Liveline

Liveline
Hampir Mengambil Seutuhnya +


__ADS_3

"Ladira, bisa ke sini sebentar!"


Langkah Ladira dan Bila terhenti saat salah satu guru memanggilnya. "Bil, lo duluan aja. Gue nitip beli minuman ya, jus rasa alpukat," ucap Ladira.


"Oke kalau gitu gue duluan," Bila melenggang dari sana, meninggalkan Ladira yang berjalan menghampiri guru yang tadi memanggilnya.


"Iya Bu, ada apa?" Tanya Ladira.


Guru tersebut menyerahkan sebuah baskom yang berisi air di dalamnya, "bisa tolong antarkan ke UKS, saya sedang ada tugas di kantor.


"Bisa Bu," jawab Ladira.


Dirinya sudah bisa menebak, kalau air itu pasti diberikan untuk mengompres lebam yang Laras dapat di dahinya. Karena hantaman bola di lorong kelas.


Dia kira hanya akan mengantarkan baskom, tapi Ladira malah disungguhkan pemandangan yang membuatnya merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya.


"Ekhem, maaf mengganggu!" ucap Ladira yang berjalan menghampiri Laras, yang ternyata sedang dijaga oleh Gean di sana.


Gean langsung berdiri saat merasa posisinya dan Laras sangat dekat. Laras hanya menunduk, gadis itu tersenyum mengingat wajah Gean yang begitu dekat dengannya tadi.


Karena membantunya untuk duduk, Gean yang berdiri kurang kokoh, membuat tubuhnya tidak seimbang dan berakhir jatuh dan hampir menimpa Laras sepenuhnya.


Wajah Laras masih merona, dan tentunya Ladira bisa melihat itu. "Sekali lagi gue minta maaf gara GANGGU KALIAN!" tekan Ladira di akhir kalimat. "Permisi."


"Ra. Tunggu dulu," Gean menahan Ladira dengan memegang tangan gadis itu.


Ladira berbalik menghadap Gean dengan menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya. "Gue bisa jelasin," lontar Gean.


Bibir Ladira mengulas senyum tipisnya, "jelasin? Apaan sih lo gak jelas. Emangnya gue punya hubungan apa sama lo, sampai harus dijelasin segala. Oh, atau mungkin lo takut kalau gue ceritain ke guru kalau kalian mau ciuman ya tadi? Oke, tenang aja, gue enggak ember orangnya. Rahasia kalian aman," tukas Ladira, yang membuat Gean mengeraskan rahangnya.


"RA! LO NGOMONG APA?" Gean menatap tajam gadis itu.


"Udah Ge, jangan marah-marah." Dari atas kasur, Laras menatap cemas Ladira dan Gean yang terlihat sama-sama tersulut emosi.

__ADS_1


"Ya gue ngomong yang gue mau lah. Emang gue enggak akan ember kok. Kalau misalkan lo punya pacar atau pasangan di luar sana, gue enggak akan kasih tahu, kalau elo pacarnya ngelakuin hal yang harusnya dikasih buat orang yang lebih pantas!" Ladira sungguh tidak menyadari dengan apa yang dia katakan, itu cukup membuat Gean menanggap apa yang gadis itu maksud.


Tangan Gean menggenggam tangan Ladira, lalu menariknya dan meninggalkan Laras yang terdiam di dalam UKS sendirian.


"Lo mau bawa gue ke mana? Lepasin Ge!" segala berontak yang Ladira lakukan, sama sekali tidak merobohkan pertahanan Gean untuk menggenggam tangannya.


Beberapa siswa-siswi yang berada di lorong kelas hanya bisa menyaksikan keduanya yang berjalan melewati mereka, sampai bel berbunyi tanda jam istirahat berakhir. Mereka tiba di depan sebuah ruangan yang menurut Ladira, sebagai privat para laki-laki. Tidak lain itu adalah ruangan yang selalu Gean datangi sebelum, dan setelah melakukan latihan maupun pertandingan basket. (Ruangan ganti pria).


Ruangan tersebut masih terkunci, karena tidak ada seorangpun yang menggunakannya.


Gean membuka ruangan tersebut menggunakan kunci yang memang dialah pemegangnya.


"Ge, lo mau ngapain!" pekik Ladira saat Gean menariknya masuk ke dalam sana.


Saat Ladira jatuh di atas sofa, dengan gerakan cepat, Gean mengunci ruangan tersebut lalu menyimpan kuncinya di saku celana.


Ladira yang sudah berlari menuju pintu, langsung terperangkap saat Gean mengunci tubuhnya pada tembok.


"Lo mau ngapain?" Tanya Ladira waspada, menahan dada Gean dengan tangannya, cowok itu terlihat sangat berbeda dari Gean yang dia kenal. Auranya membuat Ladira merasa begitu khawatir dengan apa yang akan Gean lakukan.


"G-ge, lo ng-gapain?" Tanya Ladira meremas kuat kerah seragam Gean saat merasakan geli di tengkuknya.


"Lo mau gue ngelakuin hal yang seharusnya dilakuin ke orang yang lebih pantas kan? Jadi...gue mau lakuin sekarang," balas Gean pelan, semakin mengikis jarak di antara mereka.


"Sto- hmpp. Ge!" pekik Ladira, memukul dada Gean sekuat tenaga. Saat cowok itu dengan tiba-tiba meraup bibirnya, dan sampai sekarang Gean belum berniat melepas ciuman pertama mereka begitu saja.


Ladira semakin Gelisah, merasakan tangan Gean berada di area seragamnya. Sehingga satu-persatu kancing bajunya terlepas dari atas.


"STOP!" teriak Ladira setelah berhasil mendorong Gean untuk menjauh.


Niat Gean belum berhenti sampai di situ, dirinya segera bangun karena sempat tersungkur. Tangannya langsung menggendong Ladira dan membawanya menuju sofa, Gean dengan mudah mendudukkan Ladira di pangkuannya saat Gean berhasil duduk di sofa menahan agar Ladira tidak bisa kabur.


Mata dan pikiran laki-laki itu menggelap, dikuasai oleh hawa nafsu yang membuatnya tidak menyadari akan perbuatannya yang sudah berlebihan.

__ADS_1


"L-lo, ngapain. Hmhh," mati-matian Ladira menahan suara yang menurutnya belum pantas keluar sekarang. Bagaimana tidak, tangan Gean yang berkeliaran dan mulutnya sudah turun dan mulai menggigit leher serta telinga Ladira.


Gadis itu berdoa dalam hati, semoga ada yang menolongnya. Sampai laki-laki itu hampir nekat dan membuat Ladira tinggal mengenakan beberapa helai benang pakaian, sebuah suara beberapa orang yang berkerumun di depan ruang ganti pria sedang mendorong-dorong pintu.


Salah satunya berceletuk. "WOI, KITA DI TIPU ATAU GIMANA SIH. KATANYA GEAN ADA KENSINI BUAT BUKA PINTU, TAPI INI KOK DIKUNCI."


Mata Gean dan Ladira membulat. Ladira dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Gean dari atasnya, lalu segera bangkit dan mengambil seragam dan roknya yang tergeletak di lantai.


Gean terduduk di lantai, menatap nanar gadis yang sudah berlari menuju toilet.


Dia sama sekali tidak menyadari perbuatannya yang hampir merenggut masa depan Ladira, gadis itu masih punya cita-cita tetapi Gean hampir saja memusnahkan cita-cita Ladira dengan hal yang dia hampir lakukan tadi.


Suara kerumunan orang yang tadi mencoba membuka pintu dengan menggedor-gedor, akhirnya mereka pergi dari sana. Mungkin bosan.


Beberapa saat kemudian, Ladira keluar dari kamar mandi dan menyambar celana Gean yang tergeletak di lantai untuk mengambil sebuah kunci, yang kemudian dia gunakan untuk membuka ruangan itu.


"Ra. Tunggu!" Gean berdiri, lalu segera mengenakan seragamnya kembali, karena gadis itu sudah meninggalkan Gean di sana.


Tanpa mengunci ruangan kembali, Gean berlari sambil mengetikkan sebuah pesan di grup basket mereka, kalau ruangan itu sudah dia buka dan meminta agar kuncinya dikembalikan lagi besok.


Di dalam ruangan XI IPS 1, tepatnya kelas Ladira, Danael dan Arsa. Ternyata di sana sedang melangsungkan pembelajaran, tapi Gean langsung masuk dan berdiri di ambang pintu, menelusuri setiap sudut kelas dengan matanya.


"Gean, apa yang kamu lakukan di kelas ini? Kenapa kamu masuk tanpa permisi di saat jam pelajaran? Ini bukan kelas kamu!" Tekan pak Ardi, guru sejarah yang sedang mengajar.


"Maaf pak. Tapi saya mau bertanya, apakah Ladira ada ke kelas?" Tanya Gean sesopan mungkin.


"Ladira udah pulang tadi. Dia kelihatan kayak lagi sakit kayaknya," celetuk seorang siswa yang ikut dalam pembicaraan.


"Makasih. Permisi." Hanya mengatakan itu, Gean langsung pergi dari sana, meninggalkan kemarahan pak Ardi, dan tanda tanya di benak Arsa.


Gean berlari menuju parkiran, lalu segera membawa mobilnya melaju dari sana. Ya, Gean bisa dengan mudah keluar karena dia adalah anggota OSIS, hanya dengan sebuah alasan Gean, pak satpam membuka pagar untuk mempersilahkan Gean keluar.


Mata Gean berkeliaran ke kiri dan ke kanan, mencari sosok gadis yang dia khawatirkan sejak tadi.

__ADS_1


"Ra, maafin gue."


...***...


__ADS_2