Liveline

Liveline
Kiss


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 wib. Suara derit pintu terdengar sekilas saat seseorang membuka pintu itu perlahan, dengan langkah pelan Gean memasuki rumah dan menguncinya kembali.


Selalu, jika dia pulang malam tanpa kabar, maka Ladira sudah berada di ruang tamu dengan tv yang menyala sambil menunggunya, entah Ladira tertidur ataupun tidak. Tapi ada yang berbeda kali ini, gadis itu tidak menunggunya. Ruang tamu yang lenggang.


"Baru pulang kamu?"


Mata Gean menangkap ke asal suara yang menginterogasinya, tepat di atas tangga berdiri seorang wanita yang tentu sangat Gean kenali. "Mama!"


Winda berjalan menghampiri Gean dan langsung menghadiahi jeweran pada putra pertamanya. "Kemana kamu baru pulang jam segini? Kamu bahkan gak pulang bareng Ladira, dia pulang sendiri dan gak kamu perduli'in!" sentak Winda semakin kuat menjewer telinga Gean yang sudah memerah.


"A-aduh, mah. Lepasin, sakit," pekik Gean memegang pergelangan tangan Winda, meminta dilepaskan.


"Huaa, mama." Tangis Lian pecah, sambil berlari dan langsung memeluk kaki Winda. Membuat wanita itu refleks melepaskan jewerannya dan beralih memeluk Lian yang masih menangis memeluknya.


Winda menggendong Lian sambil menghapus jejak air mata putra bungsunya itu, "Lian kenapa nangis?" Tanya Winda menepuk pelan punggung Lian untuk meredakan tangisnya.


"M-ama ja-ngan marah kakak," ucap Lian sesenggukan lalu mengulurkan tangannya meminta agar Gean menggendongnya.


Gean tersenyum melihat adiknya yang sangat sayang padanya, "udah kakak gak papa," ucap Gean menyambut adiknya yang meminta digendong.


"Udah Lian ya, jangan nangis. Mama gak buat kakak sakit kok, sekarang Lian balik tidur yah," pinta Winda setelah beberapa saat tangis Lian reda.


Lian menggeleng, semakin mengeratkan pelukannya pada leher Gean. Sepertinya bocah itu sangat merindukan kakaknya yang belakangan ini memang mereka jarang bertemu. "Mau tidur sama kak Gean juga gak Dira," gumam Lian pelan.


"Ya udah, kalau gitu kali susul kak Dira ya. Lian jangan buat kak Dira bangun," ucap Winda mengecup pipi tembem Lian.


"Mama udah gak suka kiss anaknya yang satu ini," sindir Gean. Membuat Winda mencubit pelan pinggang Gean. Rasa marahnya tadi seketika menghilang saat mengingat kemanja'an anaknya yang satu ini kembali seperti dulu.


"Udah punya istri kok masih minta kiss sama mama sih," sindir Winda yang masih tetap mencium gemas pipi Gean.


Gean tertawa renyah, "nanti Gean minta deh ma. Night mama cantik," Gean meninggalkan Winda yang menggeleng, melihat tingkah kedua anaknya. Baiklah kemarahannya lebih baik diredam malam ini.


***


Ceklek

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, menampakkan Ladira yang tertidur nyenyak di kasur. Perlahan Gean membaringkan Lian di samping Ladira.


"Kakak mau mandi dulu, jangan ribut. Oke," Gean mengacungkan jempolnya, dibalas acungan jempol kembali dari Lian yang mengangguk.


Setelah melepas jaket dan mengambil beberapa helai pakaian serta handuk, laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Sekitar 10 menit berlalu, dirinya keluar.


"Eh, ngapain duduk di situ!" pekik Gean refleks, melihat adiknya yang menduduki perut Ladira dan berbaring nyaman di atas tubuh istrinya. Gean kira Lian mengganggu tidur Ladira, ternyata memang gadis itu sudah bangun dan membiarkan Lian berbaring di sana.


Ladira hanya melirik sekilas ke arah Gean yang mendekat dan duduk di pinggiran kasur. "Lian tidur yuk, ini udah malam," pinta Gean yang langsung dituruti oleh adiknya yang langsung berbaring di samping Ladira.


"Sini," Lian menarik kaos hitam yang Gean kenakan, tepat saat laki-laki itu ingin pergi dari sana.


"Kakak mau tidur di sofa."


Lian menggeleng tegas dan ingin menangis, sungguh bocah kecil itu menjadi sangat posesif jika sangat merindukan kakaknya.


Melihat mata Lian yang memerah dan ingin menangis, Ladira menjadi sedikit tidak tega, "cepat tidur, ini udah malam," ucap Ladira kepada Gean yang dibalas anggukan laki-laki itu yang paham dengan kode Ladira agar tidak membuat Lian sampai menangis.


Ketiganya tidur di atas 1 ranjang sama, kayaknya orang tua yang tidur bersama satu orang anak di tengah-tengah mereka.


"Kak Dira, mau kiss," Lian tersenyum menatap Ladira yang tersenyum gemas ke arahnya. Satu kecupan mendarat di pipi Lian, membuat bocah laki-laki itu tersenyum senang.


"Kak Ean kok gak kiss kak Dira?" Tanya Lian dengan gamblangnya, membuat kedua orang yang disebut namanya terdiam.


Laki-laki itu mencoba bersikap tenang dengan sedikit terkekeh, "gak boleh." Gean menggeleng dengan mencubit pelan pipi Lian.


"Kalau gitu Lian gak mau tidur," Lian memanyunkan bibirnya dan beralih untuk duduk.


Waktu sudah sangat larut dan Lian sama sekali tidak tidur, mengingat waktu seperti ini tidak baik untuk kesehatan Lian, Ladira mendekat dan mengecup singkat pipi Gean. "Udah ya, Lian tidur," pinta Ladira dengan berusaha semaksimal mungkin menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat."


Gean mematung sesaat, momen singkat tersebut membuat desiran aneh pada dirinya, membuat bibir Gean berkedut dan ingin meloloskan senyuman di sana, tapi dia berusaha menahannya.


"Itu kan kak Dira yang kasih kiss, Lian kan minta kak Ean yang kasih," tukas Lian memanyunkan bibirnya.


Ladira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bisa-bisanya Ladira tidak mencerna perkataan Lian dengan baik. Sungguh parah, mana Ladira duluan yang tadi memulai.

__ADS_1


"Boleh?" Tanya Gean meminta persetujuan Ladira.


Gadis itu diam sesaat, malu bercampur rasa yang aneh masih mengerubungi dirinya. Tapi Ladira ingin ini cepat berakhir dan mengangguk setuju, toh hanya pipi saja tidak lebih.


Wajah Gean mendekat, membuat hembusan nafas laki-laki itu menerpa lembut pipi Ladira.


Cup


Lian bertepuk tangan dan langsung berbaring di antar kedua kakaknya. "Lian tidur," ucap bocah itu, seolah-olah tontonan singkat tadi adalah drama pengantar tidur untuknya.


Karena merasa canggung karena Lian yang sudah berbaring dan mencoba untuk tidur, membuat suasana hening di antara mereka. Ladira segera berbaring, meninggalkan Gean yang masih duduk memperhatikan dua orang yang sudah berbaring di sana.


Beberapa menit, dengkuran halus terdengar dari Lian yang sudah tertidur. Tapi tidak dengan Ladira yang sedari tadi tidak bisa menutup mata saat lampu kamar belum dimatikan, ingin sekali dia mematikannya, tapi sedari tadi Gean masih betah pada posisi duduk.


"Ra, gue tahu lo belum tidur," Gean menoleh, menangkap Ladira yang ternyata memperhatikannya, membuat gadis itu gugup sendiri saat kepergok karena memperhatikan Gean.


"Cuma mau bilang, kalau gue udah mulai berusaha buat belajar nerima Laras. Jadi, selagi gue masih belajar dan belum sepenuhnya menaruh hati buat dia, selama 6 bulan tersisa, gue akan nunggu sampai lo kasih satu jawaban."


Karena tak kunjung mendapat respon dari lawan bicaranya, Gean berbaring dan langsung mematikan lampu.


"Maaf."


Mata yang awalnya tertutup, langsung terbuka. Mendengar satu kalimat itu membuat Gean mengerutkan keningnya. "Untuk?"


"Gara-gara lo dekat sama Laras, gue jika ikut-ikutan buat nerima Danael jadi pacar gue. Salah ataupun enggak, gue jadi ngerasa bodoh di saat itu juga. Padahal gue punya suami, tapi malah punya pacar," jawab Ladira.


Gean terkekeh, "gak perlu ngerasa bersalah. Bukan cuma lo, tapi gue sama bodohnya. Tapi, kalau memang jalan itu baik untuk kita habisin waktu selama 6 bulan yang tersisa, kita jalanin sesuai alurnya dan nunggu hasil akhir." Gean menoleh mendapati Ladira yang ternyata sudah banjir dengan air mata.


Tangan Gean terulur untuk menghapus jejak air mata di pipi Ladira, membuat gadis itu tertegun. "Sebelum menyesal di akhir, kalau Tuhan memang tetap satukan kita, pasti Dia akan buat celah yang akan mengikat kita selamanya Ra."


...***...


...See You...😉...


Happy New Year 🥳

__ADS_1


1 Januari 2023


__ADS_2