Liveline

Liveline
Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah menempuh waktu cukup lama di perjalanan, akhirnya Ladira bisa menghirup udara segar di luar. Mereka sudah memesan taksi yang mengantarkan mereka menuju hotel yang sudah dipesan.


Selama perjalanan itu pula, tidak ada yang membuka percakapan untuk mencairkan suasana. Karena efek lelah, membuat mereka semua hanya diam sampai mereka berempat sudah berada di dalam kamar masing-masing.


"Ra, mandi dulu sana habis itu istirahat," ucap Gean kepada Ladira yang langsung berbating di ranjang.


Dengan langkah gontai, Ladira memaksakan dirinya untuk segera mandi.


Semuanya sudah selesai. Setelah 1 jam yang lalu keduanya sudah mandi dan makan pagi. Ladira sudah tidur pulas di ranjangnya tanpa perduli apapun, karena rasa kantuknya udah lama menghampirinya.


Hanya Gean yang belum tidur. Tepat beberapa menit kemudian, laki-laki itu baru masuk ke dalam kamar karena dia sedari tadi masih berada di ruang makan bersama orangtuanya, membiarkan Ladira kembali ke kamar duluan karena wanita itu sudah sangat kelelahan.


...***...


"Ra, bangun."


Ladira menggeliat untuk meregangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal, sehabis bangun tidur. Suara Gean yang membangunkannya, membuat Ladira harus meninggalkan alam mimpi yang begitu tenang.


"Kenapa?" Tanya Ladira dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mandi cepat, habis itu siap-siap. Kita mau berangkat," titah Gean. Laki-laki itu sudah segar dan rapi, walau hanya mengenakan pakaian yang biasa Gean gunakan untuk jalan-jalan keluar rumah.


Jam menunjukkan pukul 11.35. Setelah bersiap-siap, mereka berempat sudah berada di dalam satu mobil, yang berjalan menuju satu tujuan.


"Kita ke mana?" Tanya Ladira kepada Gean yang duduk di sampingnya. Suaminya itu sedari tadi hanya diam, dengan tangan yang memainkan ponsel sedari tadi.


"Tunggu aja, nanti lo tahu."


Ladira mengangguk, walau tidak puas dengan jawaban tadi. Jika saja di dalam mobil itu tidak ada Zayan dan Winda, maka Ladira akan terus bertanya sampai jawabannya terjawab.


Ternyata jarak yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari hotel, tapi kenapa mereka ke sini? Banyak pertanyaan yang mulai muncul di benak Ladira tentang bangunan besar ber-cat putih di depan mereka.


"Kok kita ke sini sih?" Tanya Ladira, heran.


"Kamu ikut aja ya." Winda tersenyum tipis. Mulai berjalan menghampiri suaminya Zayan yang sudah berjalan di depan.


Gean menggandeng tangan kecil Ladira, yang pas di dalam genggamannya. Mereka berempat mulai berjala masuk ke dalam rumah sakit itu, menyusuri lorong dan sesekali bertemu beberapa pasien yang berkeliaran di dalam sana.

__ADS_1


Ceklek


Pintu yang mereka cari terbuka oleh Zayan. Mereka berempat masuk ke dalam sana, mendekati seseorang yang berbaring di atas brankar dengan peralatan medis yang sekarang menjadi penolong orang itu untuk tetap bertahan, karena luka-luka yang orang itu dapati di tubuhnya.


"Papah."


Ladira menatap tidak percaya, kepada ayahnya yang berbaring tidak berdaya di atas brankar. Dengan banyak luka yang sudah di obati.


"Papah kamu kecelakaan. Kita dapat informasi kalau ternyata dia selama ini tinggal di London," jelas Zayan, yang kemudian langsung keluar dari ruangan itu.


Ladira menatap kosong ke arah ayahnya. Sudah lama Ladira tidak bertemu, dan saat dia dipertemukan, kenapa Ladira harus melihat ayahnya seperti ini.


Gean mengusap pelan bahu istrinya. Melihat Ladira yang perlahan menitikkan air mata membuat Gean merasa sedih juga. Bagaimanapun perlakuan Raska selama ini kepada isterinya, tapi Ladira tetap menyayangi ayahnya itu. Hanya Raska yang sekarang Ladira miliki, selain mereka-keluarga barunya.


"Ra, kamu harus tetap kuat, doakan supaya papah kamu bisa cepat sembuh," ucap Winda lembut. "Mama mau beli makanan dulu dari kantin, buat makan siang. Kalian tunggu sebentar, oke." Winda meninggalkan ruangan itu, setelah mendapat anggukkan dari Gean.


"Duduk dulu Ra," Gean menarik pelan tangan Ladira untuk mengikutinya, tapi Ladira mengelak dan memilih duduk di samping brankar Raska-ayahnya. Baiklah, biarkan Ladira sendiri untuk sesaat. Mungkin wanita itu merasa rindu kepada ayahnya.


...***...


Sudah 5 jam mereka berada di rumah sakit, kecuali Zayan yang harus kembali.


Saat ini Ladira masih kukuh dan memilih untuk tetap duduk di samping ayahnya, walaupun keadaan perut yang sedari tadi meminta diisi. Wanita itu terus menolak Winda dan Gean yang memintanya untuk makan.


Ruangan itu hanya ada Ladira dan ayahnya saja, sampai beberapa menit kemudian Gean datang dan menghampiri istrinya yang selalu terlihat lesu 5 jam belakangan ini.


"Ra, makan yah," pinta Gean.


Ladira menggeleng, dia masih diam.


"Kalau lo gak makan, gue juga gak akan makan. Lo memang tega, buat gue kelaparan dari siang tadi." Gean berpura-pura kesal. Pada akhirnya, Ladira melirik dirinya.


"Kenapa gak makan? Lo nanti bisa sakit," ucap Ladira.


"Tuh lo tahu. Biarin aja gue sakit, supaya kita kompak."


Ladira tersenyum tipis saat melihat wajah tertekuk suaminya. Perlakuan sederhana laki-laki itu cukup membuatnya sedikit terhibur, walaupun mood Ladira masih belum baik seutuhnya.

__ADS_1


"Iya gue makan," ucap Ladira.


"Di taman yuk, biar papah istirahat. Sebentar lagi mama sama papa mau datang, biar kita makan dulu," jelas Gean. Ladira mengangguk dan menurut, sehingga keduanya berjalan menuju taman belakang rumah sakit itu.


Mereka kita taman rumah sakit akan sepi jika malam hari, tapi dugaan mereka salah, karena taman tersebut malah semakin ramai karena suasana di taman itu sangat indah, dipadukan lampu taman yang menyinari sekitar.


Gean memilih kursi yang pas untuk mereka berdua, karena di sana juga ada meja kecil untuk menaruh makanan mereka.


"Biar gue suap'in," ucap Gean, mengambil alih nasi bungkus milik Ladira.


Wanita itu tidak menolak, dia menerima setiap suapan nasi yang Gean berikan kepadanya. Malam ini akan menjadi momen indah, saat pertama kalinya Ladira menerima suapan nasi dari Gean dengan sangat tulus. Saat itu pula Ladira merasa sangat bersyukur, karena telah dipertemukan dengan laki-laki sebaik Gean. Walaupun hatinya masih tertanam oleh orang lain, tapi Ladira harus bisa menanam Gean lebih dalam di lubuk hatinya.


"Ehem, lihatnya jangan gitu juga kali," sindir Gean, sambil terkekeh pelan. Melihat Ladira yang terus-terusan menatapnya, membuat Gean salah tingkah sendiri.


Wanita itu membuang muka sesaat, dia menghembuskan nafas pelan untuk mengusir rasa gugup tadi. Setelah tenang, Ladira mengambil nasi bungkus Gean dan bergantian menyuapkan nasi kepada suaminya itu. Begitulah seterusnya, sampai mereka selesai makan dan menikmati indahnya langit yang dihiasi ribuan bintang malam itu.


...***...


Malam sudah sangat larut, suasana rumah sakit yang sedikit sepi membuat Ladira bisa berjalan tenang di ruangan serba putih itu. Dia tidak bisa tidur dan memilih untuk berjalan-jalan santai sebentar.


Brug


"Siapa?" Tanya Ladira refleks. Suara itu tidak jauh dari posisinya sekarang.


Karena rasa penasaran, membuat wanita itu memberanikan diri untuk mencari tahu asal suara yang ada di balik tembok itu.


"Itu siapa?" Tanya Ladira dalam hati, saat melihat seseorang yang terduduk di lantai.


Ladira semakin mendekat. Tapi langkahnya terhenti saat melihat ada sedikit darah yang mengotori lantai.


"Ya ampun!" Pekik Ladira refleks. Wanita itu segera menghampiri laki-laki yang sudah terkuai lemas.


Kenapa dia ada di sini?


"L-lo kok di sini?"


...***...

__ADS_1


...See You...😉...


__ADS_2