
Gelap, hanya disinari oleh masing-masing senter yang ada di tangan. Suasana hutan yang begitu sunyi, membuat aura tidak menyenangkan yang membuat buku kuduk berdiri, di sana, mereka bisa mendengar jelas suara hewan-hewan malam yang mengisi hutan tersebut.
"Ge, gue takut," lirih Laras yang semakin memeluk erat lengan Gean. Banyak dari mereka yang heran, mengapa tiba-tiba Gean dan Laras bisa sangat dekat, padahal mereka hanya sebatas teman satu organisasi sekolah. Terkecuali Ladira yang memang mengetahui tentang keduanya yang sudah disepakati untuk dijodohkan atas keinginan Laras, dan atas ketidaksetujuan Gean.
"Ras, bisa lepasin," ucap Gean, merasa risih saat gadis itu selalu mempel kepadanya.
"Gak mau, gue takut."
"Halah, bilang aja kalau lo ngambil kesempatan," tandas Naudra. "Gimana kalau Seina lihat," tambahnya, yang mampu membuat Laras meneguk ludah kasar, mengingat begitu nekatnya Saina karena Gean.
"Seina kenapa?" Tanya Gean.
Naudra tidak merespon apa-apa, dia terus berjalan mengekor di belakang Satya yang acuh dengan pembicaraan mereka yang ada di belakang, dia tidak tertarik sama sekali untuk bergabung dalam masalah yang tidak ada manfaat untuk dibahas.
Hingga 5 menit berjalan lurus mengikuti arahan yang sudah diberitahukan oleh guru di lapangan tadi, mereka akhirnya menemukan pos pertama yang tertulis dengan sebuah papan kecil yang digantung di atas pohon. Baiklah, mereka sudah menemukan pos 1, tapi mereka belum menemukan tanda-tanda untuk berjalan ke arah mana setelah ini. Hingga akhirnya memutuskan untuk mencari sesuatu yang mungkin disembunyikan, ataupun sesuatu yang janggal.
Belum sempat yang lain bergerak, Aldo salah satu teman tenda Gean memekik senang karena dia tidak sengaja menginjak botol kaca berisi kertas yang dia temukan dalam tumpukan daun.
Mereka mengelilingi Aldo yang membuka kertas petunjuk tersebut. Baiklah, sebenarnya tebakan yang diberikan tidak sulit untuk ditebak, jika mereka bisa mengingat sandi kotak di pembelajaran Pramuka.
"Di sini siapa yang ingat sama sandi kotak, waktu pelajaran di kegiatan Pramuka?" Tanya Gean. Jujur, walaupun Pramuka adalah persyaratan agar dia bisa mengikuti kegiatan OSIS, yang membuatnya dulu rutin mengikuti kegiatan tersebut, tapi yang namanya manusia, Gean pasti bisa lupa karena pikirannya juga dipenuhi oleh hal-hal yang lebih penting, dari sebuah sandi kotak yang ada di depannya sekarang.
"Aku kak!"
Pandangan mereka semua teralih menuju Melin yang berdiri di samping Ladira. Melin yang sedari tadi diam dengan tangan yang menaut dengan Ladira, akhirnya berbicara.
"Kasih ke Melin," ucap Gean, sehingga Aldo berjalan menuju gadis itu dan menyerahkan kertasnya.
"Ada pulpen atau pensil gak?" Melin bertanya, menatap bergiliran orang yang ada di sekitarnya, yang juga memusatkan perhatian kepadanya.
__ADS_1
"Um.... tunggu, gue ada," Ladira meraba isi kantong celana dan akhirnya menemukan sebuah pulpen, dan menyerahkannya kepada Melin.
Gadis yang menjadi satu-satunya kepercayaan mereka mulai menggaris dan menuliskan sesuatu pada kertas tersebut. Hanya 2 menit untuk berfikir sebentar, akhirnya Melin tersenyum senang lalu menyerahkan kertasnya kepada Gean. Laki-laki itu memahami sebentar apa yang Melin tulis, sehingga dia langsung paham dan mengatakan bahwa tebakan Melin dalam materi sandi kotak benar.
"Ke mana Ge?" Tanya Laras.
"Kita jalan ke arah kiri, setelah ketemu pohon besar tumbang, kita belok ke arah kanan," jelas Gean menyimpulkan, dari beberapa kalimat panjang dari kertas itu.
Mereka semua mengangguk lalu mulai berjalan menuju arah selanjutnya yang akan membawa mereka menuju pos ke 2.
...***...
"El, lo kuat?"
Danael yang berjalan paling belakang bersama Zeano, sehingga yang lain tidak tahu kalau Danael mulai melambat dalam perjalanan. Laki-laki itu sedikit lilung saat mereka sudah berjalan jauh menuju pos ke 2, yang mungkin jaraknya sudah hampir dekat.
"Gak papa, santai aja," jawab Danael berjalan sambil memegang pundak Zeano sebagai pertahanan.
"HUAAA.... ADA ULAR!" pekik seorang gadis yang tiba-tiba memeluk Danael, padahal ada Tio di belakangnya, yang sama-sama satu angkatan dengan gadis itu di kelas 10. Tapi, bukan cewek caper namanya kalau tidak mencari-cari perhatian sang idola.
Mendengar pekikan gadis tadi, mereka semua segera waspada dengan mata yang tajam mencari keberadaan ular yang sempat mengagetkan mereka.
"Kalian jalan duluan, ularnya gak bahaya kalau kita enggak berisik. Satu-persatu kita tinggalin area sekitar sini," bisik Rizal kepada kelompoknya.
Mereka semua mengangguk dan mulai berjalan menjauh dari wilayah tersebut, sehingga sekitar 20 langkah dari posisi sekarang, Tio begitu senang melihat papan bertuliskan pos dua tidak jauh di depan sana. Tapi satu hal yang membuat mereka tetap diam di tempat, yaitu ada kelompok lain yang juga datang dan mulai mendekat menuju pos tersebut.
"Itu ada Ladira," ucap Zeano, membuat pandangan Danael segera mencari gadis yang Zeano sebut namanya tadi.
Mereka segera menghampiri kelompok Ladira.
__ADS_1
"Seina!" pekik Naudra, merangkul sahabatnya.
"Lo sakit El?" Tanya Ladira yang refleks mengelap keringat yang mencucur di dahi Danael. Walaupun mereka hanya mengharapkan cahaya senter di tangan, tapi Ladira bisa melihat wajah Danael yang sedikit pucat.
"Gak papa Ra, gue cuma capek dikit, makanya keringetan," jawab Danael.
"Nih, ada botol lagi." Satya berjalan menghampiri teman-teman yang malah dengan santai berbincang-bincang, sehingga melupakan tugas mereka untuk mencari petunjuk.
Mereka semua menoleh, memperhatikan botol kaca yang ada di tangan Satya.
"Wih, dapat lagi. Semoga petunjuknya lebih mudah, supaya kita bisa dapat jalan keluar. Gue penasaran surprise apa yang pak Indra bilang di lapangan tadi," celetuk Aldo.
Tanpa basa-basi, Satya sudah mengeluarkan kertas itu dan mulai membaca isi tulisan yang ada di sana. Sungguh keberuntungan, karena guru-guru hanya membuat mereka repot dengan teka-teki di pos 1 dan pada pos ke dua, sudah tertulis agar mereka berjalan ke arah kanan agar sampai di tempat tujuan yang terakhir.
Mereka segera berjalan menyusuri lebatnya hutan malam itu, sebagian dari mereka sangat takut melewati lokasi tersebut, tapi tidak sia-sia mereka mencoba memberanikan diri untuk melewati berbagai rintangan. Sehingga pada lokasi yang terakhir, mereka disungguhkan keindahan danau yang berada di sisi lain sebelum lokasi perkemahan mereka. Tapi di sini danau itu terlihat lebih indah, dengan banyak kunang-kunang yang memancarkan cahaya indah bagaikan ribuan bintang yang turun ke permukaan bumi.
Semua guru sudah berkumpul di sana, menyambut kelompok mereka yang menjadi kelompok pertama yang sampai di lokasi terakhir. Tidak berlangsung lama, kelompok lain juga menyusul sehingga mereka semua dengan santai memandang takjub keindahan yang jarang ditemui.
"Bagus ya Ra?" Celetuk Danael, bertanya. Dengan mata yang menatap wajah Ladira yang berseri memperhatikan banyaknya kunang-kunang yang beberapa kali melintas di depan mereka.
"Ini bukan cuma bagus, tapi super bagus, cantik banget malah," Ladira masih tersenyum lalu bertemu dengan mata Danael yang masih setia menatapnya.
Ladira sedikit kaget saat laki-laki itu.sangat dekat, membuat desiran aneh yang membuat jantungnya kembali berdegup cepat. Dari dekat, Danael bisa melihat wajah Ladira yang sedikit memerah, sangat cantik dan sempurna di matanya.
"Ra," panggil Danael dengan tangan yang tiba-tiba menggenggam lengan Ladira. "Gue.."
"GEAN!" pekik Ladira, melepas genggaman Danael. Saat tidak sengaja dirinya melihat Gean yang pingsan di dalam pelukan Laras. Danael juga yang kaget segera menghampiri.
...***...
__ADS_1
...See You...😉...
Senin 12 Desember 2022