
“Akhirnya aku mengambil nyawanya!” Raut wajah Hei Wu terlihat murka.
“Kau terlalu meremehkan kekuatanku! Pada dasarnya bocah tetaplah bocah!” Hei Wu tertawa lantang setelah melihat tubuh Shen Lao terbelah menjadi dua bagian.
Tawa Hei Wu menghilang karena melihat raut wajah Zhi Lhuo yang terkejut. Di depannya terlihat api berwarna merah dan biru yang menyatu secara perlahan.
“Bagaimana mungkin?!” Zhi Lhuo merasa ada yang salah dengan matanya, begitu juga dengan Hei Wu.
“Ilusi Api Phoenix...” Mulut Shen Lao menggumam, dia tidak pernah menyangka dapat menciptakan ilusi yang dapat mengecoh dua pendekar bumi sekaligus.
Shen Lao menatap tajam Hei Wu yang sempat menertawakannya, “Tua bangka, pil seperti apa yang kau gunakan untuk memulihkan luka dan tenagamu?”
Hei Wu mengerutkan dahinya, “Tutup mulutmu, berandalan!” Suasana hati Hei Wu saat ini sedang buruk, dia tidak menyangka Shen Lao memiliki ilmu yang lebih tinggi darinya. Bahkan yang lebih parah dia terkecoh Ilusi Api Phoenix.
Tebasan Shen Lao dipenuhi aura hitam pekat yang layaknya seperti racun mematikan. Dia menggunakan Pil Salju Merah untuk menetralkan aura hitam pekat yang menggerogoti tubuhnya.
Jelas Hei Wu sangat marah karena Pil Salju Merah merupakan sebuah pil yang memiliki harga mahal. Kemarahannya semakin menjadi setelah melihat raut wajah Shen Lao yang tenang.
Di udara aura pembunuh yang dilepaskan Hei Wu sanggup membuat dua puluh pendekar suci pingsan seketika, bahkan tekanan auranya sampai ke bawah.
Shen Lao melepaskan Aura Raja Phoenix dan Aura Raja Naga secara bersamaan. Seketika tubuh Zhi Lhuo dan Hei Wu terasa begitu berat, keduanya langsung menatap tajam Shen Lao.
Di sisi lain, Shen Lao hanya melakukan gertakan. Dia sendiri terkejut dengan aura pembunuh milik Hei Wu, tak lama dirinya kembali dikejutkan oleh aura pembunuh milik Zhi Lhuo.
‘Sudah berapa orang yang mati di tangan mereka...’ Pikir Shen Lao sebelum melepaskan tebasan pada Hei Wu dan Zhi Lhuo.
Tekanan Aura Raja Naga dan Aura Raja Phoenix mencapai batasnya. Tetapi Shen Lao berhasil membuat Hei Wu dan Zhi Lhuo berpikir jika dirinya memiliki kemampuan lebih tinggi dari keduanya.
__ADS_1
___
“Terimakasih kalian berdua...” Chi Rong menatap Jia Huaran dan Ling Qiuyu. Tatapannya tertuju pada Ling Qiuyu yang pada dasarnya memiliki tubuh yang dewasa.
Jia Huaran dan Ling Qiuyu berkenalan terlebih dahulu dengan Chi Rong. Mereka berdua juga tertegun melihat keanggunan dan kecantikan Chi Rong. Peri Bunga bukanlah isapan jempol belaka, kecantikan Chi Rong bahkan membuat kedua gadis cantik berdarah bangsawan ini terpana.
Di sisi lain Chi Rong juga terpana melihat kecantikan Jia Huaran dan Ling Qiuyu. Tentu saja identitas Jia Huaran sebagai putri Kaisar Jia membuatnya terkejut.
“Aku akan membantu yang lainnya. Kalian berdua jangan jauh-jauh dariku...” Chi Rong langsung bergerak cepat ke depan menyambut lima tebasan pedang dari pendekar Sekte Pedang Dosa.
Chi Rong memainkan pedangnya dengan gemulai dan menghabisi pendekar dari Sekte Pedang Dosa. Sesekali perhatiannya tertuju pada Shen Lao yang bertarung di udara dan dua gadis yang mengikutinya dari belakang.
‘Baru saja berpisah denganku sebentar, dia sudah memiliki dua perempuan lain...’ Dalam hatinya, Chi Rong menggerutu kesal karena Shen Lao tidak membicarakan hal ini dengannya.
Bersamaan dengan Chi Rong yang berhasil menekan pergerakan pendekar dari Sekte Pedang Dosa, Tetua Istana Bulan Biru juga sedang bertarung sengit dengan pendekar agung dari Kekaisaran Ma.
Lima puluh pendekar agung dari Kekaisaran Ma berkurang secara perlahan menjadi dua puluh pendekar agung. Kebanyakan dari mereka mati di tangan Chi Sumei.
Perintah untuk menangkap semua pendekar perempuan dari Istana Bulan Biru justru menjadi pukulan telak bagi pendekar dari Kekaisaran Ma dan Sekte Pedang Dosa.
“Tua bangka sepertimu memiliki kulit yang mulus dan mempunyai seorang cucu. Aku rasa suamimu-” Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Ruo Niu mendapatkan tebasan yang dalam di dadanya.
Kedua mata Ruo Niu mendelik, “Beraninya kau melukai tubuhku yang mulus ini!” Seketika kuku-kuku Ruo Niu memanjang dan menajam layaknya pedang.
Ekspresi raut wajah Chi Sumei tidak kalah, wajahnya dipenuhi kerutan karena kemarahan. Tidak butuh waktu lama bagi Chi Sumei untuk bergerak cepat melancarkan serangan pada Ruo Niu.
Pertukaran serangan antara Chi Sumei dan Ruo Niu membuat Tetua Istana Bulan Biru dan pendekar agung dari Kekaisaran Ma menjauh.
__ADS_1
Gelombang kejut berulang kali terlihat jelas di udara, bahkan gelombang angin yang memadat dari kuku-kuku Ruo Niu menghancurkan bangunan di Istana Bulan Biru.
Chi Sumei menatap tajam Ruo Niu yang menyeringai. Sekarang dia mengganti pola serangannya. Matanya tertuju pada tubuh Ruo Niu, lalu melancarkan serangan beruntun yang tajam.
Sekujur tubuh Ruo Niu dipenuhi luka sayatan, bahkan tebasan terakhir yang dilepaskan Chi Sumei sangat dalam membuat tubuh Ruo Niu bersimbah darah.
“Kubunuh kau!” Kedua tangan Ruo Niu dipenuhi angin yang memadat. Dengan kecepatan tinggi dia menyerang Chi Sumei yang mengambil posisi kuda-kuda, “Rintihan Angin!”
Chi Sumei mengalirkan hampir seluruh tenaga dalamnya pada bilah pedangnya demi melancarkan serangan yang dapat membunuh Ruo Niu.
“Mengoyak Langit!”
Ketika tebasan pedang Chi Sumei dan pukulan Ruo Niu bertemu, ledakan keras disertai badai angin memenuhi halaman Istana Bulan Biru. Kedua telapak tangan Ruo Niu terpotong.
“Keparat!” Ruo Niu mendelik dan ingin mencincang tubuh Chi Sumei, namun tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menembus dadanya.
Chi Sumei menusuk jantung Ruo Niu dan memejamkan matanya, “Aku berbeda denganmu. Setelah tersakiti, kau justru masih mengejarnya dengan menawarkan tubuhmu.”
Tanpa aba-aba, Chi Rong memotong kepala Ruo Niu dan melempar kepalanya ke arah pendekar agung dari Kekaisaran Ma. Chi Sumei melakukan ini karena melihat anggotanya terdesak.
Raut wajah pendekar agung dari Kekaisaran Ma memburuk. Bagaimanapun Ruo Niu termasuk dalam Pilar Tujuh Bintang Kekaisaran Ma, dan sekarang perempuan itu telah mati di tangan Chi Sumei, salah satu dari Pendekar Empat Penjuru Kekaisaran Jia.
Bersamaan dengan Chi Sumei yang berhasil membunuh Ruo Niu, pertempuran mendadak hening.
Pendekar agung dari Kekaisaran Ma memucat wajahnya, bahkan pendekar dari Sekte Pedang Dosa berekspresi lebih buruk dari mereka.
Tidak peduli dari Kekaisaran Ma, Sekte Pedang Dosa ataupun Istana Bulan Biru, mereka semua menatap ke arah langit dalam waktu yang hampir bersamaan.
__ADS_1
____
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.