
Pagi ini, Ladira sedikit keget saat kamarnya didatangi oleh seorang wanita yang tidak dikenal. Tapi dari wajah dan senyumannya, Ladira dapat yakin kalau wanita itu baik.
"Pagi Ladira!" Sapa seorang wanita yang bisa Ladira tebak kalau wanita tersebut umurnya berkisaran 30 tahun ke atas.
Ladira segera bangkit dan berdiri si sisi ranjang, "maaf, tante siapa ya. Kok ada di kamar aku?" Tanya Ladira se sopan mungkin. Sebelum dia berkata kasar karena orang yang tidak dikenal malah berada di dalam kamarnya tanpa sepengetahuan Ladira.
Wanita itu mendekat, dan menggenggam tangan Ladira. "Calon mertua kamu," ucap wanita itu tersenyum lembut.
Sontak Ladira terdiam saat mendengar kalimat tersebut, "tante, mamanya Gean?" Tanya Ladira memastikan. Wanita itu mengangguk dan menuntun Ladira untuk kembali duduk di sisi ranjang.
"Gean bilang, dia udah tahu kalau kamu calon istrinya, dan kamu juga tahu kalau kamu akan dinikahkan dengan anak saya," ucap wanita itu dan diangguki oleh Ladira.
Ladira menoleh melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.15. "Maaf tante, saya mau berangkat sekolah dulu." Ucap Ladira.
"Kamu dan Gean sudah diberi izin kepada guru untuk tidak sekolah selama 3 hari. Karena hari ini kita akan persiapan buat acara pernikahan besok," ucap mama Gean.
Menikah? Apakah Ladira harus menerima pernikahan itu dengan sepenuh hatinya. Seandainya bisa, maka Ladira akan lebih memilih menentang pernikahan tersebut. Tapi hal itu tidak mungkin, saat Gean berhasil membuatnya terjerat lebih dalam menuju hubungan mereka yang akan diadakan besok.
Setelah mendengar penjelasan Gean tentang ibunya yang sering sakit-sakitan, membuat Ladira tidak tega jika keinginan seorang ibu bernama Winda, harus ditolak.
Ibunya sangat ingin melihat Gean menikah dan hidup bahagia di dalam keluarga kecilnya. Itu yang Winda inginkan.
"Nak, kenapa kamu ngelamun? Apa kamu gak setuju untuk menikah dengan anak saya?" Tanyanya. Ladira mendongak dan menggeleng cepat, "Dira terima kok tan!" Jawab Ladira spontan.
Winda tersenyum tipis, lalu mengelus pelan rambut Ladira dan memeluknya.
Pelukan yang hangat, membuat Ladira kembali mengingat sosok ibu yang begitu dia rindukan. Setelah ibunya meninggal di usia Ladira yang menginjak 6 tahun, gadis itu sama sekali tidak pernah dipeluk sehangat ini oleh sosok seorang ibu.
"Tante, gimana kalau aku gak bisa jadi istri yang baik buat anak tante?" Tanya Ladira pelan, dan masih berada di dalam pelukan Winda
__ADS_1
"Gak ada yang mustahil nak, kalau memang ini jalan yang harus kamu tempuh. Jalani dengan sebaik-baiknya, karena setiap rintangan pasti ada jalan dan hikmah," nasihat Winda.
"Gimana kalau aku gak bisa membuka hati buat Gean? Apa sebuah jalan akan terus menuntun aku buat Gean bisa nempatin posisi seseorang yang aku sayang sejak lama. Apa ada satu hal berupa anugrah yang akan buat kami dekat?" Batin Ladira bertanya.
...***...
Di sebuah butik, dia remaja yang tidak henti-hentinya meributkan masalah gaun apa yang akan mereka pilih.
"Ra, jangan yang itu. Lo gak lihat itu terlalu terbuka. Masih SMA juga, masa pakai gituan," omel Gean, lalu mendorong paksa Ladira kembali ke dalam bilik ganti.
Sejujurnya Gean akui kalau Ladira sangat cantik jika berpenampilan feminim, berbanding terbalik dengan seorang Ladira yang selalu berpenampilan bergaya tomboi setiap hari.
"Ih, jangan dorong-dorongan. Gue susah jalan kalau pakai gaun." Rengek Ladira. Sampai tidak menyedari dirinya tidak sengaja menginjak gaun yang panjang itu, dan jatuh.
Gean yang kaget, refleks menarik Ladira ke dalam dekapannya. Tapi tetap saja punggung Ladira menghantam keras lantai dan hanya kepalanya yang berhasil Gean lindungi.
Seolah rasa sakit itu tidak terasa, Ladira hanya diam saat matanya bertemu dengan Gean dengan jarak yang sangat dekat. Dirinya dapat merasakan hembusan nafas Gean yang menerpa wajahnya lembut, bau mint membuat Ladira merasa tenang.
Gean yang mulanya berada di atas Ladira, langsung bangkit dari sana sebelum mamanya akan mengamuk.
"Kakak, tapi ngapain ma?" Tanya adik Gean yang kebetulan juga ikut bersama mereka menuju butik untuk mencari gaun yang bagus untuk resepsi besok.
"Kakak gak ngapa-ngapain kok. Sekarang Lian main dulu sama bi Siti ya, supaya nanti kita mampir ke toko mainan," bujuk Winda kepada putra bungsunya yang berumur kisaran 4 tahun, bernama Lian Arzani.
Setelah Lian benar-benar pergi bersama asisten rumah tangga mereka, Winda menghampiri Gean dan Ladira. Karena rasa kesalnya yang masih ada, Winda menarik telinga kiri Gean. Hal itu membuat Gean memekik kesakitan dan Ladira yang hanya meringis pelan, membayangkan betapa sakitnya jeweran Winda.
"Mah...mah, udah. Jangan ditarik terus, nanti telinga aku bisa copot," pekik Gean saat tangan Winda semakin kuat menarik telinga Gean yang sudah memerah.
"Ngapain kamu pakai tindih-tindih calon mantu mama. Ingat ya, kamu belum disah kan. Jadi jangan nyosor sembarangan. Mana di tempat umum lagi. Emangnya gak bisa sabar buat nunggu besok," omel Winda lalu menarik tangannya kembali, dan meninggalkan jajak kemerahan di telinga Gean.
__ADS_1
Gean menghembuskan nafasnya kasar, sambil mengusap telinganya yang berdenyut. "Mama jangan negatif dulu dong, tadi Ladira jatuh makanya aku tolongin. Tapi gak tahu juga, kalau sampai Gean juga jatuh bareng," jelas Gean singkat.
"Beneran nak?" Tanya Winda kepada Ladira.
Ladira hanya mengangguk.
"Oke kalau gitua mama percaya," ucap Winda mengangguk. "oh iya, gaunnya udah dapat yang bagus?" Tanya Winda.
"Belum tan, soalnya Gean selalu bilang gaunnya gak cocok. Aku harus ganti-ganti terus dari tadi," jelas Ladira, dengan raut wajah lelahnya.
Winda memperhatikan penampilan Ladira dengan gaun yang sedang gadis itu kenakan, "ini udah bagus banget loh, kamu malah cantik banget. Yakin mau di ganti-ganti?" Tanya Winda menunjuk gaun yang Ladira sedang kenakan.
"Ganti aja. Gak malu apa? Bahunya kebuka gitu, mana bagian dadanya," koreksi Gean, dengan memelankan suara di kalimat akhir.
Ladira sontak menunduk, bahwa benar apa yang Gean katakan, kalau gaun yang tengah dia kenakan cukup terbuka. "Trus gimana? Aku capek ganti-ganti. Mana gaunnya berat," keluh Ladira.
Winda tersenyum, "ya udah, biar mama aja yang cari gaun cocok buat kamu. Sekarang ganti baju dulu, habis itu kalian ajak Lian ya buat ke toko mainan sebentar. Habis itu langsung pulang," perintah Winda kepada Gean dan Ladira.
"Iya," jawab Gean lalu menghempaskan kembali tubuhnya ke atas sofa.
"Ngapain kamu duduk?" Tanya Winda kepada Gean.
"Bukannya aku nunggu Ladira ganti baju dulu. Apa mama mau aku masuk dan bantuin Ladira buat lepas bajunya?" Tanya Gean dengan nada sedikit kesal.
Ladira menggeleng,"enggak," ucapnya lalu segera berjalan menuju bilik ganti.
Winda hanya menggeleng pelan, lalu pergi dari sana untuk menghampiri pemilik butik supaya bisa membantunya untuk memilihkan gaun dan setelan jas yang tepat untuk calon menantu dan anaknya.
...***...
__ADS_1
...See you next...