
Bel pulang sekolah sudah berbunyi memenuhi penjuru sekolah, suruh siswa-siswi keluar dari ruangan masing-masing. Ada yang menuju parkiran untuk menghampiri kendaraan masing-masing, dan ada juga yang menggunakan transportasi di luar sana seperti bus, ojek dan lain-lain.
"Nai, gue minta maaf. Pulang sama gue yuk," ucap Danael membujuk Naira yang terus-terusan menolaknya untuk mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.
"Aku mau pulang sendiri dulu," Naira berusaha menolak dengan baik, tapi Danael terus-terusan menahannya.
Karena Naira yang terus-terusan menolaknya, Danael menarik gadis itu dan sampai memojokkan Naira di ujung dinding yang jarang terlihat oleh orang lain.
"El, kamu apa-apaan. Kamu mau leceh'in aku hah!" Sentak Naira memberontak saat Danael menggenggam kedua lengan Naira.
Danael menutup mulut Naira dengan tangan kirinya, saat Naira ingin berteriak. "Nai, pliss. Maafin gue kalau emang ada salah. Setidaknya lo jelasin dulu apa yang buat lo berubah gini. Gue tahu kalau emang gue salah, udah buat lo kecewa. Tapi pliss maafin yah, kalau mau hukum gue silahkan, tapi jangan ngambek gini." Mohon Danael dan melepaskan jeratan di tangan Naira dan tangannya yang ada di mulut gadis itu.
"Aku gak perlu ngasih hukuman apa-apa. Tapi aku cuma mau kalau kamu paham dan bisa ngerti sama aku aja, itu udah cukup. Sekarang aku mau pulang sendiri dulu, jangan ngikutin dan maksa-maksa." Lontar Naira dan meninggalkan Danael yang tertunduk dan menatap kepergian Naira dari hadapannya.
Dengan langkah kesal, Danael pergi menuju parkiran menuju sepeda motornya diparkir.
"Woi, kenapa nih El. Muka lo kok kusut?" Tanya Arsa yang juga menghampiri motornya yang terparkir di parkiran bersama Gean.
"Gue pulang duluan," ucap dabael tanpa menjawab pertanyaan Arsa. Sehingga membuat cowok itu bingung, apa yang terjadi dengan Danael.
"Mungkin ada masalah sama pacarnya," tanam Gan yang tepat sasaran.
Arsa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, Gean dan menaiki motor dan siap untuk pergi. Tapi Arsa menahannya sebentar, "eh, Ge. Lo duluan aja, gue ada urusan sebentar." Arsa mulai berjalan meninggalkan Gean. Tanpa banyak pikir, Gean pergi dari sana.
...***...
"Kalian apa-apaan sih. Bisa gak jangan ganggu gue, sekali aja. Gue muak lihat muka kalian tiap hari, yang kerjaannya gak pernah jelas," lontar Ladira, begitu kesal saat Naudra bersama kedua sahabatnya, Niken dan Sonia. Sudah menjadi langganan, kalau ketiga pembuli itu akan selalu menghadang Ladira.
Naudra berjalan mengelilingi Ladira dan tertawa pelan, "kita gak akan pernah berhenti sampai lo nyerah dan gak ganjen sama Danael." Setelah mengatakan itu, Niken secara tiba-tiba mendorong Ladira dari belakang, membuat Ladira yang tidak siap langsung tersungkur tepat di bawah kaki Naudra.
__ADS_1
"Sialan!" Umpat Ladira kesal, dan segera bangun.
Hal itu membuat Naudra tertawa menang, "gimana, lo mau lagi gak belajar buat tunduk di kaki gue?" Tanya Naudra dengan tawa yang masih terdengar dari mulutnya.
Tanpa diduga, karena sudah tersulut emosi. Ladira mencengkram erat kerah baju Naudra dan menatapnya tajam, "lo mau gue apa'in hah. Gak puas sama kelakuan lo yang suka buli orang tiap hari. Mau gue lapor ke guru, supaya lo dan teman-teman lo ini dikeluarin!" Sentak Ladira terlampau kesal, lalu mendorong Naudra kasar dan banding terbalik, sekarang giliran Naudra yang sudah jatuh di aspal.
Karena benturan yang lumayan keras, membuat siku Naudra tergores dan mengeluarkan sedikit darah dari sana.
Niken dan Sonia menahan kedua tangan Ladira, membuat Naudra mendapat kesempatan untuk bangkit kembali. Satu tamparan keras menghantam pipi Ladira, dan itu membuat tawa Naudra kembali merekah.
"Apa, tolong bilang lagi. Lo mau gue keluar dari sekolah hah? Apa lupa kalau gue siswi berprestasi di sekolah, dan asal lo tahu, kalau orang tua gue pemilik sekolah ini." Sentak Naudra lalu kembali meninju bagian hidung Ladira, membuat darah segar mengalir dari sana.
"Gue gak lupa kalau lo mungkin lebih berkuasa, tapi gue yakin kalau lo pasti akan keluar sendiri dari sekolah," tambah Ladira memanas-manasi Naudra, dan gadis itu mengangkat tangan kanannya. Berancang-ancang untuk kembali menampar Ladira, tapi tangannya ditahann.
Mata Naudra membulat saat melihat Danael yang menatapnya tidak suka, "mau lo apa'in lagi Ladira?" Tanya Danael.
"Kalau sampai lo buat Ladira luka lagi, jangan kaget kalau gue yang akan lapor sendiri kelakuan lo ke pemilik sekolah langsung. Gue punya bukti akurat, yang akan buat lo bisa mampus kalau satu tombol send video gue tekan?" Jelas Danael, lalu menarik Ladira pergi dari sana.
Tempat tertutup, berupa gang kecil yang Danael lewati, tapi dirinya berhenti saat melihat tas Ladira yang tergeletak di aspal dan motor gadis itu yang terparkir tidak jauh dari sana.
...***...
"Nai, lo gak pulang?" Tanya Arsa, yang sengaja menghampiri Naira yang duduk sendiri di halte bus.
Naira yang tadi sedang melamun, langsung kaget saat kehadiran Arsa yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Kamu kapan di sini?" Tanya Naira.
"Baru aja. Jangan suka ngelamun Nai, gak baik. Gue tahu, lo pasti mikirin masalah yang tadi kan sama Danael," tebak Arsa dan dibalas anggukan dari Naira.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum tipis, "kelewatan gak sih, kalau aku ngambek terus sama El? Padahal kan manusia emang wajar kalau bisa lupa," lontar Naira.
Tatapan Arsa menerawang jauh ke depan, "gue gak tau. Tapi ingat yang gue bilang, kalau lo masih mau hubungan kalian masih tetap lanjut, cukup satu kata aja, yaitu pertahankan," jelas Arsa.
Kepala Naira menoleh melihat Arsa yang lurus menatap ke depan, "kamu paham banget kayaknya sama hubungan. Apa kalmu pernah pacaran atau lagi berusaha pertahankan seseorang?" Tanya Naira.
"Pertahanin seseorang, tapi belum bisa digapai." Arsa menoleh sehingga menatap kedua manik Naira. "Dan gak perlu tahu. Sekarang lo mau gak, makan eskrim bareng di taman. Katanya ada eskrim baru yang katanya enak banget di sana!" Ucap Arsa tersenyum manis.
Naira mengangguk dan juga memasang senyumannya. "Boleh, udah lama juga aku gak makan eskrim." Naira mengangguk dan segera menuju parkiran untuk menghampiri motor Arsa yang masih terparkir di parkiran bersama cowok itu.
Motor Arsa keluar dari gerbang SMA dan mjlai menelusuri jalan raya, sampai beberapa menit di perjalanan, Arsa dan Naira sudah sampai di taman.
"Rame juga ya sore-sore gini," Naira memperhatikan sekeliling yang dikunjungi banyak pengunjung.
"Ayok, kita beli eskrim," Arsa menarik lembut Langan Naira dan segera memesan eskrim yang mereka inginkan.
...***...
Pemandangan senja di sore hari, cukup menghangatkan hati Naira.
Mata indahnya terus menatap keindahan matahari yang berwarna jingga di langit, tapi mata Arsa memilih memandang pemandangan yang menurutnya lebih indah dari apapun yang ada sekarang. Hanya ada satu objek yang tidak akan pernah Arsa lewatkan.
Mata Naira yang terasa segar beberapa saat, harus melihat pemandangan yang tidak dia harapkan. Di seberang sana, dia dapat melihat dengan jelas seorang Danael berlaku sangat romantis kepada sahabat masa kecilnya yaitu Ladira.
Seperti layaknya orang yang menjalin hubungan romantis, Danael sesekali menyuapi Ladira eskrim yang juga pernah Naira rasakan beberapa menit yang lalu.
"Nai, kalau ada pemandangan yang enggak lo suka. Ingat, kata gue di halte bus tadi." Arsa menepuk pundak Naira pelan.
...***...
__ADS_1