Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 66 - Chi Rong Yang Keras Kepala


__ADS_3

“Lao, apakah kita masih lama sampai di Lembah Bunga Persik?”


Tanpa mengetahui jarak antara Ibukota Jiaran dan Lembah Bunga Persik, Jia Huaran bersikeras untuk ikut menghadiri Turnamen Bunga Persik. Shen Lao yang diberikan pertanyaan kecil gadis yang sebaya dengannya menggelengkan kepalanya pelan.


“Hua‘er, aku sendiri tidak tahu secara pastinya. Coba kamu tanya pada Rong‘er dan Yu‘er.” Shen Lao bisa dibilang sama sekali tidak mengetahui dunia persilatan Kekaisaran Jia secara luas, dan bisa dikatakan Shen Lao adalah orang baru dibandingkan Chi Rong.


Jia Huaran mendesah pelan sebelum bertanya pada Chi Rong dan Ling Qiuyu. Shen Lao yang dikelilingi ketiga perempuan ini hanya diam mendengarkan dan menjadi penikmat senyum manis mereka bertiga.


“Kakak Qiuqiu, apa kita masih jauh?” Jia Huaran bertanya dengan lembut pada Ling Qiuyu yang merupakan pemilik Sembilan Harta Phoenix sebelum Shen Lao. Tentu saja Ling Qiuyu mengetahui beberapa informasi yang tidak diketahui Shen Lao, Jia Huaran dan Chi Rong.


Ling Qiuyu menatap Jia Huaran yang bertanya padanya, “Menurutku kita sudah dekat dengan Kota Taoyang. Bagaimana menurutmu Rongrong, aku belum pernah melakukan perjalanan jauh, tetapi aku pernah mendengar jika kita harus melewati Kota Taoyang sebelum pergi ke Lembah Bunga Persik?”


Jia Huaran yang mendengar jawaban Chi Rong tersenyum cerah sebelum menggumam, “Akhirnya aku bisa bermalam. Aku tidak tahan jika seharian harus duduk dipangkuan Lao...”


“Jangan berkata seolah-olah aku seperti seorang pengganggu!” Shen Lao merapatkan giginya terpancing perkataan Jia Huaran.


“Tapi aku merasa aneh karena ada sesuatu yang mengganjal!” Jia Huaran membalas sengit.


“Itu karena-” Shen Lao hendak mengatakan sesuatu, namun pemuda ini hanya membuka mulutnya dan menelan ludah ketika melihat wajah Jia Huaran.


“Karena apa?” Jia Huaran menatap tajam Shen Lao yang terdiam.


Ling Qiuyu dan Chi Rong yang melihat Shen Lao dan Jia Huaran hanya menggelengkan kepalanya pelan.


“Huahua, Kota Taoyang sudah dekat jadi bersabarlah sebentar.” Chi Rong menegur Jia Huaran dan membuat gadis itu terdiam.


Jia Huaran bisa melihat jika Chi Rong menatapnya penuh kecemburuan, ‘Menakutkan...’ Jia Huaran menelan ludah dan diam tanpa mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


Ling Qiuyu tertawa pelan karena menyadari jika Chi Rong akhir-akhir lebih emosional.


Shen Lao menyadari jika dirinya harus tetap berlaku adil setelah menjadi suami Chi Rong dan Ling Qiuyu. Pemuda ini diam cukup lama dalam perjalanan sebelum akhirnya membuka suara setelah merasakan bau yang menyengat.


‘Darah?’ Pikir Shen Lao. Dengan cepat Shen Lao menajamkan matanya dan menatap kearah yang menurutnya sumber dari bau tersebut, “Apa kalian bertiga mencium bau darah?”


Chi Rong menganggukkan kepalanya, sementara Ling Qiuyu dan Jia Huaran mencoba mencium bau darah yang dimaksud Shen Lao.


“Aku menciumnya...” Ling Qiuyu berkata pelan, perempuan ini terkejut karena menyadari ada perubahan besar yang terjadi pada tubuhnya. Hanya Jia Huaran yang kebingungan karena tidak mencium bau darah.


‘Bukankah aku seorang pendekar jiwa? Kenapa aku tidak menciumnya, sementara Kakak Qiuqiu dapat menciumnya?’ Jia Huaran menggelengkan beberapa kali sebelum akhirnya Shen Lao mengangkat tubuhnya dan berbisik pelan ditelinganya.


“Hua‘er, kamu jaga Yu‘er dan Rong‘er, aku akan mengurus ini sebentar-”


“Tidak perlu, aku bisa membunuh kedua pengganggu perjalanan kita dari atas sini.” Chi Rong berkata penuh percaya diri dan memotong perkataan Shen Lao.


Chi Rong menaikkan alisnya, “Aku hamil bukan berarti aku lemah! Aku juga telah melatih kemampuanku! Lihat saja di Turnamen Bunga Persik aku yang akan mengalahkanmu!”


“Hah?” Shen Lao ingin berkata lagi tapi dia tidak ingin berdebat lebih jauh dengan Chi Rong sehingga dia menatap Ling Qiuyu yang juga sependapat dengannya.


Ling Qiuyu duduk didekat Chi Rong dan membujuk agar perempuan dari Istana Bulan Biru itu mendengarkan apa yang dikatakan Shen Lao. Tetapi Chi Rong tetap teguh dalam pendiriannya dan tidak menggoyahkannya sedikitpun.


“Pernapasan Bulan...” Kedua telapak tangan Chi Rong membuka secara perlahan-lahan sebelum serpihan es dan butiran salju memenuhi udara.


Jia Huaran segera memberikan perintah pada Elang Petir untuk terbang lebih rendah, “Elang terbanglah lebih rendah dan dekati dua manusia disana.”


Elang Petir dengan sombongnya menjawab, “Aku menolak. Aku tidak menerima perintahmu Tuan Putri manja yang perawan.”

__ADS_1


“Burung ini! Lao bakar dia! Aku tidak tahan mendengar ejekannya setiap hari!” Jia Huaran berteriak cukup keras membuat Shen Lao menutup telinganya dengan telapak tangannya.


“Cepat terbang rendah! Apa kau tidak mendengarnya?” Chi Rong berkata pada Elang Petir dan dalam sekejap Elang Petir menuruti perintahnya.


Mulut Jia Huaran menganga tidak percaya, “Lao, ajarkan aku cara membunuh Binatang Roh.”


“Sabar dan abaikan perkataan Elang Petir ini...” Shen Lao mencoba menenangkan Jia Huaran sekaligus memperhatikan Chi Rong yang terlihat sudah mampu mengendalikan Aura Salju Kekal.


Saat Elang Petir terbang semakin rendah sebuah gelombang kejut berwarna hitam mengarah pada mereka, namun dengan sigap Chi Rong menahannya.


Chi Rong hanya duduk dengan santai dan memanipulasi aura tubuhnya menciptakan salju-salju yang berjatuhan diudara.


Ketenangan Chi Rong tidak berlangsung lama karena melihat puluhan tumpukan mayat anak-anak yang telah mati. Dan pelakunya adalah dua pria bertopeng yang kedua lengannya berwarna hitam.


“Tunggu dulu...” Chi Rong melebar matanya saat melihat lambang awan merah yang dikenakan kedua pria bertopeng.


“Mereka bukan berasal dari Kekaisaran Jia.” Chi Rong menyatukan kedua tangannya dan menciptakan pusaran salju yang menghempaskan kedua pria bertopeng.


Shen Lao sendiri melihat bagaimana Chi Rong berlatih dengan giat agar dapat bertarung sambil menjaga kandungannya. Namun tetap saja sebagai seorang lelaki sekaligus suami, Shen Lao ingin Chi Rong mendengarkan perkataannya.


Tidak butuh waktu lama bagi Chi Rong untuk membunuh kedua pria bertopeng itu setelah menggunakan kemampuan Aura Salju Kekal. Tepat setelah kedua pria bertopeng terbunuh, Elang Petir turun dan menghilang.


“Pergilah burung bodoh!” Jia Huaran menggerutu sambil menutup hidung dan mulutnya.


Shen Lao dengan cepat menyuruh Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran menjauh. Segera mungkin Shen Lao membersihkan mayat anak-anak yang menumpuk dan menguburkannya, sementara kedua pria bertopeng yang menjadi dalang utama dia bekukan dan hancurkan setelah memeriksa jubah yang dikenakan keduanya.


“Organisasi Awan Merah? Kekaisaran Ma?” Shen Lao menggumam pelan saat melihat tulisan disebuah batu berwarna merah yang dia ambil dari jubah kedua pria bertopeng.

__ADS_1


Shen Lao menunjukkan kedua batu berwarna merah tersebut pada Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran sebelum mereka berempat melanjutkan perjalanan menuju Kota Taoyang.


__ADS_2