Liveline

Liveline
Hari Ini Lagi


__ADS_3

Ruang OSIS yang diisi para pengurusnya, sedang melangsungkan rapat bersama untuk membahas kegiatan kemah yang akan diadakan beberapa hari lagi sebelum melaksanakan ulangan tengah semester.


Dengan kesepakatan bersama, maka mereka menentukan kegiatan perkemahan wajib untuk seluruh siswa-siswi SMA Madra Jaya, yang akan diadakan 3 hari lagi setelah Gean akan diresmikan menjadi ketua OSIS dan peresmian beberapa anggota OSIS lain yang naik pangkat, ataupun pelantikan anggota baru yang akan mengisi tugas kosong.


Waktu rapat yang berselang 1 jam, berlalu dengan cepat. Hampir seluruh anggota OSIS meninggalkan ruangan, menyisakan Gean, Laras, Bayu dan Andin yang masih ada di dalam sana. Mereka mencatat dan mengurus dana yang akan dikeluarkan untuk perkemahan nanti.


"Ge, muka lo pucet. Lo sakit?" Tanya Bayu, karena perhatiannya teralihkan saat melihat merasa pergerakan Gean yang terlihat Gelisah di kursinya.


Mata Gean terpejam, kedua tangannya memegang kening sambil memberikan pijatan ringan di sana. Tidak ada jawaban dari Gean, sampai laki-laki itu menghembuskan nafas kasar dan kembali duduk tegak di kursinya.


"Gue izin keluar duluan, kalau ada apa-apa bisa hubungin," ucapnya lalu berdiri, dengan tubuh yang hampir oleng saat penglihatannya seperti dunia yang terlihat ingin terbalik.


"Gue bantu," Laras ingin menyentuh tangan Gean, tapi laki-laki itu segera berjalan mundur sebelum Laras menyentuhnya.


"Gue bisa sendiri." Dengan langkah gontai, Gean berjalan meninggalkan ruang OSIS.


"Ras, lo ikutin Gean. Pastiin dia aman di jalan, soalnya gue masih banyak tugas," titah Bayu sambil sesekali mengetik sesuatu di laptopnya. Laras mengangguk lalu mengejar Gean yang masih berjalan tidak jauh.


Beberapa kali Gean berhenti untuk menahan tubuh yang ingin tumbang. Dengan keadaan lorong yang sepi karena jam pembelajaran yang sedang berlangsung, membuat Laras harus mengawasi cowok itu, jika saja dia tiba-tiba pingsan di tengah jalan tanpa seorangpun yang menolongnya.


Tanpa bantuan, akhirnya Gean sampai di dalam UKS dan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang terletak paling ujung.


Matanya terpejam, untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa remuk dan kepala yang berdenyut seperti ingin meledak. Ya, sekarang dia butuh istirahat.


Di balik tirai yang membatasi kasur-kasur yang lain, Laras melihat wajah Gean ya g kelelahan. Bisa terlihat jelas kantung mata Gean yang menandakan kalau dia mungkin tidak tidur semalaman.


Laras ingin memeriksa suhu tubuh Gean, tapi saat melihat laki-laki itu membuka kancing seragamnya tanpa membuka mata, dengan cepat Laras meninggalkan UKS. Dirinya masih memiliki sopan santun dan harga diri, karena dia tidak pantas berada di sana untuk melihat tubuh Gean walaupun hanya sekedar membuka baju saja, dia pasti akan malu dan yah...salah tingkah.


...***...


Sudah hampir 1 jam berlalu, mata gean perlahan terbuka. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya di sekitar ruangan yang serba putih dengan cahaya lampu yang begitu terang. Karena dia masih berada di UKS.


Gean mendudukkan tubuhnya, sesekali meringis saat rasa pusing kembali menyerang kepalanya, walaupun tidak sesakit tadi.

__ADS_1


Tangan Gean kembali mengancing dan merapikan seragamnya yang sempat dia buka, karena dia merasa gerah dan tidak bisa tidur. Lalu meraih ponsel yang ada di atas nakas, di sana dia melihat jam yang menunjukan saat ini mereka sudah masuk dijam istirahat kedua.


"Biar dekat sekolah aja. Lagian gue kadang-kadang pulang ke rumah kok, gak sepenuhnya pindah."


Gean yang sedang mengetik sesuatu di handphonenya terhenti, saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Dengan langkah perlahan Gean mengintip di balik tirai yang terbuka setengah, ternyata benar dugaannya bahwa itu Ladira. Kenyataan berikutnya yang dia dapati adalah, istrinya itu sedang bersama Danael.


"Ya udah, sering-sering pulang. Gue kangen soalnya," cengir Danael tanpa izin menarik kepala Ladira dan mencium pipinya.


Mata Gean membola sempurna saat melihat kejadian singkat itu. Rahangnya mengeras menahan rasa ingin memergoki apa yang baru Danael lakukan telah dia lihat, ya dilihat oleh suami Ladira.


Dia menahan amarahnya lalu pergi dari sana, tidak perduli jika Danael dan Ladira akan tahu kalau dia melihat kejadian itu atau tidak.


Langkah panjang Gean terhenti saat seseorang menahan tangannya dari belakang. Refleks, Gean langsung berhenti dan menoleh ke belakang.


"M-maaf," ucap Laras gugup, lalu melepas cengkeramannya pada Gean. Karena kaget saat melihat tatapan tajam Gean yang terlihat begitu menusuk.


"Hm...ada keperluan?" Tanya Gean berbalik menatap Laras dengan sedikit menunduk, kerena gadis itu hanya sebatas dada Gean jika diukur.


"Lo masih sakit?" Tanya Laras yang kembali memberanikan diri menatap Gean yang ternyata juga menatapnya. Susah payah Laras menahan agar tidak terlihat gugup, dirinya sudah terkunci dengan mata hazel itu.


"Kalau enggak penting gak perlu ditanya." Gean berbalik meninggalkan Laras yang diam di tempat. Kenapa Gean terlihat begitu cuek, biasanya dia akan menjawab sebaik mungkin agar lawan bicara tidak salah paham atau bisa mengerti, tapi kali ini, perlakuannya begitu ketus.


Yasudah, Laras bisa paham. Mungkin karena keadaannya yang sakit dan tanggung jawab sekolah yang begitu banyak, membuat Gean lelah dan bisa bersikap ketus. Mudahan itu sekali saja dan tidak terulang.


Sampai bel masuk berbunyi dan seluruh siswa-siswi kembali ke kelas masing-masing.


Laras berbaik badan, tapi harus berhenti mendadak saat mendapati 3 orang perempuan yang berdiri menghadangnya di depan.


Salah satu dari mereka mendekat dan menyentuh bahu Laras, "lo suka ya sama Gean?" Tanya gadis itu berbisik tepat di telinga Laras.


Kepala Laras menggeleng pelan, "enggak."


"BOHONG!" tukasnya mendorong bahu Laras sampai membentur dinding di sebelah.

__ADS_1


"LO KOK KASAR SIH? BUKAN KARENA KAKAK KELAS, BERARTI LO BISA SEMENA-MENA. GUE ANGGOTA OSIS KALAU LO BELUM TAHU!" lontar Laras dengan emosi yang melunjak, karena merasa tidak dihargai.


"Seina. Langsung kasih pelajaran, dia bisa kapok," ucap seorang gadis yang tadi masih berdiri di tempat bersama seorang temannya.


Seina, dia menatap nyalang Laras yang bisa dia tebak, ada raut ketakutan di wajahnya.


Tanpa permisi, Seina menarik paksa agar Laras mengikutinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dengan tega, Seina mendorong Laras dengan kasar sampai menghantam dinding kamar dengan keras.


Tubuh Laras merosot saat keningnya terasa sangat sakit.


"Ayo lawan Laras, katanya lo anggota OSIS yang hebat. Mana? Buktikan sekarang!" tantang Seina menarik kerah seragam Laras, untuk memaksanya berdiri.


"Kalian keterlaluan, gue pastiin akan buat kalian keluar dari sekolah ini!" ucap Laras dengan nafas tak beraturan, saat tangan Seina beralih mencengkeram dagunya.


Dari sana Nika tertawa, "Seina aja kali, bukan kita."


Dengan kasar, Seina menarik Laras lalu mengguyurnya dengan air shower. Tubuh Laras menggigil saat air dingin itu menyentuh permukaan kulitnya tiba-tiba.


Plak


"GUE GAK AKAN AMPUNI LO KALAU SEKALI LAGI DEKAT SAMA GEAN!" ucap Seina setelah menampar pipi Laras.


Tangan Laras kembali ditarik, dan Seina mendorong Laras dengan kuat memasuki salah satu bilik dan menguncinya di sana.


Laras menangis dengan dahi yang sudah meneteskan darah, saat tidak sengaja membentur ujung keramik.


Dia meringkuk lemah di pojok kamar mandi, mengetahui kalau dia dikunci dari luar.


"Tolong," ucap Laras lemah, lalu menghubungi seseorang sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran.


...***...


...See You...

__ADS_1


__ADS_2