Legenda Takdir Ilahi

Legenda Takdir Ilahi
LTI 84 - Kekhawatiran Orang Tua Ke Anaknya


__ADS_3

Bing Jinxia duduk memandang Lembah Bunga Persik dari bukit, matanya menatap lampion yang memenuhi sepanjang jalan.


“Nona Bing? Apa yang anda lakukan disini?” Shen Lao memang berniat berkeliling Lembah Bunga Persik untuk mencari hiburan dan merilekskan tubuhnya, namun saat dia menuju ke tempat tertinggi di Lembah Bunga Persik, dirinya menemukan Bing Jinxia duduk dengan manis sendirian.


Bing Jinxia kebingungan karena saat melihat Shen Lao tubuhnya terasa panas. Bing Jinxia tidak menyadari jika minuman yang diberikan Feng Erlong telah dicampur pil perangsang.


Dan sekarang efeknya mulai menjalar ke setiap tubuhnya, Bing Jinxia merasa tubuhnya sangat sensitif. Perasaan yang membuatnya bingung ini membuat Bing Jinxia bimbang.


Shen Lao menghampiri Bing Jinxia dan duduk disampingnya, “Nona Bing, bolehkah aku duduk disini?”


“B-Boleh...” Bing Jinxia menjawab dengan gugup. Melihat itu Shen Lao kebingungan terlebih melihat wajah Bing Jinxia yang merah merona dan bibirnya berulang kali terbuka menggoda.


“Nona Bing? Apa kau sakit?” Shen Lao kembali bertanya.


Namun Bing Jinxia memeluk tubuhnya dan menangis karena berusaha melawan tubuhnya yang terangsang, “Saudara Shen! Tolong aku! Tubuhku panas! Aku tidak tahu kenapa diriku menjadi seperti ini!”


Shen Lao tersentak kaget dan mendorong lembut tubuh Bing Jinxia, “Nona Bing, tenanglah.”


Shen Lao menatap dalam mata Bing Jinxia yang berkaca-kaca, namun sebelum dirinya kembali berbicara tanpa sadar Bing Jinxia mengecup lembut pipinya.


“Saudara Shen...” Suara Bing Jinxia membuat tubuh Shen Lao bergetar.


Shen Lao menyadari ada perubahan pada Bing Jinxia, tubuh dan pikiran Bing Jinxia berjalan tidak searah. Dengan cepat Shen Lao membuat Bing Jinxia pingsan karena tidak ingin perempuan dari Gunung Es Utara itu kehilangan sesuatu yang dijaganya karena pil perangsang.


“Siapa yang melakukan ini padamu, Nona Bing?” Shen Lao menyandarkan kepala Bing Jinxia kebahunya lalu mengatur napasnya.

__ADS_1


‘Walau terlihat dingin dan acuh, menurutku Nona Bing sangat polos dalam hal ini. Beruntung aku yang bertemu dengannya, jika orang lain, aku tidak habis pikir bagaimana nasibnya...’ Shen Lao menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap wajah Bing Jinxia yang menangis walau saat pingsan sekalipun.


Tanpa Shen Lao sadari ada sepasang mata yang mengamatinya dengan menekan seluruh hawa keberadaannya.


‘Xiaxia, apakah pemuda beristri ini adalah lelaki yang kau suka?’ Sepasang mata yang mengamati Shen Lao tak lain adalah Bing Caoji.


Bing Caoji kebetulan melihat Bing Jinxia yang mencium pipi Shen Lao dan menyenderkan kepalanya ke bahu Shen Lao, walau kejadian sebenarnya Shen Lao yang membuat pingsan anaknya itu.


‘Lao‘er, aku tidak akan memberikan anakku padamu! Kau telah mempunyai istri terlebih dua istri! Aku tidak tahu bagaimana nasib Xiaxia jika sebagai istrimu!’ Bing Caoji menggelengkan kepalanya karena mengingat kondisi Tubuh Yin dalam tubuh Bing Jinxia.


“Sebaiknya aku mengawasi mereka berdua. Jangan sampai Xiaxia dan Lao‘er...’ Bing Caoji memikirkan yang tidak-tidak dan mengawasi Shen Lao dan Bing Jinxia sampai pagi datang.


Tidak ada terjadi apa-apa selain Shen Lao yang mengelus rambut panjang Bing Jinxia, sedangkan Bing Jinxia hanya menyenderkan kepalanya ke bahu Shen Lao.


‘Untunglah...’ Bing Caoji bernapas lega dan segera kembali ke penginapan Gunung Es Utara.


Sementara Bing Caoji yang pergi kembali ke penginapan Gunung Es Utara, Bing Jinxia menyeka air matanya, namun Shen Lao terlebih dahulu mengusapnya lembut.


Bing Jinxia merasakan debaran jantung untuk pertama kali dalam hidupnya, terlebih dia tersenyum saat Shen Lao menyentuh pipinya.


“Saudara Shen apakah kita semalam melakukan itu?” Bing Jinxia bertanya dengan wajah yang merah padam.


Shen Lao batuk karena terkejut. Dia bingung harus menjelaskan apa, tetapi dia menceritakan kepada Bing Jinxia tentang pil perangsang yang membuatnya sensitif saat berada didekat lawan jenis.


Mendengar itu Bing Jinxia mengingat Feng Erlong yang menawarkan minuman padanya, mengetahui orang yang membuat Bing Jinxia mengalami seperti itu adalah Feng Erlong, seketika raut wajah Shen Lao menjadi dingin.

__ADS_1


“Nona Bing, aku akan memberi perhitungan dengan bedebah sialan itu!” Shen Lao berdiri, namun Bing Jinxia menahannya.


“Tidak perlu, aku merasa beruntung karena lelaki yang melihatku seperti itu adalah dirimu...” Ucap Bing Jinxia dengan malu-malu.


“Apa hari ini Nona Bing senggang? Jika berkenan, Nona Bing bisa datang ke penginapan Istana Bulan Biru. Aku yakin Rong‘er akan senang jika anda mengajaknya berlatih.” Shen Lao berbicara formal kepada Bing Jinxia, karena bagaimanapun sosok Bing Jinxia dimatanya sangat berbeda dengan Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran.


Bing Jinxia mengangguk pelan dan segera menuruni bukit bersama Shen Lao. Keduanya berbincang ringan selama perjalanan, hingga saat berada didepan penginapan Istana Bulan Biru, keduanya disambut Chi Rong dan Ling Qiuyu yang sedang mengobrol bersama Jia Huaran.


Melihat kedatangan Shen Lao dan Bing Jinxia yang berdampingan membuat Chi Rong dan Ling Qiuyu menatap suami mereka penuh selidik.


“Baru ditinggal tidur semalam sudah bermain-main dengan wanita lain. Gege, semalam kau kemana?” Chi Rong bertanya.


Shen Lao menelan ludah. Istri pertamanya yang tengah hamil ini membuatnya ketakutan setiap kali sedang dalam suasana hati yang tidak bagus.


“Lao‘gege, Rongrong sedang ngidam daging yang pedas-pedas. Ini uang, cepat belikan ayam bakar pedas sama bebek bakar pedas.” Ling Qiuyu terlihat seperti orang tua yang menyuruh anaknya, sedangkan Shen Lao tidak membantah dan segera berlari mencari warung makan yang menjual ayam bakar pedas dan bebek bakar pedas.


Melihat Shen Lao, Chi Rong dan Ling Qiuyu membuat Jia Huaran dan Bing Jinxia tanpa sadar tertawa.


“Xiaxia, duduklah..." Chi Rong tersenyum. Bing Jinxia segera duduk disamping Chi Rong.


“Apa Gege melakukannya denganmu?” Tanpa basa-basi Chi Rong bertanya. Bahkan Ling Qiuyu menelan ludahnya menanti jawaban Bing Jinxia, sedangkan Jia Huaran asyik sendiri karena penasaran dengan kegiatan ketiga perempuan itu.


Bing Jinxia tersenyum tipis, “Saudari Chi, kau mempunyai suami yang baik.” Lalu Bing Jinxia menceritakan kejadian yang sebenarnya, dimana setelah mendengar itu Chi Rong, Ling Qiuyu dan Jia Huaran tersenyum.


Tak lama empat perempuan yang sedang mengobrol diteras penginapan melihat Shen Lao yang datang membawakan berbagai macam makanan.

__ADS_1


__ADS_2