
Sebuah tenda yang menjadi tempat ruang guru, diisi oleh 5 orang di dalamnya. Gean, Arsa, Ladira, pak Indra dan bu Sisi selaku guru BK yang juga mengikuti kegiatan perkemahan.
"Sebagai ketua OSIS, apakah perilaku tadi baik untuk dicontohkan?"
Gean menunduk, dia merasakan kepalanya bertambah pusing sekarang. Kondisi tubuhnya yang masih lemah, ditambah beban pikiran yang membuat Gean hampir putus asa menjalaninya. Pertanyaan bu Sisi membuatnya menyesali perbuatan yang terburu-buru untuk mengambil keputusan melalui kekerasan, seharusnya sebagai ketua OSIS, Gean harus berfikir terlebih dahulu, bahwa setiap masalah pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik. Tapi dia juga manusia normal, hal lumrah sering terjadi di kalangan remaja yang kebanyakan mengambil jalur kekerasan, apalagi masalah itu menyangkut harga diri orang yang berharga untuk mereka.
"Maaf pak, bu. Tapi saya punya alasan sampai memukul Arsa, jika dia tidak melewati batas, maka saya tidak akan bertindak sejauh tadi," jawab Gean.
Pak inda menghela nafas, bukannya dia pilih kasih, tapi saat mendengar ungkapan Gean tadi, dia percaya kalau Gean berkata jujur.
"Apa yang kamu lakukan, Arsa. Sampai kalian harus berkelahi?" Tanya bu Sisi, beralih menatap Arsa yang diam dengan tatapan dingin.
"Saya hanya tidak suka dengan orang yang membuat persahabatan saya renggang, dia egois. Kalau tidak menghargai apa yang namanya privasi, saya mungkin akan segera membeberkan rahasia dia dan membuatnya menderita," jawab Arsa melirik sekilas Ladira yang masih menunduk menahan tangis.
Bu Sisi yang menyadari arah lirikan Arsa akhirnya mengetahui siapa yang laki-laki itu maksud, dua guru yang ada di sana bingung, jika masalah tadi adalah privasi maka mereka tidak akan bisa tahu asal-usul sampai Gean dan Arsa bisa berkelahi.
"Apakah Ladira penyebab kalian berkelahi?" Tanya bu Sisi, yang balas anggukkan Arsa dan gelengan dari Gean.
"Bukan Ladira. Arsa sendiri yang memancing emosi," tukas Gean.
"Tapi-"
"Cukup, kalian bertiga saya akan berikan sanksi. Tidak ada penolakan, jika tidak saya tidak akan segan-segan memanggil orang tua kalian bahkan ke perkemahan ini langsung!" tegas pak Indra. "Bu Sisi, tolong urus mereka, saya masih banyak tugas di luar. Tentukan hukuman yang sesuai dengan perbuatan yang mereka buat," tambah pak Indra setelah itu langsung keluar meninggalkan 4 orang yang tersisa di dalam tenda itu.
...***...
Keesokan harinya
Ladira terbatuk-batuk saat asap dari perapian untuk dia memasak mengarah kepadanya, kepalanya sedikit pening karena api yang dia nyalakan susah untuk hidup.
Brak...
__ADS_1
Kepala gadis itu menoleh dan menemukan Arsa yang menaruh tumpukkan kayu yang dia cari di sebelah Ladira dengan asal, setelah itu Arsa pergi dari sana karena hukumannya sudah selesai untuk mencari kayu bakar, sehingga laki-laki itu berlaku untuk menjalani hukuman yang lain untuk mengangkut barang.
Melihat mata Ladira yang memerah akibat asap, tepat saat Gean datang dengan tumpukkan kayu yang dia cari, segera membantu istrinya itu untuk menyalakan api.
"Biar gue yang tiup." Gean mengambil ruang dan mulai meniup agar arang yang panas itu agar bisa segera melahap kayu dan menghasilkan api untuk Ladira memasak.
Setelah beberapa saat, akhirnya api tersebut menyala. Ladira tersenyum senang, akhirnya api yang sedari tadi tidak bisa menyala akhirnya bisa hidup. Mata Ladira menangkap ekspresi Gean yang terlihat kesulitan bernafas, wajahnya memerah.
"Lo gak papa?" Tanya Ladira. Gean mengangguk dan pergi dari sana tanpa sepatah katapun.
Gadis itu merenung sesaat, memikirkan bagaimana perasaan Gean sekarang. Apakah Gean akan semakin membencinya?
Arsa, apakah laki-laki itu juga akan selamanya membenci Ladira. Sehingga Ladira selalu berfikir bertapa besar egonya, sampai-sampai membuat persahabatan mereka yang dulu baik-baik saja, sekarang malah pudar perlahan.
"Nak, kamu kenapa?"
Lamunan Ladira buyar, saat seorang juru masak menghampiri. Mereka diberikan kemudahan dalam berkemah, agar siswa-siswi bisa menikmati perkemahan tanpa repot-repot untuk memasak. Tapi lain untuk Ladira, gadis itu harus menikmati perkemahan diselingi dengan memasak banyak makanan untuk teman-teman mereka.
Perkemahan yang tidak menyenangkan untuk Ladira, dia tidak bisa mengikuti kegiatan lomba untuk siang ini.
...***...
"Ra, kok pergi sih?" Kesal Danael, gadis itu selalu menghindar saat Danael mendekatinya.
Sore hari ini, mereka dibebaskan, maka dari itu Danael tidak takut jika dia harus masuk ke dalam kawasan tenda perempuan. Belum sempat Danael mengejar Ladira yang pergi, dia sudah dihadang oleh Naudra.
Aneh, gadis tomboi itu tiba-tiba bersifat manja kepada Danael. "Gak usah ngejar dia bisa gak sih, gue kan ada di sini El," kesal Naudra saat Danael memberontak, minta dilepaskan.
"Lo kesambet apaan sih Nau?" Tanya Danael merasa aneh atas perubahan sikap Naudra kepadanya.
"Gak apa-apa, gue cuma mau gini aja," jawab Naudra mengeratkan pelukannya pada lengan Danael yang menambah rasa risih cowok itu. Banyak tatapan dari beberapa orang yang lewat sehingga Danael memaksa sampai pelukan Naudra segera terlepas.
__ADS_1
"Gue pergi dulu," ucap Danael berlari dari sana, meninggalkan kekecewaan dari Naudra yang berdecak kesal karena dia tahu kalau Danael pasti mengejar Ladira lagi.
...***...
Malam api unggun. Malam yang dinantikan oleh seluruh siswa-siswi Madra Jaya. Api unggun yang terletak di tengah-tengah lapangan dengan ukuran yang terbilang lumayan besar untuk menghangatkan malam yang dingin untuk ratusan siswa yang mengelilinginya.
Bu Yeni sebagai pembawa kegiatan malam ini membawa siswa-siswi untuk bernyanyi dan bermain bersama dengan begitu bahagia.
"Capek gak nih?" Tanya bu Yeni dengan toa yang dia pegang sebagai pembesar suara.
"Enggak!" teriak seluruh siswa-siswi bersamaan.
"Oke, kalau gitu kita lanjut ke sesuatu yang seru. Gimana nih, kalau kita dengar ungkapan romantis dari pasangan-pasangan yang udah jadian, melalui puisi, kata-kata ataupun lagu. Mungkin juga ada nih yang mau ngungkap'in perasaannya, kebetulan ibu ada bawa kamera!" seru bu Yeni membuat mereka yang mendengarnya bersorak heboh. "Ayo siapa nih yang duluan?"
Tidak perlu menunggu lama, seorang laki-laki dari kelas 12 yang selama ini terkenal dingin dan cuek, dia terkenal dengan wajah tampan turunan Amerika-Indonesia, tidak salah jika Endro begitu terkenal di tingkatan kelas 12.
Laki-laki itu mendapatkan sorakan heboh, apalagi dari para perempuan yang dia datangi di seberang api unggun.
Tangan Endro terulur menunggu sambutan tangan dari seorang gadis cantik bernama Liona, gadis itu tertegun karena Endro memilihnya. Karena sorakan heboh agar Liona segera menerima uluran tangan Endro, gadis itu segera membalas genggamannya dan mereka berdua mendekati bu Yeni yang juga bersorak.
"Wih, blasteran kulkas 7 pintu bakal punya gandengan!" Sorak Zeano, teman sekelas Endro.
Sikap dingin Endro seketika lenyap malam itu, karena gadis manis yang ada di depannya sekarang. Senyuman yang tidak pernah Endro tunjukkan, malam ini bisa dilihat oleh semua orang, Endro memberikan senyuman itu karena Liona menerima dirinya.
Tepat saat Endro dan Liona kembali ke tempat masing-masing, dengan kompak Danael dan Gean berdiri. Hal itu membuat semua orang terdiam karena mereka bersamaan berjalan menuju tempat seorang gadis yang ada di seberang sana.
"Em, waduh kayaknya ada yang double jadiannya samaan nih," ucap bu Yeni memperhatikan Gean dan Danael yang mengulurkan tangannya di depan seorang gadis yang mereka pilih.
...***...
...See You...😉...
__ADS_1