Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 54 - Benteng Angin Utara II


__ADS_3

Shen Lao melihat dengan seksama keadaan disekitarnya karena ada sekitar tujuh ratus prajurit militer Kekaisaran Ma yang memanah dari dalam Benteng Angin Utara.


Shen Lao dapat menghancurkan tujuh ratus anak panah dengan seribu pedang tak kasat mata, kemudian dia memfokuskan perhatiannya untuk melawan Xu Mengxian.


Shen Lao sebenarnya ingin menghabisi Xu Mengxian dengan cepat, tetapi lawannya ini tidak mudah dikalahkan, terlebih Xu Mengxian telah lama melintang di dunia persilatan dibandingkan dengan dirinya.


Chi Rong menghela napas panjang, dia mengerti Shen Lao tidak ingin melihatnya terluka. Tanpa disuruh, Chi Rong bergerak dengan kecepatan tinggi menghabisi pendekar suci yang membantu Xu Mengxian.


Xu Mengxian menyeringai karena bagaimanapun Chi Rong memiliki penampilan yang cantik dan menawan, bahkan ketika sedang bertukar serangan dengan Shen Lao, matanya selalu mencuri-curi pandang melihat Chi Rong.


“Matamu melihat ke arah mana?!” Shen Lao paling tidak suka dengan pria yang memiliki tatapan nafsu kepada wanitanya.


Shen Lao mengayunkan Pedang Dewa Malam lebih cepat dari sebelumnya. Energi pedang yang keluar dari Pedang Dewa Malam lebih pekat dari aura pembunuh layaknya kegelapan pekat malam.


Xu Mengxian terus menyambut serangan yang dilancarkan Shen Lao, dia benar-benar menikmati pertarungan ini. Hanya saja Xu Mengxian menyadari jika prajurit militer Kekaisaran Ma yang berniat membantunya selalu mati di tangan Chi Rong, terlebih tidak ada satupun serangan jarak jauh yang mendarat di tubuh Shen Lao.


Shen Lao selalu membentuk pedang tak kasat mata untuk menghancurkan anak-anak panah yang berdatangan dari segala arah. Kemampuan Ilmu Pedang Tanpa Wujud milik Shen Lao sangat merepotkan, tidak heran dia ingin menghabisi seluruh prajurit militer Kekaisaran Ma hanya dengan bantuan empat orang.


Kakek Nue dan Feng En melindungi Chi Rong, karena bagaimanapun perempuan itu merupakan istri pertama dari Shen Lao, pemilik Sembilan Harta Phoenix yang menjadi tuan muda mereka.


Kakek Nue menyuruh Feng En membantu Panglima Lu Bu menembus pertahanan Benteng Angin Utara. Terlihat jelas jika Panglima Lu Bu ingin bertarung melawan dua komandan militer Kekaisaran Ma.


Jarak antara dua komandan militer Kekaisaran Ma dengan Panglima Lu Bu masih jauh, berkat bantuan Sembilan Harta Phoenix dan latihan bersama Kakek Nue dan Feng En, Panglima Lu Bu bisa menyadari bahwa dua komandan militer Kekaisaran Ma memancing dirinya untuk masuk ke dalam Benteng Angin Utara.


Jika Panglima Lu Bu tidak menyadari rencana dua komandan militer Kekaisaran Ma setelah melihat pergerakan santai lawannya, maka dirinya sudah dipastikan akan menjadi sasaran empuk serta bulan-bulanan prajurit militer Kekaisaran Ma dan dua komandan militer mereka.


Feng En memainkan pedangnya dengan agresif, dia membuka jalan untuk Panglima Lu Bu masuk ke dalam pertahanan Benteng Angin Utara dengan membunuh setiap prajurit militer Kekaisaran Ma.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama bagi Feng En untuk memancing kemarahan dua komandan militer Kekaisaran Ma. Tebasan pedangnya selalu mengenai leher lawannya, bahkan gerakan Feng En yang lincah dapat menekan pergerakan prajurit militer Kekaisaran Ma menjauh darinya.


Dua komandan militer Kekaisaran Ma turun tangan setelah mendapatkan isyarat dari Ma Xuruo. Keduanya langsung bergerak ke arah Feng En, tetapi Panglima Lu Bu menahan pergerakan mereka.


Setelah tiga senjata saling membentur, Panglima Lu Bu langsung menyerang dua komandan militer Kekaisaran Ma dengan agresif. Sementara Feng En mempercayakan dua komandan militer Kekaisaran Ma kepada Panglima Lu Bu, karena sekarang dirinya mendapatkan lawan yang merepotkan.


Sekitar dua pendekar suci menyerangnya secara bersamaan, Feng En menajamkan perhatiannya untuk menghabisi dua pendekar suci ini secepat mungkin.


Pedang yang dia genggam dialiri tenaga dalam, dengan penuh tenaga Feng En mengayunkan pedangnya, “Lembah Harimau Jalanan!” Ledakan tercipta disertai tanda pertarungan Feng En dengan dua pendekar suci dan prajurit militer Kekaisaran Ma.


Shen Lao mengetahui bahwa diantara prajurit militer Kekaisaran Ma terdapat seorang pendekar suci, dan ini merupakan hal yang merepotkan. Bahkan ada beberapa pendekar agung yang sekarang menyembunyikan hawa keberadaannya dan menyerangnya dari kejauhan.


Shen Lao menajamkan permainan pedangnya. Dia mempercepat langkahnya dan mengayunkan pedangnya dengan lincah. Berulang kali Xu Mengxian dapat menahannya, tetapi Shen Lao sengaja membenturkan Pedang Dewa Malam dengan pedang Xu Mengxian secara terus-menerus.


Xu Mengxian sendiri kebingungan melihat Shen Lao yang tidak melepaskan jurus dan hanya melapisi bilah pedangnya dengan tenaga dalam serta energi pedang berjumlah besar.


Seribu pedang tak kasat terbentuk di belakangnya, kali ini Shen Lao mengarahkannya langsung kepada Xu Mengxian. Setelah permainan pedangnya berimbang dengan Xu Mengxian, maka mudah saja baginya untuk meruntuhkan alur pertarungan mereka.


Xu Mengxian terkejut karena bagaimanapun dirinya sekarang kewalahan menghadapi Shen Lao yang terus-menerus menekan pergerakannya, dan sekarang seribu pedang tak kasat mata menyerangnya dari segala arah.


Setelah bertukar serangan lebih dari lima puluh serangan, Xu Mengxian justru kagum dengan Shen Lao yang dapat menahan serangan dari berbagai arah ketika melakukan pertukaran serangan dengan dirinya.


“Jangan remehkan aku!” Seketika pedang milik Xu Mengxian bercahaya berwarna keemasan. Ketika Pedang Dewa Malam milik Shen Lao berbenturan dengan pedang miliknya, Xu Mengxian terkejut karena pedangnya patah.


Shen Lao dengan satu tarikan napasnya dan langkah kaki yang pasti langsung menghunuskan pedangnya tepat di jantung Xu Mengxian.


Seketika pertempuran berdarah di perbatasan, Benteng Angin Utara mendadak menjadi hening. Semuanya tidak menyangka Shen Lao dapat membunuh Xu Mengxian, kepala Xu Mengxian terlempar ke atas dan mengarah pada Ma Xuruo saat Shen Lao memutarkan tubuhnya dan langsung mengincar kepala lawannya sebelum terjatuh ke tanah.

__ADS_1


Chi Rong juga telah mengatasi bagiannya, dia menyerahkan prajurit militer Kekaisaran Ma kepada Kakek Nue. Karena bagaimanapun Chi Rong mengetahui Shen Lao tidak dalam kondisi prima setelah bertarung sengit melawan seorang pendekar bumi.


Benar saja, bersamaan dengan kematian Xu Mengxian, Fu Shuang segera terbang dengan kecepatan tinggi dan mendarat tepat di depan Shen Lao.


Fu Shuang telah mencapai Pendekar Bumi Tahap Awal lebih lama dari Shen Lao sehingga pria itu dapat menekan pergerakan Shen Lao dan memberikan luka dalam padanya.


Chi Rong melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar, Aura Salju Kekal dia alirkan pada pedangnya dan dengan kecepatan tinggi, Chi Rong menebaskan pedangnya pada Fu Shuang.


Shen Lao menghela napas panjang, dia baru menyadari istrinya itu cukup keras kepala. Tetapi jujur saja saat ini dia butuh bantuan Chi Rong, dan semua itu membuat Shen Lao mengepalkan tangannya.


“Rong‘er, tetaplah berada disampingku...” Shen Lao memusatkan aura tubuhnya untuk membungkus tubuh Chi Rong.


“Gege, aku ini tidak selemah apa yang kamu pikirkan. Jujur saja, aku merasa kesal karena kamu tidak mempercayaiku, ingat lagi pertemuan kita. Aku bukanlah seorang perempuan yang lemah.” Chi Rong melepaskan dua tebasan dari kejauhan setelah berkata demikian. Dia ingin jarak antara Fu Shuang dengan dirinya dan juga Shen Lao melebar.


“Saat itu jika aku tidak datang, mungkin kamu...” Shen Lao tidak melanjutkan perkataannya, dia melihat kedua bola mata yang indah itu benar-benar membara di tengah pertempuran. Shen Lao merasa beruntung karena Chi Rong menjadi istrinya.


Mata Shen Lao dan Chi Rong saling menatap, mereka berdua mengangguk pelan sebelum melepaskan kekuatan dari Roh Phoenix.


“Roh Phoenix!” Sebuah sayap api berwarna merah dan biru muda muncul di punggungnya, dengan kecepatan tinggi Shen Lao terbang ke udara.


Tak lama Chi Rong juga menggunakan kekuatan yang sama dengan Shen Lao. Bukan hanya Shen Lao yang mendapatkan kenikmatan dari Chi Rong, tetapi perempuan itu juga menyerap kemampuan dan kekuatan Shen Lao setiap kali mereka mengarungi malam bersama.


“Roh Phoenix!” Sayap yang terbentuk dari salju dan bunga-bunga berwarna ungu muncul di punggungnya, hawa dingin menyebar dengan cepat di sekitar Chi Rong.


Dalam sekejap pertempuran berdarah di perbatasan Benteng Angin Utara berubah. Awal dari kebangkitan pasangan pendekar phoenix ini membuat semua prajurit militer dari Kekaisaran Ma ketakutan sekaligus terpana.


___

__ADS_1


Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.


__ADS_2