
“Gege, apakah kamu baik-baik saja?” Chi Rong terkejut saat tubuh Shen Lao terpental menabrak pepohonan. Perempuan dari Istana Bulan Biru ini berlari kecil menghampiri Shen Lao diikuti Ling Qiuyu dan Jia Huaran dari belakang.
“Apa yang terjadi padamu, Lao‘gege?” Ling Qiuyu menggoyangkan tubuh Shen Lao pelan.
“Apa-apaan tadi?!” Shen Lao mengumpat karena mengingat dirinya terserap masuk ke dalam lingkaran roh.
“Lao, sepertinya Binatang Roh-mu itu tidak tertarik padamu kan?” Jia Huaran justru terlihat senang karena berpikir Shen Lao mengalami nasib yang sama dengannya.
“Aku baik-baik saja Rong‘er, Yu‘er. Aku hanya tidak menyangka memiliki kecocokan dengan makhluk dalam legenda itu...” Shen Lao bangkit berdiri dan menepuk pakaiannya yang kotor.
Setelah melakukan proses kontrak darah dengan Binatang Roh, Shen Lao mengajak Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran kembali ke Sembilan Harta Phoenix.
Saat tubuh mereka berempat menghilang, Shen Lao menggelengkan kepalanya karena bagaimanapun tubuh istimewa Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran sangat luar biasa.
Tiga perempuan itu dapat keluar masuk Jurang Abadi hanya dengan mengikuti Shen Lao. Senyuman tipis menghiasi wajah Shen Lao karena melihat Chi Rong dan Ling Qiuyu merasa bahagia, hanya saja dia melihat Jia Huaran yang terlihat kesal.
Karena merasa Jia Huaran memiliki masalah, Shen Lao memegang pundak gadis itu dan bertanya, “Hua‘er, apa yang terjadi padamu saat melakukan kontrak darah dengan Binatang Roh? Bisakah ceritakan padaku? Kau terlihat begitu kesal setelah melakukan kontrak darah dengan Binatang Roh.”
Jia Huaran mengembungkan pipinya hingga terlihat kesan keimutannya, “Hanya aku yang masih perawan!” Jia Huaran membuang wajahnya dan berjalan ke lantai bawah.
“Hah?” Shen Lao terkejut mendengar perkataan Jia Huaran, senyuman tipis menghiasi wajahnya, ‘Jadi itu yang membuatmu kesal. Baiklah, aku akan membantumu melepaskannya...’
___
“Nenek Sumei telah berangkat lebih dulu.” Hua Ruoruo menjelaskan pada Ling Qiuyu jika Chi Sumei telah berangkat lebih dulu ke Lembah Bunga Persik bersama Kakek Nue, Feng En dan Panglima Lu Bu.
__ADS_1
Panglima Lu Bu sendiri mewakili Keluarga Jia Song untuk menghadiri Turnamen Bunga Persik, sementara yang akan menjadi sponsor utama ajang turnamen ini adalah Sembilan Harta Phoenix. Dan orang yang akan mewakili Sembilan Harta Phoenix adalah Ling Qiuyu.
“Kenapa Nenek Sumei tergesa-gesa? Bukankah dia ingin berangkat bersama kita?” Tanya Ling Qiuyu pada Hua Ruoruo.
“Nenek Sumei ingin membiarkan kalian berempat melakukan perjalanan bersama. Nikmati masa-masa indahmu, Yu‘er...” Jelas Hua Ruoruo sambil tertawa lirih.
Ling Qiuyu baru menyadari jika dileher Hua Ruoruo terdapat tanda kemerahan. Tak lama dia melihat ayahnya, Ling Han, sedang berjalan menghampiri Hua Ruoruo dengan lilitan handuk.
“Bibi Ruo, aku pergi dulu...” Ling Qiuyu berlari keluar Sembilan Harta Phoenix membiarkan Ling Han dan Hua Ruoruo menikmati waktu untuk berdua.
Sebelum melakukan perjalanan ke Lembah Bunga Persik, Ling Qiuyu berpamitan dengan Ling Xie yang sedang berada di Restoran Bunga Persik bersama Yao Ran.
Di Restoran Bunga Persik ada Jia Huaran dan Chi Rong yang sedang berbincang dengan Ling Xie dan Yao Ran. Sementara Shen Lao sedang mengobrol dengan Jia Song.
Tidak butuh waktu lama bagi Ling Qiuyu ataupun Jia Huaran berpamitan dengan orang tua mereka, tak lupa Shen Lao dan Chi Rong meminta dukungan pada ibu Ling Qiuyu dan orang tua Jia Huaran.
“Baik, Bibi Xie. Aku akan menjaga mereka.” Shen Lao menjawab keinginan Ling Xie.
Sebelum berangkat, Yao Ran memberikan pil dan beberapa minuman untuk Chi Rong. Keberangkatan menuju Lembah Bunga Persik menjadi awal perjalanan baru Shen Lao dan ketiga perempuan yang berada disisinya, menemani perjalanannya.
“Rongrong, kamu sedang hamil. Jadi lebih baik biarkan Lao‘gege yang menggendongmu.” Saat Shen Lao sedang memperhatikan Restoran Bunga Persik, dia mendengar Ling Qiuyu dan Chi Rong berdebat kecil.
“Aku tidak mau. Aku sudah berlatih untuk melakukan gerakan yang tidak memberikan beban pada perutku. Aku tidak terlalu lemah sampai harus digendong oleh Gege.” Chi Rong menjawab sengit perkataan Ling Qiuyu.
“Rongrong, bagaimanapun kamu adalah seorang perempuan! Jangan keras kepala, kasihan anak kita!” Ling Qiuyu memberikan perlawanan sengit dan kekanak-kanakan.
__ADS_1
Melihat Ling Qiuyu dan Chi Rong berdebat, Jia Huaran segera menggigit jari jempolnya dan mengeluarkan Binatang Roh-nya. Sebenarnya Jia Huaran tidak ingin menunjukkan Elang Petir pada Shen Lao, Ling Qiuyu dan Chi Rong tetapi situasi ini memaksanya untuk menunjukkan wujud Binatang Roh miliknya.
Bagaimanapun Jia Huaran menyadari resiko jika Chi Rong kelelahan dalam perjalanan. Selain itu semua ini demi bayi yang sedang Chi Rong kandung, Jia Huaran sendiri tidak ingin Chi Rong melakukan tindakan yang bodoh dan menyebabkan hal yang tidak diinginkan. Karena Jia Huaran sendiri penasaran akan rupa bayi mungil Shen Lao dan Chi Rong.
“Gadis perawan, untuk apa kau memanggilku? Aku hanya mengizinkan dua perempuan sejati ini untuk menaiki punggung keperkasaanku!” Baru saja Jia Huaran tersenyum lega karena Ling Qiuyu dan Chi Rong berhenti berdebat, dirinya dibuat kesal oleh Elang Petir.
“Berhenti memanggilku gadis perawan! Sekarang antarkan aku dan mereka bertiga menuju suatu tempat! Ini bukan permohonan, melainkan perintah!” Baru kali ini Shen Lao, Chi Rong dan Ling Qiuyu melihat ekspresi marah Jia Huaran.
Elang Petir mendekati Shen Lao, Chi Rong dan Ling Qiuyu. Tak lama tergambar senyuman mengejek diwajahnya, “Aku hanya mengizinkan mereka bertiga menaiki punggungku. Kau bisa duduk dipangkuan pejantan perkasa ini.”
Saat Elang Petir berkata demikian, tubuhnya membeku, “Pejantan perkasa? Apa kau ingin berkata jika kami berdua adalah betina?” Chi Rong hampir membekukan seluruh tubuh Elang Petir, namun Shen Lao menahan pundaknya.
“Rong‘er, jangan ladeni perkataannya. Lebih baik kita turuti perkataannya, lagipula aku ingin kamu dalam kondisi sehat.” Shen Lao memegang perut Chi Rong dan mengusapnya pelan.
Chi Rong mendengus kesal dan langsung naik ke atas punggung Elang Petir diikuti Ling Qiuyu yang mencoba menenangkan Chi Rong sambil meminta maaf karena telah memarahinya.
Tak lama Shen Lao duduk bersila dan Jia Huaran duduk di pangkuannya. Shen Lao merasakan aura kemarahan yang luar biasa dalam diri Jia Huaran.
‘Kenapa aku harus seperti anak kecil yang duduk dipangkuan ayahnya? Ayam ini, lihat saja!’ Jia Huaran mengumpat dalam hatinya menatap tajam Elang Petir yang secara perlahan terbang tinggi ke udara meninggalkan Ibukota Jiaran.
Shen Lao menahan napasnya saat mencium bau badan Jia Huaran. Terlebih dia juga menahan malu saat Chi Rong dan Ling Qiuyu tertawa mengeledeknya.
“Kakak Qiuqiu, padahal dia sudah mempunya dua istri tetapi masih berani memangku gadis lain dihadapan istrinya...” Chi Rong berbisik pelan dan sengaja mengeledek Shen Lao dan Jia Huaran.
Ling Qiuyu hanya tertawa pelan saat melihat ekspresi wajah Jia Huaran yang malu-malu. Gadis berusia tujuh belas tahun itu berdiri dan duduk disamping Ling Qiuyu.
__ADS_1
Elang Petir yang menyadari itu segera terbang rendah dan berkata, “Sudah kukatakan padamu, orang yang berhak naik diatas punggungku hanyalah perempuan sejati!”
Jia Huaran benar-benar tidak habis pikir dirinya akan mendapatkan Binatang Roh seperti ini.