Lasira Love Story

Lasira Love Story
Bab 51


__ADS_3

Selama teman-teman cowoknya berada dirumah, Lasira menghabiskan banyak waktu di luar kamar. Karena tidak mungkin juga dia menangis di dalam kamar bersama para lelaki. Meski hanya duduk-duduk di teras belakang, lanjut ke teras depan, berlanjut nonton film namun mereka tidak pernah membiarkannya sendirian. Kecuali di malam hari ketika sudah masuk ke kamar . Itupun akan banyak wejangan yang lebih mirip omelan yang akan di sampaikan teman-temannya sebelum dia masuk kamar.


" inget ya, begitu masak kamar jangan mewek.." rhino membuka percakapan ketika lasira sudah memegang handel pintu kamarnya


" iya..seharian kita udah berusaha buat lo gak nangis..jadi jangan nangis pas sendirian..gak usah dengerin musik mellow.." agatha menambahkan.


" lo nulis lagi aja kayak kemarin..kata kiara dia ngasih lo tablet buat nulis kan?" endru bertanya dan mendapat jawaban anggukan kepala dari Lasira.


" apa perlu gw temenin bobok biar gak sedih??" mayon melontarkan pertanyaan terakhir yang di balas pukulan bertubi-tubi dari teman-temannya.


Lasira hanya tersenyum simpul kemudian masuk kedalam kamar. Sifat cerewet dan cerianya memang belum kembali, dia masih banyak diam. Namun setidaknya seharian penuh dia tidak menghabiskan waktu hanya untuk menangis.


Begitu masuk kamar, dia merebahkan tubuhnya di ranjang. Perasaannya masih terasa berat, rindunya terhadap Vinsa pun makin berat. Ingatannya menerawang ketika mereka menghabiskan waktu bersama di malam tahun baru.


*flashback On*


Malam tahun baru mereka habiskan waktu di puncak bersama seluruh teman-teman. Mereka sudah menyewa sebuah villa di kawasan berudara dingin tersebut. Namun karena sesuatu hal Lasira dan Vinsa datang paling belakang. Mereka pun langsung menuju alamat yang sudah kiara kirimkan.


Malam hari, ketika memasuki kawasan villa dengan bangunan mewah, Lasira berdecak kagum


" wuih..ini seriusan kita nginap di villa kayak gini? patungan berapa duit nih nanti?" tanyanya kepada Vinsa.


" tak tau, yang ngurusin si mayon tuh..kita tinggal dateng..paling ntar sampe sana baru ditagih berapa.."


" yang mana sih mas villanya?"


" katanya tadi yang paling ujung deket sawah.."


"hmmm..paling ujung ya..seru nih kayaknya.."


Motor sport yang mereka naiki berjalan pelan menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar. Di kanan kiri jalan, mereka disuguhkan dengan pemandangan bangunan Villa yang mewah dan indah. Dan kesemua villa tersebut sudah penuh dengan pengunjung. Sampai akhirnya motor mereka berhenti di ujung bangunan.


Oke..jalan buntu dan satu-satunya bangunan ada di sisi kanan mereka. Villa mewah??


tentu saja tidak! namun terlihat cukup nyaman, cukup ya..bukan sangat.


Lasira tampak ragu namun ketika mendengar suara tertawa teman-temannya, dia yakin jika memang ini Villa yang mereka tuju.


Vinsa pun menghentikan motornya, Lasira turun dan melangkahkan kaki menuju pekarangan villa tersebut. Ketika melihat kedatangannya, sorak sorai teman-teman menyambutnya. Ada banyak sekali manusia disana, lebih dari 15 orang.


Mereka semua sedang mengitari api unggun, membakar jagung dan beberapa makanan ringan tersaji di atas tikar yang sudah di gelar.


" wuiihh...tokoh utama kita udah datang niihh..." teriak Mayon menyambut.


" nih villa siapa yang nyari sih?? dari depan sampe sini, semua keren mewah, gw udah seneng aja..eh ga taunya cuman kayak gini??" ejek Lasira


" udahlaahh..cuman ini villa yang tersisa dan ramah dikantong mahasiswa..yang penting kan kita barengan..ya gak meenn.." mayon membela diri.


Semua teman-temannya mengiyakan, namun Lasira masih mendengus kesal, kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam villa yang lebih tepat jika disebut rumah nenek. Karena bangunanya yang sedikit kuno namun tampak bersih.


" trus kita tidur dimana? gw naruh tas gw dulu laah.." ujarnya


" masuk aja..kita tar tidurnya barengan..gak ada kamar,adanya satu ruangan besar isinya banyak kasur.." kiara menjelaskan.


Lasira mengernyitkan dahi kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam, memandang ruang tamu dengan kursi sederhana tampak di sana, kemudian ada ruangan besar dengan kasur sebanyak ....ah entahlah ada berapa,yang jelas banyak.


Di ujung tampak kamar mandi 3 buah dan dapur. Dia pun masuk kedalam kamar kemudian memilih kasur paling ujung. Meletakkan ranselnya di lantai kemudian berbaring di atas ranjang kecil berukuran 120*200 tersebut. Dia melihat langit-langit kamar, menengok kanan kiri yang tampak lengang, hanya sayup -sayup terdengar suara tawa dari teman-temannya. Kemudian Lasira melihat di atas kepalanya terdapat jendela.


Ketika sedang fokus memperhatikan ruangan tiba-tiba terdengar langkah kaki, dadanya berdegup kencang, merasa takut. Namun tiba-tiba sesosok tubuh besar memasuki ruangan tersebut


" kok lama banget sih? ngapain?"

__ADS_1


Lasira menghela nafas lega, ah ternyata Vinsa.


" masih bete?"


Lasira hanya cemberut menekuk wajahnya


" udah, hargain usaha temen kamu buat nyiapin ini semua..yang penting kan kita bisa tertawa bersama,tak perduli tempatnya mau bagus atau jelek..yang penting kan kita disini sama siapa..bukan bangunanya..ya kan.." ucapnya sembari mengelus kepala gadisnya yang masih cemberut.


" hufhh..iya deh.."


" yaudah, keluar yuk..temen-temen udah nungguin kamu.."


Lasira pun mengangguk kemudian mereka berdua melangkahkan kaki keluar. Ketika tepat pukul 00.00 wib banyak suara kembang api yang terdengar di sekeliling mereka. Kembang api besar dengan percikan api yang indah.


" kita juga punya kembang api loh.."


" yaudah idupin.."


Ketika suara kembang api diluar villa mereka terdengar memekakan telinga, berbeda dengan kembang api yang mereka miliki. Sungguh suaranya kecil dan percikan apinya tak seberapa membuat mereka tertawa terbahak-bahak


" anjiiirrr.. siapa yang beli kembang api kayak ginii???" teriak lasira sembari tertawa terbahak-bahak


" mayoooonn laahhh...semua mayoonn yang nyiapiinn.." teriak mereka kompak


" ya ini yang paling kali..semuanya mahal tauk..kita mahasiswa jangan berlebihan " ucapnya membela diri sembari meringis tanpa dosa.


" hahahaha..tak apa, tetep seru..."


Mereka pun menghabiskan malam dengan bernyanyi, makan dan menghidupkan kembang api murahan. Lasira melihat wajah Vinsa malam itu tampak sangat bahagia menikmati kebersamaan bersama teman-temannya.


Hingga akhirnya malam semakin dingin, mereka pun memutuskan untuk mengakhiri kegiatannya dan masuk kedalam kamar. Karena capek mereka tidur di sembarang tempat. Namun Lasira dan vinsa tidur bersisihan meski beda ranjang. Tangan mereka saling bertautan hingga terdengar suara adzan subuh berkumandang. Namun karena dirinya sedang berhalangan, dia kembali menarik selimut untuk melanjutkan tidur. Dia hanya membuka mata sejenak melihat Vinsa terbangun untuk menunaikan ibadah wajibnya.


" aaaaaaaaaa....." teriakannya di pagi hari membuat semua orang berlari memasuki kamar, namun ketika melihat Lasira yang berdiri di depan jendela, mereka hanya menahan senyum dan berjalan perlahan keluar dari kamar sebelum mendapat omelan panjang. Dan benar saja terdengar lengkingan suara lagi


" Mayooonnn...looo emang brengseeekkkk..."


sang empunya nama hanya meringis kemudian berkata


" kan murah Las..jadi ya gitu..."


" tapi ya gak gini jugaaaaaa..."


" tapi kan dari tadi malem gak ada apa apa kan?? lo aman kan?"


" kalo gw tau semaleman gw tidur bersanding ama banyak nisan kayak gini, gw ogaaahhh mayooonnn..."


Lasira merasa gemas sekaligus marah dengan sikap tengil sahabatnya ini, ternyata semalam vila mereka berada di tengah kuburan!!!!


*flashback off*


Lasira tersenyum simpul mengingat itu semua. Dan itu jalan-jalan terakhir yang dia lakukan bersama Vinsa. Dan disana pun Vinsa banyak sekali menasehatinya, ah sekarang dia bisa mengambil kesimpulan, itu bukan menasehati namun lebih kepada pesan terakhir.


" *Kamu jangan suka marah-marah sama temen kamu, mereka baik semua.."


" kamu jangan apa-apa minta tolong, lakukan sendiri kalo kamu memang bisa..minta tolong kalo kamu tak bisa.."


" jangan malas..kamu harus nyoba kerja ikut orang deh biar kamu tau gimana rasanya cari uang,tak semudah kamu meminta uang sama mami papi"


" kamu yang mandiri..rajin shalat..jangan pake baju terbuka*.."


Ahhh..masih banyak pesan-pesan vinsa kala itu dan dia hanya merespon dengan wajah malas. Seandainya dia itu bahwa itu adalah pesan terakhir, mungkin dia akan lebih memperhatikan dan menjawab dengan suka cita. Ahh..seandainya..

__ADS_1


Lasira mengusap air mata yang kembali menetes tanpa ijin, dia ingat pesan teman-temannya untuk tidak menangis. Diraihnya tablet putih dan kemudian dia kembali menulis.


Februari


Sesak rasanya dada ini…


Seperti terhimpit sesuatu yang besar…


Yang terus menyeruak, berusaha masuk dan meremukkan hatiku..


Aku tak bisa berbuat apa – apa..


Banyak tangan terulur ke arahku…


Banyak senyum tertuju padaku..


Banyak suara berbisik d telingaku


“kau harus bangkit..”


Namun, masih saja ku abaikan suara – suara itu…


Aku masih saja meratapi diri sendiri…


Merasa bahwa Tuhan tak adil pada ku…


Namun tiba – tiba saja..


Terbayang senyummu d pelupuk mataku..


Aku seperti mendapat energi besar


Aku memang harus bangkit!!!!!!


Selesai mengetikkan kata-kata itu, Lasira menghela nafas. Menahan air matanya untuk tidak seenaknya keluar lagi. Kemudian melanjutkan tulisannya.


Melantunkan ayat-ayat Mu


Bersujud dan memohon kepada Mu..


Dapat membuat aku tegar……


Dan aku sadar akan satu hal…


Kau bukannya pergi sayang..


Namun kau pulang kerumahmu yang sesungguhnya


Aku pun pasti akan menyusulmu…


Selalu kupanjatkan doa untukmu disetiap sujudku..


Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membalas cinta yang telah kau beri selama ini


Cinta yang indah..mendekati sempurna


Dan cinta kita tak akan pernah terbagi


Tak kan pernah terpisahkan kecuali atas kehendak Allah


Sedikit kelegaan ketika selesai menumpahkan perasaan melalui sebuah tulisan. Dan Lasira merasakan itu. Dia pun mematikan tabletnya dan merebahkan tubuhnya, saatnya tidur. Dan esok hari harus ada senyuman di bibirnya, setidaknya agar kekhawatiran teman-teman dan kedua orang tuanya tidal tertangkap matanya.

__ADS_1


__ADS_2