Liveline

Liveline
Keputusan Danael


__ADS_3

"Nai, jangan nangis," gumam Arsa pelan, sambil mengusap air mata yang terus-terusan mengalir membasahi pipi Naira.


"Gimana aku gak nangis, El ternyata jahat. Dia cuma bisa bilang maaf, dan aku gak mudah buat maafin dia. Udah berapa kali dalam satu minggu ini, aku terus-terusan dikirim orang yang enggak di kenal, foto El sama Ladira yang kelihatan romantis banget," jelas Naira terus-terusan menangis.


Arsa menggenggam lembut tangan Naira, "Nai, jangan salah faham dulu. Siapa tahu itu cuma kerjaan orang yang enggak jelas aja, mungkin mereka punya dendam tersendiri, sampai fitnah antara El sama Ladira." Imbuh Arsa.


Naira kembali menggeleng dan menatap luka-luka dan bekas membiru, yang Danael berikan kepada Arsa. Tepat di pipi kirinya dan di hidung yang tadi sempat mengeluarkan darah.


"Masih sakit?" Tanya Naira.


"Masih, tapi bukan luka aku. Tapi waktu lihat lo nangis, gue gak suka lihat cewek nangis," jawab Arsa menghapus jejak air mata yang masih membasahi pipi Naira.


Setelah diam beberapa saat, Arsa memilih duduk, "btw, kenapa lo tadi malah meluk gue, bukannya meluk El?" Tanya Arsa.


Kedua tangan Naira mencengkram ujung bajunya, dirinya juga bingung. Kenapa malah memeluk Arsa, padahal Danael adalah pacarnya. "Aku juga gak tau kenapa, tapi yang pasti, setelah lampu tadi mati, aku ngerasa kehilangan kamu," jelasnya singkat.


"Maksudnya gue mau mati gitu?" Ceplos Arsa, membuat tangan Naira refleks membekap mulut Arsa. "Jangan aneh-aneh kalau ngomong, kamu gak boleh gitu," tukas Naira lalu menubruk tubuh Arsa dengan pelukannya.


"Asa, gak boleh pergi!" Gumam Naira menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arsa, menghirup dalam aroma parfum Arsa yang menyegarkan.


Arsa terdiam dengan perilaku Naira, kenapa gadis ini malah semakin menempel kepadanya. "Nai, kenapa lo gini? Nanti ada yang lihat," tapi Naira menggeleng dan membuat Arsa pasrah untuk dipeluk sesaat, sampai seseorang datang dan membuat Arsa segera menarik Naira paksa, untuk melepas pelukan mereka.


"El, gue..."


"Stop, gak perlu penjelasan. Di sini gue cuma mau bilang minta maaf kalau perilaku gue berlebihan ke Arsa. Dan Naira, kita cukup sampai di sini, gue gak mau lagi ikut campur urusan lo sama dia," tekan Danael menunjuk Arsa.


"Kita putus?" Tanya Naira lirih.


"Iya"


"Semudah itu kamu minta putus tanpa aku, tanpa tahu penjelasan kenapa aku cuekin kamu satu Minggu ini. Kenapa aku lebih milih meluk Arsa tadi?" Tanya Naira dengan emosi yang sudah memuncak.

__ADS_1


Danael mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka, dalam dirinya sama-sekali tidak merasa sudi untuk menatap Naira yang duduk di samping Arsa.


"Gak perlu dijelaskan, cukup banyak bukti kalau kalian memang menjalankan hubungan tanpa gue tahu. Berapa banyak bukti yang tiap hari gue lihat, tapi selama ini gue diam karena mengira kalau itu cuma kerjaan orang yang enggak jelas." Lontar Danael.


"Lo maksud bukti apaan?" Tanya Arsa.


"Ingat sendiri, di mana kalian begitu mesra di cafe," ucap Danael to the point lalu pergi meninggalkan Arsa dan Naira yang tenggelam ke dalam ingatan mereka beberapa hari yang lalu.


Tepat 3 hari yang lalu, Arsa mengajak Naira pergi menuju cafe untuk menenangkan gadis itu, saat selama Danael dan Naira jarang berinteraksi. Membuat Naira terus bersedih.


Hal yang tidak diduga saat Naira yang ingin pergi menuju toilet, tidak sengaja tergelincir saat tidak melihat ada bekas air yang tumpah di lantai. Sehingga Arsa yang juga langsung mendekap Naira sebelum gadis itu jatuh dan membentur lantai.


Kejadian singkat tersebut, menarik perhatian para pengunjung dan satu orang yang sudah siap untuk menangkap gambar mereka.


...***...


"El, kita bisa jelasin ini baik-baik sama Naira. Lo gak boleh semudah itu minta putus sama Naira, dia cewek baik yang seharusnya gak layak dapat kata putus dari lo," lontar Ladira berjalan menyejari langkah panjang Danael yang ingin pergi dari cafe menuju mobilnya.


"Gak perlu, biar ini jadi keputusan terbaik," jawab Danael mulai memasuki mobilnya, disusul Ladira yang juga masuk di sebelahnya.


"Terbaik. Sebelum semua menjadi gak baik-baik, keputusan gue udah bulat," jawabannya, yang membuat Ladira bingung dengan maksud yang Danael katakan barusan.


"Maksudnya?"


...***...


Naira terus-terusan menangis saat Danael pergi dari sana, dirinya bingung dengan perasaannya sekarang. Di sisi lain dia merasa menyesal, tapi rasa menyesal dilebihkan oleh rasa kecewa kepada Danael. Entah dirinya sangat tidak menyukai jika Danael lebih perhatian kepada Ladira dari pada dirinya.


"Nai, udah ya. Jangan nangis, kalau kamu masih nangis terus. Kita gak akan bisa pulang. Orang tua kamu pasti marah Nai kalau lihat kamu nangis pulang nanti!" Tangan Arsa menghapus air mata yang dari tadi terus mengalir di pipi Naira.


"Aku bingung Sa, akun ngerasa salah. Tapi aku lebih merasa kecewa sama El, aku bingung," lirih Naira lalu masuk ke dalam dekapan Arsa, dirinya dapat merasakan kehangatan saat cowok itu memeluknya erat.

__ADS_1


"Udah Nai, jangan nangis," Arsa mengelus lembut rambut Naira yang tergerai.


Sampai akhirnya gadis itu larut dan tertidur.


...***...


Mobil Danael berhenti di depan gerbang rumah Ladira, gadis itu terdiam sebentar saat melihat mobil ayahnya yang terparkir di  halaman rumah. Tidak lupa, satu mobil asing yang membuat Ladira memiliki firasat lain tentang kedatangan mobil itu.


"Kenapa?" Tanya Danael saat melihat ekspresi Ladira yang gelisah.


"Gak papa, makasih udah nganterin. Gue izin masuk ke rumah," Ladira keluar dari dalam mobil, meninggalkan Danael yang merasa aneh dengan sikap Ladira yang berubah saat melihat mobil asing ada di halaman rumahnya.


Setelah melihat Ladira benar-benar masuk ke dalam rumah, Danael pun meninggalkan area perumahan Ladira menuju rumahnya yang tidak jauh dari sana.


...***...


"Nah, itu dia putri saya Ladira," ucap ayah Ladira yang duduk di ruang tamu bersama seorang pria sebaya dengan ayahnya.


Karena paksaan sang ayah, Ladira menyapa orang tersebut dan menjabat tangannya. "Malam om, saya Ladira."


Ladira memang tidak sepintar anak anda dalam pelajaran, tapi Ladira adalah anak yang mandiri. Dia pandai dalam urusan rumah dan apapun yang berkaitan dengan pekerjaan yang lain. Apakah anda setuju?" Tanya ayah Ladira kepada pria di depannya.


"Baik, saya setuju. Untuk melangsungkan pernikahan, akan diadakan secepatnya. Karena saya sebentar lagi harus segera berangkat ke Jepang bersama istri saya."


Mendengar kata pernikahan, Ladira ingin protes. Tapi dengan cepat ayahnya menahan Ladira, membuat gadis itu terpaksa diam sampai teman ayahnya pergi dari sana.


"Papa, kenapa main jodohin aku sih. Aku gak setuju, aku masih mau nikmatin masa muda pa," lontar Ladira


"Untuk apa? Sekolah saja kamu tidak becus, apa gunanya kamu sekolah kalau tidak bisa membanggakan saya," jawab ayahnya.


"Tapi pah, aku janji akan berubah. Aku mau belajar dan bisa banggain papa. Pliss, aku gak mau nikah pah!" Mohon Ladira.

__ADS_1


"Tidak ada penolakan, karena saya punya dua pilihan. Antara menikah tanpa sekolah dan menikah tapi masih melanjutkan sekolah. Itu tergantung kamu sendiri, dan pernikahan akan dilaksanakan di dalam Minggu ini!" Tekan ayah Ladira.


...***...


__ADS_2