Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 80 - Intuisi Wanita Sempurna


__ADS_3

Suasana pagi di Lembah Bunga Persik nampak damai, Shen Lao bersiap untuk datang ke Arena Bunga Persik bersama Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran, sedangkan Chi Sumei telah berangkat terlebih dahulu bersama Panglima Lu Bu.


“Lao, kenapa tadi malam aku tidak dapat menemukan kalian bertiga? Kemana kau sembunyikan Kakak Qiuqiu dan Kakak Rongrong?” Jia Huaran bertanya dengan tatapan menyelidik.


Shen Lao menggaruk kepalanya dan mengingat kejadian semalam, mengingat itu Shen Lao tersenyum sendiri.


“Kenapa tersenyum bukannya menjawab? Apa kepalamu terbentur?” Jia Huaran mengembangkan pipinya karena merasa ada yang aneh setelah melihat wajah Ling Qiuyu nampak kelelahan, dan Chi Rong yang nampak berbeda.


“Hua‘er, suatu saat kau akan mengetahuinya. Tetapi kau bisa menebaknya kan?” Shen Lao mencubit hidung Jia Huaran gemas.


Jia Huaran menatap Chi Rong dan Ling Qiuyu yang berjalan disamping Shen Lao, kemudian dia berlari mengejar ketiganya.


Chi Rong menggelengkan kepalanya beberapa kali karena tidak menyangka dengan kejadian semalam dimana dirinya lebih mendominasi dibandingkan Shen Lao.


Sementara Ling Qiuyu terlihat kesulitan berjalan karena Shen Lao melepaskan semua hasrat yang dia tahan saat melakukannya dengan Chi Rong pada dirinya.


Sesampainya di Arena Bunga Persik, Shen Lao melihat begitu banyak penonton yang hadir terlebih dia dihadapkan dengan Feng Erlong yang mendekati kedua istrinya.


Pria dari Lembah Bunga Persik itu menyapa Chi Rong, namun gadis dari Istana Bulan Biru itu mengabaikannya.


“Gege, aku akan duduk disamping Xiaxia.” Chi Rong melambai pelan dan menuju Bing Jinxia yang duduk dengan manis dibangku peserta.


“Nanti aku menyusul Rong‘er.” Shen Lao membalas lambaian tangan Chi Rong.


Ling Qiuyu merapikan pakaian Shen Lao, setelah itu mencubit gemas pipi Shen Lao.


“Lao‘gege, kau sungguh keterlaluan karena membuatku kelelahan seperti ini.” Ling Qiuyu memaksakan dirinya untuk menghadiri babak delapan besar, jika bisa memilih dia lebih memilih untuk beristirahat di penginapan Sembilan Harta Phoenix selama seharian penuh.


Shen Lao tertawa pelan, “Tetapi kau menikmatinya Yu‘er, kalau begitu aku kesana dulu.” Shen Lao menunjuk bangku tempat dimana Mu Shang duduk.


Ling Qiuyu menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju podium diikuti Jia Huaran yang berpikir tidak-tidak tentang kegiatan yang dilakukan Shen Lao, Chi Rong dan Ling Qiuyu semalam.


Feng Erlong yang mendengar pembicaraan Shen Lao, Chi Rong dan Ling Qiuyu merasa tersambar petir hatinya. Darahnya mendidih, bahkan dia menatap Shen Lao penuh kebencian.


“Saudara Shen! Jika kita berdua bertemu, aku akan mengalahkanmu! Jika kau kalah, maka serahkan Peri Bunga dan Nona Ling padaku!” Perkataan Feng Erlong tidak ditanggapi Shen Lao.


Melihat Shen Lao yang mengabaikannya, Feng Erlong hendak memukul wajah pemuda yang lebih muda darinya, namun Mu Shang menahan tangan Feng Erlong.


“Saudara Feng, Saudara Shen tadi berkata padaku jika dia tidak akan berbicara pada orang yang tidak membuatnya tertarik. Jadi kau paham bukan? Dimata Saudara Shen, kau tidak lebih dari pendekar jenius yang tidak berbahaya.” Mu Shang terkekeh mengeledek Feng Erlong yang merah padam wajahnya menahan amarah.


“Tunggu saja!” Feng Erlong mengumpat dan duduk dengan angkuh.


Tak lama setelah seluruh tokoh utama hadir di podium, segera She Bai turun ke arena pertandingan dan mengumumkan dua peserta yang akan bertanding di babak delapan besar.

__ADS_1


Peserta pertama yang dipanggil adalah Ju Xiulan dan Feng Erlong, keduanya segera melompat ke arena pertandingan.


“Apa kalian berdua masih ingat peraturannya?” She Bai bertanya untuk memastikan.


“Senior, tidak perlu repot menjelaskan. Aku tidak sebodoh itu sampai kau ingatkan.” Ekspresi Ju Xiulan terlihat bosan saat menatap She Bai begitu juga dengan Feng Erlong.


She Bai tersenyum canggung, ‘Siapa gadis ini? Apa anak muda sekarang memang seperti ini?’


“Aku mengingatnya senior!” Feng Erlong menatap Ju Xiulan tajam, ‘Dia cantik. Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya.’


Ju Xiulan yang merasa dirinya ditatap Feng Erlong menghela napas panjang, ‘Tatapan penuh nafsu ini sangat menjijikkan. Pria semuanya sama, tetapi dia...’


Ju Xiulan menutupi setengah wajahnya dengan kipas dan melirik Shen Lao dibangku peserta.


“Baiklah, kalau begitu mari kita mulai pertandingan pembuka babak delapan besar Turnamen Bunga Persik!” She Bai memulai aba-aba pertandingan saat pikiran Ju Xiulan tertuju pada Shen Lao.


Feng Erlong menarik pedangnya dengan gagah, “Saudari Ju, aku sarankan kau menyerah. Karena aku tidak tega melukai seorang wanita.”


Ju Xiulan merasa jijik mendengar ucapan Feng Erlong padanya, “Tidak tega melukai wanita? Hei, kotoran kuda. Aku tahu kau memiliki sifat seperti kakekmu itu. Sama-sama gemar menodai perempuan lemah. Aku bisa mengetahuinya setelah menyentuhmu saat itu.”


Feng Erlong memucat wajahnya dan menyerang Ju Xiulan tanpa sadar. Tebasan yang penuh tenaga dalam dan menciptakan ledakan itu dapat ditahan Ju Xiulan dengan kipasnya yang antik.


“Lihat, kepingan kotoran sapi sepertimu membuatku merasa jijik!” Ju Xiulan menendang perut Feng Erlong dan mengikat tubuh pria itu dengan akar-akar pohon yang muncul dari dalam tanah.


Semua mata di Arena Bunga Persik tertuju pada Ju Xiulan. Gadis ini sangat misterius, bahkan selama babak penyisihan Ju Xiulan mengalahkan lawannya dengan satu kali ayunan kipasnya, tetapi sekarang mereka melihat Ju Xiulan memiliki kemampuan bertarung tangan kosong yang tinggi.


“Jenius? Bertarung melawan pria sepertimu sungguh membuang waktuku!” Ju Xiulan melepaskan aura pembunuh yang membuat Feng Erlong berkeringat dingin, bahkan She Bai menelan ludahnya merasa aura pembunuh Ju Xiulan yang begitu mencekam.


‘Gadis ini sebenarnya siapa? Aura pembunuh ini sangat pekat, berapa banyak orang yang telah dia bunuh?’ She Bai tidak melepaskan pandangannya pada Ju Xiulan yang berjalan mendekati Feng Erlong, dimana pria dari Lembah Bunga Persik itu tidak berdaya dengan tubuh terikat.


Feng Guang mengepalkan tangannya dan hendak melompat ke arena pertandingan, namun salah satu Tetua Lembah Bunga Persik yang bernama Dao Huang menahannya.


“Saudara Feng, aku dengar sedikit rumor tentangmu yang tidak enak ditelingaku tadi malam. Jika itu benar, aku yang akan menghabisimu dengan tanganku sendiri. Jadi jangan lakukan tindakan yang membuatmu terlihat semakin mencurigakan.” Ucap Dao Huang dengan tenang, namun ucapannya itu membuat Feng Guang kembali duduk dan mengumpat kesal.


‘Gadis itu lihat saja! Aku akan memberinya perhitungan!’ Feng Guang memiliki niat lain untuk melakukan sesuatu pada Ju Xiulan.


Diarena pertandingan terlihat Ju Xiulan menjentikkan jarinya, seketika muncul akar pohon persik yang tumbuh dipinggir arena.


Akar-akar itu tajam layaknya sebuah pedang dan mengarah langsung pada tubuh Feng Erlong.


“Jangan meremehkanku, dasar wanita rendahan!” Feng Erlong menunjukkan sisi dirinya dan melepaskan segenap kemampuannya. Namun setelah beberapa menit pria itu berteriak, tenaganya terkuras habis dan tubuhnya lunglai ke tanah.


Akar yang mengikat tubuh Feng Erlong menyerap aura tubuh dan tenaga dalamnya, setelah menyadari itu Feng Erlong mengumpat dan menahan rasa malu yang luar biasa.

__ADS_1


“Pemenangnya Ju Xiulan dari Bunga Kuno!” Saat She Bai mengumumkan Ju Xiulan sebagai pemenangnya, Feng Erlong tidak terima.


“Aku terima ini! Dia memakai sihir yang membuat tubuhku melemah!” Feng Erlong berteriak dan menatap Ju Xiulan penuh kebencian.


Melihat Feng Erlong seperti itu, reaksi para penonton menjadi buruk pada pria tampan yang berasal dari Lembah Bunga Persik itu.


“Lihat dia tidak terima dengan hasil pertandingan setelah kalah memalukan seperti itu...”


“Hah, aku tidak menyangka pendekar jenius berwajah giok ternyata buruk rupa hatinya.”


“Sungguh memalukan. Jika aku menjadi dia, lebih baik aku mengurung diri dirumah selama sisa hidupku.”


“Benar, setelah dengan sombongnya mengatakan tidak tega melukai seorang wanita, dia justru kalah memalukan seperti ini.”


Reaksi para penonton membuat Feng Erlong merasa semakin dipermalukan. Keputusan She Bai tidak dapat diganggu gugat walau Feng Erlong menolak keras.


“Junior, seharusnya kau malu dengan sikapmu ini. Setelah sejuta hal kepalsuan yang kau lakukan dengan sempurna, semua akan sirna hanya dengan satu kesalahan.” She Bai menggelengkan kepalanya tidak percaya melihat sifat asli Feng Erlong.


Bahkan saat Feng Erlong tidak menerima hasil pertandingan, Ju Xiulan sudah melompat ke bangku peserta dan duduk disamping Shen Lao.


“Laolao, bagaimana penampilanku hari ini?” Ju Xiulan terlihat genit dan dengan sengaja menempelkan dadanya pada punggung Shen Lao, gadis ini hanya menunjukkan sisi dirinya yang lain pada Shen Lao, lelaki yang membuatnya tertarik bahkan saking tertariknya Ju Xiulan berniat membunuh Shen Lao dengan tangannya sendiri.


“Saudari Ju, apa kau tidak dengar perkataanku kemarin?” Shen Lao melirik Ju Xiulan sekilas dan menggelengkan kepalanya.


Ju Xiulan mengangkat bahunya, “Aku mengingatnya dan aku percaya. Karena aroma tubuhmu hari ini lebih wangi, terlebih bau badanmu hari ini tidak hanya tercium aroma milik Nona Ling, tetapi milik perempuan suram itu.”


Ju Xiulan menatap kesal Chi Rong yang sedang berbincang dengan Bing Jinxia. Mendengar ucapan Ju Xiulan barusan, Shen Lao tersedak dan menatap tajam Ju Xiulan tidak percaya.


Ju Xiulan tersenyum manis, “Kau penasaran bukan? Jangan remehkan intuisi wanita secantik diriku ini.” Setelah itu Ju Xiulan berpindah tempat duduk disamping Chi Rong.


Ju Xiulan menepuk pundak Chi Rong dari samping, membuat perempuan dari Istana Bulan Biru itu tersentak kaget karena sedang asyik mengobrol dengan Bing Jinxia.


“Bolehkah aku duduk disini, perempuan hamil...” Ju Xiulan berkata cukup pelan dan hanya didengar Bing Jinxia dan Chi Rong.


Chi Rong kembali dibuat tersentak kaget mendengar ucapan Ju Xiulan. Dengan tatapan tajam dia menolak kehadiran Ju Xiulan.


Shen Lao sebenarnya ingin bertanya pada Ju Xiulan, tetapi She Bai memanggil namanya dan peserta dari Benteng Tombak Selatan.


“Sebaiknya kita lihat suamimu yang kelak menjadi suamiku juga bertanding.” Ju Xiulan duduk disamping Chi Rong dan menaruh kaki kanannya diatas kaki kirinya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang menggoda setiap pria.


Chi Rong kehabisan kata-kata, ‘Dasar wanita ular!’


Sementara Chi Rong yang risih mendengar ucapan Ju Xiulan, Bing Jinxia menatap Ju Xiulan lama sebelum bertanya.

__ADS_1


“Saudari Ju, apakah kau seorang penguntit?” Bing Jinxia dengan wajah tenangnya bertanya. Gadis cantik dari Gunung Es Utara ini membuat Ju Xiulan tertawa.


“Hihi, kau sungguh lucu Xiaxia.” Seolah-olah telah akrab sejak kecil, Ju Xiulan mencubit gemas pipi Bing Jinxia.


__ADS_2