Liveline

Liveline
Tenda


__ADS_3

Belasan bus berhenti di sebuah lapangan besar yang menjadi lokasi perkemahan mereka, di sebuah hutan yang tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk.


"Tangan lo masih sakit?" Tanya Ladira berulang-kali, karena dia tidur sekitar 1 jam lebih dan saat bangun Danael sempat mengeluh karena tangannya yang keram dan sulit digerakkan.


"Gak papa Ra, udah, jangan nanya itu terus. Gue cuma keram sebentar, ini juga udah sembuh, jadi gak perlu dibahas lagi," pinta Danael, karena dia juga lelah terus-menerus menjawab dengan jawaban yang sama, kalau dia baik-baik saja. Pertanyaan itu berulang-ulang dia dengar selama 5 jam perjalanan.


Seluruh siswa-siswi diberikan waktu beristirahat sekitar 30 menit untuk berjalan-jalan di sekitar lapangan, dengan pemandangan danau yang indah tepat di sisi bagian matahari akan tenggelam nanti sore. Lokasi perkemahan yang sangat ideal bagi mereka yang menyukai keindahan alam. Seluruh siswa-siswi SMA Madra Jaya sangat berterima kasih kepada mereka yang menentukan tempat perkemahan sebagus ini.


Ladira tidak berniat keluar dari dalam bus selama beristirahat, karena di luar matahari sedang terik-teriknya dan Ladira memilih mengumpulkan tenaga sebelum membangun tenda di jam 14.00 nanti. Sedangkan seluruh laki-laki di dalam bus XI IPS 1 sudah keluar semua, karena diminta untuk membantu mengangkut berbagai macam peralatan yang dibawa oleh perintah para guru. Orang yang tersisa di dalam bus itu hanya Ladira, Bila dan 5 orang siswi yang juga masih bertahan di dalam.


"Ra, kok gue lihat Danael sama Arsa gak akrab kayak dulu. Biasanya kan kalian bertiga selalu kompak, buat bolos ataupun ngelakuin sesuatu sama-sama?" Pertanyaan tiba-tiba dari Bila, membuat Ladira menghentikan kegiatan memainkan ponsel. Gadis itu sempat bingung beberapa detik untuk menjawab pertanyaan dari teman satu kursinya.


"Mereka ada masalah kecil, makanya belakangan ini dikit-dikit bisa berantem dan gak kompak. Biasa lah Bil, kita kan masih labil, dikit-dikit bisa tersinggung habis itu berantem," alibi Ladira, memberi alasan yang sebaik mungkin agar terdengar logis.


Pada akhirnya, Bila hanya mengangguk dan menyetujui apa yang Ladira katakan. "Iya juga sih, kayak kakak gue yang suka rebutan mau nonton bola dan gue mau nonton drama, terus kita dikit-dikit kelahi," ucap Bila menceritakan sedikit cerita perkelahiannya dengan sang kakak di rumah.


"Nah itu tuh, betul banget," tambah Ladira dengan senyum terpaksa.


Mereka yang ada di dalam bus tengah asyik bercerita, sampai suara dari speaker yang mungkin sudah dipasang di sana pun berbunyi. Menyampaikan bahwa waktu istirahat sudah habis, dan meminta agar semuanya berkumpul di lapangan.


"Selamat siang semuanya, puji syukur karena kita semua bisa sampai di lokasi perkemahan dengan selamat. Pada siang ini, kita akan memulai kegiatan diawali dengan memasangan tenda yang akan dihuni oleh 4 orang dalam satu tenda yang kalian bawa. Untuk kelompoknya, akan diatur oleh anggota OSIS," ucap pak Indra, selaku pembina yang dipilih untuk memimpin jalannya acara perkemahan mereka selama 3 hari ke depan.


Salah satu anggota OSIS yaitu Andin yang merupakan sekretaris 2 di organisasi OSIS sekolah, mengambil alih mic.

__ADS_1


"Untuk teman-teman mohon perhatiannya, karena ini akan sangat penting untuk jalannya perkemahan kita. Karena di dalam satu tenda putra atau tenda putri, kita akan digabung entah itu dari kelas 10, 11 dan 12. Karena itu saya minta agar laki-laki baris di bagian kiri dan perempuan baris di sebelah kanan," titah Andin, membuat seluruh siswa-siswi yang ada di sana memisahkan diri sesuai dengan yang diminta.


Tidak memerlukan waktu lama, dua kelompok antara laki-laki dan perempuan sudah terbentuk.


"Ingat ya, satu-persatu dari barisan laki-laki ataupun perempuan, mengambil satu gulungan kertas yang ada di dalam kardus di depan kalian. Nanti di situ akan ada nomor yang membawa menuju tenda masing-masing, kalau sudah maka kalian akan bertemu dengan orang yang punya nomor yang sama dengan kalian di depan tenda yang belum dipasang dengan nomor yang sudah disediakan sesuai urutan nomor tenda. Apa bisa dimengerti!"


"Bisa!" jawab mereka semua.


Satu-persatu dari kelompok laki-laki ataupun perempuan mulai mengambil kertas dengan berurutan, dengan pengawasan guru. Karena anggota OSIS juga harus memilih nomor masing-masing, agar mereka juga mendapat kelompok dan tenda yang akan mereka huni.


"Nomor berapa Ra?" Tanya Bila, karena dia penasaran saat gadis itu belum membuka kertas miliknya, sedangkan Bila sudah mengetahui bahwa dia berada di tenda nomor 11.


"15," jawab Ladira menunjukkan kertas itu kepada Bila.


"Gak papa, jarak tenda kita gak jauh juga. Ayok kita cari tendangan sekarang," ucap Ladira menarik Bila menuju barisan tenda yang belum terpasang, dengan urutan nomor yang berbeda-beda.


Bila sudah menemukan tenda plus teman kelompoknya, dia bergabung dengan 2 siswi kelas 10 dan 1 siswi kelas 12. Keberuntungan untuk Bila, karena gadis itu mengenal teman satu tendanya, tapi tidak untuk Ladira.


Melihat dua orang gadis di depannya membuat Ladira berdecak kesal karena harus satu tenda dengan orang-orang itu, cukup Naudra yang merupakan musuhnya selama ini, dan sekarang, dia harus bergabung dengan calon tunangan baru Gean, yaitu Laras. Kedua musuh Ladira itu dengan semena-mena malah menyuruh adik kelas mereka yang juga bergabung satu kelompok, walaupun Laras berpura-pura baik, dengan beralasan kalau dirinya sedang sakit agar tidak dipandang buruk karena dia anggota OSIS.


"Oh, hai Ra. Lo di sini juga?" Tanya Naudra, menghampiri Ladira yang menatapnya jengah.


Ladira menepis tangan Naudra yang memegang pundaknya, "kalau satu kelompok harus kerja semua, gak ada cuma main suruh, atau pura-pura sakit gara-gara gak mau kerja," sindir Ladira, menghampiri adik kelasnya yang kesusahan memasang tenda besar itu sendirian.

__ADS_1


"Ck, gue cepak. Bawahan tuh harus kerja, makanya gue nyantai, kalau enggak, kalian gak ada guna," ucap Naudra yang duduk di sebuah kursi tidak jauh dari Laras. "Lo juga, kerja sana," ucap Naudra kepada Laras.


"Ck, kaki gue sakit, tadi keseleo," ucap Laras berbohong.


"Halah, dusta banget lo," tandas Naudra.


"Kita pasang tenda aja, jangan diurus dua nenek lampir itu. Kalau udah selesai, kita bisa nyantai dan mereka tidur di luar," ucap Ladira berbicara kepada adik kelasnya yang bernama Melin, dengan nada suara yang sedikit meninggi agar Naudra dan Laras mendengarnya.


"Sorry, kalian yang akan tidur di luar!" tekan Naudra.


"Naudra, Laras... Kenapa kalian tidak ikut bekerja?" Tanya pak Indra, yang berkeliling untuk memantau kegiatan membangun tenda bersama beberapa guru lain.


Laras langsung berdiri dan sedikit menunduk kepada pak Indra, "maaf pak, saya tadi izin istirahat sebentar karena kaki saya sakit," ucap Laras dengan suara yang terdengar gugup.


"Saya capek pak," jawab Naudra.


"Gak ada capek-capek sebelum kalian bekerja, kalau sampai saya lihat tidak ada yang membantu, kalian akan saya hukum!" tegas pak Indra lalu pergi dari sana, setelah mendapat anggukan dari Naudra dan Laras yang terpaksa membantu Ladira dan Melin yang masih membangun tenda.


"Tunduk juga sama guru, mana tuh katanya atasan, tapi masih takut sama guru," sindir Ladira, membuat Naudra ingin menonjok Ladira sekarang juga.


...***...


...See You...😉...

__ADS_1


__ADS_2