
Sudah 1 Minggu berlalu, tidak ada tanda-tanda untuk Naira memaafkan Danael. Gadis itu selalu mendiamkan sapaan dari Danael, terlebih Ladira, yang menjadi alasan Naira semakin tidak bisa memaafkan Danael.
Hanya Arsa dan Gean yang masih bisa diajak berkomunikasi dengan Naira.
"El, kenapa sih sama Naira. Gue sapa, dia sama sekali gak ada respon, apalagi noleh. Kalian ada masalah yang ada sangkut pautnya sama gue ya, sampai Naira juga ngambek sama gue?" Tanya Ladira, yang tengah duduk bersama Danael di taman belakang pada jam istirahat sedang berlangsung.
"Gak tau," ucap Danael, menatap lurus ke depan.
Naila menghembuskan nafasnya kasar, lalu berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Danael menatap Ladira yang sudah melangkah.
"Mau ketemu Naira, gue butuh penjelasan sama dia. Gak enak rasanya kalau gue sampai jadi alasan renggangnya hubungan kalian, gue mau ketemu Naira sekarang," jawab Ladira dan berjalan cepat meninggalkan Danael yang mengacak rambutnya hingga berantakan.
"Gue gak enak juga kalau jauhkan gini sama Naira, maaf gue belum diterima sama dia. Apa harus buat surprise?" Tanya Danael pada dirinya sendiri.
Beberapa saat Danael memikirkan tentang surprise apa yang akan dia berikan, tapi pikirannya teralih pada tanggal yang khusus di pikirannya.
"Hari ini tanggal 18! Berarti...." Senyum merkah di bibir Danael, saat mengingat tanggal spesial itu. "Pasti Nai suka!" Gumam Danael dan segera pergi dari sana.
***
Satu-persatu, anggota OSIS keluar dari ruangan rapat dan terakhir yaitu gadis yang Ladira tunggu sejak tadi, tidak lain adalah Naira yaitu ketua OSIS bersama Gean yang mengunci ruangan tersebut.
"Nai, gue mau ngomong!" Ladira menghadang di depan Naira, sehingga gadis itu tidak bisa melanjutkan langkahnya.
"Maaf Ra, gue lagi sibuk. Bisa gue lewat sebentar!" Naira menatap datar ke depan, tanpa menatap Ladira yang merupakan lawan bicaranya.
Gean yang sudah selesai mengunci pintu, mendekat menghampiri kedua gadis itu. "Nai, lo kenapa?" Tanya Gean yang akhirnya menanyakan hal itu, setelah beberapa hari lalu melihat interaksi antara Naira dan Ladira yang sangat kurang, tidak seperti biasanya.
Tapi Naira menggeleng, "gue sibuk, jadinya gak punya banyak waktu," jelas Naira singkat.
"Gue tahu lo bohong Nai, jadi gak usah sembunyi'in semua dari gue. Pliss, jelasin. Supaya masalah kita cepat kelar!" Ucap Ladira memohon kepada Naira yang masih terlihat tidak luluh sama sekali.
Naira menarik pelan lengannya dari ganggaman Ladira, sehingga Ladira semakin yakin kalau dirinya pasti telah membuat Naira kecewa, dan banyak hal negatif yang terus bermunculan di pikiran Ladira.
__ADS_1
"Nai-"
"Stop Ra, berapa kali harus gue jalasin. Gue sibuk dan gak punya waktu buat banyak omong. Permisi!" Setelah mengatakan itu, Naira meninggalkan Gean dan Ladira yang merasa sedih saat pertama kalinya, Naira yang merupakan salah satu sahabat perempuan terbaik yang dia miliki, malah menyentaknya hari ini.
Tangan Gean terulur untuk mengusap pelan bahu Ladira, "gak papa Ra, nanti gue coba ngomong sama Naira. Jangan sedih," ucap Gean dan diangguki oleh Ladira yang tersenyum.
"Makasih!"
...***...
Pulang sekolah, Danael sudah sibuk berkeliling di sebuah toko kue bersama Arsa. Mereka berdua sibuk mencari kue ulang tahun rasa strawberry yang menjadi favorit Naira. Ya, hari ini adalah hari bertambahnya usia Naira yang ke 17 tahun pada tanggal 18 Mey di tahun ini.
Setelah mengingat kalau Naira hari ini bertambah usia, Danael segera menghubungi teman-temannya untuk membantu persiapan ulang tahun Naira tepat malam nanti. Lokasi yang sudah Danael tentukan, dan dia serahkan kepada Gean dan Ladira untuk mendekorasi lokasi yang sudah disiapkan.
"Mbak, kita bingung mau pilih kue warna pink yang mana?" Tanya Arsa yang pusing melihat berbagai macam dekorasi kue ulang tahun berwarna pink di sana. Anehnya, Arsa malah bertanya kepada petugas toko.
Petugas toko yang menjaga hanya tersenyum canggung, terlebih dia juga seorang laki-laki. "Maaf mas, saya juga bingung buat saranin yang mana!" Ucap petugas tersebut.
Sedangkan Danael masih mengelilingi toko tersebut berkali-kali, sampai matanya tertuju kepada sebuah kue ulang tahun bercorak bunga yang indah, dan tidak lupa. Warna pink yang terbalut indah di kue tersebut.
Sesaat mereka terdiam dan tertawa bersama, "oke, berarti kuenya spesial, ampai buat kita punya pemikiran sama," Arsa menepuk palan bany Danael.
Danael mengangguk, dan memanggil petugas toko untuk menyiapkan kue tersebut dan mengantarkannya menuju lokasi.
"Nah, sekarang hadiah. Lo adabsaran?" Tanya Danael kepada Arsa.
"Lo maunya barang-barang atau baju, bisa juga perhiasan gitu," saran Arsa berpendapat sesuai isi pikirannya.
Kepala Danael mengangguk, dan berfikir sesaat. "Ke toko barang-barang khusus hadiah aja, gue bingung juga kalau mau ngasih baju atau perhiasan apa buat Naira," Danael.
Arsa mengangguk dan segera menuju mobil untuk segera pergi menuju toko yang akan ditunu selanjutnya.
...***...
"Jangan gede-gede balonnya. Bisa pecah," lirih Gean, menutup kedua telinganya. Saat balon yang Ladira kompa begitu besar, dan Gean berfirasat kalau balon itu sebentar lagi akan meletus.
__ADS_1
Dari tadi, Ladira semakin senang melihat wajah takut Gean untuk pertama kalinya. Cowok itu yang biasanya berwajah datar, sekarang malah merengek ketakutan. Sehingga Ladira merasa gemas minat wajah Gean yang mirip seperti bayi.
"Huuu, Cemen. Sama balon aja takut," sorak Ladira tertawa puas.
"Awas aja, gue akan hukum lo Ra." Gean yang ingin berlari terus Ladira tahan. Sampai...
Dorr...
Balon berwarna putih yang sudah tidak bisa bertahan. Akhirnya meletus.
Ladira bergumam pelan saat punggung tangannya memerah setelah balon itu meletus.
"Tuh kan, apa gue bilang. Balonnya pecah, dan tangan lo kena!" Sentak Gean, dengan khawatir. Mengusap pelan punggung tangan Ladira yang memerah.
"Gak sakit Ge, kalau gitu aja gak sakit apa-apa. Gue bukan cewek lemah yang dikit-dikit udah nangis gara-gara masalah kecil," jelas Ladira.
Gean menggeleng lalu meniup pelan lengan Ladira, "ini merah Nai, pasti sakit," khawatir Gean lalu tanpa sadar mengecup singkat punggung lengan Ladira, saat rasa khawatirnya berlebih.
Tangan Ladira seketika membeku, seperti sebuah sihir yang menyerangnya tiba-tiba. Gadis itu terdiam seribu bahasa melihat kelakuan Gean padanya beberapa detik lalu.
"Eh, gue cium," gumam Gean tanpa sadar, lalu menatap Ladira yang sama menatapnya membeku.
Beberapa dektik mereka diam, Ladira segera menarik lengannya. "Ihh, apa-apaan sih. Beraninya lo cium-cium tangan gue. Tangan ini cuma khusus buat suami gue kelak, tapi lo beraninya nyosor sembarangan," sentak Ladira.
"Eh, Nai. Itu cuma tangan, bukan bibir lo yang gue sosor," sentak Gean tanpa sadar.
Plak...
Ladira melotot dan langsung memukul lengan Gean, "mulutnya dijaga, sembarangan aja ngomong gituan dengan mudahnya." Tekan Ladira.
Gean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengapa bisanya dia mengatakan seperti itu tanpa sadar, hal tersebut membuat Gean meras acanggung sendiri. "Iya maaf Ra, gak sengaja, gue keceplosan."
"Untung gue baik, jadi gue maafin lo kali ini. Karena alasan dekorasi yang belum kelar." Ladira memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. "Gerah-gerah."
...***...
__ADS_1