Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 49 - Liontin Dewi Pengobatan


__ADS_3

“Ini dilema besar. Saat aku terjatuh, salah satu roh yang memiliki hawa mencekam membuat perjanjian denganku, aku menerimanya. Dan saat itu juga aku bertemu dengan Roh Dewa.” Shen Lao tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran yang terkejut.


Bahkan Chi Sumei hanya bisa menahan napas. Menurutnya Shen Lao adalah pemuda yang memiliki nasib tragis sekaligus beruntung, namun pemuda ini benar-benar terlihat menikmati kehidupannya.


Chi Sumei juga bercerita tentang Sembilan Harta Phoenix yang pernah mencari keberadaannya untuk bekerjasama.


Shen Lao akan menyediakan sumber daya untuk Istana Bulan Biru secara gratis, karena bagaimanapun Istana Bulan Biru adalah tempat istrinya berada.


Chi Rong memasang wajah kagum terhadap Shen Lao, setelah berjalan selama berhari-hari akhirnya mereka sampai di Ibukota Jiaran.


Chi Sumei dan Chi Rong menggelengkan kepalanya pelan karena sudah lama tidak berkunjung ke Ibukota Jiaran.


Hal pertama yang Chi Rong lakukan setelah sampai di dekat gerbang Ibukota Jiaran adalah memakai penutup wajah.


“Ada apa? Apa kamu takut dengan sinar matahari?” Chi Rong tertawa lirih mendengar perkataan Shen Lao, suaminya ini terlihat begitu polos hingga membuat Chi Rong menjadi gemas.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menutup wajahku saja...” Jawab Chi Rong singkat.


Penjaga gerbang membungkuk ketika melihat Jia Huaran, sementara Chi Rong mengamati Ibukota Jiaran dengan seksama karena penasaran dengan kediaman Sembilan Harta Phoenix.


Bangunan megah dengan sembilan lantai membuat Chi Rong berdecak kagum, dia menatap Shen Lao dan Ling Qiuyu yang tersenyum padanya.


Ada yang baru di Sembilan Harta Phoenix, karena terlihat perempuan berwajah keibuan yang sedang bermain dengan anak laki-laki berumur sepuluh tahun.


“Lao, dia adalah Bibi Ruo...” Ling Qiuyu memperkenalkan pada Shen Lao, Chi Rong, Jia Huaran dan Chi Sumei tentang identitas perempuan berwajah keibuan itu dan anak kecil berumur sepuluh tahun.

__ADS_1


Perempuan itu bernama Hua Ruoruo dan merupakan istri kedua dari Ling Han, sementara anaknya bernama Ling Feng. Saat malam kudeta, Ling Han menyuruh Hua Ruoruo kembali ke Kekaisaran Ma, tetapi yang sebenarnya Hua Ruoruo bersembunyi bersama anaknya di suatu tempat karena sektenya telah menolak keberadaannya, sekarang perempuan itu kembali setelah mendengar desas-desus kebebasan Keluarga Ling.


“Salam kenal Bibi Ruo...” Shen Lao memberi hormat, kemudian memperkenalkan istrinya, Jia Huaran dan Chi Sumei kepada Hua Ruoruo.


“Jadi kamu Lao‘er?” Hua Ruoruo menatap Shen Lao dengan seksama, kemudian dia memperkenalkan anaknya kepada mereka.


“Wah dia kakak iparku, aku dengar Kakak Lao yang akan menjadi kakak ipar ku kan, bunda?” Ling Feng memegang tangan Shen Lao dan langsung menatap Hua Ruoruo.


“Iya, Feng‘er.” Jawab Hua Ruoruo dengan lembut.


Wajah Ling Qiuyu merah merona seketika, sementara Chi Rong dan Jia Huaran tersenyum tipis karena mereka melihat kebahagiaan tersendiri di Sembilan Harta Phoenix.


Tak lama Ling Han dan Ling Xie datang menyambut. Ling Xie berpelukan dengan Chi Rong, tak lama dia mendiskusikan hal penting terkait Turnamen Bunga Persik, tetapi Shen Lao sudah memiliki rencana sendiri dan dia akan mengikutinya sebagai pemilik Sembilan Harta Phoenix.


Sebelum itu, Shen Lao menjelaskan kepada Ling Han, Ling Xie dan Hua Ruoruo bahwa dirinya akan menikahi Ling Qiuyu terlebih dahulu sebelum mengikuti Turnamen Bunga Persik.


“Rong‘er, Nenek Sumei, mari masuk...” Shen Lao mempersilahkan Chi Rong dan Chi Sumei untuk masuk ke dalam Sembilan Harta Phoenix.


Pelayan langsung mengantarkan Chi Sumei menuju kamar, sementara Shen Lao langsung menuju kamar di lantai sembilan bersama Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran.


“Rong‘er, kamu pakai kamarku ini...” Shen Lao membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Chi Rong masuk.


Jia Huaran tersenyum tipis, “Kakak Rongrong, jangan lupa minum air hangat yang akan kubuat nanti malam.”


Chi Rong dan Ling Qiuyu sama-sama tertawa lirih, melihat ekspresi kedua gadis cantik itu, Jia Huaran penasaran.

__ADS_1


Hanya Chi Rong dan Ling Qiuyu yang mengetahui bagaimana rasanya mengatasi Shen Lao. Jia Huaran yang sama sekali belum pernah menapaki jenjang yang Chi Rong dan Ling Qiuyu masuki hanya bisa kebingungan.


Ling Qiuyu segera mandi di dalam kamarnya, sementara Shen Lao, Chi Rong dan Jia Huaran berbincang di luar kamar sambil sesekali bercanda.


“Hua‘er, sepertinya aku belum memberikan ini...” Shen Lao menyentuh Liontin Dewi Bunga dan cincin milik Chi Rong.


“Gege...” Chi Rong hampir memukul wajah Shen Lao karena mengira suaminya itu hendak meraba tubuhnya.


Jia Huaran menggelengkan kepalanya, kemudian dia melihat Shen Lao menghampirinya dan mengambil sesuatu dari Segel Ruang Tak Terbatas.


Selang beberapa menit kemudian, Ling Qiuyu keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur untuk mempersiapkan makam malam.


“Aku ikut...” Chi Rong mengikuti Ling Qiuyu dari belakang.


“Lao, aku pergi dulu. Aku mau membantu Kakak Qiuqiu memasak.” Saat Jia Huaran hendak melangkahkan kakinya, Shen Lao menarik tangannya.


“Hua‘er, ini adalah Liontin Dewi Pengobatan dan cincin pemberian dariku... Katakan padaku jika kamu sudah siap menjadi wanitaku...” Shen Lao mengalungkan Liontin Dewi Bunga pada leher Jia Huaran, kemudian dia memasangkan cincin di jari manis Jia Huaran.


“Lao...” Jia Huaran menatap wajah Shen Lao, sedetik kemudian Shen Lao mengecup keningnya.


“Aku pergi dulu...” Jia Huaran langsung mengejar Ling Qiuyu dan Chi Rong yang sudah terlebih dahulu turun ke lantai bawah.


Shen Lao tersenyum tipis ketika melihat Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran menjauh. Kemudian dia masuk ke dalam kamar Chi Rong untuk mandi sebelum makan malam bersama.


____

__ADS_1


Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.


__ADS_2