Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 67 - Pelabuhan Kota Taoyang


__ADS_3

“Gege, aku bisa berjalan kaki sendiri-”


“Rong‘er, kumohon dengarkan permohonanku ini. Duduk dengan tenang dan jangan membantah perkataanku lagi.”


Jia Huaran dan Ling Qiuyu menahan napas saat melihat langsung Shen Lao dan Chi Rong berdebat.


Chi Rong akhirnya mendengarkan perkataan Shen Lao dan memilih diam. Perempuan dari Istana Bulan Biru ini duduk dengan manisnya dipunggung Harimau Putih.


Dalam perjalanan Shen Lao berbincang dengan ketiga perempuan yang melakukan perjalanan bersamanya. Mereka empat membicarakan suatu organisasi yang berasal dari Kekaisaran Ma.


‘Kejadian di Pegunungan Suxue dan Turnamen Bunga Persik...’ Shen Lao berpikir keras memikirkan segala kemungkinan yang terjadi kedepannya.


Saat Shen Lao sedang larut dalam pikirannya dia tidak menyadari Chi Rong dan Ling Qiuyu yang sama-sama memakai penutup wajah.


Tanpa sadar mereka terus berjalan dan sampailah di sebuah kota yang ramai. Dari kejauhan sudah terlihat jelas keramaian kota tersebut. Chi Rong tidak lagi menunggangi Harimau Putih, melainkan berjalan kaki bersama Shen Lao, Ling Qiuyu dan Jia Huaran.


Sebuah sungai membentang luasnya dan puluhan kapal berlabuh di pelabuhan. Suasana sore hari yang cukup ramai di pelabuhan membuat para pemilik kapal kewalahan karena akhir-akhir ini banyak orang yang berkunjung ke Kota Taoyang, dan kebanyakan dari pengunjung menyewa kapal untuk mencapai Kota Taoyang.


Shen Lao memandang Chi Rong dan Ling Qiuyu yang memakai penutup wajah. Dalam hatinya dia bisa mengetahui alasan mengapa kedua istrinya itu memakai penutup wajah. Tentu saja sebagai seorang suami dari Chi Rong dan Ling Qiuyu, Shen Lao merasa senang.


Suasana pelabuhan yang ramai membuat Shen Lao merasa sedikit tidak nyaman saat kebanyakan laki-laki yang berada di pelabuhan menatap ketiga perempuan yang sedang bersamanya cukup lama.


“Menyebalkan!” Shen Lao melepaskan aura pembunuh dan membuat laki-laki di pelabuhan menahan napas, bahkan sebagian ketakutan.


Sesaat setelah Shen Lao melepaskan aura pembunuh, segera dia melepaskan Aura Raja Naga. Dalam sekejap orang-orang yang berada di pelabuhan tidak berani menatap apalagi berurusan dengan Shen Lao.


Chi Rong tertawa lirih dari balik penutup wajahnya karena mengingat Shen Lao yang melakukan hal yang sama saat berada di Kota Qudong.

__ADS_1


Sekilas Ling Qiuyu dan Jia Huaran tersenyum karena Shen Lao menunjukkan pada semua orang jika dirinya pantas menjaga mereka. Namun Ling Qiuyu menyadari walau telah memakai kain penutup wajah, tetap saja banyak laki-laki yang menatap dirinya dan Chi Rong dengan tatapan berbeda.


“Rongrong, bukankah kain ini terlalu tipis...” Ling Qiuyu memegang kain penutup dan berkata dengan lembut.


Chi Rong tersenyum tipis, “Kakak Qiuqiu, menurutku kain ini sudah menutupi wajah kita. Aku juga paling risih saat melihat mata jelalatan yang melihat kita bertiga.”


Hanya Jia Huaran yang tidak memakai kain penutup wajah, gadis ini sama sekali tidak merasa terganggu. Tetapi Jia Huaran menyadari statusnya sebagai anak dari Kaisar Jia, tentu saja Jia Huaran yakin ada beberapa orang yang memiliki niat tidak baik untuk melakukan sesuatu padanya, tetapi berada didekat Shen Lao membuatnya merasa tenang dan nyaman.


Raut wajah Shen Lao yang biasanya ramah sekarang berubah menjadi dingin. Terlebih saat jarak antara mereka berempat dan kapal yang akan mereka pesan semakin singkat, Shen Lao melihat jika ketiga perempuan yang bersamanya merasa tidak nyaman karena banyak pria yang memandang mereka.


“Gege, aku risih...” Chi Rong memegang jubah Shen Lao dan menariknya lembut.


Shen Lao tersenyum tipis melihat sikap manja Chi Rong. Dengan lembut dia mencubit pipi Chi Rong dan berkata pelan, “Kecantikanmu tetap terlihat walau kain menutupi wajahmu sekalipun...”


Shen Lao diam memperhatikan Chi Rong sebelum melanjutkan perkataannya, “Tetap berada disampingku, Rong‘er...”


Chi Rong mencubit perut Shen Lao pelan dan berjalan disamping Shen Lao dan Ling Qiuyu. Banyak orang yang menjauh setelah melihat kejadian ini.


Saat Shen Lao sekilas melihat ada kapal yang sepi penumpang, dengan segera dia menanyakan jam keberangkatan kapal tersebut pada pemiliknya.


“Maaf Tuan Muda, tetapi kapal ini telah dipesan oleh seorang perempuan misterius. Dia berkata padaku, jika tiga hari lagi akan ada seorang pria yang datang ke Kota Taoyang dengan tiga perempuan, dan kapal ini memang disewa untuk mereka.” Jelas pemilik kapal yang membuat Shen Lao menggelengkan kepalanya.


Shen Lao menyuruh Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran berdiri disampingnya. Saat ketiga perempuan ini berdiri disamping Shen Lao, pemilik kapal terkejut karena bagaimanapun orang yang telah menyewa kapal dengan harga tinggi ini memberikan uangnya secara cuma-cuma hanya untuk Shen Lao, Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran.


‘Aku yakin Nenek Sumei yang telah memesan kapal ini.’ Shen Lao membatin sambil menatap Chi Rong yang menurutnya juga sependapat dengannya.


“Silahkan Tuan Muda. Ngomong-ngomong mereka bertiga ini siapa?” Pemilik kapal yang sudah tua renta ini bertanya padanya.

__ADS_1


“Mereka adalah istriku.” Shen Lao menatap tajam pemilik kapal. Memang tidak ada niatan buruk, tetapi alangkah lebih baiknya Shen Lao mendengarkan perkataan pemilik kapal.


“Tuan Muda, saat di Kota Taoyang. Sebaiknya anda berhati-hati, terlebih jika bertemu anak Walikota Kota Taoyang...” Bisik pemilik kapal pelan. Shen Lao menganggukkan kepalanya.


“Apa ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini? Aku rasa kau mengetahui sesuatu, hanya saja kau menyembunyikannya...” Shen Lao menjawab sambil mengelus dagunya.


Pemilik kapal menghela napas panjang. Sebenarnya pemilik kapal sudah berniat memberitahukan masalah menghilangkannya gadis-gadis di Kota Taoyang pada rombongan Chi Sumei, tetapi pemilik kapal mengurungkan niatnya. Kejadian ini sudah berlangsung selama seminggu ini, kejadian dimana banyak gadis muda di Kota Taoyang yang tiba-tiba menghilang.


Shen Lao yang mendengar penjelasan pemilik kapal mengangkat alisnya, “Lalu mengapa kau menyuruhku berhati-hati terhadap anak Walikota Kota Taoyang?”


“Karena aku melihat sendiri bagaimana anak walikota sialan itu menyiksa gadis muda yang telah meninggal. Malam itu aku melihat dia dijaga dua orang pendekar.” Pemilik kapal memperlihatkan bekas luka tusukan dan sayatan dibadannya, “Luka ini adalah buktinya.”


Saat melihat luka itu, Shen Lao mengetahui jika bekas luka sayatan dan tebasan masih baru. Dia menganggukkan kepalanya singkat dan berkata, “Hebat juga kau bisa hidup dan hanya mendapatkan luka. Kebanyakan orang akan mati.”


“Aku sendiri juga heran. Tetapi saat itu aku bertemu dengan rombongan pendekar dari Bunga Kuno. Entah mengapa dua pendekar yang mengincarku ketakutan, dan aku ditolong seorang gadis cantik dari rombongan pendekar itu.” Pemilik kapal menjelaskan.


Setelah cukup lama berbincang, akhirnya Shen Lao duduk bersama Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran yang sedang makan bersama sambil menikmati pemandangan matahari terbenam di sungai Kota Taoyang.


Saat kapal hendak berangkat, Shen Lao memperhatikan seorang kakek tua yang berjalan mondar-mandir, sementara disamping kakek tua itu terlihat perempuan yang berdiri dengan tenang menatap kapal yang dinaikinya.


“Ayah, menurutku kita hanya perlu terbang daripada harus menyebrangi sungai ini menggunakan kapal.” Perempuan yang memakai kain penutup wajah berkata. Sementara seorang kakek tua yang berjalan mondar-mandir tetap bersikeras menemukan uangnya yang hilang.


“Xiaxia, terkadang kita harus merunduk dan tidak menunjukkan kelebihan yang kita miliki.” Ucap kakek tua itu sambil menatap sang perempuan.


“Bukankah uang perjalanan kita, ayah habiskan untuk meminum arak?” Perempuan yang terlihat tenang itu berbicara dan membuat kakek tua terdiam seribu bahasa.


“Benar juga...” Kakek tua itu menggumam pelan.

__ADS_1


Saat kakek tua dan perempuan hendak pergi menjauh dari pelabuhan, Shen Lao menghampiri keduanya dan menyuruh mereka berdua ikut naik ke kapal yang telah disewa Chi Sumei.


“Jika tidak keberatan, senior bisa naik kapal yang sama denganku ini?”


__ADS_2