
“Lao‘gege, Rongrong, selamat. Kalian berdua lolos ke babak delapan besar.” Ling Qiuyu memeluk Shen Lao dan Chi Rong setelah sampai didalam penginapan Sembilan Harta Phoenix.
Jia Huaran memandang Shen Lao yang menatapnya diam, kemudian Chi Sumei memegang pundaknya dan menanyakan tentang pertengkaran Shen Lao dan gadis itu.
“Kami tidak bertengkar, Nek. Hanya saja aku telah membuat kesalahan...” Jia Huaran tersenyum dan memegang rambut halusnya, “Maaf Nek, aku duluan.”
Chi Sumei menggelengkan kepalanya melihat Jia Huaran yang berlari masuk kedalam penginapan Istana Bulan Biru, tak lama Panglima Lu Bu datang menyapa Chi Sumei.
Keduanya berbincang singkat sebelum Panglima Lu Bu menjelaskan pada Chi Sumei tentang tindakan Jia Huaran yang sengaja mendekati Feng Erlong.
Beberapa gadis Ibukota Jiaran menghilang dan beberapa dari mereka bunuh diri, bukan itu saja ternyata kejadian serupa terjadi dibeberapa kota.
Jia Song memberi tugas pada Panglima Lu Bu dan Jia Huaran untuk mencari tahu kebenarannya. Menurut Jia Song, ada sesuatu yang tersembunyi di Lembah Bunga Persik.
”Apa Senior tahu Sekte Elang Emas? Ketua sekte itu sendiri yang memberitahu jika sekte aliran putih sekalipun lebih buruk dari hitam. Masalah ini menyangkut masalah moral...” Panglima Lu Bu menggelengkan kepalanya karena Ketua Sekte Elang Emas mengatakan dirinya menjadi korban pelecehan salah satu tokoh dunia persilatan Kekaisaran Jia, dan orang yang melecehkannya adalah Feng Guang.
Chi Sumei baru pertama kali mendengar ini, dan cerita yang dia dengar dari Panglima Lu Bu merupakan masalah serius. Terlebih Chi Sumei paling sensitif saat membahas hal ini.
“Ketua Sekte Elang Emas menambahkan jika gadis dan perempuan yang bunuh diri dibeberapa kota juga merupakan korban Feng Guang. Itulah mengapa Sekte Elang Emas berakhir, karena khawatir mereka akan membeberkan kedoknya...” Panglima Lu Bu berpamitan setelah menjelaskan alasan Jia Huaran mendekati Feng Erlong karena ingin mengetahui langsung sifat Feng Erlong dan bagaimana sosok Feng Guang.
Shen Lao yang sedang berbincang dengan Chi Rong dan Ling Qiuyu mendengar obrolan Chi Sumei dan Panglima Lu Bu.
Dia tersenyum tipis dan menghela napas panjang, “Kalian berdua lebih baik mandi, setelah itu kita makan malam bersama.”
Shen Lao mencubit hidung Chi Rong dan Ling Qiuyu lembut membuat keduanya tersipu malu. Tindakan Shen Lao ini terkadang manis dan kekanak-kanakan, namun Chi Rong dan Ling Qiuyu sangat menyukainya karena sentuhan tangan Shen Lao membuat jantung mereka berdebar kencang.
Ling Qiuyu berdiri dan berjalan bersama Chi Rong menuju kolam air panas di penginapan Sembilan Harta Phoenix, sedangkan Shen Lao menatap kedua istrinya itu penuh makna.
__ADS_1
“Rongrong, aku sempat khawatir melihat pertarunganmu. Aku takut Lao‘gege kecil kenapa-kenapa...” Ling Qiuyu tertawa lirih sambil menggoda Chi Rong.
“Walau aku hamil, aku akan memenangkan turnamen ini. Jadi Kakak Qiuqiu tidak perlu mengkhawatirkanku, dan minta maaf karena akhir-akhir ini Kakak Qiuqiu harus menuruti keinginan nakal Lao‘gege...” Chi Rong membalas menggoda dan membuat Ling Qiuyu tersipu malu.
Shen Lao yang sempat mendengar obrolan kedua istrinya itu tersedak. Dia menjadi penasaran apa yang dibicarakan Chi Rong dan Ling Qiuyu saat dirinya tidak ada didekat keduanya.
Shen Lao berjalan cukup tenang masuk kedalam penginapan Istana Bulan Biru dan menuju kamar Jia Huaran.
Disana terlihat Jia Huaran sedang berdiri didekat jendela, Shen Lao mendekati gadis itu dan berdiri tepat dibelakangnya sebelum membungkuk pelan dan menghembuskan napasnya ke telinga Jia Huaran.
“Ah!” Jia Huaran tersentak kaget dan menoleh ke belakang.
“Lao kau membuatku kaget!” Jia Huaran menatap sebal Shen Lao.
“Hua‘er, kau akan membuat orang lain salah paham.” Shen Lao tersenyum mengingat teriakan Jia Huaran yang terdengar seperti desahan.
Shen Lao berjalan kedepan dan membuat Jia Huaran mundur kebelakang hingga gadis itu bersandar ditepi jendela.
“Hua‘er, maaf karena aku tidak menyadarinya. Kenapa kau tidak bergantung padaku?” Shen Lao menatap dalam kedua bola mata yang biasanya menggoda, namun sekarang nampak sendu.
Jia Huaran tanpa sadar meneteskan air matanya dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
“Lao, aku pikir kau akan membenciku karena aku telah membuatmu cemburu! Aku... Aku...” Jia Huaran menangis cukup keras membuat Shen Lao menoleh kekiri, kekanan, kedepan dan kebelakang untuk memastikan keberadaan seseorang karena bagaimanapun tangisan Jia Huaran akan membuat orang lain salah paham.
Shen Lao memeluk tubuh Jia Huaran dan mendekapnya lembut, “Aku tidak akan membenci perempuan sepertimu, Hua‘er.”
Jia Huaran semakin menangis keras. Kedua insan yang memiliki umur sebaya ini saling memeluk erat satu sama lain hingga akhirnya Jia Huaran berhenti menangis dan tersenyum manis.
__ADS_1
“Tatap mataku, Hua‘er, apakah aku kelihatan cemburu?” Shen Lao dan Jia Huaran saling menatap sebelum Jia Huaran mengembangkan pipinya dan memalingkan wajahnya kesal.
“Malam itu kau menatapku dingin dan mengabaikanku! Kau tahu, aku sakit melihatmu menatapku seperti itu!” Jia Huaran sudah meminta maaf, namun gadis ini ingin Shen Lao mengutarakan yang sejujurnya.
“Wajar aku cemburu, aku tidak suka melihat wanitaku pergi dengan pria lain. Aku lebih tidak suka jika wanitaku disentuh pria lain. Selain menyentuh rambutmu, apa dia menyentuh yang lainnya?” Shen Lao menatap tajam Jia Huaran.
“Hmmm...” Jia Huaran mendongak dan menatap tajam Shen Lao.
“Lao, aku senang karena kau merasa cemburu. Tenang saja, dia hanya menyentuh rambutku. Dan aku juga telah membuang jepit rambut itu setelah dia pergi.” Jia Huaran sengaja menggoda Shen Lao hingga pemuda dihadapannya memegang dagunya.
Seketika jantung Jia Huaran berdebar kencang, terlebih saat Shen Lao memajukan kepalanya kearah wajahnya.
Jia Huaran memejamkan matanya dan menanti hal yang akan dilakukan Shen Lao, namun hampir satu menit dia memejamkan matanya, tidak ada tanda Shen Lao akan menciumnya.
‘Hah? Dia mengeledekku!’ Batin Jia Huaran sebal melihat Shen Lao tersenyum didepan wajahnya.
“Hua‘er, apa kau berpikir aku akan menciummu? Aku tidak akan menciummu sebelum kita menikah. Aku menyukaimu, jadi mulai sekarang bergantung padaku dan jangan pernah biarkan lelaki lain menyentuhmu sebelum diriku!” Shen Lao berkata dengan tenang dan membuat Jia Huaran menahan napasnya.
“Lao bodoh, aku hanya ingin mengujimu. Kakak Qiuqiu dan Kakak Rongrong selalu bercerita tentangmu yang memaksa mereka melakukan itu. Tetapi sepertinya itu tidak benar.” Jia Huaran mengedipkan matanya dan mendorong tubuh Shen Lao sekuat tenaganya, “Minggir, aku mau mandi!”
Shen Lao mengatur napasnya dan menggelengkan kepalanya, ‘Sebenarnya apa yang mereka katakan pada Hua‘er?’
“Lao.” Shen Lao menoleh ke belakang dan melihat Jia Huaran membuka pintu kamar.
“Jangan pernah meniduri perempuan sebelum kamu menikahinya. Kamu harus belajar dari pengalamanmu.” Jia Huaran berkata dengan nada mengeledek sebelum menutup pintu kamar cukup keras.
Shen Lao membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar. Ucapan Jia Huaran barusan membuatnya kalang kabut karena soal itu hanya Chi Rong dan Ling Qiuyu yang mengetahuinya.
__ADS_1
‘Mereka berdua!’ Shen Lao tersenyum dan berjalan menuju penginapan Sembilan Harta Phoenix, untuk mandi sebelum makan malam bersama.