
Mata Gean menyipit saat sedikit cahaya matahari menembus di sela gorden kamarnya. Beberapa kali dia menguap, seluruh badannya terasa ditimpa beton yang membuatnya merasa tidak ingin bangun dari kasurnya.
Saat melirik jam dinding, dia harus memaksakan tubuh agar tetap bangun pagi ini. Sebagai wakil ketua OSIS yang sebentar lagi akan disahkan menjadi ketua OSIS, dia harus taat peraturan agar tidak terlambat dan menjalankan tugasnya pagi-pagi.
Seperti pagi sebelumnya, Gean melakukan rutinitas sebelum berangkat sekolah. Mengenakan pakaian rapi, menambah kesan wibawa untuknya, tidak lupa Gean pasti selalu terlihat tampan dalam penampilan apapun.
Dengan membawa tas di tangannya, dia melangkah menuruni tangga dan menuju dapur.
"Ra! Lo di mana?" Teriak Gean yang memenuhi seisi rumah mereka yang sunyi di pagi hari, karena permintaan Ladira agar semua pembantu datang pukul 8 pagi. Keinginan itu karena sewaktu baru pindah, ingin bertanggungjawab sebagai seorang istri yang bisa mengurus pekerjaan rumah tangga, sendiri. Walaupun hanya pagi, karena mereka juga membutuhkan pelayan untuk membantu mereka yang pulang sore hari.
Dirinya berjalan kembali menaiki tangga saat tidak menemukan seorangpun di dapur, tapi tidak menemukan Ladira di kamarnya.
Sampai dia kembali menuju meja makan dan mendapati secarik kertas.
...Ada nasi goreng gue siapin,...
...habisin sebelum berangkat....
...Gue duluan...
^^^Ladira...^^^
Gean menghembuskan nafasnya pelan, pikirannya kembali mengingat bagaimana kata-kata Ladira membuatnya tidak tenang semalaman. Bisa dihitung, jika dia baru tidur jam 3 subuh dan bangun jam 4.
Badannya terasa lemas, dengan suhu tubuh yang naik. Tidak terlalu parah, sehingga Gean masih bisa beraktifitas pagi ini.
Tangannya membuka tudung saji yang menampilkan seporsi nasi goreng, dengan telur mata sapi ada di atasnya. Tanpa menunggu lama, Gean segera memakannya sampai habis lalu mengambil satu pil obat penurun panas dan meminumnya.
Semoga sakitnya tidak semakin parah.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.30. Jam yang tepat untuk Gean berangkat, dirinya berjalan menuju bagasi dan memilih mengambil mobil, karena tidak yakin kalau akan membawa motor disaat badannya yang lemas untuk menyeimbangkan tubuh.
Hanya membutuhkan waktu selama 15 menit di perjalanan, waktu tercepat dirinya bisa sampai ke sekolah karena waktu pagi, kendaraan tidak terlalu memadati jalan.
Mobil Gean terparkir rapi di parkiran khusus mobil, tanpa menuju kelas terlebih dahulu, Gean memilih langsung menuju pintu gerbang untuk membantu teman-teman OSIS untuk razia di depan gerbang.
Di sana sudah ada Rangga, bagian OSIS keamanan untuk memeriksa atribut para siswa yang mulai berdatangan dan Laras yang bertugas mencatat jika ada yang melanggar peraturan.
"Maaf gue telat," Gean berdiri dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut, dirinya menarik nafas untuk menenangkan diri yang masih ngos-ngosan karena berlari.
"Santai Ge, lo enggak telat," jawab Rangga menepuk pundak Gean.
Gean mengangguk lalu berdiri di samping Rangga untuk membantunya memeriksa perlengkapan teman-teman mereka yang baru datang.
__ADS_1
10 menit bertugas, bel berbunyi dan gerbang sekolah di tutup.
Gean, Rangga dan Laras berjalan menuju meja piket untuk menyerahkan catatan, nama-nama orang yang melanggar tata tertib berpakaian.
Setelah selesai, mereka menuju kelas untuk melangsungkan pembelajaran.
"Gue ke toilet, kalian duluan," ucap Rangga lalu berjalan menuju lorong yang berbeda.
Keheningan langsung menyelimuti Gean dan Laras, padahal saat ada Rangga, mereka terus berbicara.
"Gean."
Kepala Gean menoleh menghadap Laras di sebelahnya. "Hm...kenapa?"
"Lo sakit?" Tanya Laras.
Gean menggeleng, "enggak."
"Kok muka lo pucat dari tadi?" Tanya Laras lalu menyentuh tangan Gean tanpa izin, "tuh panas!" ucapnya.
Dengan cepat Gean menarik tangannya kembali, sebaik mungkin dia tidak terlalu kasar untuk melepas genggaman gadis itu, "maaf, jangan pegang-pegang tanpa izin," ucap Gean yang terdengar dingin.
Kepala Laras menunduk, "maaf. Lo pasti marah ya, gara-gara gue, lo marahan sama Ladira, kan?"
Tepat di depan kelas XI IPS 1, tepatnya kelas Ladira. Gean memelankan langkah melihat isi kelas yang sedikit ribut karena tidak ada guru yang masuk.
Dengan jelas, Gean bisa melihat Ladira yang duduk bersandar di dinding, dengan seorang laki-laki yang duduk menghadap Ladira. Sudah bisa ditebak jika itu adalah Danael.
Tangannya mengepal kuat saat berhenti sejenak melihat interaksi keduanya yang sangat dekat, dengan berani Danael menyentuh pipi Ladira lalu mengelusnya.
Saat ingin bertindak karena melihat Danael yang semakin menempel dengan Ladira, keinginannya terhenti saat suara seseorang menyapanya dari belakang.
"Kamu ngapain masih di sini?" Suaranya sedikit lembut, berbeda dengan guru yang lain, jika mendapati muridnya ada di luar kelas saat pembelajaran berlangsung akan marah-marah, kecuali bu Tria, dia akan bersikap lembut apalagi dengan Gean.
Bu Tria pernah terang-terangan mengatakan kepada Gean, jika laki-laki itu lulus dirinya ingin sekali dilamar oleh Gean.
"M-maaf bu, saya tadi cuma lewat dan tali sepatu saya lepas," ucap mencari alasan.
Bu Tria mengangguk, dan tiba-tiba tangannya mengelus pelan pipi Gean yang membuat laki-laki itu melotot kaget, tidak lupa suara tawa dari kelas XI IPS 1 yang menyadari kehadiran keduanya langsung menonton di mana adegan bu Tria dengan beraninya menyentuh pipi Gean.
"Ibu ngapain?!"
"KAMU SAKIT?!" pekik Bu Tria lalu menyentuh dahi Gean.
__ADS_1
"E-enggak bu...engga sakit," Gean berjalan mundur saat bu Tria menggenggam tangannya kuat.
Bu Tria menganga, "kamu bilang enggak sakit? Ini panas Gean, nanti makin parah, sebaiknya ke rumah sakit!"
"Gak perlu bu, sakitnya enggak parah yang harus masuk rumah sakit," elak Gean. "Saya ke kelas Bu, maaf," ucap Gean berlari menuju kelasnya di sebelah, saat cekalan tangannya terlepas.
"Gean sakit?" Gumam Danael bertanya, yang masih di dengar Ladira di sebelahnya.
"El, balik ke meja. Bu Tria mau masuk," Ladira memperbaiki posisi duduknya saat guru Bahasa Inggris mereka memasuki kelas.
...***...
"Masih mual?" Tanya Ladira kepada Danael yang berbaring di kasur UKS.
Danael menggeleng, " udah mendingan," jawabannya.
Saat mereka berada di kantin dan makan bersama, tiba-tiba saja Danael merasa aneh dengan dirinya dan memuntahkan isi perut.
Ladira memilih untuk membawa Danael menuju UKS, karena wajah laki-laki itu terlihat pucat dan kurang sehat.
"Lo makan apa sih, kok bisa muntah gitu?" Tanya Ladira.
"Gak sarapan tadi pagi," jawab Danael yang sebenarnya, berbohong.
"Masalah gue gak penting dulu, yang gue tanya dari tadi, lo enggak jawab kalau lo pindah ke mana?" Tanya Danael.
"Ke rumah nenek," jawab Ladira asal.
Danael mengerutkan keningnya, "kok ke situ. Nenek lo kan udah gak ada, kenapa tinggal di sana?" Tanya Danael.
"Biar dekat sekolah aja. Lagian gue kadang-kadang pulang ke rumah kok, gak sepenuhnya pindah," jelas Ladira.
Danael mengangguk, "ya udah, sering-sering pulang. Gue kangen soalnya," cengir Danael tanpa izin menarik kepala Ladira dan mencium pipinya. Ladira tentu melotot kaget.
Tapi dia lebih kaget, melihat seseorang yang sepertinya tadi berada di kasur sebelah yang berjalan melewati mereka.
"Lo apaan sih El?" Ladira yang mulai takut jika orang itu akan melakukan hal yang mengerikan untuknya.
"Gak boleh? Itu tanda Ra," Danael menggenggam tangan Ladira.
...***...
...Spam next......
__ADS_1