Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 75 - Rumor Tentang Shen Lao


__ADS_3

Tepat setelah Feng Guang melepaskan satu tebasan yang membentuk beruang api, Shen Lao menggerakkan pedang tak kasat mata. Seketika ledakan terjadi bersamaan dengan Mu Shang yang datang bersama orang yang berseru lantang.


“Tetua She?” Seketika ekspresi wajah Feng Guang memburuk.


“Aku sudah mendengarnya dari Shang‘er, jika pemuda ini hanya membelanya saat dikeroyok oleh muridmu!” She Bai menatap geram Feng Guang dan mengecam tindakan tetua Lembah Bunga Persik itu.


“Menurut peraturan sekte, muridmu yang bersalah!” She Bai menambahkan.


She Bai tidak berniat melanjutkan permasalahan karena melihat Shen Lao yang memiliki bakat mengerikan. Melawan salah satu tetua Lembah Bunga Persik sudah membuktikan pemuda itu merupakan peserta yang paling berbakat dan jenius.


Namun sikap Shen Lao yang dingin dan tidak kenal takut itu membuat She Bai tersenyum sekaligus waspada. Bagaimanapun She Bai tidak menyangka akan melihat pemuda seumuran Mu Shang memiliki bakat tak terbatas.


“Junior, lebih baik kau kembali ke penginapan. Masalah ini biar aku yang urus, dan maaf ketidaknyamanannya.” She Bai berkata pada Shen Lao, pria paruh baya ini penasaran dengan aura yang membuat tubuhnya tertekan.


Shen Lao menekan Aura Raja Naga dan Aura Raja Phoenix, lalu menarik napas panjang sebelum menatap Mu Shang.


Tidak ada yang berbicara saat Shen Lao berjalan menuju penginapan Sembilan Harta Phoenix.


Saat Jia Huaran berlari kearahnya, Shen Lao mengabaikannya, gadis itu sadar jika dirinya telah melakukan kesalahan karena diam-diam ingin mengetahui sifat Feng Erlong yang menurutnya sama seperti perkiraannya atau tidak.


“Lao, kenapa kau ada disini?” Jia Huaran sadar dia menanyakan hal yang sudah pasti, tetapi dia tidak ingin Shen Lao mengabaikannya dan menatapnya dingin.

__ADS_1


“Ini penginapan Sembilan Harta Phoenix. Aku hanya ingin pulang dan beristirahat.” Shen Lao menjawab dengan tenang dan meninggalkan Jia Huaran yang mematung melihat tatapan dingin pemuda itu.


“Nona Jia, aku akan menyapa Ayahku terlebih dahulu. Sampai jumpa besok.” Feng Erlong melambaikan tangannya dan berlari menuju Feng Guang.


Jia Huaran melepas jepitan rambut yang diberikan Feng Erlong dan membuangnya begitu saja.


‘Aku pikir Feng Erlong adalah pria yang hangat, tetapi dia sama saja seperti pria lainnya yang memiliki niat tersembunyi padaku.' Jia Huaran tanpa sadar meneteskan air mata karena sadar dirinya telah melukai perasaan Shen Lao.


___


Matahari kembali terbit diiringi suara kicauan burung dipagi hari. Dedaunan bergoyang dan pohon persik yang sejajar tumbuh dengan subur membuat perjalanan menuju Arena Bunga Persik nampak indah dan menyejukkan mata.


Rumor tentang Shen Lao yang bertarung dengan Feng Guang menjadi perbincangan hangat diantara pendekar senior aliran putih dan netral.


“Jika bukan Sembilan Harta Phoenix yang menjadi sponsor utama Turnamen Bunga Persik, maka pemuda itu pasti sudah bernasib tidak beruntung.”


“Benar, hanya berlindung dibawah nama besar Sembilan Harta Phoenix.”


“Aku dengar dia juga menghajar murid dalam Lembah Bunga Persik.”


“Pada akhirnya pendekar yang berasal dari keluarga bangsawan tetaplah orang yang sombong dan arogan.”

__ADS_1


Sejumlah orang menanggapi rumor itu dengan antusias, sebagian tidak peduli. Dan orang yang paling terkejut mendengar rumor itu adalah Chi Rong dan Ling Qiuyu.


Chi Rong dan Ling Qiuyu tidak habis pikir Shen Lao akan terlibat masalah yang merepotkan.


“Ditinggal tidur malah berantem, dasar anak nakal!” Chi Rong mencubit perut Shen Lao berulang kali membuat beberapa peserta Turnamen Bunga Persik menatap keduanya keheranan dengan hubungan mereka.


Sementara Ling Qiuyu harus menjelaskan pada Patriark Lembah Bunga Persik tentang sosok Shen Lao yang menjadi suaminya, sekaligus meminta maaf.


Shen Lao menyadari Chi Rong dan Ling Qiuyu yang khawatir padanya, dia merasa bersalah untuk itu. Dan dia juga memetik sebuah pelajaran karena dirinya membuat Chi Rong dan Ling Qiuyu kerepotan atas tindakannya.


Shen Lao tersenyum tipis saat kedua istrinya itu memarahi dirinya, hanya Jia Huaran yang tidak mengatakan apapun padanya bahkan menyapa pun tidak.


“Baiklah, aku dan Huahua akan menonton kalian dari podium.” Ling Qiuyu melambaikan tangannya dan berjalan menuju podium bersama Jia Huaran.


Saat semua tokoh utama hadir di Arena Bunga Persik, terlihat kakek tua berambut putih duduk dikursi podium sambil mengelus jenggotnya.


Tak berapa lama kakek tua itu berdeham, seketika suasana riuh gemuruh di Arena Bunga Persik mendadak sepi.


___


Pada nungguin LTI ya enam bulan belakangan ini? Seperti yang pernah aku tulis diakhir chapter, mulai dari aku yang baru lulus SMK dan diterima kerja di pabrik kelapa sawit, alasan hiatus sebenarnya ya karena gak bisa bagi waktu antara ngetik sama pekerjaan dan ada masalah sendiri di dunia nyata lah, namanya hidup ada aja masalah huh.

__ADS_1


Pembaca : Cih, ini author kebanyakan alasan, mana novel kagak ada yang tamat mulai dari Nagato, DWP, BLA BLA BLA BLA.


Author : Doain aja aku tetap semangat nulis biar bisa namatin novel yang mandeg ditengah jalan.


__ADS_2