
Lasira sudah selesai melakukan perawatan sekaligus mandi di salon tersebut. Dia memandang kaca yang memantulkan bayangan tubuhnya. Tubuh tinggi langsing yang sekarang sedikit kurus, dia mengelus-elus rambutnya yang sekarang sudah dipotong pendek sebahu.
Kemudian dia menoleh ke arah kedua sahabatnya yang masih memandangnya
" gimana? cocok gak sih?" tanyanya
" cocok..cakep kok.." jawab kimi
" lebih fresh..keren.." sambung kiara.
Lasira pun tersenyum puas mendengar jawaban kedua sahabatnya. Setelah membayar tagihan di kasir mereka pun melangkahkan kaki keluar karena Endru dan teman-temannya sudah menunggu di parkiran.
Ketika ketiga gadis itu datang, sontak membuat semua temannya kaget. Pastinya karena melihat rambut hitamnya yang panjang sepinggang telah raib berganti dengan rambut pendek sebahu dan berwarna coklat gelap!! Tampilannya memang menjadi lebih fresh dan menarik, cukup membuat seorang mayon yang biasanya selalu mengejeknya,.menjadi terpesona walau hanya sesaat.
" gimana? cocok gak?" tanya sembari tersenyum melihat reaksi teman-temannya.
Dan semua menjawab dengan jawaban sama, cantik, keren, cocok. Hanya mayon yang masih menatapnya dalam diam
" woii!!! napa lo?? gak pernah liat orang cakep? " tanyanya sembari memukul jidat lelaki itu. Seperti tersadar, dia memegang jidatnya seraya mengumpat
" anjiirr..!! kasar amat sih lo ama gw"
" ya muka lo minta di kasarin sih.."
" ishh..udah ah..yuk masuk.. " ucap mayon sembari membalikkan tubuh menuju mobil.
" yee..orang ditanya, cakep kagak..malah kabur.." omelnya.
Mayon mengelus dadanya, berusaha menetralkan degupan jantungnya yang tiba-tiba bertalu-talu ketika memandang wajah Lasira.
gila!! kenapa gw tiba-tiba degdegan gini sih liat mukanya dia?? biasanya mukanya ngeselin..kenapa barusan gemesin banget.batin mayon.
Ahh..lupakan!!
***
Sesampainya di kosan, hampir semua penghuni kos menatapnya takjub, melihat perubahan rambutnya. Bukan tanpa alasan, mereka sangat tahu jika Lasira memang sangat menyayangi rambut indahnya dan melihatnya di pangkas pendek pasca kematian kekasihnya, sungguh sangat menarik perhatian. Tak lupa mereka pun menyampaikan duka cita atas meninggalnya Vinsa. Lasira hanya tersenyum mendapat ucapan duka tersebut
Akhirnya setelah sekian lama, dia akhirnya merebahkan tubuhnya di atas ranjang kos. Ahhh...sungguh nyaman. Dia merasakan rindu yang teramat dalam terhadap suasana disini. Tak terasa,ia pun tertidur. Mungkin karena lelah selama perjalanan kemarin.
Dalam tidurnya dia melihat Vinsa tersenyum kepadanya,sejurus kemudian bayangan itu menghilang. Lasira sontak membuka matanya, sayup-sayup terdengar suara motor sport terdengar dari depan halaman kos. Tak butuh waktu lama, dia menggerakkan tubuhnya dan secepat kilat turun dari ranjang, membuka pintu dengan kasar lalu berlari ke arah balkon kamarnya, hanya untuk melihat kebawah, apakah vinsa sudah menjemputnya.
Kimi dan kiara yang melihat itu,langsung berlari ke arah balkon bermaksud mencari tahu apa yang membuat sahabatnya bertingkah seperti orang gila.
Mereka melihat Lasira memegang pagar besi dengan kedua tangannya lalu melongokkan badannya melihat kebawah, sejurus kemudian tubuhnya merosot turun dan jatuh terduduk sembari meneteskan air mata.
Kimi langsung melihat kebawah,dan dilihatnya ada motor sport sama persis dengan motor vinsa sedang berhenti di kos depan. Sementara kiara langsung menegang tangan Lasira yang tampak mendingin
" itu bukan Vinsa Las..lo harus tau itu.." kiara mengatakan itu dengan lembut. Lasira tampak mengusap wajahnya dengan kasar,menjambak rambutnya sembari menangis sesenggukan.
" gw kira..gw udah bisa..ternyata..masih susah.." ucapnya disela-sela tangisnya.
__ADS_1
" pelan-pelan sayang..pelan- pelan ya...yanf sabar.." ucap kiara lembut. Sejurus kemudian dia melihat kimi melangkahkan kaki meninggalkan mereka
" lo mau kemana kim?"
" ke kosan depan.."
"ngapain??"
" mau bilangin, sementara ini jangan ngapel pake motor itu, kalo gak,.motornya bakal gue lempar pake batu!!" ucapnya galak sembari menuruni tangga dan benar-benar akan melakukan perkataannya.
Kiara hanya tersenyum kecil melihat reaksi kimi yang selalu diluar dugaan. Sementara Lasira hanya melamun tak perduli.
***
Semester ini, dia banyak meninggalkan beberapa mata kuliah sehingga dia harus mengejar absensi agar tidak mendapatkan nilai D. Selama kuliah, teman-temannya selalu mendampingi.
Pertama kali menginjakkan kaki di kampus, banyak mata memandang kearahnya. Entah perasaan sedih atau kasihan, karena semua orang sudah tahu bahwa dia sekarang adalah Jodi alias jomblo ditinggal mati. Dan sorot mata mereka menjadikan beban baginya. Apakah dia tampak sangat memprihatinkan??
ah tidak juga...
Dan hari ini, ada satu mata kuliah yang dia harus kuliah sendiri. Kimi dan kiara menawarinya untuk menemani, menunggui di luar kelas. Begitu juga dengan endru menawarkan hal yang sama. Namun semuanya ia tolak.
" gw bukan anak TK kalik..kuliah ditungguin diluar kelas.."
" ya tapi lo kan masih sering nangus tiba-tiba kayak anak TK.." sergah ketiga sahabatnya
" udah gpp, gw bisa!! harus bisa!! "
Sungguh sial sekali. Akhirnya dia menuntun motornya dan menemukan tukang tambal ban di perempatan jalan.
Ketika sedang menunggui bapak tukang tambal bannya mengerjakan motor lain, seseorang menyapanya.
" hei..apa kabar?" tanya pria berkacamata
Lasira mengernyitkan dahi mencoba mengingat siapa yang mengajaknya ngobrol.
" kok sendirian? cowok lo kemana?" pria itu melanjutkan pertanyaannya karena melihat gadis yang di ajak bicara masih bengong
" oh..kamu mas..ah..pacarku udah pergi.." jawabnya kaku, ketika mengingat jika pria otu adalah salah satu kenalan Vinsa.
" pergi kemana? tumben lo gak ikut? biasanya kemana-mana ngikut.." ucapnya sembari tertawa geli
" ke surga.." jawab Lasira pendek. Kepalanya menunduk sembari memegang hp dan menulis pesan singkat kepada endru
ban motor gw kempes, mana disini ketemu orang yang nanyain vinsa, hufhh...tahan..jangan sampe mewek dipinggir jalan.
" hah? surga?? maksudnya?" pria itu berteriak kaget
" meninggal mas..kecelakaan.." Tampak pria itu mengusap wajahnya dan berkata lirih
" innalillahi..."
__ADS_1
Dan bapak tukang tambal ban yang mendengarkan pun ikut nimbrung
" masnya yang pake motor gede itu,? yang gondrong itu? meninggal?" tanyanya tak percaya.
ah elah..tukang tambal ban segala macem kenapa kenal sih.
" innalillahi..dia orang baik lho mbak.."
Tau darimana kalo baik?
" rumah saya deket rumahnya almarhum..dia itu selalu shalat jamaah di masjid sama saya..tapi cuman tiap isya' dan subuh..."
" meski tampilannya urakan..dalamnya enggak,soleh banget!! "
" iya pak ,saya juga kenal..dia gak mabuk dan gak ngerokok juga! padahal tampilannya begitu ya.."
hatinya mencelos mendengar obrolan dua lelaki di depannya. Kebiasaan baik yang sama sekali tidak ia ketahui, padahal mereka selalu bersama-sama.
Lasira masih terdiam sembari menundukkan kepala mencoba menahan air mata. Gak lucu kan nangis di perempatan jalan sendirian.
Namun ketika melihat sepasang sepatu kets berwarna biru di depannya, dia mendongakkan kepala. Dan melihat ada sosok Mayon di depannya.
" ban lo udah beres.. ayo pulang.." ajaknya sembari memberikan uang kepada bapak tukang tambal ban.
" lo sama siapa? "
" tadi bonceng rhino..udah ayo balik.."
Lasira pun berpamitan kepada pria berkacamata dan si tukang tambal ban yang masih memandanginya dengan wajah sendu.
Mereka pun beranjak dari tempat itu. Mayon melajukan motor lasira dengan kecepatan sedang. Namun motor itu tidak mengarah ke kampus atau pun ke kos.
" mau kemana sih?" tanyanya namun mayon tetap diam. Sejurus kemudian mayon menghentikan motor itu di pinggir sawah, suasananya sangat sepi.
" kenapa? kok brenti?" tanyanya bingung
" lo kalo mau nangis, nangis aja..nih gw pinjemin punggung gw..." ucapnya seraya menegakkan badan. Lasira melongo kemudian memukul pundak teman prianya tersebut.
" ih..pede..siapa juga yang mau nangis" tanyanya seraya mengerjapkan mata menahan air mata, karena memang sedari tadi dia berusaha menahannya. Mayon meraih tangan Lasira ,memegangnya sejenak kemudian berkata lembut
" nangis aja gak papa ,tiap lo ketemu sama sesuatu yang mengingatkan lo sama vinsa..lo boleh pegang punggung gw..gw gak liat deh..lagian disini sepi,gak ada yang liat..."
Sejurus kemudian dia merasakan dahi adis itu bersandar di bahunya kemudian terdengar suara isak tangis keluar.
Hmm..entah kenapa, dia bisa bersikap manis seperti ini kepada Lasira. Dia pun tak mengerti. Yang pasti dia merasakan sakit yang berlebih ketika melihat Lasira menangis.
Namanya juga temen kan?
Eh..Temen apa demen ya?
ups...
__ADS_1