Liveline

Liveline
Dadakan


__ADS_3

"Ge, bangun!" Teriakan Ladira menggelegar di seluruh isi kamar.


Gean yang mendengarnya refleks membuka mata dan langsung duduk. "Kenapa Ra?" Tanya Gean kaget.


Ladira menyerahkan ponselnya, agar Gean membaca isi chat yang baru dia terima. "Jam 12. Ini jam berapa sekarang?" Tanya Gean.


"Jam 9"


"Yaudah, lo cepetan masak. Biar gue yang nyiap'in koper," ucap Gean yang diangguki oleh Ladira. Perempuan itu bangun dari kasur dengan slimut yang melilit tubuhnya. "Gak usah ditutup Ra, gue udah lihat dua kali," ucap Gean sambil terkekeh, melihat istrinya itu masih malu-malu kepadanya.


"Ck, jangan banyak komen, atau lo mau tidur di luar," ancam Ladira, mampu membuat Gean pasrah dan tidak mau membuat istrinya itu marah lagi. Sudah cukup Ladira marah kemarin. Karena sangat sulit untuk membujuknya. Tapi Gean sedikit merasa diuntungkan, karena dengan bujukan, Gean berhasil membawa Ladira kembali mengulang momen di mana malam itu terulang kembali.


Setelah Ladira masuk ke dalam kamar mandi, dengan segera Gean mengenakan pakaian lengkap dan menuruni dua buah koper yang ada di atas lemari.


Sungguh dadakan, dia kira Zayan dan Winda akan menjemput mereka besok untuk pergi ke London. Setelah mendapatkan pesan, kalau mereka akan datang jam 12 nanti, karena memang itu sangat dadakan dan Zayan sudah menyiapkan tiket untuk keberangkatan siang ini.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Gean selesai menyiapkan satu koper yang berisi pakaiannya selama 1 minggu di sana. Hanya tinggal pakaian Ladira. Gean akan menyiapkan semua sendiri, karena Ladira harus segera memasak untuk sarapan mereka.


Ladira keluar dari dalam kamar mandi, lengkap dengan pakaian hari-hari yang biasa dia gunakan. Wanita itu duduk di depan cermin dengan handuk yang melilit di kepalanya. "Ge, baju-baju yang gue bawa buat ke London semuanya ada di bagian bawah. Itu tinggal dimasukkan aja ke dalam koper," ucap Ladira.


Gean mengangguk saja sebagai respon, dan dengan segera laki-laki itu menyiapkannya. Sedangkan Ladira pergi menuju dapur untuk memasak.


Ting


...Laras...


Laras


Sayang. Kita jalan yuk, aku bosan banget


di rumah aja.


^^^Gean^^^


^^^Gue sibuk^^^


...***...


...Danael...


^^^Ladira^^^


^^^El, maaf baru bilang. Ini dadakan ^^^


^^^gara-gara papa chat gue,buat pergi ke luar^^^


^^^kota hari ini. Mungkin sekitar 1 minggu^^^


^^^gue baru balik.^^^


Danael


Oke, gak papa. Hati-hati di jalan.


Sebenarnya gue juga mau bilang, kalau


besok gue juga mau pergi ke rumah


keluarga di luar kota.


^^^Ladira^^^

__ADS_1


^^^Ya udah, hati-hati juga. ^^^


"Gimana?" Tanya Gean, saat melihat Ladira selesai berkutat dengan ponselnya.


"Aman."


Mobil Gean terus melesat, berjalan menuju bandara. Mengikuti mobil Zayan dan Winda yang ada di depan. Hingga 30 menit menempuh perjalanan dari rumah, akhirnya mereka sudah sampai di bandara. Di sana mereka segera pergi menuju pesawat yang akan berangkat menuju London beberapa menit lagi. Dengan langkah tergesa-gesa, Ladira berusaha untuk berlari secepat mungkin saat tangannya digenggam erat oleh Gean, yang mengikuti kedua orang tuanya di depan sana.


"Huh, akhirnya sampai." Ladira menghembuskan nafas lega. Setelah berlari secepat mungkin di tengah kerumunan, dengan keadaan yang hampir tidak kuat berlari, akhirnya mereka bisa duduk dengan tenang hingga tujuan London.


Gean menyerahkan sebotol air mineral kepada Ladira, dan diterima wanita itu. Hampir setengah botol yang Ladira habiskan, menandakan kalau Ladira juga sangat haus.


"Masih sakit?" Tanya Gean.


Ladira mengangguk. "Sakit dikit. Habis itu malah jalar sampai pinggang sakitnya," jawab Ladira dengan wajah lesu dan berkeringat.


"Mau dipijitin?" Tawar Gean.


"Boleh?" Tanya Ladira kembali.


Gean mengangguk. Mendapat kode itu, Ladira membalikkan tubuh membelakangi Gean. Suaminya itu mulai memijat pinggang Ladira dari belakang, membawa rasa nyaman yang mulai membuat rasa lelah dan sakit pada wanita itu berangsur-angsur membaik.


Sudah hampir 10 menit Gean memijat istrinya, dengan tangan yang mulai kebas, Gean menghentikan pijatan itu. "Udah dulu Ra."


Tidak ada jawaban.


Gean menghembuskan nafas dan menggeleng pelan. Dia membawa Ladira agar bisa tidur dengan nyaman di bahunya.


"Ladira tidur?" Tanya Winda yang menoleh ke belakang.


"Iya mah, kayaknya kecapekan," jawab Gean.


"Itu... kemarin kita ke sekolah. Ladira bantuin Gean bersihin ruang OSIS. Soalnya Gean pernah lalai tugas, jadinya kena sanksi. Ladira nawar buat bantu, dan Gean juga terpaksa nerima gara-gara Ladira maksa," jelas Gean sebisa mungkin. Walaupun sulit untuknya harus berbohong. Masa iya, Gean harus menceritakan sebenarnya, kan malu!


Winda diam sesaat. "Ya udah, kalau capek kamu istirahat juga. Jagain Ladira."


Gean mengangguk. Menghembuskan nafas lega, karena ibunya tidak mengintrogasi lebih dalam.


Tangan Gean meraih jemari Ladira untuk dia genggam. Dengan satu kecupan singkat di dahi istrinya yang masih tidur dengan tenang, Gean juga ikut bergabung untuk memasuki alam mimpi yang membawa ketenangan sesaat.


...***...


"Ra, bangun. Kita makan dulu."


Tidur Ladira terusik. Perlahan mata Ladira terbuka, menyesuaikan cahaya sekitar dan mulai  duduk dengan posisi yang nyaman. Lehernya terasa sakit karena terlalu lama bersandar pada bahu Gean.


"Kamu sakit?" Tanya Winda.


"Enggak kok mah," jawab Ladira dengan gelengan.


Tangan Gean menempel pada dahi dan leher istrinya, "panas Ra. Lo bilang gak sakit?" Tanya Gean dengan nada khawatir.


Memang, Ladira merasa sedikit kurang enak badan. Tapi dia merasa itu tidak terlalu parah. "Minum obat aja pasti sembuh kok. Gue emang gini kalau naik pesawat. Udah bawaan dari kecil," jelas Ladira. Karena memang benar, kalau sejak dulu Ladira memang suka mabuk perjalanan. Jika tidak muntah-muntah, maka Ladira akan demam.


"Kalau gitu makan dulu, habis itu minum obat." Gean menyiapkan makanan dan diterima oleh Ladira yang langsung memakannya sampai habis. Setelah itu segera meminum obat untuk meredakan demam sebelum semakin parah.


Perjalanan menuju London masih sangat lama, membuat siapapun pasti akan bosan jika menunggu dan berdiam diri di kursi. Hanya makan, masuk toilet dan tertidur lagi.


...***...


"Cepetan!"

__ADS_1


"Iya sabar, namanya jalan macet. Lo gak akan telat," ucap Zeano, meyakinkan Danael yang sudah gelisah karena ingin pergi sekarang juga. Tapi karena paksaan, Danael harus mendengar apa yang Zeano minta untuk pergi ke rumah sakit, melaksanakan jadwal cuci darah.


"Udah gue bilang, gak usah ke rumah sakit. Gue ngerasa sehat-sehat aja," kesal Danael. Matanya terus melirik ke arah jam tangan, memikirkan berapa lama lagi dia akan kehabisan waktu sebelum jam berangkatnya akan tiba.


Zeano menghela nafas lelah. Sangat sulit untuk membujuk Danael yang sangat keras kepala.


"Sabar El, bentar lagi sampai."


Sekitar 30 menit menempuh perjalanan karena hambatan berupa kemacetan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang biasa Danael kunjungi beberapa kali untuk melaksanakan jadwal cuci darah.


Sekarang, di dalam ruangan serba putih itu, Danael berbaring di atas brankar dengan peralatan medis yang menyangkut pada dirinya.


"Keadaan El gimana dok?" Tanya Zeano, kepada dokter Arna yang mengambil alih untuk merawat Danael selama ini.


"Keadaannya akan baik-baik saja, selama Danael rutin meminum obat dan juga rutin melaksanakan jadwal cuci darah. Saya juga berharap, agar Danael jangan terlalu kelelahan dan perbanyak istirahat," jelas dokter Arna.


Zeano mengangguk paham. Mungkin larangan dokter Arna akan sedikit dilanggar.


...***...


"Lo yakin mau berangkat?" Tanya Zeano. Karena sehabis keluar dari rumah sakit, stamina Danael belum kembali. Wajahnya yang pucat membuat Zeano tidak yakin kalau Danael akan baik-baik saja tanpa dirinya.


"Aman," Jawab Danael.


"Gak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Zeano lagi.


"Gue rasa... udah kayaknya." Danael mengingat-ingat.


"Hati-hati."


Danael sudah masuk ke dalam taksi, meninggalkan Zeano yang penuh dengan rasa khawatir. Perlahan taksi tersebut menghilang dari pandangan Zeano.


"Semoga lo baik-baik aja," gumam Zeano.


...***...


"Mudahan gak ada yang ketinggalan," batin Danael.


...***...


...See You...😉...


...Di sini seorang penulis sedang berusaha melanjutkan kisah yang dia buat, walaupun banyak halangan tapi dia berusaha untuk tetap melanjutkan ceritanya sampai akhir. ...


...Seorang penulis yang menginginkan tokoh-tokohnya memiliki alur sampai akhir mereka masih hidup maupun mati....


...( ꈍᴗꈍ)...


Tag ig : jen_aprl13


(Tentang kalimat yang aku tinggalin di akhir cerita. Gimana tanggapannya? kasih tahu di ig)


Note: I know, pasti ada yang baca cerita ini. Karena setiap cerita itu tidak mati hanya karena tidak ada yang menanggapi.


Yuhu... kalau Liveline tamat. Ada gak yah lanjutannya?


Dadah friend ku yang ada di sana ಡ ͜ ʖ ಡ.


Ketemu lagi nanti di chapter selanjutnya.


...Sekian Terima Gaji 🙏...

__ADS_1


__ADS_2