Lasira Love Story

Lasira Love Story
Bab 47


__ADS_3

Setelah sampai di kos, lasira langsung masuk kamar untuk makan malam. Tadi dia sudah meminta kiara untuk membungkuskannya makan. Selesai makan, dia masih merasakan perasaan yang tidak enak sedari tadi. Dia pun mengambil air wudhu kemudian shalat isya'. Selepas melaksanakan kewajibannya, dia mendengar namanya dipanggil .


" Lasiraaa...ada yang nyariin...." teriak anak kos bawah.


Siapa sih malam-malam begini bertamu ujarnya sembari menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 20.00 wib.


Sesampainya di teras, dia melihat endru dan mayon. Merasa heran dengan kedatangan kedua sohibnya di jam yang tak biasa, dia pun bertanya


" ngapain?"


" lo udah makan?" tanya endru


" udahlah,baru aja..mau ngajak makan?"


" enggak..itu...anu..hmm..." endru tampak ragu


" lo naik keatas, ganti baju yang bener,pake jaket,bawa tas trus lo turun kesini..kita tunggu dibawah " ucap Mayon tegas, dia merasa tidak sabar menunggu endru yang sedari tadi tidak bisa mengatakan maksud tujuan mereka datang.


" emang kenapa? kita mau kemana?"


" udah ..kali ini please, lo turutin omongan gw..kalo udah siap, gw bakal kasih tau lo.."


Lasira menatap heran kedua sahabatnya, namun hatinya semakin tak karuan, perasaan tak nyaman yang sedari tadi dia rasakan semakin menjadi-jadi. Tanpa banyak kata dia berganti pakaian, memakai kaos lengan panjang,celana jeans panjang, dan disambarnya jaket hoodie miliknya Setelah selesai dengan persiapannya, dia kembali ke depan.


" lo gak usah bawa motor..lo bonceng gw aja ya.." ajak mayon


" bentar deh..ini ada apa? daritadi gak jelas.." ucapnya sedikit kesal. Endru mendekat kemudian memegang bahunya


" gw barusan dapat telpon, Vinsa kecelakaan..."


Bla**aaarrr!!!! rasanya seperti mendengar suara petir di ujung telinganya. Tubuhnya sedikit terhuyung, dan dengan sigap endru memegang bahunya.


" kecelakaan? dimana? dia kan lagi perjalanan pulang ndru..." ucapnya dengan suara parau, tampak dia berusaha menahan airmata agar tidak turun.


" tadi endru dapet telpon,dari temen band nya vinsa..nah temennya itu yang ditelpon sama orang yang nolongin vinsa...kita juga gak tau gimana kondisinya, yang pasti kita harus kesana sekarang.." mayon menjelaskan kemudian menarik Lasira untuk naik motor bersamanya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, karena jarak rumah sakit dengan kosnya cukup jauh, akhirnya mereka sampai di UGD.


Ruangan berkaca bening itu terlihat jelas dari luar. Dan dia melihat ada sosok laki-laki berbadan tinggi berambut gondrong sedang berdiri di depan lobi. Seketika dia merasa lega, ahh..ternyata vinsa sehat. Tidak terluka parah.


" lho..tu mas vinsa yon..." ucap lasira dengan senyum merekah. Namun ketika langkah kaki mereka semakin mendekat, sosok itu semakin jelas dan itu bukan vinsa, melainkan teman band nya yang bernama black.


Tak ayal seketika perasaan cemas kembali menelusuri rongga dadanya.


" woiiii..sini.." sapa black ketika melihat mereka bertiga mendekat


" mas vinsa bang? " tanya lasira


" ada di dalem..kamu punya nomer keluarganya? kita harus segera ngabarin.."


" ntar dulu mas, aku liat dia dulu..ayo anterin.."


paksanya kemudian . Mereka pun berjalan mengikuti langkah kaki black memasuki sebuah ruangan, begitu dia masuk dan melihat vinsa yang terbaring di ranjang pasien, hatinya bergemuruh. Tubuh vinsa sama sekali tidak terlihat ada luka lecet, namun sorot matanya sama persis dengan sorot mata yang dia lihat kemarin sore .


Deg!! perasaan apa ini.


" mas...mana yang sakit?" ucapnya sembari memegang tangan vinsa namun tidak ada respon, sorot matanya kosong. Dia hanya mengisyaratkan tangannya bergerak menuju mulut, meminta minum. Namun black menahan.

__ADS_1


" jangan..kata dokter dia mau di operasi, jadi jangan dikasih minum..tadi aku sudah tanda tangan sebagai wali..sekarang kamu tolong hubungin keluarganya ya.."


Lasira mengangguk. Diambilnya Hp di saku jaketnya,kemudian dia menelpon kakak dari vinsa. Tak lama telepun tersambung, dia mengabarkan dengan kalimat sehalus mungkin, agar keluarga vinsa tidak kaget,mengingat hari ini ayah vinsa pun sedang sakit.


Selesai menelpun, dia kembali kedalam ruangan namun ranjang pasien tempat vinsa terbaring sudah tak ada. Nampak mayon dan endru berdiri di depan pintu


" vinsa udah dibawa masuk ke ruang operasi..ayo kita kesana.." ajak mayon.


Lasira mengangguk. Meski hatinya hancur namun dia sama sekali tidak meneteskan air mata. Di depan ruang operasi tampak banyak temannya dan juga teman vinsa sudah datang menunggu. Dan semuanya laki-laki. Untuk itu lasira menjadi lebih kuat untuk tidak meneteskan air mata.


30 menit berlalu, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar


" keluarga dari pasien vinsa anindita?"


Lasira berdiri, menoleh kanan kiri dan belum melihat keluarga vinsa. Akhirnya dia melangkahkan kaki ke depan


" saya dok..bagaimana keadaan pasien?"


" mari ikut saya.."


Dokter masuk, dia pun mengikuti langkah sang dokter . Sesampainya di dalam dokter mempersilahkan dia duduk.


" jadi begini..pasien mengalami multiple trauma.."


" multiple trauma?" ulangnya


" yups..pasien terluka dari bawah sampai atas..jadi kakinya patah, tulang rusuk patah,kemudian hantaman keras di kepalanya.." dokter berhenti sejenak


" hantaman di kepalanya ini yang berat..sekarang pasien akan ditangani 3 dokter spesialis yang berbeda..baru saja kami mengoperasi tulang kakinya...bla..bla..bla..."


Dokter menjelaskan dengan panjang lebar namun Lasira sudah tak mampu mengingat apapun, dia hanya teringat


ahh..ni dokter pesimis banget!! bohong dikit bisa gak? biar aku gak selemes ini.


Dengan langkah gontai dia melangkah keluar ruangan. Begitu ia membuka pintu tampak dua sahabatnya menatap dengan wajah cemas. Namun kedua lelaki ini tidak banyak bertanya, mayon mengulurkan tangan dan membimbing Lasira untuk duduk di depan ruang tunggu . Endru mengekor di belakangnya. Dan semua teman-temannya yang lain hanya memandanginya dari kejauhan. Segan untuk bertanya.


" katanya kritis...hanya mukjizat yang bisa menolongnya.." ucapnya lirih, namun tak sedikitpun air mata turun membasahi matanya. Sekuat tenaga dia berusaha menahan.


" hufhh..jam berapa sekarang ndru?"


" jam 1 malem...lo mau pulang?"


" gak..gw gak bakal pulang kalo dia belum pulang.."


" yaudah..gw temenin lo..besok pagi kimi sama kiara dateng..sekarang udah terlalu malam jadi mereka gw larang buat kesini "


Lasira mengangguk mendengar penjelasan dari endru.


" gw mau shalat ndru..musholanya dimana?"


" ayo gw anter...lo disini dulu ya yon, kali aja keluarga vinsa ntar dateng.." perintah endru mendapat anggukan kepala dari mayon.


Dan disinilah Lasira kini, bersujud kepada sang maha kuasa, meminta ampun sekaligus meminta kesembuhan untuk kekasihnya. Air matanya tumpah tak terbendung. Tangisnya terdengar menyanyat hati, mengingat mushola rumah sakit itu sangat sepi di tengah malam ini. Endru masih setia menungguinya di teras masjid.


***


Pagi menjelang, Kimi dan kiara sudah datang membawa segala perlengkapan yang Lasira butuhkan. Termasuk segala macam alat mandi dan baju ganti. Dan tak lupa mereka juga membawa karpet bantal serta selimut untuknya.

__ADS_1


Lasira sudah selesai mandi dan sarapan . Lebih tepatnya dipaksa sarapan oleh kimi dan kiara.


" lo harus makan..kalo lo sakit,yang mau jagain vinsa siapa? kakaknya bolak balik ngurusin bokapnya yang juga opname, mamanya dari semalem datang juga pingsan pingsan terus kan .." kimi berusaha membujuk Lasira.


" disini lo yang bisa di andelin sama keluarganya..jadi lo gak boleh sakit..harus kuat!!" kiara menambahkan.


Dan tak butuh waktu lama, makanan yang di sajikan sudah dia lahap habis. Dia tidak menikmatinya, dia hanya ingin piringnya segera kosong karena tadi dokter sudah memanggilnya.


Dengan menguatkan hatinya, dia pun melangkahkan kaki menuju ruangan ICU. namun ketika akan membuka handel pintu dia berhenti. Menghela nafas kemudian menoleh ke belakang karena ada seseorang yang menepuk pundaknya.


" ayo..gw temenin..lo harus kuat.." mayon tersenyum dibelakangnya.


Mayon yang biasanya tengil dan ngeselin, saat ini bersikap selayaknya manusia normal, bisa di andalkan. haha.


Akhirnya mereka berdua masuk kedalam ruangan dan sudah ada 3 dokter di dalam.


Yang satu dokter tulang, sudah berusia lanjut dan semua kalimatnya sangat menenangkan.


Dua dokter lainnya entah dokter apa, dan namanya siapa. Namun satu dokter masih muda tiba-tiba mengatakan..


" pasien itu, kalo ibarat laptop..tinggal nunggu shut down aja..dia udah dipinggir jurang tinggal di jorokin aja..selesai!! otaknya udah ambyar itu.." ucapnya dengan santai.


Mendengar kalimat itu, sontak membuat darahnya mendidih. Dia menggebrak meja kemudian membentak


" dok..gw tau, dia bakalan mati!!! tapi lo gak berhak ngomong kayak gitu!!! lo dokter atau jagal?? anjiingg looo..!!!" teriaknya marah sembari mengucapkan sumpah serapah. Secepat kilat mayon langsung merangkulnya memintanya untuk tenang


" udah las..udah...sabar..sabar..."


" sabaar aapaan?? dia dokter sekolah dimana sih?? bisa gak ngomongnya lebih sopann?? apa perlu gw ajarin sopaann??" teriaknya histeris.


Kedua dokter lainnya tampak berusaha menenangkannya sembari mengucapkan kata maaf ,namun Lasira tidak memperdulikannya. Nampak mayon dengan susah payah menariknya keluar ruangan.


Ketika keluar ruangan, dia masih terlihat meronta meminta mayon melepas tangannya. Kimi, kiara dan juga endru langsung menyambutnya. Melihat kondisi Lasira yang tampak kacau, kiara langsung menangis dan memeluknya. Mendapat pelukan dari sahabatnya, Lasira sedikit melunak. Dia terdiam sambil menangis sesenggukan. Kimi tampak memintanya duduk dan memberikannya air mineral. Setelah meminum air mineral, dia tampak sedikit lebih tenang.


" gw mau liat vinsa ndru..." ucapnya parau.


Endru mengangguk kemudian menarik tangannya untuk beranjak dari kursi.Semua temannya mengikuti dan menunggu diluar.


Lasira masuk sendirian, setelah memakai baju berwarna hijau khusus pengunjung pasien ICU, dia pun melangkahkan kakinya masuk. Tampak ruangan itu berisikan banyak alat-alat yang baru kali ini dilihatnya secara langsung. Biasanya dia hanya melihat alat-alat itu di sinetron saja.


Banyak selang menempel di tubuh vinsa, di sisi kanan ranjang terdapat alat yang lasira tak tahu namanya apa, yang pasti itu indikator untuk menandakan pasien masih hidup atau tidak. Itu yang sering dilihatnya di sinetron.


Dia mendekati vinsa, memegang jemari tangannya yang besar.


" mas..ayo bangun..katanya minggu depan mau kerumah sama mama papa.." ucapnya lirih sembari menahan tangis. Tidak ada respon, dia masih memejamkan mata.


" mas..aku kangen sama kamu...ayo bangun.." bisiknya di telinga vinsa. Sejurus kemudian dia melihat ada air mata di ujung mata vinsa.


" ahhh..kamu nangis mas..kamu bisa denger suara aku??" bisiknya gembira, dilihatnya ujung tangan yang bergerak sedikit. Dia berlari memanggil suster untuk mengecek kondisi vinsa sekali lagi.


Tak lama dokter dan suster datang, memeriksa vinsa. Tak lama dokter menghampirinya, ini bukan dokter yang tak sopan kemarin.


" kondisi masih sama..masa kritis belum terlewati..namun jika memang dengan mendengar suara anda,dia merespon, anda boleh mengajaknya ngobrol..kita sudah berusaha semaksimal mungkin, sisanya kita berserah diri kepada Tuhan..oke.." ucap sang dokter sembari mengusap pundaknya.


" iya dok..makasih.."


Tuhan..tolong sembuhkan dia, apapun kondisinya nanti, aku akan terima.

__ADS_1


Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, segala sesuatu keputusan mutlak milik Tuhan.


__ADS_2