Liveline

Liveline
Sepeda dan Anak-anak


__ADS_3

Roda sepeda berputar dengan santai sesuai dengan kayuhan pedal yang digerakkan oleh kaki penggunaannya. Ladira bersenandung kecil sambil memandang indahnya pemandangan sore di taman kota. Lumayan banyak pengunjung di sana, mengisi suasana sore menjadi lebih ramai.


"Hai Ra!" Sapa Danael. Laki-laki itu berhasil mensejajarkan sepedanya di samping Ladira yang mengayuh pelan.


Ladira yang sedikit kaget pun segera menghentikan sepedanya mendadak. Begitupun Danael yang juga ikut berhenti, dengan cengiran tak berdosa, setelah mengagetkan Ladira.


"Ih, kok ngagetin sih? Aku hampir jatuh tau!" Kesal Ladira menatap Danael yang mendekatinya.


Janji untuk jalan-jalan dengan sepeda sore ini akhirnya Ladira kabulkan, karena Gean mengizinkan. Lagi pula Ladira juga harus bisa meyakinkan Danael untuk bisa melepaskannya perlahan, walaupun itu sulit. Sama dengan Gean saat ini, laki-laki itu juga berusaha untuk membatalkan pertunangannya dengan Laras secepat mungkin.


"Iya maaf Ra," jawab Danael yang tersenyum manis sambil mengelus pelan rambut Ladira. Huh, bagaimana Ladira bisa menahan diri untuk tidak tenggelam dalam senyuman itu. Rasa yang masih sama sejak dulu tertanam di dalam hatinya, masih tetap bertahan, walaupun ada sedikit bagian sudah ditanam oleh seseorang yang baru-baru ini Ladira akui betapa tulus suaminya itu padanya.


Jika begini, Ladira akan merasa sangat bersalah kepada Danael. Bagaimanapun dia sudah menikah, dan jika Ladira membuat Danael jatuh sangat dalam kepadanya, bagaimana perasaan Danael saat mengetahui kalau gadis bernama Ladira sudah berubah status menjadi wanita milik Gean seutuhnya. Kejadian semalam sudah berhasil membuat Ladira terikat jauh pada suaminya itu.


"Woi, ngelamun apa sih?" Lamunan Ladira langsung buyar saat Danael menjentikkan jarinya di depan wajah Ladira.


Wanita itu tersentak pelan, lalu menggeleng pelan. "Um, kita jalan aja yuk. Ini juga udah sore banget, supaya pulangnya jangan kemalaman," ucap Ladira mengalihkan pembicaraan.


Danael mengangguk, "oke, let's go!"


Sore ini keduanya sungguh menikmati betapa indahnya warna langit yang jingga, dengan keramaian orang yang berlalu-lalang di jalan. Sangat jarang mereka menemukan betapa indahnya hari di sore ini, pemandangan yang sangat langka tentunya.


Sudah hampir setengah jam mereka mengayuh sepeda dengan sangat lambat, tentunya Ladira sudah mempersiapkan alasan kenapa dirinya tidak bisa mengayuh sepeda dengan cepat. Sekarang sepeda itu berhenti di pinggir jalan, tempat pedagang kaki lima yang merupakan penjual sate langganan Ladira dan Danael sejak dulu.


"Halo mang Amad!" Sapa Ladira dengan girang, sepada penjual sate itu.


Merasa nama panggilannya disebut, pedagang sate yang kerap disapa mang Amad itu menoleh. Senyumnya mengembang saat melihat kedua remaja di depannya sekarang.


"Wah, den Eel sama neng Dira datang. Udah lama gak ketemu, makin beda aja sekarang," ucap mang Amad yang menghampiri Ladira dan Danael setelah menyajikan sate pesanan pelanggannya.


Danael dan Ladira duduk di sebuah kursi yang disediakan, disusul mang Amad yang juga ikut duduk di depan mereka.


"Apa yang beda mang?" Tanya Danael, terkekeh pelan.


"Banyak, gak bisa disebutin satu-satu. Pastinya neng Dira tambah gemuk dikit dan den Eel, sakit ya?" Tanya mang Amad meneliti perubahan yang ada pada diri Danael.

__ADS_1


Laki-laki itu terkekeh, mengundang berbagai tanda tanya pada Ladira. Benar yang mang Amad katakan. Danael sekarang terlihat sedikit kurus, dengan wajah yang agak pucat, tidak secerah Danael yang dulu.


"Bisalah mang, kan sekarang sekolah makin sibuk. El juga kurang istirahat aja, makanya suka sakit. Tapi gak parah, palingan cuma demam sebentar habis itu sebuh." Hanya itu yang dapat Danael katakan. Sebuah alibi yang entah bisa orang percaya atau tidak, yang pasti Danael tidak ingin membuat orang sekitarnya tahu, apalagi mengkhawatirkan Danael berlebihan, yang membuat orang itu akan melupakan diri sendiri karena khawatir padanya.


Mang Amad menganggukkan kepalanya, "ini juga lagi musim orang sakit-sakitan, jadi kalian harus jaga kesehatan. Kalau sakit, langsung ke dokter aja supaya bisa cepat sembuh. Tapi ingat, kalau kita rajin-rajin ibadah dan berdoa, Allah akan selalu lindungi kita," nasihat mang Amad.


Ladira dan Danael mengangguk, menanggapi setiap perkataan mang Amad sebagai pelajaran untuk mereka.


"Mang, dua porsi kayak biasa. Oh iya, jangan lupa bungkus 10 porsi ya," pesan Danael.


"10 porsi buat siapa?" Tanya Ladira heran.


"Buat anak-anak."


...***...


"Ini kok banyak banget makanannya, buat siapa sih El?" Tanya Ladira heran. Karena sehabis mereka makan di pangkalan mang Amad, tiba-tiba saja Danael meminta untuk berhenti di supermarket. Sekarang, dua keranjang yang mereka bawa sudah hampir penuh oleh berbagai macam jenis kue dan minuman.


Danael lagi-lagi tersenyum dan menarik lengan Ladira untuk mengikutinya menuju kasir, untuk membayar semua belanjaan mereka.


Semua belanjaan mereka sudah dibayar semua, keduanya mengayuh sepeda dengan banyak belanjaan yang dibawa menuju arah jalan perkotaan yang ramai dengan kendaraan.


Jembatan besar yang menjadi tujuan Danael, sepeda mereka berjalan menuju ke sebuah jalan yang menuju bawah jembatan. Danael menghentikan sepeda dan kemudian berjalan dengan menenteng belanjaan mereka bersama Ladira.


Ladira memperhatikan keadaan di bawah jembatan itu. Lumayan sunyi, tapi saat mereka masuk lebih jauh, ada empat orang anak yang sedang duduk berkeliling di atas alas kardus yang mereka duduki.


"Wih, rajin belajar nih!" Ucap Danael, mengagetkan kumpulan anak-anak yang mungkin sedang membaca sebuah buku cerita, yang dipegang salah-satu temannya.


"Yey, abang El datang!" Seru Aldo, langsung berhambur ke dalam pelukan Danael, disusul 3 orang temannya.


"Danu mana?" Tanya Danael, setelah menyadari kalau salah satu anak tidak ada di sana. Biasanya mereka selalu ber-lima. Ada dua laki-laki dan tiga perempuan.


Yani menunjuk ke sebuah pojokan tembok. Terdapat seorang anak laki-laki yang meringkuk dengan tatapan sendu ke arah aliran sungai di bawah jembatan itu.


"Nah, kalian kenalin. Ini kakak Ladira, kalian bisa main di sini sama kakaknya ya," seru Danael memperkenalkan Ladira yang juga tersenyum kepada anak-anak yang dia kira berusia sekitar 5 tahun. "Ra, main sama mereka sebentar. Bagi'in makanan tadi," ucap Danael, menepuk pundak Ladira.

__ADS_1


Kaki Danael melangkah menghampiri anak yang bernama Danu. Dia duduk di samping Danu yang ternyata sedang menangis tanpa suara.


Perlahan Danael merangkulnya. Danael tahu kesedihan itu. Tepat satu minggu yang lalu, Danu harus ditinggalkan lagi oleh ibunya yang terlah meninggal karena penyakit yang wanita itu derita. Sekarang Danu benar-benar sedih, dia sudah ditinggalkan kedua orang tuanya di usia yang masih kecil, belum mengenal kedewasaan dan ditinggalkan di dunia yang penuh kekerasan.


Danael tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang Danu alami. Ditinggalkan dengan keadaan yang seperti ini.


"Danu udah makan?" Tanya Danael.


Anak itu menggeleng.


"Kita makan bareng yuk, sama teman-teman," ucap Danael kembali.


"Mamah sama papah belum makan kak, Danu gak mau makan kalau mereka belum makan juga," jawabnya. Hati Danael terasa disayat saat mendengar penuturan anak itu. Betapa besar cinta kepada orang tuanya.


"Mereka udah tenang. Kalau kamu nangis terus kayak gini, mamah sama papah juga ikutan sedih. Kamu mau mereka sedih juga?" Tanya Danael, membuat anak itu menggeleng.


Danael tersenyum, "ya udah, kalau gak mau mereka sedih, Danu harus makan. Supaya Danu tetap sehat, dan bisa jadi anak hebat. Oke!" Ucap Danael dengan semangat.


"Oke," balas Danu yang akhirnya bisa tersenyum kembali.


Keduanya berjalan menghampiri Ladira yang sedang menemani anak-anak itu makan. Ladira tengah sibuk membacakan isi cerita dari buku yang anak-anak itu pegang tadi. Ternyata mereka hanya bisa menerka isi cerita melalui gambar, karena mereka tidak bisa membaca. Akhirnya Ladira memutuskan untuk membaca cerita yang ada di dalam buku itu.


"Wah, dengar cerita apa nih?" Tanya Danael yang ikut bergabung bersama Danu.


"Cerita kura-kura!" Jawab anak-anak itu kompak.


"Hai Danu, nama kakak Ladira, bisa di panggil Dira" ucap Ladira saat Danu memperhatikannya dari tadi. Mungkin anak itu heran karena kedatangan seseorang yang baru.


Danu menatap Danael dan tersenyum, "pacar kak El?" Tanya Danu menatap Danael yang mengangguk.


"Kak Dira harus sayang sama kak El ya." Ucap Danu.


Ladira hanya tersenyum dan mengangguk. Kalimat anak itu sungguh, semakin memberatkan Ladira untuk tidak melepaskan Danael.


...***...

__ADS_1


...See You...😉...


__ADS_2