
"Jangan berani-berani tidur di kasur gue kalau belum mandi!" amukan Ladira keluar begitu saja, saat mereka semua sudah sampai di rumahnya.
Malam itu, setelah sesi acara pernikahan selesai. Mereka semua memutuskan segera pulang ke rumah.
Mengingat status antara Ladira dan Gean adalah suami-istri. Gean diminta untuk bermalam satu hari di rumah Ladira, agar dapat membantu gadis itu bersiap-siap membawa barang-barangnya ke rumah yang sudah disediakan untuk mereka berdua.
"Sebentar. Lo gak kasihan, gue capek nyetir mobil. Mana habis acara langsung pulang," keluh dari mulut Gean keluar, saat cowok itu masih memejamkan matanya. Menikmati kasur empuk dan menghirup dalam-dalam, aroma khas Ladira yang harum menenangkan dirinya.
"Bisa kan, pindah ke sofa atau ke kamar tamu?" Tanya Ladira.
"Sofa kecil begitu. Mana muat," jawab Gean. "Lagian lo lupa? Kalau mama bisa marah kalau gue milih tidur di ruang tamu."
Gadis itu menggeleng tegas, "ada matras di sebelah lemari, lo pakai itu. Gue gak suka sampai kasur gue bau keringat lo!" Gean langsung membuka matanya dan berhadapan dengan Ladira yang berdiri di sisi kasur sebelahnya.
"Iya nanti," jawab Gean santai. Kembali memejamkan matanya.
"BANGUN GE!" teriak Ladira terlampau kesal. Tenaganya dia keluarkan, sehingga berhasil mendorong tubuh Gean yang terguling dan jatuh menghantam lantai.
Gean meringis pelan menyentuh bahu dan pinggangnya. Karena serangan tiba-tiba itu, Gean sama sekali belum sempat untuk bangun dan menghindar. Membuatnya terjatuh bebas dari atas ranjang.
"Rasain," ucap Ladira sinis. Dia mengambil handuk dan segera pergi menuju kamar mandi, meninggalkan Gean yang menggerutu kesal.
"Baru sehari, udah KDRT"
...***...
Makan malam hari ini, hanya ditemani oleh dentingan sendok yang memenuhi ruang makan keluarga Ladira.
Meja makan yang diisi oleh 5 orang manusia yaitu Gean, Ladira, Raska dan kedua orang tua Gean yaitu Zayan dan Winda. Sedangkan adik Gean sudah tertidur pulas di dalam kamar.
Sama sekali tidak ada yang membuka pembicaraan. Disaat Ladira ingin mengatakan sesuatu, ayahnya sudah melayangkan tatapan tajam agar gadis itu tidak membuat suara sama sekali di meja makan, selain alunan sendok dan garpu yang bertemu dengan piring.
Sebagai keluarga terhormat, Raska selalu ingin yang sempurna.
"Saya permisi," ucap Raska menutup makan malamnya lalu beranjak pergi dari ruang makan, disusul Zayan yang juga telah selesai.
Ladira menghela nafas bersamaan dengan Gean. Hal itu membuat Winda mengangkat sebelah alisnya bingung, "Kelian kenapa?" Tanya Winda.
"Mama tahu kan, Gean capek terlalu formal. Punggung harus tegak, mau patah rasanya," keluh Gean yang akhirnya bisa bersandar di kursi.
__ADS_1
Mata Ladira menatap sebentar Gean. Ternyata kehidupannya sebagai keluarga formal memang sama dengan Gean, tapi laki-laki itu masih sangat beruntung karena masih memiliki seorang ibu yang perhatian dan penyayang.
"Ra, kamu kenapa nak?" Tanya Winda.
"Gak papa. Cuma kangen mama aja," lirih Ladira di akhir kalimatnya yang hampir tidak terdengar.
Winda tersenyum, "mama kamu kan sudah tenang di sana. Dan di sini kamu bisa anggap mama sebagai mama kamu juga. Gak boleh sedih. Oke!"
Ladira mengangguk dan kembali tersenyum tipis.
"Nah, gitu dong baru anak mama. Harus senyum!" Winda tersenyum lebar sambil mencubit pelan pipi Ladira yang berisi.
Gean hanya tersenyum-senyum tipis melihat interaksi kedua perempuan di depannya.
...***...
"Ge, lo boleh tidur di sini," ucap Ladira yang dari tadi memainkan handphonenya. Sampai Gean yang datang dari kamar mandi.
Langkah Gean terhenti di sisi ranjang, "hah," beo nya, dengan alis yang bertaut, tanda dia masih bingung dengan apa yang dimaksud Ladira.
"Lo boleh tidur di kasur juga, tapi jangan macem-macem," jelas Ladira dengan berusaha sabar.
"Gak usah nolak bisa gak. Gue ikhlas kok kalau lo tidur di sebelah gue, asal jaga jarak. Lagian 1 tahun gak akan lama, dan kita bisa pisah kan!" lontar Ladira panjang lebar.
Beberapa kalimat yang Ladira ucapkan, membuat Gean terdiam untuk mencernanya.
"Ayo cepetan, gue ngantuk. Gak akan bisa tidur kalau enggak dimatiin lampu," Ladira mengendus kesal saat Gean masih diam di tempat.
"Kalau gitu, selama kita sama-sama. Lo harus terima gue ngelakuin apapun," lontar Gean, tanpa aba-aba melepas kaus putih yang dia kenakan beserta celana pendeknya yang dia gunakan sehari-hari.
Ladira melotot kaget dan mundur menuju sisi ranjang, saat melihat Gean yang hanya mengenakan boxer. Setelah itu, Gean menyelimuti tubuh di balik selimut putih milik Ladira.
"Gue gak bisa tidur pakai baju, gerah," jelas Gean singkat saat melihat Ladira yang terlihat ketakutan. "Tidur, gue gak akan makan lo," tambah Gean. Kalimat itu langsung membuat pikiran Ladira sempat negatif.
Dengan yakin, Ladira kembali ke tempatnya. Mulai berbaring di samping Gean yang memunggunginya.
5 menit berlalu, Ladira masih belum bisa tidur. Karena merasa tidak leluasa untuk bergerak, ditambah Gean yang dari tadi bergerak tidak nyaman.
Mata Ladira menangkap Gean di sebelahnya, dengan cahaya yang remang karena seluruh lampu yang selalu Ladira matikan.
__ADS_1
Dengan yakin, Ladira menggeser tubuhnya mendekati Gean lalu mengelus pelan dahi Gean yang sedikit berkeringat.
Karena keadaan yang masih belum tertidur, Gean menoleh dan mendapati Ladira begitu dekat di sebelahnya. "Kenapa? Bukannya lo gak mau dekat-dekat?"
"Gue gak bisa tidur gara lo gerak terus. Gue tahu dari mama, kalau lo gak akan bisa tidur kalau enggak dikelonin," jelas Ladira. "Kayak bayi," gumam Ladira pelan.
"Lo emangnya mau?" Tanya Gean.
"Ya gitu lah, kalau enggak mau, sampai besok gue gak akan bisa tidur gara-gara lo gak bisa diam," jawab Ladira.
Brug...
Ladira memekik pelan, saat Gean dengan tiba-tiba memeluk Ladira dan meletakkan kepalanya di atas dada Ladira dengan nyaman.
"T-tapi, bukan gini juga," lirih Ladira. Tapi sama sekali, Gean tidak perduli. Karena dirinya sudah terlanjur nyaman, dan menuntun tangan Ladira untuk mengelus pelan kepalanya.
Salah sendiri. Ladira yang duluan menawarkan.
...***...
Di ruangan yang serba putih, terdapat beberapa berkas yang menumpuk beserta sebuah bankar di ujung ruangan. Tidak lupa bau obat, yang khas di sebuah rumah sakit.
Mata Zeano membaca berulang kali kertas di tangannya, dirinya tidak percaya dengan apa kenyataan yang sedang terjadi sekarang.
"I-ini beneran dok?" Tanya Zeano lagi dan lagi.
Dokter tersebut mengangguk, "selama 2 hari, pasien harus dirawat inap. Untuk pemulihan sementara, karena kondisinya yang sedang lemah," jelas dokter. "Apakah orang tua pasien bisa dihubungi?"
Zeano menggeleng samar, "ayahnya sudah meninggal. Sedangkan ibunya mungkin tidak akan perduli," jelas Zeano singkat.
Dokter tersebut mengangguk, dia bisa memahami kondisi. "Baiklah, kalau begitu. Apakah kamu bisa saya percayakan untuk membantu Danael cuci darah?" Tanya dokter tersebut.
"Bisa dok. Apapun itu, asalkan Danael bisa sembuh. Lakukan yang terbaik," jawab Zeano.
Dirinya begitu tidak percaya, seorang sahabat lamanya yang selalu terlihat ceria. Menyimpan banyak luka batin dan sekarang, harus menerima luka baru.
Penyakit yang tidak disangka-sangka, harus hinggap di tubuh Danael. Dengan kemungkinan sedikit untuk bisa sembuh.
Penyakit gagal ginjal yang akan membuat Danael menerima banyak lika-liku di kehidupannya nanti. Entah sampai kapan...
__ADS_1
...***...