Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 32 - Jia Huaran Dan Ling Qiuyu


__ADS_3

“Tuan Putri bukanlah uang ataupun jabatan yang bisa diberikan secara cuma-cuma. Selain itu Paman Song, Bibi Ran. Aku sebagai anak yatim piatu mengingatkan ini...” Shen Lao menatap Yao Ran yang tertawa lirih, “Terutama Tuan Putri. Dengarkan cerita ini...”


Bagaimanapun Shen Lao adalah keturunan bangsawan. Dia dididik dengan baik oleh orang tuanya. Shen Lao mengingatkan pada Jia Song dan Yao Ran, terutama teruntuk Jia Huaran.


“Selagi orang tuamu masih hidup, maka utamakan kedua orang tuamu, daripada perasaan sesaat pada seseorang. Orang tua telah merawatmu sejak kecil dan membesarkanmu penuh kasih sayang...”


Shen Lao menatap wajah Jia Song dan Yao Ran yang terlihat begitu senang mendengar cerita singkatnya. Shen Lao hanya berharap mereka bisa tahu apa yang dimaksud olehnya, terutama Jia Huaran.


“Sebenarnya aku melihat masa depanmu ini cerah, Lao‘er. Jika aku menitipkan Huahua padamu, aku akan merasa tenang...” Jia Song bisa melihat bakat Shen Lao, jika pemuda ini memiliki potensi yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Shen Lao menatap Jia Huaran yang tersipu malu. Dia berharap gadis ini dapat menerima kondisinya yang terkana Kutukan Sembilan Kematian.


“Ayah, untuk masalah ini biar aku selesaikan dengan Lao.” Jia Huaran angkat bicara dan menatap Shen Lao penuk makna.


Tatapan Jia Huaran begitu menggoda. Gadis ini benar-benar dapat membius lelaki dalam sekejap, Shen Lao menghela napas panjang dan memejamkan matanya sesaat.


“Lao‘er, ini adalah pemberian dariku dan berharap kau dapat membangun kembali Keluarga Shen...”


Jia Song memberikan tanah yang ada di Lembah Sembilan Suci kepada Shen Lao. Bisa dibilang ini adalah langkah Jia Song untuk mengembalikan hak milik Keluarga Shen dan Keluarga Ling kepada Shen Lao.


“Dengarkan sedikit ceritaku Paman Song...”


“Oh, apa itu?”


Shen Lao bercerita jika dirinya ingin membangkitkan kembali Keluarga Shen. Selain itu dia juga menceritakan ambisinya yang ingin melenyapkan aliran hitam di Kekaisaran Jia.


Jia Song dan Yao Ran mendengar cerita yang panjang dari Shen Lao. Saat Shen Lao menceritakan tentang dirinya yang terkena Kutukan Sembilan Kematian, wajah Jia Song dan Yao Ran tampak tidak percaya.


Yang paling terkejut adalah Jia Huaran. Bagaimana mungkin Shen Lao hanya akan bertahan hidup sampai umur dua puluh tahun jika pemuda ini tidak menemukan sembilan perempuan yang akan tulus mencintainya.


“Coba aku memeriksanya...” Yao Ran berdiri dan memeriksa telapak tangan Shen Lao yang terdapat tanda kutukan.


Wajah Yao Ran memucat, “Ini bahkan tidak ada penawarnya. Tetapi bagaimana mungkin kau bisa menemukan sembilan perempuan... Tidak, tidak. Aku baru pertama kali melihat kondisi ini.”


Yao Ran memegang kepalanya dan berbincang dengan Jia Song. Sementara Jia Huaran menatap Shen Lao dalam, dia tahu pemuda ini tidak berbohong. Sehingga dia juga tidak ingin membohongi perasaannya.


“Ayah, Ibu. Aku ingin hidup bersama Lao. Dia adalah laki-laki pertama yang aku kenal dan berbicara padaku layaknya seorang teman. Jujur aku sudah jatuh hati padanya saat dia menemuiku di Restoran Bunga Persik.” Jia Huaran mengucapkan segala perasaannya di depan orang tuanya.


Shen Lao terkejut mendengarnya. Kemudian dia membuka telapak tangannya dan melihat tiga tanda kutukan telah menghilang. Saat itu dia sadar jika Jia Huaran benar-benar tulus mencintainya.


“Ini baru pertama kali terjadi. Sebagai seorang tabib, aku tidak menyangka ada kutukan seperti ini.” Yao Ran melihat lagi kutukan Shen Lao yang berubah, “Lao‘er, lihat sendiri. Huahua tulus mencintaimu. Lindungi wanitamu, karena calon ibu mertuamu ini juga seorang perempuan. Dan ibumu juga. Jangan sampai membuat mereka sakit hati apalagi meninggalkan mereka.”


“Bibi Ran, aku akan mengingat nasihatmu.”


Jia Song kehabisan kata-kata. Dia memijat keningnya lama sebelum menatap baik-baik Shen Lao dan Jia Huaran.


“Aku pernah membuat Huahua menderita. Andai aku tahu Zhong Chan yang meracuni istriku, aku tidak perlu menjodohkan anakku ini dengan orang itu...” Jia Song masih memijat keningnya dan menghela napas panjang.

__ADS_1


“Aku percayakan Huahua padamu, Lao‘er. Sebagai pria kamu jangan pernah melukai perasaannya. Jika anakku terluka karena perbuatanmu, maka aku sebagai calon ayah mertuamu akan memarahimu!”


“Ayah, Ibu. Jika kalian berdua menyetujui hubungan ini. Aku ingin mendukung jalan yang diambil Lao. Aku yakin Lao tidak akan ikut dalam urusan pemerintahan. Apa Ayah dan Ibu tidak keberatan jika aku tidak tinggal di istana bersama kalian?” Jia Huaran mengerti maksud cerita Shen Lao. Dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, apalagi menyakiti harapan mereka.


“Huahua, ini pertama kalinya kamu berbicara tentang seorang pria kepada orang tuamu. Sebenarnya Ayah sulit melepasmu, apalagi Lao‘er bukan hanya akan menjagamu saja. Jika kau yakin dengan keputusanmu untuk hidup bersama Lao‘er, Ayah dan Ibu akan mendukungmu. Tetapi jika sebaliknya, maka kami juga tetap menerimamu. Bagaimanapun kamu adalah malaikat kecil kami yang telah tumbuh besar.” Jia Song berbicara panjang lebar menjawab perkataan Jia Huaran.


Jia Huaran menatap Shen Lao lama. Sebelum akhirnya dia sudah yakin dengan keputusannya.


“Ayah, Ibu. Aku menerima Lao dan semua kondisi yang dialaminya” Setelah Jia Huaran berkata demikian, Jia Song dan Yao Ran saling menatap satu sama lain dan tersenyum.


Shen Lao dan Jia Huaran saling menatap satu sama lain. Tak lama mereka bersama Jia Song dan Yao Ran berbincang layaknya sebuah keluarga. Beberapa saat kemudian, Shen Lao memasukkan seratus juta keping emas yang diberikan Jia Song.


Wajah Jia Song dan Yao Ran tidak percaya melihat uang milik Shen Lao lebih banyak dari keuangan di istana.


“Jika seperti ini, aku tidak perlu khawatir.” Yao Ran tertawa lirih dan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.


Tak lama Shen Lao dan Jia Song saling mengobrol sebelum akhirnya Shen Lao meminta izin untuk kembali ke Sembilan Harta Phoenix.


“Tuan Putri, apa kau bersedia hidup bersamaku? Aku ini bukanlah laki-laki yang baik. Tuan Putri tahu sendiri kan?”


Jia Song dan Yao Ran memberikan ruang untuk anaknya agar berbincang dengan Shen Lao.


“Panggil aku Hua‘er...” Jia Huaran menatap Shen Lao tajam.


“Hua‘er, apa kau dapat menerima kondisiku ini?” Shen Lao berjalan pelan bersama Jia Huaran.


Shen Lao memejamkan matanya. Jia Huaran menjinjit dan mengecup pipi kiri Shen Lao.


“Aku akan menerima dirimu apa adanya. Aku menerima kondisimu dan aku akan mendukung semua ambisi dan impianmu.” Jia Huaran memerah wajahnya setelah mengecup pipi Shen Lao. Shen Lao dengan sedikit jahil menyentuh pipi Jia Huaran.


“Lao, besok aku pergi ke Sembilan Harta Phoenix. Aku ingin membantu Kakak Qiuqiu disana.” Jia Huaran langsung kembali ke istana setelah berkata demikian.


Shen Lao menatap punggung Jia Huaran yang kian menjauh. Kemudian dia kembali ke Sembilan Harta Phoenix.


____


Sore hari, Shen Lao melihat selimut dikamarnya telah diganti dengan yang baru. Dia segera mencari keberadaan Ling Qiuyu.


Gadis ini sudah dapat berjalan, dan terbangun ketika hari menjelang sore. Sekarang dia sedang memasak sesuatu untuk makan malam.


Shen Lao memeluk pinggang Ling Qiuyu dari belakang dan berbisik mesra, “Harumnya, kamu sedang masak untuk makan malam?”


Shen Lao menatap wajah Ling Qiuyu sebelum memberi gigitan kecil di telinganya. Sementara tangannya memeluk erat Ling Qiuyu.


Ling Qiuyu tersipu malu karena Shen Lao memeluk tubuhnya, “Tuan Muda Shen, jangan sekarang...” Ling Qiuyu mendesis saat tangan Shen Lao meraba perutnya.


“Qiuyu, sebut namaku...” Shen Lao memandang leher Ling Qiuyu tertutup kain. Gadis ini ingin menyembunyikan tanda merah yang memenuhi lehernya.

__ADS_1


“Nanti orang tuaku melihat...” Ling Qiuyu menegur Shen Lao.


“Liontin ini membuat dirimu semakin cantik.” Shen Lao memegang Liontin Dewi Kesuburan sebelum tangannya memegang cincin yang melingkar di jari manis Ling Qiuyu.


“Ada yang ingin kubicarakan dengan orang tuamu setelah makan malam.” Balas Shen Lao sambil melepaskan pelukannya.


“Lao, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Orang tuaku pasti akan menyetujui hubungan kita...” Ling Qiuyu menyeka keringatnya dan menatap Shen Lao.


“Qiuqiu, kamu masak apa?” Tiba-tiba Ling Xie datang. Dia melihat Shen Lao sedang mencuci piring dan anak gadisnya sedang memasak.


“Sepertinya ibu mengganggu...” Ling Xie tersenyum bahagia dan pergi ketika melihat wajah Ling Qiuyu merah padam.


“Biarkan aku membantu...” Shen Lao mengambil mangkuk berisi sup hangat.


“Baiklah...”


Shen Lao dan Ling Qiuyu menyiapkan piring di meja makan khusus mereka berempat makan bersama.


“Kalian berdua semakin dekat...” Ling Han datang menyapa setelah seharian tidur siang. Tak lama Ling Xie juga datang menghampiri meja makan. Lalu mereka mulai makan malam bersama.


Setelah makan malam, Ling Qiuyu menatap kedua orang tuanya. Tak lama Shen Lao berbicara kepada Ling Han dan Ling Xie untuk menjelaskan kondisi tubuhnya. Dia menceritakan semuanya tentang Kutukan Sembilan Kematian dan apa yang terjadi pada dirinya dan Ling Qiuyu.


Setelah mendengar cerita Shen Lao, Ling Han dan Ling Xie bisa menebaknya. Tetapi dia tidak menyangka Shen Lao memiliki kutukan yang membuat keduanya sulit untuk percaya.


“Qiuqiu, apakah kamu yakin dengan keputusan ini?” Ling Xie bertanya untuk memastikan agar anaknya tidak menyesali keputusan dan perbuatannya.


“Ibu, Ayah. Aku mencintai Lao apa adanya dan menerima kondisinya.” Ling Qiuyu menjawab perkataan Ling Xie dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


“Ibu mengerti. Akhirnya kau dapat merasakan jatuh cinta. Pada awalnya Ibu khawatir, tetapi semuanya baik-baik saja...” Ling Xie kemudian menatap Shen Lao, “Tolong jaga Qiuqiu dengan sebaik-baiknya. Walau dia lebih tua darimu, dia adalah seorang perempuan. Pastikan kamu tidak pernah membuatnya terluka.”


“Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Qiuyu.”


Ling Xie dan Ling Han merasa bahagia keitka melihat anak gadisnya yang telah dewasa jatuh hati kepada Shen Lao.


“Lao‘er, ada nasihat kecil dari calon ayah mertuamu...” Ling Han menatap Shen Lao serius, “Jika ceritamu benar. Aku tidak akan memaafkanmu jika pergi meninggalkan anakku ini. Kau terlalu terobsesi akan dendam. Ingat, mulai sekarang kau mempunyai anakku ini yang menunggumu pulang. Jangan membuatnya ketakutan apalagi menderita.”


“Aku akan mengingat nasihat Paman Han.” Shen Lao menjawab penuh tekad.


Setelah makan malam bersama. Shen Lao dan Ling Qiuyu menaiki tangga. Keduanya menuju lantai sembilan bersama.


“Qiuyu, terimakasih. Aku bersyukur dapat bertemu denganmu. Walau aku lebih muda darimu, tetapi aku akan membuatmu bahagia.” Shen Lao mendekap tubuh Ling Qiuyu dari belakang dan menghirup bau harum rambut berwarna hitam kecoklatan.


“Kamu mendapatkan restu orang tuaku, Lao. Aku juga bahagia karena kau datang disaat aku merasakan putus asa...” Ling Qiuyu membuka pintu kamarnya.


“Kamar ini...” Shen Lao berhenti melangkah. Tetapi tangannya dipegang Ling Qiuyu.


“Malam ini aku ingin tidur dikamarku...” Ling Qiuyu tersenyum lembut dan menatap hangat Shen Lao.

__ADS_1


Melihat senyuman lembut dan tatapan hangat itu, Shen Lao langsung menggendong tubuh Ling Qiuyu dan mencium pipinya, lalu mengunci pintu kamar gadis ini.


__ADS_2