Liveline

Liveline
Rasa Sakit


__ADS_3

"Ngapain turun sekolah Ra?" Tanya Danael yang kaget, melihat kehadiran Ladira yang sudah ada di dalam kelas.


"Gak boleh?" Tanya Ladira heran dengan sikap Danael


Danael menaruh tasnya  di belakang dan duduk di kursi seberang Ladira. "Kapan lo pulang dari rumah sakit? Kenapa gak bilang-bilang?" Tanya Danael.


Ladira menghentikan video yang sedang dia tonton dan menjawab pertanyaan Danael. "Kemaren gue sudah disuruh pulang sama dokter, dan gue gak ada megang hp dari kemaren," jelas Ladira.


"Pulang sama siapa? Kalau lo pulang, seharusnya hubungin gue dulu, pakai hp siapa lah yang bisa hubungin gue," ucap Danael bertanya-tanya dengan raut khawatir.


Gadis itu menggeleng, "ngapain lo khawatir sama gue? Ingat El, kalau Naira juga butuh lo kan?" Ucap Ladira.


"Gue tau. Tapi lo juga berharga," ucap Danael memelankan suaranya di akhir kalimat.


"Hah? Berharga? Maksud lo apaan?" Tanya Ladira bingung.


Laki-laki itu menggeleng, "ada deh, lo gak perlu tahu," Danael menggeleng. "Btw, lo pulang sama papa lo ya?" Tanya Danael.


"Enggak, papa gak ada sama sekali jemput gue, apalagi jenguk. Tapi untungnya Gean baik banget, dia udah jagain gue selama di rumah sakit, sampai anterin gue pulang." Jelas Ladira tersenyum tipis.


Raut wajah Danael berubah sedikit datar, "lo jangan terlalu banyak bergantung sama orang Ra, lain kali lo bisa suruh gue kalau perlu." Setelah mengatakan itu, Danael kembali menuju bangkunya yang berada di belakang Ladira. Saat guru Sejarah mereka datang, dan siswa-siswi mulai memenuhi ruangan untuk mengikuti pembelajaran pertama hari ini.


"Selamat pagi semua, hari ini kita akan melanjutkan presentasi kelompok yang sempat tertunda. Sekarang giliran kelompok 3," ucap guru Sejarah yang memulai pembelajaran.


...***...


Kantin sudah ramai, dipenuhi pengunjung yang memiliki satu tujuan terutama. Untuk mengisi perut mereka yang sedari tadi berbunyi, minta diisi.


"Hm, aku rasa bakso mang Udin enak banget ya hari ini," lontar Naira memberi tanggapan.


"Oh ya?" Ucap Danael mengangkat sebelah alisnya. " Perasaan aku sih, masih sama kayak biasanya. Apa mungkin karena kamu cewek, makanya bisa nilai perubahan rasa sedetail itu?" Tanya Danael memberi tanggapan.


Gelengan kecil dari Naira membuat Danael mengerutkan keningnya. "Selera kita aja yang mungkin beda, karena bukan cuma cewek yang bisa bedain rasa. Tapi contohnya banyak koki cowok yang bisa nilai bagaimana rasa masakan yang dia buat, atau buatan orang lain," tanggap Naira.


Tangan Danael terulur untuk mengacak pelan rambut Naira, "pinter banget, jadi makin sayang." Ucap Danael dengan senyum manisnya, hal itu mampu membuat Naira menahan mati-matian suaranya, agar tidak berteriak karena perlakuan romantis Danael kepadanya.

__ADS_1


"Ehemm, bucin teros." Dari jarak tidak terlalu jauh, Arsa datang bersama Gean yang baru saja duduk di meja lain berdua.


"Iri, bilang bos." Sontak Danael tertawa melihat Arsa yang tidak sengaja menabrak meja di belakangnya, saat laki-laki itu menggerutu kesal melihat tampang Danael yang begitu mengesalkan.


Naira tertawa pelan melihat kelakuan laki-laki di sekitarnya, cukup menghibur di saat Naira merasa kewajibannya yang begitu berat di organisasi OSIS.


Tapi kesenangan Naira tertunda saat melihat Danael yang sedang mencari sesuatu dengan tatapan mata menelusuri setiap sudut kantin. "Cari siapa?" Tanya Naira.


Danael kembali menatap Naira badan menggeleng pelan, "gak ada kok, sengaja aja mau lihat-lihat suasana kantin," jawabnya. Tapi dari raut wajah yang Danael tunjukkan, Naira masih merasa tidak yakin.


"Kamu cari seseorang kan?" Tanya Naira, membuat Danael terdiam sesaat lalu terkekeh pelan.


"Um, sebenarnya aku lagi cari Ladira. Tumben-tumbenan dia gak ke kantin, biasanya kan Ladira udah ngeluh kelaparan kalau jam siang begini." Jawab Danael jujur.


Naira mengangguk dan tersenyum tipis, "gimana kalau kita beli dia makanan, dan kasih ke Ladira sekarang." Kata Naira memberi saran.


"Boleh juga, ayo!" Danael berjalan menuju stand makanan ringan dan beberapa roti serta minuman di dalam kulkas.


Danael mengambil beberapa bungkus roti kesukaan Ladira dan satu botol air mineral dan dua botol susu kemasan.


Naira mengerucutkan bibirnya dan menggeleng, "kamu gak tahu ya kalau aku gak suka makan selai kacang."


"Maaf Nai, baru tahu soalnya." Danael memasukkan kembali roti tersebut ke dalam keresek hitam di tangannya.


"Gak papa," Naira tersenyum.


"Nih, kalau gak bisa makan selai kacang. Minum susu aja, pasti suka!" Danael menyerahkan satu botol susu kemasan.


Naira mundur beberapa langkah, "kamu lagi-lagi gak tahu, kalau aku alergi minum susu." Lirih Naira merasa sedikit kecewa. Di saat hal itu berhubungan dengan Ladira, pasti Danael tahu semuanya. Tapi terbalik, di saat Naira yang merupakan kekasih Danael, tapi cowok itu sama sekali tidak tahu mengenai Naira sedetail apapun itu.


Tangan Danael terulur dan menggenggam lengan Naira, tapi gadis itu malah melepas tautan tangan mereka. "Aku mau waktu sendiri dulu, jadi jangan ganggu." Setelah berkata demikian, Naira berjalan meninggalkan Danael yang sangat merasa bersalah kepada Naira.


"Maaf Nai, gue selalu buat lo kecewa." Guman Danael dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Dari depan pintu kelas, Danael bisa melihat kalau Ladira masih ada di meja belajarnya. Gadis itu menelungkup kan kepalanya di kedua lipatan tangan. Danael menebak-nebak bahwa Ladira pasti sedang tidur, karena seharusnya gadis itu masih dalam tahap pemulihan setelah di rawat dari rumah sakit.

__ADS_1


"Ra, bangun dulu. Lo makan sebentar aja, takut nanti tambah sakit." Danael menepuk baju Ladira pelan.


Ladira yang terusik pun, mengangkat kepalanya. Terlihat raut lelah di wajah Ladira. "Makasih," Ladira tersenyum dan menerima makanan yang Danael berikan, karena memang kalau dirinya merasa lapar saat ini.


Sampai dua bungkus roti habis Ladira makan dan di tutup dengan sebotol susu.


"Lo bawa obat?" Tanya Danael.


Ladira mengangguk dan mengeluarkan tiga jenis obat dari dalam tasnya. Lalu Danael mengeluarkan obat itu satu-persatu, dan di terima oleh Ladira.


"Udah gak takut minum obat?" Tanya Danael tersenyum tipis.


Ladira menggeleng pelan, "masih takut sih. Lebih takut keselek, tapi gue kan juga harus minum obat," jawab Ladira dan menerima uluran air mineral dari Danael.


Satu-persatu Ladira memasukkan obat ke dalam mulutnya, walau hampir tersedak di obat terakhir, tapi akhirnya Ladira berhasil meminum semua obat itu.


"Pinter banget, jadi sekarang kalau lo ngantuk gara-gara efek obat. Jangan lupa bilang ke gue, supaya kite ka UKS. Jangan dipaksa kalau lo emang capek," imbuh Danael lalu duduk kembali menuju kursinya, karena suara bel masuk sudah berbunyi.


Tapi sebelum kembali, Danael yang menyempatkan diri untuk mengelus singkat rambut dan pipi Ladira. Membuat seseorang memiliki niat buruk, atas saksi bahwa dirinya melihat perhatian Danael yang seharusnya diberikan juga kepada Naira.


...***...


"Nai, lo kenapa sendiri? Bukanya tadi sama El?" Tanya Arsa yang sebenarnya memiliki tujuan untuk merokok di halaman belakang sekolah, tapi tujuannya teralihkan saat melihat Naira yang termenung sendiri di kursi belakang.


Naira yang mendengar pertanyaan Arsa hanya tersenyum, "paham lah, selain perubahan. Dia juga gak tahu tentang gue, contohnya makanan." Jawab Naira. "Harusnya El bisa tahu kan, kalau gue gak suka makan roti selai kacang sama susu." Tambah Naira.


"Lo kan alergi susu, kenapa El bisa lupa?" Tanya Arsa.


Naira tersenyum hambar, "aneh. Lo bisa ingat kalau beberapa bulan lalu gue alergi susu. Kenapa El bilang dia gak tahu."


"El itu manusia juga Nai, kayaknya dia wajar gak ingat hal detail itu," Arsa memberi tanggapan.


Tapi Naira menggeleng, "emang wajar. Tapi kenapa hal detail seperti kesukaan Ladira, El bisa hapal semua. Sedangkan gue, dia lupa," Naira menunduk sedih memikirkan itu.


Arsa merasa iba kepada Naira, dan berjongkok di depan gadis itu. " Nai, lihat gue," Arsa mengangkat pelan dagu Naira sehingga menatapnya, terlihat mata Naira yang menahan tangis. "Jangan sedih, gue gak suka. Kalau lo masih mau pertahankan hubungan kalian tetap baik, jangan nyerah. Gue yakin kalau ada jalan, supaya lo dan El bisa jadi pasangan yang lebih baik." Ucap Arsa yang menahan rasa yang tidak bisa diartikan di dalam dirinya. Saat matanya bertemu dengan mata Naira.

__ADS_1


...***...


__ADS_2