Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 33 - Lembah Sembilan Suci


__ADS_3

Shen Lao mencium kening dan membelai rambut Ling Qiuyu sebelum beranjak berdiri dari tempat tidur yang besar itu. Lalu Shen Lao memakai jubahnya dan menatap Ling Qiuyu yang masih tertidur dengan pulasnya dibalut selimut putih yang tebal.


“Hari ini seharusnya Nenek Nue sudah datang...” Shen Lao bergegas kembali ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Setelah mandi Shen Lao mengeringkan rambut hitamnya dan menatap Ling Qiuyu yang masih tertidur lelap. Raut wajahnya dipenuhi dengan kelelahan, bahkan rambut hitam kecoklatan terlihat berantakan.


Shen Lao duduk di tepi ranjang dan menulis sesuatu di kertas, lalu mengeluarkan buah-buahan dan mengupasnya. Kemudian dia mengelus rambut Ling Qiuyu dengan lembut.


“Qiuyu, aku pergi dulu...” Bisiknya lembut sembari mengecup keningnya.


___


“Lao‘er, aku dengar kau ingin mengembalikan kota tempat tinggalmu. Dan kamu memberinya nama Shenling. Paman Han terharu mendengarnya...” Ling Han yang sudah sarapan pagi bersama Ling Xie menatap Shen Lao dengan tatapan menyelidik.


“Ini makanan dari Tuan Putri. Dia menunggumu di luar...” Ling Xie menyuruh Shen Lao untuk sarapan pagi terlebih dahulu sebelum pemuda ini berangkat ke tempat yang dijanjikan oleh Kaisar Jia Song.


“Paman Han dan Bibi Xie sendiri sudah sarapan?” Shen Lao bertanya sambil menatap kedua orang tua Ling Qiuyu.


“Hmmm, kami sudah. Yang tersisa hanya kau dan Qiuqiu...” Ling Xie pergi ke ruangan pribadinya setelah berkata demikian.


Setelah Ling Xie dan Ling Han pergi, Shen Lao sarapan pagi sendirian. Masakan yang dibuat dari Restoran Bunga Persik memang lezat, selain itu makanannya dipenuhi energi karena Jia Huaran menyuruh pelayan disana menyiapkan makanan dari bahan-bahan yang diberikan Shen Lao.


Selesai sarapan pagi Shen Lao langsung pergi ke depan halaman Sembilan Harta Phoenix, disana terlihat Jia Huaran sudah berdandan rapi dan terlihat cantik.


“Lao, dimana Kakak Qiuqiu?” Jia Huaran bertanya karena melihat raut wajah Shen Lao yang tampak berseri. Nalurinya sebagai seorang perempuan mengatakan jika ada sesuatu yang terjadi antara Shen Lao dan Ling Qiuyu.


“Hua‘er, Qiuyu masih tidur. Hari ini kamu tidak ada kesibukan lain bukan?” Shen Lao mendekati Jia Huaran dan menjelaskan jika dirinya ingin pergi ke kota reruntuhan, lebih tepatnya pergi ke Lembah Sembilan Suci.


‘Lao dan Kakak Qiuqiu pasti...’ Saat Shen Lao menjelaskan, Jia Huaran justru berpikir macam-macam. Telinganya memerah.


“A... Aku tidak ada kesibukan. Ayah juga mendukung rencana pembangunan kota baru ini.” Jia Huaran terlihat gugup.

__ADS_1


“Paman Song memang baik. Aku tidak akan mengecewakannya.” Shen Lao tersenyum ketika melihat raut wajah Jia Huaran yang tampak tersipu malu.


Beberapa pendekar Sembilan Harta Phoenix datang menyapa Shen Lao. Tak lama Nenek Nue datang bersama lusinan perempuan yang merupakan seorang tabib.


“Tuan Muda Shen, ini adalah tabib yang aku kumpulkan. Mereka tidak terikat dengan sekte. Bisa dibilang mereka tabib terbaik di Kekaisaran Jia.” Nenek Nue memberi hormat pada Shen Lao diikuti para tabib yang baru bergabung ke dalam Sembilan Harta Phoenix.


Shen Lao mengelus dagunya, “Nenek Nue, aku meninggalkan catatan tentang resep pembuatan pil pada Nona Qiuyu. Kalau dia bangun, pasti dia akan memberikannya padamu.”


Nenek Nue merasa telah terjadi sesuatu antara Shen Lao dan Ling Qiuyu. Tetapi dia lebih memilih diam, “Baiklah Tuan Muda Shen, aku akan menunggu Nona Muda bangun.”


Jia Huaran mencubit tangan Shen Lao dan berjinjit, “Lao, kenapa kau memanggil Kakak Qiuyu dengan sebutan nona. Bukankah kau tadi menyebutkan namanya?”


Shen Lao menarik lembut tangan Jia Huaran menjauh dari Nenek Nue dan yang lainnya.


“Bagaimanapun aku dan Qiuyu dianggap sebagai pemilik Sembilan Harta Phoenix. Apa kau ingin tahu alasannya?” Shen Lao menatap Jia Huaran yang terlihat penasaran.


Ketika Jia Huaran menganggukkan kepalanya, Shen Lao segera membisikkan sesuatu padanya. Wajah Jia Huaran merah padam.


“Memberi hormat pada Tuan Putri...” Kakek Nue dan Feng En memberi hormat pada Jia Huaran.


Kakek Nue terlihat begitu bersyukur karena bertemu Shen Lao. Pagi ini dia kembali bertemu dengan Nenek Nue setelah sekian lama.


“Kita berangkat sekarang.” Shen Lao memberi tanda pada Jia Huaran agar mendekat padanya.


“Hua‘er, apa ayahmu telah mengizinkan? Ini perjalanan yang cukup jauh. Mungkin tiga hari kita tidak berada di Ibukota.” Shen Lao menjelaskan.


“Ayah sudah mengizinkanku.” Seteleh Jia Huaran menjawab, Shen Lao langsung menggendong tubuhnya dan melompat ke udara.


Jantung Jia Huaran berhenti sesaat, kedua tangannya dia kalungkan ke leher Shen Lao, “Kamu membuatku takut!”


“Aku akan memperlihatkan dunia luar padamu, Tuan Putriku...” Shen Lao bergerak lebih cepat sambil mengalirkan aura tubuhnya pada Jia Huaran.

__ADS_1


Kakek Nue dan Feng En menggelengkan kepalanya. Mereka tidak menyangka Shen Lao memiliki dua perempuan sekaligus, bahkan yang lebih mengejutkan adalah pemuda ini mendapatkan hati Jia Huaran, Tuan Putri anak dari Kaisar Jia dan gadis bangsawan tercantik di Kekaisaran Jia, Ling Qiuyu.


“Aku dengar Tuan Putri terkenal dengan sifatnya yang dingin. Tetapi kenapa dia justru terlihat sangat akrab dengan Pemimpin?” Feng En menatap Shen Lao dan Jia Huaran yang saling bercanda di depan mereka.


“Itu sulit dijelaskan. Tetapi kau bisa melihat sendiri Tuan Muda Shen memiliki kharisma yang berbeda dari pria lainnya. Tidak heran jika Tuan Putri dan Nona Muda jatuh ke pelukannya.” Kakek Nue tertawa pelan. Sementara Feng En kagum dengan kharisma Shen Lao.


___


Kaisar Jia Song memberikan tanah di Lembah Sembilan Suci kepada Shen Lao. Lembah ini sedang dibangun kota, beberapa penduduk yang mengetahui kebenaran tentang kembalinya Keluarga Ling dan Keluarga Shen berbondong-bondong ke Lembah Sembilan Suci untuk membantu pembangunan.


Setelah melakukan perjalanan selama seharian penuh, akhirnya Shen Lao dan Jia Huaran sampai di tempat tujuan mereka.


Shen Lao dan Jia Huaran menatap Lembah Sembilan Suci dari atas langit. Orang yang akan menjadi Walikota Kota Shenling adalah Ling Han.


“Kenapa kamu memikirkan semua ini? Padahal umur kita sama, tetapi kamu selalu memikirkan masa depan yang lebih baik...” Jia Huaran bertanya karena tindakan Shen Lao ini tidak pernah membuatnya berhenti terkejut.


“Aku hanya tidak ingin kalian hidup kesusahan. Mendiang ayahku dan kakakku pernah berkata padaku, buatlah seorang perempuan bahagia. Jangan biarkan mereka hidup menderita.” Shen Lao menjawab tenang, matanya menatap orang-orang dibawah sana.


“Aku suka pemikiranmu itu...” Jia Huaran membenamkan wajahnya ke dada Shen Lao.


Tak lama Kakek Nue dan Feng En datang.


“Tuan Muda Shen, kota ini mungkin akan terbentuk sekitar dua atau tiga tahunan lagi.” Kakek Nue berpendapat.


Ketika mendengar perkataan Kakek Nue, Shen Lao memikirkan cara untuk mempercepat pembangunan. Tiba-tiba ingatan warisan Roh Dewa muncul di kepalanya.


“Apa aku harus melakukan kontrak darah dengan Binatang Roh?”


Saat Shen Lao menggumam, Jia Huaran langsung menatapnya penasaran. Sementara Kakek Nue dan Feng En terkejut.


“Hua‘er, kita makan dulu. Kau lapar bukan?”

__ADS_1


__ADS_2