenyum.
"Tapi... sungguh kerja bagus Risiya" ucap Rui yang kini ambruk di paha Risiya karena kelelahan.
Risiya lalu mengelus rambut Rui.
"Sekarang, siapa yang memaksakan dirinya" ucap Risiya sambil mencium kening Rui yang tertidur karena kelelahan.
Malampun tiba, para Orc mundur karena tidak berani mengambil resiko melawan penguasa hutan seperti elf di malam hari yang pandangan mereka sangat terbatas.
Sorakan kemanangan mereka kumandangkan atas kemenangan mereka mengusir para Orc yang menyerang.
__ADS_1
...Bersambung...!!!...