
Selama menunggui Vinsa di rumah sakit, teman-temannya datang silih berganti menjenguk. Sementara mama vinsa ditemani beberapa saudaranya tampak menunggui di ruangan berbeda. Karena kondisi sang ibu yang selalu pingsan jika melihat Vinsa, maka ibunya hanya bisa terbaring lemah diruang tunggu.
Hari kedua , masih belum ada perubahan dari kondisi vinsa. Lasira duduk diruang tunggu, ini sudah pasien ke 3 semenjak dia datang, keluar dari ruang ICU dengan wajah tertutup,di ikuti keluarga yang menangisi di belakang. Hatinya terasa teriris, akankah vinsa keluar dari ruang ICU dengan wajah tertutup selimut??
Dia dan teman-temannya secara bergantian masuk ke ruang ICU untuk mengaji di samping Vinsa. Setidaknya mereka tetap berusaha untuk memperdengarkan alunan ayat suci al qur'an meski mereka tak mengetahui dengan pasti apakah vinsa mampu mendengarkan atau tidak. Lasira pun tak henti berdoa meminta kesembuhan.
Hingga hari ketiga datang, masih tidak ada perubahan. Mami papi pun sudah datang mengunjungi dan menemani anak gadisnya di rumah sakit. Kedua orang tuanya bertemu dengan ibu vinsa di rumah sakit. Sungguh pertemuan pertama diluar rencana.
Selepas shalat magrib, Lasira masuk ke ruang ICU untuk melihat kondisi terkini. Namun ketika masuk kedalam, tampak mata vinsa sudah tertutup kapas. Dia merasa kaget namun seorang suster mendekatinya
" mbak..ini saya tutup kapas soalnya biar matanya tidak kena sinar cahaya lampu.."
ahh..alasan yang tak masuk akal namun lasira hanya mampu mengangguk pelan.
Ditatapnya wajah lelaki yang sangat ia cintai, sudah tak terlihat sorot mata hangat yang biasa memandanginya setiap hari. Matanya beralih ke alat disampingnya, banyak angka-angka yang tak ia mengerti artinya apa.
Dia menundukkan tubuhnya, membisikkan kalimat syahadat ditelinga Vinsa. Selesai mengucapkan kalimat itu, dia berkata
" mas..aku shalat isya dulu ya..aku doain kamu dulu..kamu yang kuat..aku pamit dulu...i love u.." bisiknya sembari menahan tangis.
Dia pun keluar dari ruangan ICU kemudian berjalan seorang diri menuju mushola.
Selepas menunaikan shalat isya, dia kembali berdoa. Jika kemarin dia memaksa kepada Tuhan untuk menyembuhkannya, kali ini dia berdoa dengan rasa ikhlas yang berlebih
" Ya Allah..jika memang yang terbaik dia harus pergi, hamba ikhlas...hamba ikhlas ya Allah..ampuni segala dosanya..mudahkanlah jalannya..jika memang engkau ingin memanggilnya, kuatkan hati hamba Ya allah.." dia memanjatkan doa sembari menangis sesenggukan. Tak lama tercium aromi wangi menguar di indera penciumannya.
ahhh...apakah doaku terkabulkan.
Ketika sedang menangis sesenggukan, dia merasa ada seseorang di belakangnya. Nampak Kimi dan kiara sedang menatapnya dengan bercucuran air mata, diluar mushola tampak endru dan mayon menunggu dengan wajah sendu. Lasira langsung terhenyak, dilepaskannya mukena yang melilit tubuhnya. Secepat kilat dia berlari menuju ruang ICU dan benar saja.
Dia melihat ibu vinsa sedang pingsan disertai jeritan tangis beberapa keluarganya. Papi yang melihatnya datang langsung menyambutnya,memeluknya
" vinsa kenapa pi? vinsa gak papa kan pi??" ucapnya dengan panik
" sabar sayang..kamu harus kuat..sabar.." ucap papinya sambil memeluk anak gadisnya. Merasa tak mendapat jawaban yang memuaskan, dia berusaha melepas pelukan sang ayah dan berlari masuk kedalam. Dan langkahnya terhenti ketika melihat beberapa suster melepaskan alat- alat yang menempel di tubuh vinsa.
" Mas...mas ..bangun mas..." ucapnya sembari menggoyangkan tubuh vinsa yang mulai dingin .
Ketika tubuhnya akan ambruk, dengan sigap Papi edwin meraih tubuhnya, dan berbisik
" kamu harus kuat sayang..kamu harus kuat..ikhlaskan...ikhlas.."
Lasira hanya terdiam dengan sorot mata kosong, tak ada setetes pun air mata yang menetes dari mata indahnya. Dia mendekati vinsa, mencium keningnya kemudian mencium tangannya. Ditatapnya wajah pucat vinsa, dengan mata sedikit terbuka, mulut terbuka karena beberapa hari ada alat yang dimasukkan di mulutnya.
__ADS_1
" selamat jalan mas.." ucapnya dengan senyum yang dipaksa.
Papi memapah tubuhnya keluar ruangan, dan ketika dia berdiri di depan pintu, ditatapnya banyak orang diluar. Dan semuanya adalah wajah-wajah yang ia kenal.
Ruang tunggu sungguh penuh sesak hanya di isi semua temannya dan teman vinsa.
Tampak beberapa teman perempuannya menangis sesenggukan menatapnya. Dan ketika melihat semua temannya menangis, Lasira malah tersenyum sambil berkata
" aku baik-baik aja..kalian jangan nangis.."
Ekspresi senyumnya malah semakin membuat teman-temannya menangis sesenggukan. Setelah menenangkan teman-temannya dia pun berjalan menemui ibu vinsa dan memeluknya. Memberinya kekuatan padahal dia sendiri tak memilikinya tapi setidaknya dia tidak memperlihatkannya.
***
Malam itu hujan rintik-rintik mengiringi kepergian lelaki yang teramat dia cintai. Sang papi dengan setia disampingnya, memeluknya meski dia tak melihat air mata yang menetes dari mata anak semata wayangnya, namun dia merasa sangat terpukul. Membayangkan bahwa anak gadisnya berusaha untuk tegar.
Dia menaiki mobil papi edwin yang berjalan mengikuti ambulance yang membawa jenazah vinsa. Tampak endru dan mayon yang mengangkat jenazah masuk kedalam ambulance. Dia menoleh kebelakang, iring-iringan sepeda motor milik teman-temannya mengikuti, meski cuaca tak bersahabat, malam hari pula namun tak menyurutkan niat teman temannya untuk mengantarkan kepulang vinsa terakhir kalinya.
ahh..teman-teman kamu banyak mas dan semua nganterin kamu pulang.
Sesampainya di rumah vinsa, Lasira di bimbing masuk kedalam kamar vinsa.Kamar berkonsep ala rumah tradisional korea tersaji dalam pandangan matanya. Pintu geser terbuat dari kayu jati, lantai pun terbuat dari kayu jati, kasur tanpa dipan di sudut kamar. Dan pandangannya terhenti menatap pigura foto yang terdapat di atas meja.
Ahh..ternyata ada fotoku disini.
Dia meraih pigura itu, mengelus foto yang dia ingat adalah foto pertama yang di ambil vinsa ketika mereka jalan-jalan untuk pertama kali.
Ketika sedang termenung, kimi mengusap bahunya.
" udah..lo istirahat aja..nih dikasur sini..kasurnya vinsa.." ucapnya sembari menepuk kasur kecil di sebelahnya.
" harusnya gw tidur disini sama dia ya.." ucapnya lirih membuat kiara menangis sesenggukan
" udah donk..lo jangan bikin gw tambah sedih..lo harus kuat..lo pasti bisa lewatin ini semua.."
" gw kuat kok..buktinya gw gak nangis..lo aja yang daritadi mewek.." ucapnya sembari tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara mami indah masuk ke kamar.
" sayang..vinsa mau di shalatin tuh..kamu mau ikut gak?" ucapnya lembut seraya merangkul anak gadisnya
" iya ma..mau..aku ambil wudhu dulu " ucapnya seraya keluar kamar menuju kamar mandi, setelah bertanya kepada salah satu kerabat yang berada di ruang tamu .
Ketika selesai berwudhu dan mengambil mukena,terdengar suara orang-orang di depan jenazah vinsa
__ADS_1
" subhanallah..subhanallah.."
Lasira yang merasa penasaran berjalan mendekat namun langsung ditahan oleh sang papi
" liat aja ya sayang..kamu udah ga boleh pegang.."
Lasira mengangguk, dia ingin melihat ada apa gerangan sehingga orang-orang tersebut mengucapkan kalimat tasbih dengan penuh kekagetan. Dan setelah melihat jenazah vinsa dia pun ikut mengucapkan kalimat tersebut
" subhanallah...ya Allah.. semoga kamu memang bahagia mas " ucapnya lirih sembari tersenyum. Dia melihat perbedaan wajah Vinsa selesai di mandikan dengan jenazahnya ketika masih dirumah sakit. Sungguh berbeda.
Kali ini matanya tertutup rapat, dan mulutnya yang sedikit terbuka, kini menampilkan seulas senyum bahagia. Jenazah itu benar-benar tersenyum dan itu membuat Lasira bahagia dan semakin bertambah ikhlas. Entah amalan apa yang telah dia lakukan selama hidup ini.
Ketika hatinya sedang bertanya-tanya, tampak seorang ustadz menjelaskan
" alhamdulillah sekali..malam ini kita bisa melihat jenazah almarhum nak vinsa dengan senyum yang merekah, mungkin banyak yang bertanya- tanya kira-kira amalan apa yang membuat jenazahnya seperti ini..sebenarnya saya pun tak tahu pasti, namun saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya tahu..."
Ustadz tersebut berhenti sejenak kemudian melanjutkan perkataannya
" jika anda semua bisa melihat, di depan rumah ini ada sebuah masjid, nah itulah masjid yang nak vinsa ini bangun... di usianya yang masih muda, beliau sudah bekerja diluar negri, lebih tepatnya di korea..dan setelah pulang, beliau membangun masjid ini..sekaligus mengajari anak-anak kecil dilingkungan ini belajar mengaji..karena lingkungan ini mayoritas memang tidak beragama muslim, maka dari itu disini masjid masih sangat jarang. maka dari itu mari kita doakan untuk almarhum..agar dosa dosanya di ampuni..."
Setelah mengucapkan itu, ustadz tersebut memimpin shalat jenazah, Lasira pun mengikutinya. Untuk terakhir kali, dia shalat bersama vinsa, namun bukan sebagai imam dan makmum, seperti yang sering mereka lakukan selama ini. Posisinya pun sama, vinsa di depan,lasira di belakang. Namun sekarang berbeda kondisi, Vinsa di depan sebagai jenazah bukan sebagai imam.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 wib
Lasira sudah berbaring di kasur milik vinsa. Masih ada sisa-sisa aroma tubuh kekasihnya. Dia pun memeluk guling dengan perasaan hancur. Tak pernah ada dalam benaknya, hari pertama dia mengunjungi rumah ini, ternyata untuk mengantarkan kepergiannya.
Besok pagi dia akan di makamkan, tinggal menunggu waktu, raga mereka benar- benar akan berbeda alam.
Hanya memejamkam mata selama satu jam, adzan subuh sudah berkumandang. Lasira pun bergegas masuk ke kamar mandi, mempersiapkan diri untuk mengantarkan kekasihnya ke peristirahatan terakhir.
Selesai bersiap-siap, dia melangkahkan kaki keluar . Sudah banyak pelayat yang berada di halaman, termasuk teman-teman kampusnya. Bahkan terlihat bapak dekan nya ikut melayat.
Kedua orang tua vinsa tak nampak, mereka selalu di dalam kamar. Terlalu shock menerima kenyataan bahwa anak bungsunya telah tiada.
Beberapa upacara pelepasan dan sambutan dari keluarga telah di laksanakan. Kini saatnya jenazah di angkat dan dimakamkan. Selama prosesi itu berlangsung, Lasira masih tampak tegar, tanpa air mata. Namun ketika jenazah mulai di angkat, dia merasa seluruh tulang-tulangnya hilang, tubuhnya lemas, pandangannya gelap dan dia pun terjatuh pingsan. Dengan sigap papi edwin menggendongnya, tak berapa lama dia pun membuka mata dan berteriak histeris,menangis sejadi-jadinya, dilihatnya seluruh ruangan berisi semua teman-teman perempuannya. Dan kesemuanya menangis melihatnya histeris.
Lasira berteriak histeris memanggil-manggil nama kekasihnya. Dia berusaha lari menyusul jenazah dan dengan sigap kimi dan kiara menyusul. Lasira berlari tanpa mengenakan alas kaki. Dia tidak memperdulikan kakinya yang kotor terkena tanah basah sisa hujan semalam. Di dalam pikirannya hanya ingin menyaksikan jenazah Vinsa masuk keliang lahat.
Tampak kimi dan kiara berusaha mengimbangi langkah kakinya,sembari memapah kedua lengannya. Kimi di sisi kanan dan kiara di sisi kiri. Jarak antara rumah vinsa dan makam cukup jauh. Terdengar deru nafas kimi dan kiara yang terengah-engah memapah lasira sembari berlari.
Sesampainya di pemakaman, ternyata sudah terlambat. Pemakaman telah usai. Lasira tampak lemas terduduk di pusara yang masih basah. Ditatapnya nisan yang tertulis nama Vinsa anindita, meninggal di usia 25 tahun. masih sangat muda.
__ADS_1
" maaf ya mas..aku nangis..maaf...aku sudah berusaha menahannya..tapi liat..temen-temen aku nangis semua..aku setia kawan mas..jadi aku sekarang nangis boleh ya.." ucapannya sontak membuat semua teman perempuannya menangis sesenggukan. Di kondisi seperti ini, masih berusaha melawak. Tampak endru dan mayon mengangkat wajah, berusaha menahan air mata agar tak jatuh.
Sungguh, melihat teman terpuruk dalam kesedihan itu merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Dan hanya suport dari teman-temannya lah yang Lasira butuhkan saat ini.