Liveline

Liveline
Pagi yang Aneh, Tapi Lucu


__ADS_3

Suara alarm begitu nyaring, menggema di dalam kamar bernuansa hitam putih milik Gean.


Sehingga lama-kelamaan, Ladira mulai membuka matanya dan meraih handphone di nakas lalu mematikannya.


Pemandangan untuk kedua kalinya Ladira melihat Gean yang sama seperti semalam, memeluk perutnya begitu erat. Kali ini, diri ya tidak ingin mengusik laki-laki itu.


Sudah kewajibannya untuk memenuhi keinginan suami. "Kewajiban istri buat suami," gumam Ladira. Kepalanya menggeleng cepat, tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak untuk selanjutnya.


"Ge, bangun. Gue mau masak dulu," ucap Ladira menepuk pelan bahu Gean yang tidak tertutup sehelai benang.


Laki-laki itu hanya menggeliat pelan, dan semakin mempererat pelukannya pada pinggang Ladira.


"Ada pembantu, gak perlu repot-repot. Lain kali aja kalau memang mau masak sendiri, gue masih ngantuk," jawab Gean dengan suara khas bangun tidurnya.


"Ih, lo yang ngantuk jadi biarin gue masak." Ladira menarik-narik tangan Gean yang ada di pinggangnya. "Lepasin Ge, gue mau bangun," ucap Ladira begitu kesal, karena Gean malah diam saja.


Karena merasa kasihan, Gean langsung menghindar dan berbaring ke tempat semula.


"Gitu dong," Ladira langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi, tidak berselang lama dirinya langsung berjalan menuju dapur. Dari kasur, Gean hanya melihat Ladira mondar-mandir di dalam kamar dan berakhir keluar menunju dapur.


Mata Gean beberapa kali ingin tertutup kembali, tapi dia urungkan niat untuk kembali tidur. Segera Gean mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Di dapur, Ladira sudah selesai membuat sop buatannya sendiri. Tanpa ada pembantu yang ikut campur tangan, karena para pembantu tersebut, Ladira tugaskan untuk memasak lauk yang lain.


"Akhirnya selesai," ucap Ladira begitu puas dengan hasil masakannya, walaupun hanya satu jenis.


Karena waktu yang semakin berjalan, Ladira memutuskan ingin bersiap-siap untuk sekolah. Tangannya terulur untuk membuka pintu, lalu menampakkan Gean yang sudah mengenakan seragam sekolahnya.


Laki-laki itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Ladira, karena dirinya yang sibuk mengikat dasi yang sudah berulang kali dia coba ikat, tapi terus-menerus gagal.


"Gimana sih biasanya mama ikat," gerutu Gean pelan, sambil mengutak-atik handphonenya. Mungin mencari tutorial mengikat dasi.


Karena merasa sedikit kasihan, Ladira berjalan menghampiri suaminya itu. Berdiri di depan Gean dengan tiba-tiba dan mengambil  alih dasi yang sedang Gean pegang.


"Biar gue yang ikat. Katanya pintar, wakil ketua OSIS, katua basket sekolah. Tapi gak bisa masang dasi sendiri," sindir Ladira. Tangannya mulai mengikat dasi yang sudah berada di leher Gean.


Laki-laki itu hanya diam, memperhatikan dasinya dan beralih memandang wajah Ladira yang ada di depannya. Dia dulu mengira, kalau gadis ini sesuai dengan sikap tomboinya, yang dia pikir mencerminkan kalau gadis ini tidak memiliki pengetahuan banyak dalam mengurus hal-hal berbau rumah tangga. Tatapi pemikiran Gean salah besar, Ladira sangat jauh berbeda dari yang dia pikirkan.

__ADS_1


Mandiri dan serba bisa.


"Ngapain lihat-lihat, ada sesuatu di muka gue?" Tanya Ladira memegang pipinya.


Gean menyentuh pipi Ladira dan mengelap sesuatu dari pipi gadis itu.


"Apaan?" Mata Ladira menangkap jemari Gean yang sudah selesai mengelap pipinya pelan.


"Rahasia," Gean tersenyum.


Dahi Ladira mengerut, dia sedikit kesal kepada cowok itu. "Apaan sih, gak jelas lo. Pasti modus kan? Pegang-pegang pipi orang," cerocos Ladira kesal.


"Iya. Gak boleh gue pegang? Soalnya lucu, kayak moci. Pengen gue gigit!" lontar Gean memajukan wajahnya mendekati Ladira, sehingga gadis itu mundur satu langkah dan memegang kedua pipinya. Lucu.


"Ih...gak boleh digigit." Ladira menggeleng.


Gean mengulum senyumnya, merasa gemas melihat sikap Ladira yang tiba-tiba mirip seperti bayi besar.


Karena rasa gemas yang sudah tidak tertahankan, Gean menarik kedua tangan Ladira yang menutupi pipinya. Lalu dengan gerakan cepat, Gean menggigit pipi kiri gadis itu pelan, dan berakhir kecupan singkat di sana.


"Awwww. Sakit..." Rengek Ladira memegang pipinya yang sedikit basah, saat mengenai gigi Gean yang terdapat air liurnya.


Cup...cup...


"STOP!" pekik Ladira. Menahan bahu cowok itu.


Bagaimana tidak. Ladira sudah mendapat dua kecupan dimasing-masing pipinya, dan hampir saja Gean ingin mendaratkan ciuman yang beberapa senti lagi, akan mengenai bibirnya.


Ladira ingin marah, tapi amarahnya berhasil dilelehkan dengan ingatannya beberapa detik lalu. Pipi Ladira memanas, mengingat Gean yang tiba-tiba bersikap gila seperti tadi.


"Baper?" Tanya Gean menaik-turunkan alisnya, menggoda Ladira.


Plakk...


Ladira menampar paha Gean sekuat tenaganya, "Gean mah, lo jangan gila bisa gak?" Teriak Ladira yang bukannya terlihat galak, tapi lebih ke baper.


Gean tertawa, walaupun pahanya terasa sakit tapi melihat Ladira yang berhasil dia buat gila karenanya hari ini, Gean merasa puas.

__ADS_1


"Uluh...uluh. Bayinya baper," Gean menangkup pipi Ladira begitu gemas, lalu berlari mengelilingi kamar saat gadis itu kesal lalu mengejarnya.


"AWAS AJA. LO BAKAL GUE GEPREK HABIS INI!" pekik Ladira sambil mengejar Gean yang tertawa tidak habis-habisnya.


Pagi ini, mereka sudah mirip seperti Tom dan Jerry yang selalu berkelahi dan mencari masalah.


...***...


Gean menghabiskan sarapan paginya dengan begitu lahap, sop yang Ladira buat hampir habis. "Enak juga. Gue kira lo ga bisa masak," ucap Gean lalu meneguk air putih yang langsung habis satu gelas.


"Ya bisa lah," jawab Ladira yang sedang mengunyah rotinya dan dalam satu lahap, langsung habis.


"Pipi lo kenapa kayak moci?" Tanya Gean tiba-tiba, mengalihkan arah pembicaraan mereka.


"Gue kayaknya gemukan," ucap Ladira menyentuh kedua pipinya, lalu mencubitnya pelan. "Pasti jelek."


"Lo cuma percaya deskripsi diri sendiri. Tapi gak tahu gimana deskripsi orang lain kayaknya," ucap Gean yang membuat dahi Ladira mengerut. Bingung.


"Maksudnya?"


Mata Gean melihat jam yang berada di pergelangan tangannya, masih banyak waktu.


"Lo gak jelek. Tapi lu.cu," tekan Gean di akhir kalimatnya.


"Apaan yang lucu? Menurut gue rasanya makin aneh aja kalau gue dibilang lucu," pendapat Ladira.


Lidah Gean membasahi bibir dalamnya, berdiam sejenak sambil terus menatap Ladira yang malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Buktinya gue suka gigit, malahan mau gue makan," lontar Gean yang terdengar ambigu di telinga Ladira.


Mata Ladira melotot tajam, pikirkan malah berkeliaran jauh ke hal-hal yang negatif. "Lo aneh-aneh aja."


"Gak aneh-aneh, tapi maunya aneh-aneh. Jadi kapan lo siap?" Tanya Gean yang membuat dahi Ladira berkerut.


"Apaan sih. Jagan ngomong soal itu sekarang, bisa gak. Gue gak siap dan gak akan siap," jawab Ladira.


Kepala Gean menggeleng, "siapa juga yang bahas soal gituan. Maksud gue, kapan lo siap berangkat sekolah," jelas Gean.


Mulut Ladira terbuka sedikit, "lo emang gak jelas," Ladira melangkah pergi meninggalkan Gean, saat dirinya yang sudah membawa cucian piring kotor menuju wastafel untuk dibersihkan oleh para pembantu di sana.

__ADS_1


...***...


...Spam 👉...


__ADS_2