Liveline

Liveline
Pindah


__ADS_3

Cahaya matahari yang menembus di sela-sela jendela, membuat Ladira terbangun saat cahaya tersebut menyapa penglihatannya.


Tubuhnya begitu berat, membuat Ladira menunduk dan mendapati tangan Gean melingkar di pinggangnya dan perut Ladira dia jadikan bantal.


Brug...


Gean langsung membuka matanya lebar, saat tubuhnya terguling bebas dan jatuh di atas lantai. "Kenapa lo dorong Ra? Lo setega itu sama suami sendiri," ucap Gean kesal, lalu meraih kembali pakaiannya semalam dan mengenakannya kembali.


"Jadi suami aja belagu. Ingat ya, kita cuma sekedar dijodohin. Jadi, selama 1 tahun, gue akan berusaha laksanakan tugas jadi seorang istri sebaik mungkin, dan lo jangan anggap kalau gue terima sama pernikahan kita." Penjelasan yang cukup membuat Gean terdiam sesaat, menatap gadis itu yang mengalihkan pandangannya menuju arah jendela yang masih tertutup oleh gorden.


Tangan Gean terkepal kuat, berusaha untuk tidak terpancing emosi. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Gean berlalu dari sana menuju kamar mandi. Sampai Gean selesai dan menuju keluar kamar, barulah Ladira beranjak dari atas ranjang.


Beberapa menit lalu, dia terpikir akan kata-kata yang tadi dia katakan. "Apa gue terlalu berlebihan," ucap Ladira pelan. Mengambil beberapa helai pakaian dan handuk, lalu membawanya menuju kamar mandi.


...***...


Dentingan sendok dan garpu yang lagi dan lagi, hanya menemani acara sarapan mereka pagi ini. Tidak ada sama-sama sekali candaan atau obrolan ringan di antara mereka berlima.


Hanya ada bisnis dan bisnis, yang mereka perbincangkan.


Tentunya itu membuat Gean, Ladira dan Winda merasa bosan mendengarkan itu semua. Sampai akhirnya, kebosanan itu berlalu beberapa menit, setelah kedua pakar bisnis tersebut meninggalkan meja makan.


Hembusan nafas lega dari mereka bertiga, akhirnya bisa duduk bersandar setelah sekian lama menahan badan agar tetap tegak.


"Gimana kalian siap kan pindah hari ini?" Tanya Winda menatap kedua pengantin baru di depannya.


Gean hanya berdehem dan mengangguk, sebagai respon.


"Nak. Kalau kamu belum bisa pindah sekarang, kalian bisa dulu tinggal di sini sampai kamu siap buat pindah," kepala Ladira mendongak, saat Winda mengatakan itu kepadanya.


"Aku siap kok pindah sekarang," jawab Ladira.


"Yasudah, kalau kalian siap. Nanti habis makan, kamu beres-beres barang. Gean akan bantu," jelas Winda.


Ladira mengangguk dan melanjutkan sarapannya. Gean hanya iya-iya saja, bagaimanapun dia menolak, pasti mamanya akan terus memaksa.


...***...


Setelah sarapan pagi tadi, barang-barang yang Ladira dan Gean siapkan sudah diangkut ke dalam mobil. Mereka ingin pergi, tapi Ladira menahan agar mereka memastikan dulu. Apakah Danael dan Zeano akan melihatnya atau tidak. Dia takut, kalau pernikahannya akan diketahui oleh mereka.


Dengan cepat, ayah Ladira memerintahkan 2 orang bodyguardnya untuk memeriksa.


Mereka mengatakan, kalau tidak ada siapapun di rumah Danael, dan di rumah Zeano, pembantunya mengatakan orang tuanya pergi ke luar kota, dan Zeano tidak pulang dari kemarin sampai sekarang.


Ladira merasa lega. Tapi dalam hatinya, dia menghawatirkan Danael. Entah kenapa laki-laki itu memasuki mimpinya tadi malam, dan mengatakan kalau dia kecewa kepada Ladira yang meninggalkan dirinya entah karena apa. Oleh karena itu, mood Ladira menjadi buruk tadi pagi.


Melihat Gean yang begitu nyaman memeluknya. Sehingga bayang-bayang tentang Danael menghantuinya dan berkata kecewa pada Ladira.

__ADS_1


"Pah. Ladira pamit," ucapnya sambil menjulurkan tangan, tanda berpamitan.


Dengan terpaksa ayahnya harus menerima, karena di sana ada keluarga Gean yang melihat.


Ladira menutup mata, menahan diri agar bisa tegar. Ayahnya seperti tidak perduli jika putri satu-satunya akan meninggalkan rumah ini, ingin sekali Ladira memutar waktu beberapa tahun lalu, di mana dia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga, walaupun sebentar.


"Aku pamit ya, papa jaga kesehatan. Kalau bisa, mampir ya buat ketemu Ladira sebentar," pinta Ladira dengan senyum yang berusaha dia terbitkan, karena sebenarnya senyum itu ingin dikalahkan oleh tangisnya.


Ayahnya hanya mengangguk sekilas, tanpa ada minat sekalipun untuk menjawab dengan baik.


Tangan Gean menyentuh pundak Ladira, dia tahu kalau gadis itu pasti mati-matian menahan dirinya agar tetap terlihat tegar.


"Ayo nak, kita berangkat," Winda menghampiri Ladira dan menariknya pelan menuju mobil.


Sebelum memasuki mobil, Ladira menoleh sebentar. Rumah yang akan dia rindukan, di mana tempat itu adalah tempat dirinya bertumbuh menjadi gadis yang dewasa.


Melihat ayahnya yang hanya berdiri di teras rumah, membuatnya tidak ingin meninggalkan rumahnya. Dia sangat rindu menjadi putri ayahnya.


Walaupun di sana, Ladira selalu menangis dan tersakiti. Tapi, Ladira selalu menganggap itu adalah sebuah kasih sayang yang ayahnya tunjukkan, walaupun kasar.


"Ayo nak," Winda kembali menepuk pelan bahu Ladira, agar gadis itu segera memasuki mobil Gean.


Ladira hanya bersandar dan menatap lurus pemandangan kota melalui jendela. Batin Gean berkata, agar tidak mengganggu gadis itu dulu.


Sampai akhirnya mobil mereka sampai di depan sebuah rumah yang terbilang mewah, hanya untuk ditinggali oleh mereka berdua.


Mereka berdua sudah disambut oleh ayah dan ibu Gean yang sudah sampai terlebih dahulu, mereka yang duduk di sofa ruang menunggu kedatangan Ladira dan Gean.


"Gean, apa kamu siap untuk bekerja?" Tanya ayahnya langsung, saat Gean baru mendaratkan bokongnya di sofa.


"Gean ada usaha sendiri, biar Gean berkembang sediri," jawabnya.


"Cafe kamu itu, tidak ada kemajuannya sama sekali. Lebih baik, kamu meneruskan bisnis papa," paksa ayahnya.


"Pah, biar Gean bertindak sendiri dulu. Supaya dia mandiri," jelas Winda, yang tidak suka dengan paksaan suaminya.


"Baiklah, kalau itu mau kamu. Tapi jika kafe kamu bangkrut, kamu harus bekerja di perusahaan papa," lontar ayahnya lalu berlalu pergi. "Kita pulang sekarang," ucapnya lalu berlalu keluar.


"Kita pulang dulu ya, jangan diambil hati omongan papa. Sekarang kalian istirahat, oke," Winda tersenyum.


"Iya ma," jawab Gean dan Ladira kompak.


Winda pun pergi dari sana, menghampiri suaminya yang sudah berada di dalam mobil, menunggu.


...***...


Hening, tenang. Suasana malam yang lumayan dingin yang menyentuh kulit, membuat Ladira harus melilitkan tubuhnya dengan sebuah selimut tebal.

__ADS_1


Ya, Ladira sedang duduk di sebuah kursi yang mampu menampung tiga orang di atasnya. Memandang indahnya pemandangan kota yang terlihat dari sana, memusatkan perhatian Ladira untuk bersantai di sana.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.....tutt.


Beberapa kali, Ladira berusaha menelfon Danael. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak ada responnya.


Matanya tertuju menatap butiran bintang yang berhambur di langit. Begitu banyak, sehingga Ladira tidak bisa menghitungnya.


Di sebuah titik bintang yang paling terang, Ladira menganggap itu adalah ibunya. Dia mengingat disaat Danael berkata.


"Jangan sedih, mama lihat kamu dari atas sana. Sama kayak papa, mereka ada di bintang yang paling terang. Jadiin, mereka semangat dan tempat kamu curhat dalam hati. Ingat ya, Dira jangan nangis."


Tapi Ladira melanggar kalimat itu. Dia menangis dalam diam, menahan suara agar tidak membangunkan Gean yang sudah tidur pulas di dalam kamar.


"Mah, Dira belum siap. Dira mau putar ulang waktu, Dira pengen ketemu mama lagi," lirihnya pelan, hampir berbisik.


Dug...


Bahu Ladira menegang saat sebuah tangan menyentuh bahunya.


Dengan cepat Ladira menghapus jejak air mata di pipi. Mengetahui kalau yang datang itu adalah Gean.


Belum selesai Ladira menghapus jejak air mata di pipinya, Gean sudah terlebih dahulu menghapusnya saat duduk di sebelah Ladira.


"Nangis Ra, gue belum pernah lihat lo lepasin beban lewat nangis di depan gue," ucap Gean, yang membuat Ladira hampir ingin menangis kembali, tapi dia tahan.


"Lo suka kan kalau gue nangis," Ladira memalingkan pandangannya.


Gean menyamankan posisi duduknya, dan tampa seizin Ladira, dia menarik pelan kepala gadis itu ke dalam dekapannya.


"Gue juga suka lihat bintang Ra, gue kangen sama kakak. Dia sudah bahagia di sana," ucap Gean, yang membuat Ladira awalnya ingin berontak kembali terdiam.


"Kakak?" Tanya Ladira.


Gean mengangguk, "gue sayang sama dia, tapi sebelum dia pergi. Kakak pernah bilang, supaya gue enggak perlu sedih. Karena dia gak suka kalau gue harus nangis."


Mata Ladira memanas, tali rasa gengsinya masih terlalu besar. Membuat Ladira mengigit kuat bibirnya.


"Tapi kalau memang enggak kuat buat nahan beban itu, kita nangis aja Ra. Karena dengan itu, kita bisa tenang," tambah Gean.


Detik itu juga, bahu Ladira bergetar di sambut isak pelan dari bibirnya.


Ya, Ladira menangis. Dia tidak bisa menahan itu terlalu lama.


"Nangis sepuas lo Ra, jangan di tahan untuk hari ini"


"Mah, Dira kangen"

__ADS_1


...***...


__ADS_2