Liveline

Liveline
Hati Kecil


__ADS_3

Ruang tamu yang terasa tegang untuk Ladira, setelah membantu Winda menyiapkan hidangan berupa minuman dan beberapa camilan, keduanya langsung bergabung menghampiri Zayan dan Gean yang sedang mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga tidak ada sama sekali ekspresi bersahabat antara ayah dan anak tersebut.


"Kenapa nyuruh kita ke sini sekarang ma?" Tanya Gean membuka percakapan.


Winda melirik suaminya yang hanya memilih untuk diam, "um, gini. Besok rencananya mama sama papa mau ke luar kota dulu sekitar 3 hari, jadi setelah kita pulang, mama minta kalian sudah siap untuk berangkat sama-sama ke London."


Gean mengerutkan keningnya, "ngapain kita ke London?" Tanya Gean.


"Papa mau nyerahin perusahaan untuk kamu kelola," jawab Zayan tiba-tiba.


"Kenapa di London? Gean mau di sini aja," tolaknya.


Zayan sudah menduga jika putranya akan menjawab demikian. "Kamu akan tetap tinggal di sini dan hanya perlu mengelolanya dari rumah," jelas Zayan, membuat Gean sedikit merasa lega.


...***...


Hari sudah sangat larut dan jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Hal itu membuat Gean dan Ladira dipaksa untuk bermalam dan mereka sudah ada di dalam kamar Gean.


Waktu perlahan berjalan, tapi mata Gean dan Ladira sama-sama belum bisa tertutup. Setelah berbincang-bincang ringan dengan Winda yang tadi sempat ke kamar mereka dan menyerahkan sesuatu, keduanya hanya bisa diam.


Flashback


Gean, Ladira dan Winda duduk bersama di atas sofa yang tersedia di dalam kamar itu. Ketiganya sedang berbicara mengenai sekolah dan banyak hal lain yang mengundang gelak tawa yang membuat mereka sedikit terhibur.


"Hm, mama jadi iri sama teman yang udah nimang cucu." Diam, kedua pasangan itu terdiam setelah penuturan Winda membuat mereka tidak bisa berkata-kata.


"Mah, ini udah malam, mendingan mamah tidur deh kan besok udah mau berangkat," ucap Gean mengalihkan pembicaraan.


Winda mengangguk. Benar juga apa yang Gean katakan barusan.


"Gean, kamu ikut mama sebentar ya ke dapur. Untuk Ladira, kamu pakai apapun yang ada di dalam Tote bag ini, oke." Aneh, sebelum Winda keluar, dia tersenyum-senyum sendiri setelah menyerahkan Tote bag itu kepada Ladira.


Sekarang hanya Ladira sendiri yang ada di dalam kamar, dia duduk di kasur dan mengecek apa isi tas yang Winda barusan berikan, se-harus itukah Ladira memeriksa dan segera memakainya.


"What. Baju apaan sih ini?" Pekik Ladira saat melihat model baju yang kekurangan bahan di tangannya.


Baiklah, Ladira sudah tahu apa maksud Winda menyerahkan benda itu kepadanya.

__ADS_1


Sudah hampir setengah jam kamar itu lenggang. Suara petir mulai berbunyi nyaring disertai rintikan hujan yang semakin deras. Gadis itu sudah berbaring di tempat tidur, menyelimuti tubuhnya yang kedinginan karena suhu udara yang berubah saat hujan turun.


Ceklek


Tepat saat Ladira sudah tertidur, laki-laki itu akhirnya datang dan melemparkan tubuhnya di atas kasur.


"Kok panas," gumam Gean yang kemudian membuka kaos hitam yang dia kenakan.


Tangannya ingin meraih remote AC, tapi dia melihat kalau Ladira mungkin akan tambah kedinginan jika dia menyalakan AC.


"Sial, pasti kerjaan mama," umpat Gean, begitu melihat apa isi Tote bag yang Winda serahkan kepada Ladira tadi. Rencana Winda gagal kepada Ladira, tapi tidak untuk Gean yang malah dengan bodohnya sudah terjebak oleh susu coklat, yang dulu biasanya Winda siapkan untuk Gean sebelum tidur.


Laki-laki itu mondar-mandir dengan tubuh yang semakin basah oleh keringat. Mata Gean teralihkan saat Ladira bergerak dan tanpa sadar dirinya sempat terpaku kepada gadis itu.


"****, tahan...tahan!" Geramnya. Gean memilih ingin keluar dari kamar, tapi haruskah rencana Winda berhasil menjebaknya, terkunci di kamar itu.


"Mah, bukain pintunya!" Teriak Gean tak tertahankan, membuat Ladira langsung bangun.


Gadis itu duduk dan menatap kesal ke arah Gean, "jangan teriak-teriak bisa gak sih!" Ucap Ladira yang mengeraskan suaranya, karena suara hujan yang semakin deras.


Deg


"L-o kenapa?" Tanya Ladira memberanikan diri.


Bukannya menjawab, Gean malah mendekat dan dengan cepat Ladira berlari menuju kamar mandi.


Sial. Belum sempat gadis itu membuka pintu, tangan Gean sudah menahan dan menyudutkan Ladira.


Wajah Gean mendekat dan mulai melancarkan aksinya. Sedangkan Ladira sudah berusaha memberontak, tapi tenaganya kalah telak dengan Gean yang sekarang sudah merapatkan tubuh mereka agar Ladira tidak bisa pergi ke mana-mana.


"Ge-hmm, lepasinh," racau Ladira dengan nafas yang tersendat-sendat. Sudah sangat lama Gean bermain dengan bibirnya, tapi tidak ada niatan untuk Gean berhenti, membuat nafas Ladira hampir habis.


Laki-laki itu kembali menyerang leher Ladira, tanpa sadar Ladira malah mendongak membuat Gean dengan mudah bermain di sana.


Seperti terhipnotis, entah kenapa Ladira kali ini merasa nyaman dan terkadang membalas perlakuan yang Gean berikan kepadanya. Hingga Gean sudah membawa Ladira menuju kasur, dan disitulah pikiran mereka sudah tidak lagi memikirkan, tentang segala masalah yang selama ini menghalangi keduanya berbuat sesuatu, yang sudah lama tidak terlaksanakan sebagai pasangan yang sudah menikah.


Darrr

__ADS_1


Brug


Nafas Ladira terengah-engah, suara pertir menyadarkan pikirannya. Gean yang tadi sedang menguasai Ladira langsung jatuh di samping gadis itu. Belum sampai ke intinya tapi harus berhenti di tengah jalan.


Ladira membungkus tubuh polosnya di dalam selimut, air matanya tiba-tiba mengalir sedikit dari sudut mata.


"Lo tadi ngapain, lo lupa sama janji. Gue gak siap, gue gak mau gini dulu," ucap Ladira yang membalikkan badannya memunggungi Gean.


"Maaf," gumam Gean yang juga berbaring memunggungi Ladira. Sekarang dirinya harus kembali tersiksa, menahan sesuatu sampai pagi.


Kembali ke saat ini, di mana mata Ladira masih belum bisa terpejam sama sekali. Tubuhnya yang polos yang hanya bermodalkan selimut, membuat Ladira kedinginan. Apalagi Gean yang sedari tadi tidak bisa diam melalui pergerakan ranjang yang terus-menerus membuat Ladira pusing sendiri.


Gadis itu memberanikan diri untuk menoleh dan segera berbalik, matanya tertangkap basa oleh Gean yang ternyata sedang memperhatikannya dari belakang.


Ada sedikit rasa bersalah dan tidak tega saat dia melihat Gean yang terlihat lesu, apakah Ladira harus memberikan hak suaminya itu sekarang?


Pikirannya selalu bercabang saat mempertimbangkan banyak hal.


Bukan apa-apa, tapi Ladira hanya takut membuat Danael sakit hati. Bagaimana jika Ladira sampai hamil? Bagaimana sekolah dan segala impiannya?


Beberapa menit masih terdiam, Ladira menguatkan keputusannya.


Gadis itu berbalik menghadap Gean yang memejamkan matanya. Keringat yang terus-menerus keluar dan membasahi tubuh, yang membuat nafasnya berhembus tidak beraturan.


"Ge, lo boleh lanjutin."


Mendengar suara lembut menerpa indra pendengarannya, Gean membuka mata dan menatap Ladira. "Lo ngomong apa?" Tanya Gean, karena benar-benar jika dia tidak mendengar suara Ladira begitu jelas karena suara hujan.


Ladira mendekat dan mengecup singkat pipi Gean. Laki-laki itu tertegun, menatap Ladira tidak percaya. Tubuhnya kembali bereaksi tidak nyaman walaupun hanya kecupan pada pipinya yang Ladira beri.


"Take what is yours, tonight," jawab Ladira.


Senyum tipis terbit pada bibir laki-laki itu, dia merasa senang, karena jika Ladira sampai merelakan mahkotanya diambil, maka Ladira bisa menerima Gean perlahan.


Suara hujan yang semakin deras, menjadi saksi di mana keduanya sama-sama tidak tidur malam ini. Mungkin ini adalah malam terindah untuk Gean, yang tidak akan dia lupakan.


Ladira tidak tahu apakah keputusannya benar atau tidak, tapi yang pasti hati kecilnya berkata kalau inilah keputusan yang tepat. Seperti apa yang ibunya katakan dulu. Dengarkanlah hati kecilnya jika Ladira dalam keadaan yang bingung harus memilih yang mana, walaupun keputusan itu mungkin akan membawa sedikit masalah, tapi Ladira yakin kalau masalah itu juga akan membawanya pada jawaban yang selama ini dia pertanyakan tentang tujuan dia menjalani hari-hari seperti sekarang dan seterusnya.

__ADS_1


...***...


...See You...😉...


__ADS_2