
Semua tenda sudah terpasang kokoh di atas tanah, sehingga mereka dapat memindahkan barang-barang menuju tenda. Pada pukul 16.00 sore, seluruh siswa-siswi SMA Madra Jaya segera menyiapkan api unggun untuk mereka menghangatkan tubuh malam nanti, sebelum jurid malam yang akan diadakan pada pukul 19.00.
Jurid malam yang hanya lakukan tidak terlalu jauh dari area perkemahan, mengingat di dalam hutan memungkinkan jika ada bahaya jika mereka harus berjalan lebih jauh.
Saat semua makanan sudah siap dan api unggun sudah menyala di depan tenda masing-masing, mereka makan bersama mengelilingi api unggun itu.
"El, lo yakin buat ikut jurid malam?" Tanya Zeano, teman satu tenda dengan Danael dan beserta dua orang laki-laki dari kelas 12 dan kelas 10.
"Yakin kok!" jawab Danael. Menghadirkan tanda tanya di antara dua orang yang tidak tahu-menahu arah pembicaraan antara Zeano dan Danael.
"Lo kenapa El?" Tanya Rizal, dari kelas 12. Rizal sangat dekat dengan Zeano, karena bukan hanya teman satu kelas, tapi mereka berdua teman satu tim futsal di sekolah.
Danael tersenyum, "gue gak papa. Zen aja yang berlebihan, gara-gara gue sempat sakit, jadinya dia malah sok khawatir." Zeano menghela nafas gusar, mendengar penjelasan Danael yang terdengar mengejek dirinya, walaupun hal itu benar adanya jika Zeano khawatir jika saja gejala penyakit Danael bisa kambuh, dan memicu hal-hal ya g bisa memperburuk kondisi kesehatannya.
Rizal hanya mengangguk-angguk, dirinya juga memang mengetahui jika Danael terlihat sakit dari bibirnya yang terlihat pucat, tapi Rizal menganggapnya sebagai penyakit musiman yang sudah biasa dialami oleh banyak orang.
Sungguh, penyakit musiman memang sangat biasa terjadi, contohnya sekarang saat orang-orang sedang makan bersama dengan lahapnya, sampai berebut makanan. Tidak untuk Gean yang hanya menyuap beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya, dan langsung tidak nafsu makan. Sejak perjalanan di dalam bus, tiba-tiba saja Gean merasa pusing dan berakhir terdiam lemah di kursinya. Bukannya jika sakit dia harus beristirahat, tapi Gean harus melaksanakan tanggung jawab sebagai ketua OSIS. Hingga malam tiba, Gean memaksakan diri untuk tetap mengikuti jurid malam, karena merasa jika kondisinya masih optimal untuk tetap beraktivitas.
Waktu itupun tiba, seluruh siswa-siswi sudah berbaris menurut kelompoknya masing-masing dan anggota OSIS segera melakukan pembagian kelompok yang terdiri dari 8 orang.
Tidak perlu repot-repot, karena mereka hanya melakukan pengundian, laki-laki kelompok berapa yang akan digabung dengan kelompok perempuan.
"Um, Andin. Lo ada lihat Gean?" Tanya Ladira, kepada Andin yang berbaris tepat di sebelahnya.
__ADS_1
"Dia lagi ada urusan sama pak Indra. Tadi sempat gak enak badan, habis itu tetap maksa buat ikut jurid malam," jelas Andin. Ladira merasa bersalah, karena tidak memperhatikan Gean yang merupakan kewajibannya sebagai istri, untuk mengurus suami. Sejak dia bertemu dengan Danael di sekolah, sejak itu pula, Ladira sama sekali tidak mengingat Gean. Padahal Gean baru-baru saja sakit, dan belum tentu kondisi tubuhnya sudah optimal.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Ladira meninggalkan barisan kelompoknya. Sedangkan Naudra, Laras dan Melin tidak menyadari kepergian gadis itu dari barisan.
Di sisi lain, Ladira diam-diam menyelinap menuju tenda Gean yang berada di area tenda khusus laki-laki. Sungguh, gadis itu mencari resiko besar karena memasuki area tenda yang sedang dijaga oleh seorang guru yang sedang berpatroli. Tapi, menurut informasi yang dia dapat barusan, membuat Ladira yakin kalau dia bisa mencapai tenda Gean yang berada di nomor 24, karena katanya tenda itu berada di paling ujung dan berjarak tidak terlalu jauh.
Tenda nomor 24 dengan warna biru langit yang dia dapati di depannya sekarang, perlahan Ladira mengintip sedikit ke dalam sana dan tidak mendapati seorangpun di dalam.
"Gean mana?" Gumam Ladira.
"Gue di sini!"
Ladira langsung berdiri tegak dan segera berbalik, ternyata itu adalah Gean, laki-laki itu rupanya baru datang setelah bertemu dengan pak Indra, sesuai dengan apa yang Andin katakan di barisan tadi.
Entah kenapa Ladira menjadi gugup sekarang, padahal tidak ada yang harus dia gugup kan. "L-lo sakit?" Tanya Ladira mencoba agar tidak terlihat gugup.
"Enggak," jawab Gean.
Prangg
Pandangan keduanya refleks menoleh menuju arah suara peralatan dapur yang entah jatuh atau apa, sehingga membuat suara bising.
"Kenapa ada panci sembarangan di sini?!" Ucap seorang pengawas, yang ternyata sudah berpatroli tidak jauh dari tenda Gean.
__ADS_1
Refleks, tangan Gean menarik Ladira untuk masuk ke dalam tendanya. Sebelum akhirnya pengawas tersebut mulai mendekat dan malah berdiam di depan tenda itu.
Mencoba agar tidak melakukan pergerakan yang membuat tenda itu ikut bergerak, membuat Ladira mati-matian harus menahan rasa sakit saat Gean malah duduk di atas kakinya dengan posisi yang tidak nyaman. Apalagi di dalam tenda tidak ada penerangan sedikitpun, hanya mengharapkan cahaya bekas api unggun kecil di depan tenda itu.
"Kaki gue sakit Ge!" lirih Ladira, yang hampir tidak terdengar.
"Maaf," bisik Gean, perlahan bergerak dengan hati-hati dan akhirnya bisa duduk di samping Ladira.
5 menit hening, akhirnya penjaga tersebut pergi dari depan tenda Gean. Ladira dan Gean menghela nafas lega karena mereka tidak ketahuan, bisa gawat jika laki-laki dan perempuan didapat sedang berduaan di dalam tenda. Maka perkiraan negatif akan segera muncul.
"Kita balik ke barisan Ra, jurid malam mungkin udah mau mulai," ucap Gean, tapi Ladira malah menahan tangan laki-laki itu dan mengentuh dahi Gean.
"Lo demam Ge, kalau makin parah kan bisa bahaya," ucapnya, mencoba memperhatikan raut wajah Gean dengan cahaya yang sangat remang. "Gue minta maaf gara-gara masalah di ruang ganti yang sebenarnya udah lo sesali, tapi gue malah besar-besarkan sampai gue lupa kalau gue harus berfikir dewasa, dengan fakta sebenarnya kalau lo memang berhak ngelakuin hal itu kapanpun lo mau. Jujur gue waktu itu belum siap ...."
"Jangan bahas lagi Ra, yang pasti kita bisa saling ngerti dan bisa saling maaf. Gue juga waktu itu emang keterlaluan, gak sadar kalau sampai bisa buat lo hampir kehilangan hak yang lo jaga buat orang yang tepat." Ladira menunduk kendengar kalimat terakhir Gean, dia bisa menyadari kalau Gean pasti membicarakan tentang Danael.
"Gue gak sakit kok, sekarang kita balik ke barisan," ucap Gean mengalihkan pembicaraan, dia menarik tangan Ladira untuk mengikutinya, menghampiri teman-teman mereka yang sudah bersiap ingin berangkat.
Di sana, mereka mendapatkan informasi kalau kelompok Gean bergabung dengan kelompok Ladira. Entah itu hadiah karena mereka berbaikan atau ada makna dari hadiah yang mereka hadapi nanti.
...***...
...See You...😉...
__ADS_1