
Liburan semester kali ini, Lasira menghabiskan sebagian waktu liburannya untuk bersantai dirumah. Selama menjadi seorang mahasiswa, dia selalu pulang kerumah kedua orang tuanya sebulan sekali. Namun libur semesteran yang berlangsung selama dua minggu ini, dia habiskan selama 10 hari dirumah.
Dan kegiatannya dirumah hanya makan tidur dan sesekali nongkrong bersama teman-teman sekolahnya dulu.
Siang ini dia sedang asyik membaca komik di ruang keluarga, duduk santai di sofa empuk yang berada di tengah ruangan. Mami indah datang menghampirinya sembari membawa sepiring pisang goreng dan begitu aroma pisang goreng menguar, tanpa di perintah gadis ini langsung mendudukkan tubuhnya.
" waaahhhh....daritadi aku lagi pengen ini lho mi..." ujarnya dengan mata berbinar sembari mencomot satu pisang goreng dan memasukkannya kedalam mulut dan sejurus kemudian dia melepehkannya kembali
" orang masih ada asepnya,main comot masukin mulut..panas?? sukuriinn..."
" ihhh...mami kok gitu sih.." keluhnya sembari meniup-niup pisang goreng yang ternyata masih panas itu dengan mulutnya
" makanya kalo mau makan itu berdoa dulu,dipegang dulu baru di masukin mulut...." ucap maminya seperti mengajari anak TK.
Lasira hanya mencebik kesal.
" gimana kuliah kamu?"
" lancar..nilai aku semester ini sebagian B semua lho mi..." ucapnya bangga
" sebagian? terus sisanya?"
" sisanya C ..." ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak
" ckkk...ckkk...trus? rencana ambil skripsi kapan?"
" semester depan mi.."
" ok good...yang serius ya.."
" enggak cuman serius lah mi..dua rius malah.." ucapnya sembari mengacungan kedua jarinya membentuk huruf V.
" ya lah..kalo udah mau ambil skripsi artinya kan bentar lagi lulus tuh jadi mahasiswa...kalooo lancaarrr skripsinyaaa.."
" ihh..mami ngomongnya kok gituuu.."
" ya semoga lancar deh mami doain..trus pertanyaan mami yang sebenernya, kamu udah punya pacar?"
Pertanyaan sang ibu membuatnya tersenyum dan tiba-tiba merasakan rindu terhadap kekasihnya. Selama berstatus sebagai pasangan kekasih, mereka tidak pernah berpisah lama. Selalu menempel bak perangko di lem sama lem alteco. hayaahh.
" hmmm..kalo mukanya begini nih..kayaknya udah nih.." tebak sang mami.
" hihihi..u know lah mii..."
" trus? kapan mau kamu kenalin ke mami?"
" hmmm...kapan ya..tapi mami jangan kageett liat penampilan diaa..."
" kenapa memangnya? dia cowok kan? " pertanyaan absurd
" ishhh..aku normaaalll miiii..."
" yakaliii..kemana mana naik motor cowok begitu, kali aja yang naksir cewek...iihh..amit-amitt..." ucap maminya sembari mengetuk-ngetuk jemari tangannya di atas meja.
Lasira pun menceritakan sosok lelaki yang benar-benar telah merebut hatinya, melebihi perasaaannya terhadap jangga dulu. Cara mencintai seorang Vinsa benar-benar membuatnya diperlakukan bak seorang putri. Selalu diberikan perhatian penuh, d turutin segala kemauannya, di tolong dalam hal apa saja,meski itu hanya sepele. Semenjak menjadi kekasih Vinsa, Lasira tumbuh menjadi sesosok gadis yang amat sangat manja, sifat mandirinya yang sudah ada sedari dia kecil tiba-tiba kabur menghilang entah kemana dan sifat pemarahnya yang lebih dominan menguasai. Jika Vinsa tidak menuruti keinginannya, dengan mudahnya dia ngambek. Meski tidak pernah berlangsung lama.
" jadii gituu mii..dia baik banget, dan yang terpenting dia rajin beribadah..cuman ya gitu deh...penampilannya pasti bikin mami sama papi ilfeel..." Lasira menutup ceritanya.
" buat mami gondrong itu gak masalah sih..hanya masalah rambut aja.. dulu papi jaman muda juga gondrong kok.." ucap maminya sembari menerawang mengingat kisah cintanya dulu.
" serius mi? jadi mami gak masalah?"
" trus kapan mau kamu kenalin sama mami papi?" pertanyaan dibalas pertanyaan.
" ahhh...iya ya..ntar lah miii..."
" oke deh..mami tunggu..mami perlu mengenal, lelaki yang udah berhasil membuat anak gadis mami yang bar-bar ini cinta mati tuh kayak gimana..." ucapan maminya membuatnya tergelak.
***
Sore hari di kediaman Soetopo. Papi sudah pulang dari kantor satu jam yang lalu namun itu hanya untuk menjemput sang istri dan kemudian pasangan tersebut kembali keluar rumah. Mereka berpamitan kepada anak semata wayangnya untuk menghadiri pesta perkawinan salah satu koleganya.
Dan selesai mandi, masih mengenakan celana pendek dan kaos besarnya, Lasira mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk.
tingtong..tingtong...
__ADS_1
Lasira menghentikan aktifitasnya sejenak, kemudian dia keluar kamar masih sambil memegang handuk untuk mengeringkan rambut panjangnya.
tingtong..tingtong..
" iyaaa bentaarr..lagii otewe niihh.."
teriaknya sembari mendengus kesal. Jadi tamu gak sabaran amat sih.Setelah langkah kakinya berada di depan pintu, dia meraih handle pintu kemudian menariknya.
" iyaa..carii siapa?? kalo cari mami sama papi, baru aja keluar..ntar malem balik lagi deh ke....."
Dia mengucapkan serentetan kalimat dengan menundukkan wajah karena masih sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk. Namun ketika melihat sepasang sepatu ankle boots berwarna hitam yang terasa tak asing dimatanya, dia pun mendongakkan kepalanya sejurus kemudian dia berteriak histeris dan melompat menubruk sesosok lelaki dengan tubuh tinggi besarnya itu.
" aaaaaaaaaaaa........" teriaknya sambil melompat dan mengalungkan kedua tangan ke leher vinsa dengan kaki melingkar di pinggang. Sungguh, seperti koala yang meminta gendong ibunya. Yang ditubruk sontak sedikit limbung karena tidak siap mendapat serangan tubrukan barbar dari sang kekasih.
" N...turun dong..malu diliat orang " ucapnya lirih
" gak ada orang..gak maluu.." ucapnya cuek sembari mengeratkan pelukannya
" hmmm...turun atau aku kelitikin ? "
Mendengar ancaman itu, Lasira langsung menurunkan tubuhnya dari tubuh vinsa.
" kok kamu tau rumah aku mas? aku kan gak pernah bilang ..."
" sepele lah..kamu kemana aja aku tetep tau.." ucapnya bangga
" ishh...trus ngapain kesini? kok gak kasih kabar?"
" surprise laahh...i miss u so badly "
ucapnya sembari mengelus kepala gadis yang amat sangat dirindukannya.
Lasira pun tersipu malu
" yuk masuk dulu...papi mami gak ada..baru keluar.." ucapnya sembari menarik tangan kekar itu.
" Diluar aja..gak ada orang kan?" tanyanya sembari menunjuk kursi yang ada di teras.
" ah iya deh...duduk situ dulu..aku ambilin minum ya.."
***
" mas kesini beneran mau kenalan sama mami papi?" pertanyaan Lasira untuk kesekian kali, hingga yang menjawab pun merasa jengah.
" iyaa sayangku...aku pengen serius sama hubungan kita..tak hanya pacaran, kelamaan juga bikin dosa.."
" nah tu tauuu...."
" ya minimal ini salah satu usaha biar dosanya tak kelamaan kan.."
Lasira terkekeh, tangannya masih fokus mengelus-elus bulu-bulu halus yang berada di tangan berotot milik vinsa. Sesekali dia mengarahkan tangan berbulu tipis itu ke arah hidungnya kemudian mencium baunya sekuat tenaga sebelum kemudian melepaskan ciumannya. Sang pemilik tangan hanya melihat dengan tatapan geli, karena memang ini sudah menjadi kebiasaan gadisnya. Dan tak pernah sekalipun dia menanyakan kebiasaan anehnya. Namun entah kenapa, kali ini dia ingin tahu.
" kamu kenapa sih, suka banget nyium-nyiumin bulu kayak gitu? aneh.."
" hihihi..gak papa, suka aja..bulu tangannya bikin gemesh sih ...emang kenapa? keberatan?"
" ya sebenernya iya sih..kamu tak tau sih, perjuangan aku menahannya.."
" menahan? menahan apa?"
Untuk hal-hal semacam ini memang Lasira sedikit polos, ah bisa dikatakan ****.
Vinsa tak menjawab, hanya menyeringai dengan sorot mata aneh.
" apasih mas?"
" kalo kamu pas kayak gitu, aku selalu menahan biar setan yang berseliweran tak mampir..." jelasnya membuat Lasirs menyentakkan tangan Vinsa menjauh darinya,membuat sang empunya tangan tertawa terbahak-bahak.
***
Adzan magrib baru saja selesai berkumandang, Vinsa berpamitan untuk shalat maghrib di masjid dekat rumah Lasira.
Sembari menunggu kedua orang tua kekasihnya pulang. Dia merasa tak enak jika harus berduaan di rumah seorang gadis yang sedang sendirian.
Tak lama, kedua orang tuanya pulang. Lasira menyambut mereka di depan pintu. Sebenarnya dia tadi sudah mengirimkan pesan singkat ke maminya bahwa Vinsa datang kerumah. Namun ketika mendapati dirumah tak ada tamu, maminya pun bertanya
__ADS_1
" loh..katanya pacar kamu dateng? mana?"
" shalat di masjid.."
" oh..baguslah.."
" yaudah,kita shalat dulu mi.." ajak papinya.
Selesai menunaikan ibadah shalat, mereka bertiga duduk diruang keluarga.
" mi..pi..nanti jangan jutek lho ya..dan sekali lagi, jangan protes sama penampilannya.. dia gondrong...enggak botak..gondroongg..." ucap Lasira untuk kesekian kalinya.
Membuat kedua orang tuanya terkekeh geli.
" ya liat nanti lah.." goda papinya dan sukses membuat anak gadisnya cemberut.
Tingtong..tingtong..
Lasira langsung berdiri dari duduknya kemudian memberikan peringatan terakhir
" ingeett...mami papi kalo jutek, aku marah lho!!" ancamnya sembari berjalan meninggalkan kedua orang tuanya,menuju pintu. Ketika dia membuka pintu, tampak vinsa berdiri diluar mengenakan topi kupluk berwarna hitam sehingga rambut gondrongnya pun tak terlihat. Lasira yang melihat itu pun tersenyum, mungkin untuk pertemuan pertama begini saja.
" assalamualaikum " ucapnya ketika sudah memasuki ruangan,tangannya terjulur untuk meraih tangan papi edwin kemudian berlanjut ke mami indah. Dia mencium punggung tangan kedua orang tua itu secara bergantian.
Sang mami hanya menatap sambil melongo namun senggolan sikut anak gadisnya membuatnya tersadar
" ahh..silakan duduk nak vinsa.." ucapnya mempersilakan vinsa duduk.
" wah..ternyata selera anak gadis mami yang sangar-sangar kayak gini ya..." bisiknya ke telinga Lasira, membuat lasira meremas tangan sang ibu.
" tapi ganteng kok...hidungnya mancuungg...kek perosotan " mami masih terus berbisik dan berhenti ketika mendengar papi edwin berdehem.
" nama kamu siapa nak? dan apa hubungan kamu dengan anak gadis saya?" papi bertanya to the point. Setelah menatap papinya, matanya beralih menatap kekasihnya. Biasanya ekspresi wajah Vinsa selalu datar namun kini dia mampu melihat ekspresinya yang sedikit ...sedikitt...grogi. yah..hanya tampak sedikit
" Nama saya vinsa om..sudah lama saya menjalin hubungan dengan Lasira.."
" hubungan apa?" papi memperjelas
" ya yang pasti hubungan lebih dari teman om..dan saya berencana untuk melamar putri om jika saya sudah wisuda nanti..."
Lasira terhenyak menatap wajah vinsa. Tunggu..tunggu..tadi di obrolan mereka bahkan tidak membahas ini. Kan hanya kenalan. that's it!!
" hmm..bagus..jika memang itu niat kamu..saya mengizinkan, yang pasti saya tidak suka jika anak gadis saya berpacaran terlalu lama..terlalu banyak mengumpulkan dosa nantinya.."
" iya om..siap.."
Lalu mereka pun melanjutkan acara ngobrol dengan lebih santai. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, vinsa pamit pulang.
" sudah malam, tidak menginap disini saja nak?" tawar mami indah.
" tak usah tante..langsung pulang saja.."
" tapi nanti perjalanannnya lebih dari 3 jam kan..kamu naik motor apa mobil?"
" bawa motor tante.."
" laahh..dingin lho.."
" sudah bawa jaket..aman..saya sudah biasa naik motor malam-malam " ucapnya meyakinkan.
"yasudah..hati-hati ya..om sama tante masuk dulu..sana kalo mau say good bye dulu.." goda maminya sembari menarik tangan papi edwin untuk masuk kedalam rumah.
Setelah kedua orang tuanya masuk, diraihnya tangan kekasihnya.
" mas..beneran langsung pulang? cari hotel deket-deket sini deh..pulang besok pagi, gimana?"
" baru jam 9 N...masih sore ini..udahlah..tak usah kwatir.."
" hmmm..yaudah deh, tapi jangan ngebut ya.."
Pesannya dijawab dengan anggukan kepala. Lasira pun mencium punggung tangan Vinsa yang kemudian sudah menghidupkan mesin motornya dan melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah.
Perkenalan dengan kedua orang tuanya berjalan lancar, tinggal menunggu satu langkah lagi untuk kemajuan hubungan mereka. Jika Tuhan mengizinkan mereka berjodoh, pasti semuanya akan di mudahkan.
i hope so.
__ADS_1