
Ladira berjalan lesu melewati lorong-lorong sekolah yang masih kosong. Dirinya kini merasa semakin sendiri, saat biasanya selalu ditemani oleh Naira, tapi gadis itu seolah tidak mengenalinya saat bertemu.
Saat Ladira tengah berjalan, dia tidak sengaja bertubrukan dengan orang yang juga berbelok arah dengannya di lorong.
Brugg..
"Maaf," gumam Ladira yang membantu membereskan beberapa lembar kertas yang berjatuhan di lantai.
"Ladira!" Suara tersebut menghentikan Ladira sesaat, ternyata itu adalah Gean yang tadinya membawa beberapa tumpuk lembar kertas menuju ruangan OSIS.
Dengan cepat Ladira membereskan sisa lembaran yang terhambur lalu menyerahkannya kepada Gean, "sorry, gue tadi gak sengaja." Maaf Ladira.
"Gak masalah. Tapi, tumben banget lo datang pagi?" Tanya Gean.
"Enggak apa-apa, gue gak ada kerjaan doang di rumah. Makanya cepat datang ke sekolah," jawabnya.
Gean hanya mengangguk untuk menanggapinya, "lo udah makan?" Tanya Gean dan Ladira hanya menggeleng, tanda dia belum makan pagi ini.
"Ya udah, lo antar tas ke kelas. Setelah gue dari ruangan OSIS, kita ke kantin buat makan bareng. Soalnya gue juga belum makan." Saran Gean.
"Oke," jawab Ladira setuju, karena dirinya memang sedang merasa lapar saat ini.
Keduanya langsung bergegas menuju tujuan masing-masing, sampai akhirnya Gean duluan yang menghampiri Ladira menuju kelasnya dan mereka menuju kantin bersama.
Ternyata kantin sekolah sama sepinya seperti keadaan sekolah, karena ini masih terlalu pagi untuk siswa-siswi berangkat.
"Mau pesan apa?" Tanya Gean.
"Nasi goreng aja," jawab Ladira.
"Minum apa?" Tanya Gean kembali.
__ADS_1
"Teh es,"
"Teh hangat Ra, ini masih lagi yah. Nanti lo bisa sakit!" Imbuh Gean. Ladira hanya mengangguk, menerima saran Gean untuk memilih teh hangat.
Gean segera memesan makanan dan beberapa menit menunggu, laki-laki itu membawakan 2 porsi nasi goreng dan dua gelas teh hangat. Ternyata Gean memesan porsi yang sama dengan Ladira.
"Makasih Ge," ucap Ladira saat Gean yang sudah memesankan makanan untuknya.
"Sama-sama," balas Gean tersenyum.
Nasi goreng mereka sudah dimakan setengah, sampai Gean kembali bersuara.
"Lo kenapa diam gini? Apa masih karena Danael. Maaf Ra, gue gak bisa hadir di acara dan berakhir Danael bermasalah katanya. Tapi El sama Naira baik-baik aja kan?" Tanya Gean berturut-turut.
Ladira menggeleng dan mengaduk pelan nasi gorengnya yang masih tersisa, "tadi malem, El minta putus sama Naira. Gue jadi merasa bersalah, waktu tahu alasan Naira yang selama 1 Minggu diamin aku sama El, ternyata dia merasa kalau gue sama El punya hubungan spesial," jelas Ladira seadanya.
"Mereka putus?" Tanya Gean lagi dan diangguki oleh Ladira.
"Gue gak bisa tenang Ge, di sisi lain gue terbebani sama merasa bersalah dengan Naira, dan di sisi lain papa harus nika...hmmm." Ladira segera membekap mulutnya sendiri, saat tidak menyadari kalau dirinya ingin membongkar masalahnya kepada Gean.
"Bukan, gue salah ngomong aja. Gue kebawa suasana sampai salah ngomong, jadi jangan mikir yang aneh Ge," imbuh Ladira, menormalkan ekspresinya agar tidak terlihat mencurigakan di depan Gean.
"Gak usah untuk berusaha nutupin masalah lo Ra, gue tahu kalau lo pasti lagi hadapin masalah yang lebih berat dari pada masalah sama mereka Naira. Gue mau lo jujur, dan gue juga bisa jujur sama lo!" Jelas Gean.
Ladira terus mempertimbangkan keputusannya, antara jujur atau tidak kepada Gean. Tapi dirinya lebih ingin jujur saja, agar bebannya bisa terasa lebih ringan. Karena dia yakin, kalau Gean pasti memiliki solusi dan bisa membebaskannya dari ikatan pernikahan yang akan diadakan 2 hari lagi, saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan ayahnya di telefon tadi pagi.
"Gue akan dinikahin 2 hari lagi, dan gue bingung harus apa!" Jelas Ladira jujur.
Tentu saja Gean terlonjak kaget, padahal awalnya di mengira kalau Ladira benar-benar salah bicara. "Sama siapa?" Tanya Gean mengintrogasi.
"Enggak tahu. Gue sekarang butuh banget solusi, apa lo punya cara gitu buat bantuin gue bujuk papa supaya batalin pernikahannya!" Mohon Ladira.
__ADS_1
Gean memainkan lidahnya di langit-langit mulut sambil berfikir, "apa di rumah lo tadi malem ada orang yang datang?" Tanya Gean tanpa memberi solusi kepada Ladira.
"Dari mana lo tahu? Perasaan lo gak ada di rumah gue!" Tanya Ladira mulai berprasangka.
"Siapa nama orang yang tadi malam ke rumah lo?" Tanya Gean lagi, dan tanpa mau menjawab pertanyaan yang terus Ladira tanyakan.
Ladira mengerutkan keningnya bingung dengan tingkah Gean, tetapi pikirannya tetap mengingat-ingat siapa tamunya semalam.
"Yang aku sempat dengar, tadi pagi papa telfonan sama tamu semalam yang dia panggil pak Zayan. Mungkin itu sih namanya! Emang kenapa?" Tanya Ladira
Gean terdiam saat Ladira mendengar nama itu disebut, "itu papah gue!" Jawab Gean.
"Hah! J-jadi, yang pak Zayan maksud putra satu-satunya itu lo. Jadi k-kita?" Lontar Ladira begitu kaget, sama halnya dengan Gean yang juga tidak menyangka kalau gadis yang dimaksud ibunya semalam adalah Ladira. Calon istrinya.
...***...
"Ra, lo gak mau istirahat buat makan siang? Dari istirahat pertama, lo sama sekali gak ada makan. Nanti maag lo kambuh, kan bisa bahanya," tawar Danael yang khawatir saat Ladira yang dari tadi pagi terus-menerus diam.
"Gue gak laper, lo ke kantin aja. Gue gak mau!" Jawab Ladira lalu menelungkup kan kepala nya di antara dua tangan yang di lipat, di atas meja.
Tangan Danael terulur untuk mengelus lembut surai Ladira, "ya udah, kalau gitu gue ke kantin, kalau butuh apa-apa bisa chat atau telfonan langsung. Oke!" Ucap Danael dan diangguki Ladira pelan.
Rasanya Ladira ingin sekali menghilang dari dunia ini, tapi kenapa begitu sulit. Takdir seolah-olah sudah menentukan garis hidupnya untuk menjalani setiap tantangan yang harus dia lewati.
"Kenapa harus Gean? Dia udah gue anggap kakak sendiri. Kenapa juga gue harus nikah secepat ini, padahal gue masih punya banyak harapan. Kenapa banyak tantangan, mulai mamah pergi, hilang sahabat baik kayak Naira, dan sekarang seolah gue gak tahu harus berbuat apa lagi selain pasrah!" Gumam Ladira dengan setetes air mata yang mengalir dari kelopak matanya.
Dirinya terus membatin, 'haruskah dia dilahirkan, dan menjalani pahitnya garis kehidupan. Entah sampai kapan Tuhan akan memberi pelangi disetiap langkah selanjutnya'
Di sisi lain, Gean sama bingungnya dengan Ladira.
Laki-laki itu terus menyendiri di rooftop sekolah. Dengan alasan kesehatan yang menurun, Gean meyakinkan rekan-rekan OSIS untuk mengizinkannya tidak mengikuti rapat.
__ADS_1
Sekarang yang Gean butuhkan hanyalah ketenangan, dan jalan pikirannya harus tetap lurus. Dia dihadapkan dengan banyak pilihan sulit, "kenapa harus Ladira. Gue gak mau rasa yang ada semakin bertambah, dan membuat dia sakit. Tapi, kalau nentang, gimana sama mamah,"
...***...