Liveline

Liveline
Selingkuh


__ADS_3

Libur selama 2 minggu menjelang tahun baru, sudah ditetapkan sekolah SMA Madra Juga untuk murid-muridnya sejak kemarin.


Banyak yang memanfaatkan liburan mereka dengan berbagai kegiatan, maupun jalan-jalan bersama keluarga maupun teman-temannya. Berbeda dengan wanita muda yang satu ini. Setelah menikah, Ladira harus lebih bertanggung jawab untuk mengurus pekerjaan yang wajib dikerjakan, oleh seorang yang sudah menjadi istri.


Mulai dari membersihkan rumah, kamar, halaman rumah, mencuci pakaian dan banyak piring kotor yang diminta untuk segera dibersihkan. Pekerjaan yang melelahkan, tapi Ladira harus bisa terbiasa dengan itu semua.


Sejak pukul 05.00-08.00, semua pekerjaan mengenai kebersihan sudah Ladira urus. Sekarang wanita itu tengah memotong sayur-sayuran untuk dia masak nanti. Mungkin Gean akan kelaparan karena belum sempat sarapan tadi pagi.


Saat tengah tertidur nyenyak, tiba-tiba Gean ditelfon ayahnya, untuk segera pergi ke kantor. Karena Zayan yang masih ada di luar kota, tidak bisa mengurus beberapa berkas yang dia siapkan untuk meating. Sungguh dadakan, laki-laki itu harus mengganti ayahnya untuk meating bersama klien, karena sekretaris yang Zayan perintahkan, dikabarkan tengah berada di rumah sakit karena penyakitnya yang kambuh.


Untung saja Gean memiliki pengalaman di bidang perkantoran, jadi tidak masalah jika laki-laki itu ditugaskan dadakan oleh ayahnya.


Tangan Ladira mengaduk masakan yang dia buat, diiringi senandung kecil yang Ladira nyanyikan.


Grep


"Allahuakbar!" Pekik Ladira kaget. Dengan pisau yang dia ambil, tepat berada di depan wajah laki-laki yang tiba-tiba memeluk pinggangnya.


"Ini gue Ra. Lo mau bunuh suami lo ini!" Kesal Gean, sambil menaruh kembali pisau dapur dari tangan Ladira ke tempat semula.


Wajah syok Ladira masih terlihat. Wanita itu langsung mencubit gemas pinggang Gean, membuat laki-laki itu memekik kesakitan.


"Ngapain peluk tiba-tiba? Gue kaget setengah mati. Kan gue kita maling masuk!" Kesal Ladira.


Gean terkekeh melihat wajah garang yang dia lihat sangat menggemaskan. "Iya maaf, sayang."


Sayang? Apakah Ladira tidak salah dengar? Pipi wanita itu bersemu merah. Dia mati-matian menahan senyum saat Gean masih menatapnya.


"Apaan sih, gak usah sok romantis. Gak mempan," ucap Ladira, mendorong Gean agar menjauh darinya. Wanita itu kembali berbalik, menyelesaikan masakan-masakan yang sebentar lagi hampir matang.


Kembali. Tangan Gean menyelip dan melingkar di pinggang Ladira, dengan hidung yang dia duselkan pada lipatan leher istrinya, membuat Ladira bergerak kegelian.


"Gue masak Ge, jangan ganggu dulu," ucap Ladira.


"Gini aja sampai selesai masaknya," jawab Gean yang sudah terlanjur nyaman, menghirup aroma khas Ladira, apalagi wanita itu tengah berkeringat.

__ADS_1


Ladira berdecak sebal, dia sedikit terganggu karena merasa geli. Apalagi Gean tidak bisa diam. Sudah cukup lehernya yang Gean serang, dan itu bekum cukup, karena tangannya yang sudah merambat tidak jelas membuat Ladira beberapa kali menegur Gean agar tidak mengganggunya berlebihan.


"Gue belum mandi, jangan dekat-dekat. Pasti bau." Ladira mencoba mendorong kepala Gean agar sedikit lepas darinya, tapi masih saja Gean terlalu teguh kepada pendirian.


"Ck, lo harum setiap saat. Jadi jangan banyak omel," kesal Gean, saat Ladira mengganggu aktivitasnya.


Ting...tong


"Ada tamu. Sana cepetan lihat." Dengan wajah lesu, Gean mengumpat dalam hati, orang yang mengganggu waktu berdua dengan istrinya. Laki-laki itu melangkah gontai dengan Ladira yang terkekeh melihat kelakuan Gean, yang mirip seperti anak kecil.


Beberapa menit masakan Ladira sudah selesai, wanita itu pergi dan mengintip tamu yang datang. Ternyata seorang wanita yang kemungkinan pegawai kantor, tengah berbicara mengenai berkas yang sedang berserakan di atas meja.


"Buat minum aja dulu ya," gumam Ladira, berlalu kembali menuju dapur, untuk membuat minuman.


Hingga beberapa menit kemudian Ladira sudah berjalan menuju ruang tamu, dengan membawa nampan.


"Silahkan diminum."


"Makasih," ucap Gean sekilas, tanpa melirik Ladira. Tangan Gean tengah sibuk di atas keyboard komputer.


Perempuan yang ada di sebelahnya tersenyum. Lumayan cantik, mungkin umurnya sekitaran 20 tahun ke atas.


"Oh, maaf saya tidak tahu. Tunggu saya buatkan yang lain," ucap Ladira yang kemudian kembali lagi menuju dapur, dengan membawa kembali segelas kopi yang dia buat.


Beberapa menit kemudian Ladira datang lagi, dengan segelas minuman baru. "Ini silahkan," ucap Ladira.


"Makasih mbak."


Ladira tersenyum paksa. Setua itukah dia, sampai harus dipanggil mbak.


"Auu, panas banget sih. Mbak gak bisa bikin yang hangat gak, ini terlalu panas!" Ucap perempuan itu, yang terdengar nada kesal pada suaranya.


"Heh, kalau mau yang hangat, buat sendiri!" Ucap Ladira yang terlampau kesal. Sungguh, perempuan ini tidak ada sopan santunnya sama sekali. Bisa saja kan berkomentar dengan nada lebih bersahabat.


Gean yang kaget akan kemarahan isterinya merasa takut. Bisa gawat jika Ladira sampai mengamuk.

__ADS_1


"Berani banget ya, pelayan nyolot gini. Ge, lo dapat dari mana sih model'an pelayan gila. Pecat aja!" Kesal perempuan itu.


"Pelayan lo bilang!" Geram Ladira, yang kemudian melirik name tag perempuan itu. "Pecat perempuan yang namanya Aisyah Sarania sekarang, kalau lo gak mau tidur di luar nanti malam," lanjut Ladira. Dengan tatapan tajam kepada suaminya yang menggeleng tegas. Mana mau Gean tidur di luar.


Aisyah mendelik tajam ke arah Ladira, "heh, gak usah sok ngaku-ngaku jadi orang yang berkuasa sama Gean deh!"


Ladira terkekeh, "ini ya caranya panggil atasan langsung nama. Gak ada sopan santun."


"Sayang, udah ya jangan marah."


"Sayang? Ge, lo jangan ngaco deh. Dia pelayan kan?" Tanya Aisyah.


Gean merangkul Ladira, dengan mengusap pelan pundak istrinya. "Mulai sekarang anda saya pecat. Jangan sekali-kali menghina isteri saya," ucap Gean.


"Lo masih SMA, masa udah nikah?"


"Gak perlu ikut campur. Sekarang pergi, sebelum saya panggil satpam," ancam Gean. Dengan terpaksa Aisyah membereskan barang-barangnya, pergi dari sana dengan rasa kesal yang mengerubunginya.


Lenggang. Ruang tamu kini tersisa Gean dan Ladira.


"Say.."


"Diam! Gue mau nanya. Kenapa cewek tadi bisa seenaknya manggil lo dengan sebutan nama. Lo selingkuh kan?!" Tuding Ladira. Gean menggeleng tegas, mana mungkin dia bisa selingkuh.


Laki-laki itu menghela nafas, berusaha untuk tetap tenang menghadapi Ladira yang mulai agresif. "Cemburu?" Tanya Gean bermaksud membercandai, untuk mencairkan suasana hati Ladira yang sekarang sedang panas-panasnya.


"Gue serius. Kalau gini, berarti lo beneran selingkuh sama cewek tadi!" Geram Ladira. Dengan langkah cepat, wanita itu pergi menuju kamarnya dan Gean, yang berada di lantai dua.


"Lah, jangan marah Ra. Gue gak mau tidur di luar," rengek Gean yang tiba-tiba ingin menangis, saat Ladira berhasil menutup pintu dan menguncinya. Meninggalkan Gean yang menatap nanar pintu kamar yang sudah tertutup.


"Ra, bukain. Gue selingkuh beneran jangan nangis," ucap Gean.


"Selingkuh aja, gue gak perduli. Sekalian nikahin tuh cabe-cabean!" Jawab Ladira.


"Ra, maaf. Janji gak nakal lagi!"

__ADS_1


...***...


...See You...😉...


__ADS_2